
"Saya sudah meresepkan vitamin agar bayinya sehat, Saya juga menambahkan vitamin yang bagus untuk kulit Anda. Untuk obat penambah darahnya jangan lupa di minum terus ya Nona, sepertinya tekanan darah Nona selalu rendah,"
Setelah melakukan pemeriksaan USG, Dokter memberikan nasehat-nasehat penting seputar kehamilan. Memang ada sedikit kendala dalam kehamilan Stella ini, Dokter menyarankan untuk Stella melakukan tes darah. Tapi Stella menolak karena dia sudah tahu tentang penyakitnya.
"Terima kasih Dokter, Saya pasti akan rutin meminumnya," ujar Stella mengangguk seraya mengulas senyum tipisnya.
Stella lalu keluar dari poli kandungan, ia harus kembali mengantri obat baru bisa berangkat bekerja. Untung saja antriannya tidak terlalu panjang, jadi Stella tak terlalu lama menunggu.
"Stella, aku tinggal sebentar ya. Aku mau ke toilet," ujar Maira mendadak ingin pup ketika mereka akan keluar rumah sakit.
"Ya udah sana, aku tunggu di sana ya," ujar Stella menunjuk bangku tunggu panjang yang terletak di samping resepsionis.
Untuk mengusir kebosanan menunggu Maira, Stella memilih membuka ponselnya, membaca artikel tentang kehamilan. Ia tidak tahu jika ada orang yang sejak tadi menatapnya lekat.
*****
Xander baru saja menyelesaikan serangkaian perawatan di lukanya. Ternyata tak ada hal yang cukup serius, hanya ada sedikit luka yang perlu dijahit karena cukup dalam.
"Setelah ini kita langsung ke kantor Tuan Herlambang saja Luke, ini sudah siang." Ujar Xander tak tenang jika belum menemui calon investor itu.
"Baik Tuan, Saya akan menyelesaikan pembayaran dulu," ujar Luke mengangguk setuju.
Xander memilih menunggu Luke seraya menghubungi Mamanya. Karena ia lupa kalau sejak tadi belum mengabari orang tuanya. Ia menatap sekeliling rumah sakit seraya menunggu panggilan itu diangkat. Namun, tiba-tiba saja matanya terbelalak lebar saat melihat sosok wanita yang sedang duduk di bangku rumah sakit itu.
"Stella …" ucapnya lirih, mencoba menajamkan sekali lagi kalau penglihatannya ini tidak salah.
Saat Xander menyadari jika wanita itu benar-benar Stella, tubuhnya seolah membeku dan tak bisa digerakkan, ponsel yang di pegangnya merosot jatuh ke bawah. Mulutnya ingin sekali berkata, namun seperti terkunci.
__ADS_1
"Stella, aku udah nih. Balik yuk," Maira kembali menghampiri Stella setelah menyelesaikan hajatnya.
"Sudah?" Stella mengangkat pandangannya dari layar ponsel lalu menyimpannya kembali ke tas.
"Iya, kita langsung pergi ke Restoran aja kali ya, kalau pulang kejauhan," ujar Stella bangkit dari duduknya.
Maira mengangguk setuju, jarak restoran dari rumah sakit lumayan jauh, jadi jika harus pulang dulu malah memakan banyak waktu. Jadi mereka berdua memutuskan untuk langsung ke Restoran saja.
"Stella!" Xander yang melihat Stella akan pergi, reflek langsung berteriak keras hingga semua perhatian teralihkan.
Stella sendiri langsung menoleh saat mendengar namanya di panggil. Ekspresi wajahnya seketika berubah sangat terkejut melihat sosok Xander yang berdiri satu garis lurus di depannya.
Sorot mata Stella tampak berubah-ubah, antara kaget, marah, benci namun juga tatapan penuh kerinduan pada sosok pria yang sejatinya selalu hadir dalam mimpinya ini.
Tapi saat Stella ingat apa yang sudah dilakukan oleh Xander, seketika saja kepanikan melanda dirinya. Ia sangat takut jika Xander akan menangkapnya dan menyiksanya kembali. Pemikiran seperti itu membuat Stella langsung berlari menjauh.
"Stella! Jangan pergi Stella!" Xander juga berlari mengejar Stella. Ia tak akan membiarkan wanita itu pergi lagi.
Stella berlari sekuat tenaga, ia menerobos orang-orang yang berlalu lalang agar segera keluar dari sana.
Xander sendiri tak menyerah, ia beberapa kali menjatuhkan barang-barang rumah sakit yang sempat berpapasan dengannya. Ia harus mendapatkan istrinya kembali, itu yang ada di pikirannya saat ini.
"Stella! Jangan pergi Stella, maafkan aku!" teriak Xander berharap Stella mau mendengar apa yang dikatakannya.
Stella sama sekali tak peduli, ia secepatnya mencari taksi agar Xander tak bisa mendapatkannya. Namun karena terlalu banyak berlari dan kelelahan, tiba-tiba ada darah yang mengalir dari hidung Stella. Perutnya pun terasa kram dan nyeri.
"Ya Tuhan, aku mohon jangan sekarang," pinta Stella memegang perutnya dan mengusap darah yang mengalir di hidungnya.
__ADS_1
Stella menutup matanya, namun sesekali melihat Xander yang semakin dekat.
"Taksi, datang sekarang please," ucap Stella terus memegang perutnya dan mencari sapu tangan untuk menahan darah yang terus keluar dari hidungnya.
"Stella!" Xander berteriak keras saat Stella berhasil masuk kedalam taksi.
Xander tak berhenti begitu saja, ia mengejar taksi itu dan berusaha menjelaskan kepada Stella.
"Stella, turun Stella. Aku mohon, aku minta maaf. Jangan pergi lagi," Xander terus berlarian seraya mengetuk-ngetuk kaca mobil Stella
Tangis Stella pecah, hatinya sudah terlalu sakit jika harus bertemu dengan Xander lagi.
"Pak, tolong lebih cepat pak!" Kata Stella membuang pandangannya ke depan, tak mau lagi melihat Xander yang terus mengejar dirinya.
"Stella, aku mohon …" Xander awalnya masih terus mengejar mobil Stella namun karena mobil itu melaju kencang, Xander tak bisa lagi mengejarnya. Apalagi tenaganya yang belum pulih membuat Xander langsung menjatuhkan dirinya di jalan.
"Stella! Jangan pergi Stella!"
"Argh!!!!" Xander berteriak frustasi dan memukul-mukul jalan dengan tangannya. Tak peduli tangannya berdarah, ia merasa marah karena gagal menemui Stella lagi.
Siang itu cuaca mendung menurunkan curah hujannya, guntur saling bersahutan seolah memperingatkan kepada manusia di bumi ini jika dialah penguasa.
Xander tak beranjak dari sana, membiarkan air hujan membasahinya dirinya. Tanpa orang tahu Xander menangis dalam diamnya. Merasa lemah dan tak berguna karena Stella menolak penjelasan darinya.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1