
Seorang wanita terlihat sedang duduk di depan komputernya, rambutnya yang panjang diikat tinggi-tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Wajahnya tampak mengulas senyum yang manis ketika ada orang yang datang untuk membayar makanan mereka.
"Semuanya jadi 600 ibu, terima kasih atas kunjungannya," ucapnya seraya menyerahkan uang kembalian kepada pelanggan.
Wanita itu tak lain adalah Stella yang kini bekerja menjadi kasir di salah satu restoran Daniel. Sebenarnya Daniel sudah memberikan semua hal yang dibutuhkan Stella selama ada di tempat barunya, namun Stella tak ingin berpangku tangan dengan mengandalkan bantuan dari Daniel, untuk itulah ia memilih bekerja sendiri.
Semua ini adalah keinginannya bukan keinginan Daniel, lalu kenapa harus Daniel yang mencukupi kebutuhannya. Toh Daniel selama ini juga sudah banyak membantunya termasuk membantu ia kabur meninggalkan suaminya dan pergi ke kota Surabaya
"Stella, ini sudah waktunya makan siang, ayo kita istirahat dulu," ujar Maira salah satu teman Stella yang juga bekerja sebagai pelayan di restoran itu.
"Ya, kau duluan saja, aku masih menghitung ini dulu," ujar Stella masih merasa dirinya belum begitu lapar dan ingin menyelesaikan pekerjaannya terlebih dulu.
"Kau ini selalu saja begitu, apa kau lupa sekarang kau itu sudah berbadan dua," tukas Maira hanya dibalas senyuman tipis oleh Stella.
Stella tersenyum lembut, ia lalu menatap ke bawah di mana perutnya yang sudah terlihat menonjol di usia kehamilan yang 4 bulan. Ya benar, saat ini usia kehamilannya sudah memasuki bulan ke empat. Tak terasa sudah 2 bulan berlalu ia meninggalkan Xander.
2 bulan bukanlah waktu yang mudah bagi Stella. Banyak hal yang sudah ia lalui, iya yang seringkali tidak bisa tidur karena merasakan penyakitnya yang kadang menyerang secara tiba-tiba. Atau terkadang ia yang menjadi bahan omongan para pegawai di sana, banyak orang mengira kalau ia hamil anak dari Daniel dan sengaja dirahasiakan.
"Kamu apa kabar?" batin Stella menerawang jauh, belakangan ini ia sering kali bermimpi tentang suaminya itu. Dalam mimpinya ia melihat Xander yang terus memintanya untuk kembali. Stella terkadang berpikir apakah keputusannya ini sudah benar?.
"Selamat siang Nona Stella," terdengar suara berat yang menyapa di balik punggung Stella. Ia sangat mengenali suara itu, ia langsung menoleh dan bersitatap dengan Daniel yang berdiri tegap di belakangnya.
"Kak Daniel? Kakak kapan ke sini?" ujar Stella terkejut melihat keberadaan Daniel yang sangat mendadak itu.
"Bukankah aku sudah mengabari mu kemarin, kalau aku akan datang," ucap Daniel mengulas senyumnya yang manis.
"Ah ya, mungkin aku lupa Kak," ujar Stella memang sering kali melupakan sesuatu semenjak hamil ini.
"Kenapa masih bekerja? Ini jam makan siang, ayo kau istirahat dulu, jangan terlalu memforsir dirimu Stella," ujar Daniel menggelengkan kepalanya, tak mengerti kenapa ada seorang wanita yang menolak sebuah kenyamanan yang diberikannya.
__ADS_1
Di saat semua wanita berlomba ingin mendapatkan sebuah kemewahan, tapi Stella justru lebih memilih dirinya bekerja keras daripada menerima bantuan dari Daniel dengan sukarela.
"Baiklah, kalau Pak bos yang menyuruh, mana bisa aku menolak," canda Stella mengundang tawa Daniel yang sangat manis.
"Kalau kau menantang ku, kau akan aku pecat." Daniel pun membalas candaan itu membuat Stella itu tertawa.
"Jangan dong Pak bos, aku lagi hamil loh, pasti butuh banyak biaya, kau tidak kasihan denganku?" kata Stella menunjukkan perutnya yang sudah menonjol.
Pandangan Daniel berubah melembut melihat hal itu, entah apa yang dipikirkannya saat itu, ia tiba-tiba saja mengulurkan tangannya untuk mengelus perut Stella.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Daniel memandang setelah penuh cinta.
Stella terdiam membeku, ia sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Daniel. Entah kenapa matanya mendadak berkaca-kaca karena hatinya tiba-tiba mengingat sosok Xander, bukankah hal seperti ini seharusnya dilakukan seorang suami kepada istrinya?
"Dia baik-baik saja kak, dia tumbuh sangat sehat di perutku," kata Stella memundurkan tubuhnya, perasaannya mendadak tak enak saat Daniel menyentuh perutnya.
Daniel tersenyum tipis melihat hal itu. "Bagaimana kalau siang ini kita makan di luar?" ujar Daniel ingin memiliki lebih banyak waktu berdua bersama Stella.
"Yah, aku merasa bosan dengan makanan di sini, aku ingin sekali mencoba rawon setan, di sini paling viral, kamu pernah denger nggak?" ucap Daniel lagi.
"Rawon? Memangnya Kakak doyan apa?" ejek Stella terkekeh kecil.
"Ngeledek, aku tuh sering ya di sini dulu, hampir semua makanan di sini itu pernah aku coba," kata dalil mencubit gemes pipi Stella.
Lagi-lagi Stella dibuat terkejut dengan tingkah Daniel itu.
"Baiklah, kalau kakak ingin makan di luar, tapi aku mau mengambil tasku dulu," kata Stella berpamitan untuk pergi ke ruang belakang, ia juga tak tega juga harus menolak permintaan Daniel juga sarang jarang kemari, apalagi pria itu sudah banyak membantunya.
Saat Stella melewati loker karyawan, ia tak sengaja mendengar orang yang berbisik-bisik. Sebenarnya tidak bisa dikatakan bisik-bisik karena suara itu terdengar sangat jelas di telinga Stella.
__ADS_1
"Lihat tuh, di apelin lagi dong sama Pak bos, pantesan baru datang, kerjaannya udah enak. Ternyata ada orang dalem," ujar Celine melirik Stella dengan sudut matanya. Di merupakan salah satu senior yang sangat tidak menyukai Stella, ia menganggap Stella hanya wanita murahan yang mengumpankan tubuhnya kepada Daniel untuk memanjat status sosial.
"Ya jelaslah Cel, makanya dia itu diboyong Pak Daniel ke sini. Biar apa coba? Biar hubungan mereka terbongkar di sana," sahut teman Celine ikut menyudutkan Stella.
"Jijik banget nggak sih, ada ya cewek yang mau ditiduri sampai hamil tapi nggak dinikahin. Kalau gue sih ogah," ujar Celine memandang Stella dengan tatapan mencemoohnya.
Stella menarik nafas panjang-panjang, sudah terlalu terbiasa mendengar cemoohan yang dilontarkan seniornya itu. Bahkan bisa di bilang makanan sehari-harinya, Stella tak ingin menambah masalah dengan menanggapi ucapan para seniornya itu. Ia lebih baik menghindar, toh semua yang dikatakan mereka semua itu tidak benar.
"Udah?" tanya Daniel ketika Stella kembali menemuinya di depan.
"Ya kak, tapi waktuku istirahat hanya 30 menit," ujar Stella tak ingin menjadi bahan omongan teman-temannya lagi jika ia mengambil waktu istirahat yang lama.
"Kata siapa? Aku bosnya di sini, jadi aku berhak memutuskan kapan kau kembali bekerja atau tidak," kata Daniel seenaknya saja, ia masih tak rela jika waktunya dengan Stella hanya 30 menit.
"Meskipun begitu, Kakak tidak boleh menggunakan jabatan kakak untuk bertingkah semaunya sendiri, apa kata teman-temanku nanti kalau aku terus-menerus mendapat keistimewaan dari kakak?" ucap Stella benar-benar hidup tenang disana.
"Kenapa harus memikirkan mereka? Apa kau pikir mereka akan memikirkan mu juga?" kata Daniel tak mengerti kenapa Stella memiliki hati yang begitu baik.
Ia bukannya tak tahu jika selama ini, Stella sering menjadi bulan-bulanan para senior di sini. Tapi wanita itu sama sekali tidak pernah mengadukan hal itu kepadanya.
"Terserah Kakak, tapi waktuku hanya 30 menit. Jika Kakak mau ayo kita pergi, kalau tidak ya sudah," ucap Stella tak ingin berdebat dengan Daniel.
"Baiklah baiklah, aku akan menuruti keinginanmu dasar bawel," gumam Daniel mengalah saja.
Stella tersenyum kecil ia lalu mengikuti langkah Daniel menuju mobilnya dan melanjutkan perjalanan menuju tempat makan rawon setan yang sangat terkenal di kota Surabaya.
Di kota ini tak berbeda jauh dari kota Jakarta, kendaraannya sangat padat polusi udara di mana-mana, Stella dulu sempat tak nyaman ketika datang kesana, namun sekarang ia sudah mulai terbiasa berada di kota itu.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.