
Stella keluar kamarnya saat hari sudah malam, seharian ini ia hanya berbaring di kasurnya karena tak enak badan. Selain itu ia juga mengemas beberapa barang yang akan dibawanya besok.
"Ming, nggak usah masak ya, aku lagi nggak nafsu makan. Aku mau istirahat," ucap Stella pada Ming.
"Nona masih sakit? Harus tetap makan Nona, nanti saya akan buatkan untuk Anda," kata Ming perhatian.
"Ramuan apa?"
"Ramuan ini turun temurun dari keluarga Saya Nona, Anda tunggu sebentar, Saya akan membuatkannya dulu," ucap Ming.
Stella mengangguk singkat, badannya memang cukup lemas sekali hari ini. Padahal seingatnya semalam ia baik-baik saja.
"Ehm, Ming. Apakah tadi Xander memakan nasi gorengnya?" tanya Stella teringat hal itu, sebenarnya ia tak ingin berharap lebih, tapi ia ingin membuatkan masakan spesial untuk Xander di hari terakhirnya di rumah ini.
"Tuan Xander menolaknya Nona," sahut Ming membuat wajah Stella berubah kecewa.
"Oh …" gumam Stella sepertinya ia berharap terlalu banyak.
"Tapi hal ini cukup aneh, tadi sebelum Saya pergi meninggalkan nasi goreng itu, nasi gorengnya masih ada di meja, tapi saat Saya kembali sudah hilang. Sepertinya Tuan Xander yang mengambilnya," kata Ming memang sangat yakin kalau Xander sudah memakan nasi goreng itu. Secara logika saja sudah jelas kalau tidak ada orang lain yang berani masuk ke dalam rumah itu selain mereka bertiga. Jadi mustahil jika ada orang lain yang mengambilnya.
"Xander mengambilnya?" ucap Stella rasanya tak percaya jika Xander diam-diam mengambil masakannya.
"Benar, mungkin Tuan Xander malu jika mengambil secara langsung, jadi beliau mengambilnya secara diam-diam," kata Ming mengutarakan isi pikirannya.
Stella mengerutkan dahinya, apakah benar Xander melakukan hal seperti itu? Pria itu sengaja membuat Ming sibuk agar bisa memakan nasi goreng buatannya? Mungkinkah?
"Ini minumannya Nona, silahkan dicoba, semoga Nona cepat sembuh," ucap Ming memberikan satu gelas ramuan kunyit yang baru saja dibuatnya pada Stella.
"Terima kasih Ming," ucap Stella meminum ramuan itu tanpa ragu. Rasanya sedikit aneh, tapi tak begitu terasa. "Rasa Nya enak, aku akan menghabiskannya nanti," ucap Stella membawa ramuan itu masuk kedalam kamarnya. Ia sepertinya harus istirahat agar tidak terlambat bangun besok pagi.
*****
Xander kembali pulang ke Apartemen saat malam sudah cukup larut. Malam itu entah kenapa ia ingin sekali melihat wajah Stella. Saat ia sampai di Apartemen, tujuannya adalah kamar Stella. Keadaan Apartemen yang sepi membuat tak ada yang melihat kepulangan Xander.
__ADS_1
Xander membuka pintu kamar Stella perlahan agar tak menimbulkan suara. Sebenarnya kejadian ini bukan sekali ini saja dilakukan, tapi ia cukup sering melihat Stella jika wanita itu sudah tidur, tapi malam itu ia salah prediksi karena Stella belum tidur seperti malam-malam sebelumnya.
"Xander?" ucap Stella terkejut melihat Xander berada di kamarnya.
Xander membesarkan matanya, ia juga terkejut karena tertangkap basah oleh Stella. Namun ada hal lain yang membuat dirinya terkejut, yaitu melihat penampilan Stella yang hanya menggunakan baju tidur yang sangat tipis hingga mengekspos tubuh mulusnya. Padangan Xander menggelap, apalagi sudah cukup lama ia tak merasakan lagi tubuh istrinya.
"Aku butuh kau malam ini," ucap Xander dengan suara beratnya, ia berjalan pelan menghampiri Stella yang hanya bisa mematung.
Stella terdiam, ia menatap suaminya sendu. Sebagai seorang istri ia sudah sangat hafal sekali tatapan gelap penuh gairah itu.
"Xander, maukah kau melakukan satu hal untukku?" ucap Stella menahan dada Xander saat pria itu akan menciumnya.
"Hanya karena aku membutuhkanmu, kau akan mulai berani?" tukas Xander menatap Stella tajam.
"Bukan seperti itu, aku hanya meminta padamu, tolong lakukanlah pelan-pelan, kali ini saja," pinta Stella memandang suaminya sendu, ia hanya memikirkan anak yang ada di dalam kandungannya saat ini.
"Banyak bicara!" ucap Xander tak menggubris perkataan Stella, ia langsung menekan kepala Stella dan mencium bibir Stella dengan panas.
Stella balas menciumnya, mungkin banyak yang menganggapnya bodoh. Tapi bagi Stella hal ini adalah kesempatan terakhirnya, ketika mereka berpisah nanti, Stella pasti akan merindukan saat-saat seperti ini. Satu kali untuk terakhir kalinya.
Meski Xander mengatakan tak ingin menuruti permintaannya, nyatanya perbuatan pria itu justru sebaliknya. Xander menyentuhnya dengan lembut dan penuh pemujaan.
"Argh …" Xander mengerang pelan saat dirinya sudah mencapai puncaknya, ia langsung menjatuhkan dirinya di samping Stella. Ekspresi penuh kepuasaan itu tampak sangat jelas di wajahnya. Stella memang benar-benar berbeda.
"Jangan pergi Xander," pinta Stella menahan tangan Xander saat pria itu akan beranjak.
"Jangan mengaturku!" sentak Xander menepis tangan Stella.
"Aku tidak mengatur mu, aku hanya meminta. Tetaplah disini bersamaku, malam ini saja," ucap Stella dengan raut wajah memohonnya. Ia ingin malam terakhir ini bisa memeluk suaminya.
"Jangan kau pikir setelah memberikan apa yang aku mau, kau bisa mengaturku," tukas Xander ketus, sepertinya permohonan Stella tak berarti apapun atau bisa sedikit saja melembutkan hati pria itu.
"Touch me again," Stella nekat memeluk suaminya dari belakang agar pria itu tidak pergi.
__ADS_1
Xander mengepalkan tangannya, hanya dengan kulit Stella yang menyentuh kulitnya saja, juniornya sudah bangun. Xander segera memutar tubuhnya dan menatap lekat wajah Stella.
"Tunjukan usahamu agar aku tidak pergi dari sini," ucap Xander dengan suara kembali memberat, ia segera menarik Stella untuk berbagi peluh bersama.
Stella sengaja meminta Xander untuk menyentuhnya lagi. Ia ingin membuat pria itu lelah dan tidak bisa bangun besok pagi agar ia bisa memuluskan rencana nya. Meski tubuhnya cukup kewalahan mengimbangi permainan Xander, tapi Stella tetap bertahan sampai pria itu puas dan tertidur di sampingnya.
Stella mengatur nafasnya yang terengah-engah. Ia kemudian menatap Xander yang sudah terlelap. Stella mendekatkan dirinya kepada Xander dan menatap lekat pria itu.
"Aku akan pergi, terima kasih untuk semua kenangan yang kau berikan selama ini, tetaplah berbahagia," bisik Stella mencium kening Xander sangat lama membuat pria itu sedikit menggeliat.
Stella tersenyum namun juga menangis, ia mengusap air matanya cepat-cepat lalu masuk kedalam pelukan suaminya.
Untuk terakhir kalinya, aku ingin memelukmu lebih lama.
"Selamat malam, happy nice dream," bisik hati Stella sebelum terlelap dalam tidurnya.
Sepanjang malam, kedua insan yang akan berpisah untuk saling berpelukan dengan hangat. Bagi Stella semua hal itu sudah cukup baginya, satu kenangan manis sebelum ia pergi dan akan selalu dikenangnya nanti.
Ketika ia bangun dipagi hari, ia tak ingin lagi menatap Xander. Ia segera membersihkan dirinya dan membawa semua barang yang sudah disiapkannya.
"Nona sudah siap?" tanya Ming saat Stella keluar dari kamarnya. Hari masih cukup gelap dan semua belum bangun. Sungguh waktu yang tepat untuk Stella pergi.
Stella menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menangguk tegas.
"Baiklah, Saya tidak bisa mengantar Nona. Ini ponsel yang diberikan Tuan Daniel, Anda bisa menghubunginya nanti," ucap Ming menyerahkan ponsel baru kepada Stella.
"Terima kasih Ming, kau sudah banyak membantuku," ucap Stella mengulas senyum meski susah.
"Sama-sama Nona, semoga Anda bahagia," ucap Ming balas tersenyum.
Stella mengangguk singkat, ia sekali lagi menatap keseluruhan Apartemen itu sebelum benar-benar pergi.
"Selamat tinggal,"
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.