Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 27. Situasi Yang Kacau.


__ADS_3

Semua orang yang ada disitu terkejut saat kaca disamping mereka pecah berhamburan hingga mengenai mereka. Devan langsung sigap menggunakan tubuhnya untuk melindungi Joana.


Namun, sudah terlambat karena lengan Joana sudah terkena pecahan kaca itu hingga darah langsung keluar.


"Brengsek!" Devan mengumpat marah.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Devan seraya mengecek keadaan Joana.


Joana hanya meringis, perih tentunya karena pecahan itu langsung mengenai lengannya yang terbuka.


"Tuan, sebaiknya Anda bawa Nona pergi. Saya akan mengamankan mereka," titah Ken mengambil pistol revolver yang ada dibalik jasnya.


Devan mengangguk cepat, ia langsung mendorong kursi roda Joana meninggalkan tempat itu. Sebenarnya lengannya pun terluka, tapi ia tidak mempedulikannya, ia harus membawa Joana pergi sebelum suasana semakin kacau.


Namun, semua tentu tinggal rencana. Pasalnya saat Devan sampai di lorong selanjutnya yang menghubungkan lorong itu dengan jalan keluar bagian belakang, sudah banyak anak buah Devan yang baku hantam dengan para polisi yang sudah mengepung tempat itu.


"Sial!" umpat Devan terpaksa memutar kembali langkahnya, ia tidak boleh sampai menunjukkan dirinya disana karena ia bisa dalam bahaya nanti.


Para polisi itu jelas sudah merencanakan penggrebekan tempat Devan dengan sangat matang. Mereka sudah berbulan-bulan mengawasi Devan, dan mereka tidak akan melepaskan Devan dengan mudah.


"Dev, jika mereka mencarimu, pergilah. Aku tidak apa disini sendiri," ujar Joana mulai paham situasi yang terjadi, ia melihat para polisi itu sangat banyak, sepertinya anak Devan akan kalah.


"Kamu gila? Jika kamu tertangkap, justru akan semakin runyam. Kita pergi bersama." Devan membentak kesal.


"Tapi Dev-"


Duarrrrr!


Sebuah tembakan peringatan dilesatkan sebagai tanda bahaya untuk Devan. Ia segera membawa Joana pergi menuju pintu samping rumah. Sebiasa mungkin ia harus menyelamatkan Joana terlebih dulu, setelah itu ia akan menghabisi para pengacau itu.


"Cari Devandra. Dia target kita malam ini." Suara itu terdengar dari balik lorong yang akan Devan dan Joana lewati.


Otomatis Devan langsung memutar langkahnya, ia masuk ke dalam salah satu ruangan yang paling dekat disana. Tapi sialnya sudah ada salah satu polisi yang melihat dirinya.


"Itu Devandra! Cepat tangkap dia!" teriaknya segera memerintah anak buah lainnya untuk mengepung Devan.


"Oh shittttt!" Devan langsung masuk ke dalam kamar itu dan mengunci pintunya, sebelumnya ia melesatkan tembakan ke arah para polisi itu hingga tak sengaja mengenai salah satu dari mereka.


DAK DAK DAK DAK!


"Keluar Devandra! Tempat ini sudah dikepung, kamu tidak akan bisa lolos!" teriak salah satu polisi seraya menggedor pintu ruangan itu.


Joana memandang Devan dengan ekspresi takutnya. Wajahnya sangat pucat sekali melihat banyaknya polisi yang ada diluar. Kini bahkan Joana bisa mendengar suara orang-orang yang saling melawan dan melesatkan tembakan yang sangat keras.

__ADS_1


"Aku akan keluar mengahadapi mereka. Kamu diam disini," kata Devan dengan segala emosinya, ia tidak bisa berpangku tangan begitu saja melihat anak buahnya habis dibantai oleh para polisi itu.


Joana menggeleng cepat-cepat, ia menarik tangan Devan dan memeluknya. "Jangan pergi, Dev. Aku takut," kata Joana, nyatanya hatinya justru tidak tenang jika Devan akan pergi.


"Mereka bukan lawan yang sepadan untukku, aku pasti akan segera kembali. Kamu tidak perlu khawatir," kata Devan segera mengambil pisaunya, ia tidak puas jika menghabisi dengan pistol saja.


Joana semakin mengeratkan pegangannya, ia menggeleng pelan seraya menatap Devan dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Jangan pergi," kata Joana, ia malah takut kalau Devan benar-benar akan tertangkap.


Devan adalah penjahat kelas kakap yang sudah diincar para polisi. Setiap penangkapannya selalu lolos karena jawaban Devan yang pandai. Tapi Joana tidak mau jika Devan akan tertangkap, mungkin terdengar aneh, seharusnya dia senang, tapi hatinya seperti menginginkan Devan itu tetap tinggal.


DAK DAK DAK DAK.


Suara gedoran pintu itu semakin keras, membuat ketakutan Joana semakin menjadi-jadi.


"Disini, kita cari jalan keluarnya," ujar Joana.


Devan menghela napas panjang, ia menunduk lalu menyerahkan pistolnya kepada Joana. "Tugasmu hanya perlu diam, aku yang akan menyelesaikan semuanya. Sekarang bersembuyilah disini, jangan membukanya kalau bukan aku yang datang," ujar Devan, ia meraih Joana ke dalam gendongannya lalu memasukkan wanita itu kedalam lemari yang ada disana.


Joana tetap menahan tangan Devan. "Berjanjilah, untuk kembali," kata Joana.


Devan tersenyum penuh ironi, padahal sebelumnya Joana begitu ingin pergi darinya, tapi sekarang wanita itu justru sangat mencemaskannya. Rasanya Devan merasa malu, wanita dengan hati setulus ini, bagaimana bisa ingin ia lukai.


Dengan berat hati Joana mengangguk, ia mulai melepaskan pegangan tangannya pada Devan, tapi ia tidak melepaskan tatapan matanya.


Devan mengigit bibirnya, ia segera meraih tengkuk Joana lalu mencium keningnya sekilas dan melepaskannya.


"Aku pergi, ingat jangan buka pintunya jika bukan aku yang menjemputmu," titah Devan sekali lagi sebelum benar-benar pergi.


Joana mengangguk pelan, ia hanya bisa diam membiarkan pintu lemari itu perlahan-lahan tertutup hingga ia dipeluk oleh kegelapan. Joana meringkuk, memegang pistol yang diberikan Devan dengan sangat erat. Entah apa yang akan dilakukan wanita lumpuh seperti dirinya jika ia dalam bahaya, ia sangat berharap jika Devan bisa menyelamatkannya.


'Tuhan, apakah kamu bersedia mendengar pendosa seperti diriku? Jika aku boleh meminta, untuk kali ini saja, buat dia kembali dengan selamat padaku.'


_______


Devan membuka ruangan itu dengan santai. Puluhan pistol langsung ditodongkan padanya begitu melihat dirinya keluar. Devan tersenyum sinis, ia mengangkat dagunya angkuh tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Jangan bergerak! Anda sudah tidak bisa pergi kemanapun, Tuan Devandra Dawson. Tempat ini sudah dikepung," ujar ketua kelompok polisi itu.


"Memangnya apa yang sedang aku lakukan? Kalian yang tidak tahu itikad baik, menghancurkan rumahku, dan merusak kesenanganku," desis Devan, ia mulai mempelajari situasi yang sedang terjadi dan menghitung berapa banyak polisi yang ada disana.


Devan mengira-ngira sanggupkah jika ia melawannya sendiri?

__ADS_1


"Kami hanya menjalankan perintah, sebaiknya Anda menyerah sekarang," titah ketua kelompok itu dengan nada yang membuat siapapun pasti akan gentar, tapi tidak dengan Devan.


"Mana surat perintah penangkapannya?" tanya Devan seraya menengadahkan tangannya.


Ketua polisi itu mengambil surat perintah beroperasi miliknya. Dan Devan segera memanfaatkan kesempatan itu untuk meringkus ketua polisi itu dengan pisau ditangannya.


"Arghhhhhhhh! Kurang ajar, tangkap dia!" teriak sang ketua polisi.


Devan membesarkan matanya, ia langsung menendang salah satu polisi yang ingin mendekatinya. Tangannya ikut bekerja menusuk lengan ketua polisi itu hingga jatuh tersungkur.


Devan diapit oleh sekitar 10 orang polisi, dari mereka jelas tidak akan membiarkan Devan mati karena Devan adalah saksi kunci peradangan narkoba dan senjata ilegal yang sudah diburu oleh polisi bertahun-tahun.


Namun, meskipun dikeroyok banyak polisi, Devan dengan mudah melumpuhkan mereka. Ia menyabet setiap tubuh yang mendekatinya dengan brutal. Darah yang muncrat dari tubuh polisi itu mengenai wajah dan baju Devan, tapi ia tidak menghiraukannya.


"Arghhhhhhhh!" Suara teriakan polisi itu menggema tatkala Devan menusuk berkali-kali bagian punggungnya sampai akhirnya polisi itu tumbang.


Devan ingin melawan polisi yang lainnya, tapi kepalanya ditendang dari belakang oleh seseorang dan ia tersungkur. Devan belum sempat menoleh, tapi orang itu langsung menyerang Devan dengan memberikannya pukulan yang keras dibagian tengkuk.


"Oh shittt! Siapa kamu?!" teriak Devan begitu marah, ia menggunakan pisaunya untuk menyabet musuhnya. Tapi sialnya lawannya lebih gesit dan menghindar.


Devan mendesis marah, ia memutar tubuhnya hingga bisa melihat siapa orang yang menyerangnya. Seroang pria dengan pakaian polisi lengkap, umurnya mungkin masih cukup muda. Polisi itu mengacungkan pistol kearah Devan. Polisi itu sepertinya polisi baru karena Devan baru melihatnya.


"Masa berlarimu sudah selesai, Devandra. Sebaiknya menyerahlah," kata polisi muda itu.


Devan mengerutkan dahinya, ia melihat name tag yang tertulis di dada polisi itu. "Rendra Vanderbilt? Bukankah ini terlalu terburu-buru? Menjadi mudah pun tidak akan menyenangkan bukan?" kata Devan dengan santainya justru mengambil rokok dan menyulutnya.


"Aku tidak butuh basa-basimu. Letakkan senjatamu sekarang," kata Rendra.


"Kalau aku tidak mau, apa yang akan kamu lakukan?" Devan masih bersikap sangat santai sekali.


"Tidak masalah, itu artinya kamu belum mengenal baik diriku, Tuan Devandra," kata Rendra mengulas senyum tipisnya.


"Jar!" teriaknya dengan suara keras, memanggil anak buahnya.


Devan mengerutkan dahinya, ia menunggu apa yang akan bocah itu lakukan. Tapi sesaat kemudian ia terkejut melihat Joana diseret keluar oleh dua orang polisi dan kedua tangannya diborgol.


"Joana ...." Devan langsung mengepalkan tangannya, kilat kemarahan itu tergambar sangat jelas dimatanya.


"Bagaimana? Apakah kami perlu melukainya agar kamu mau menyerah? Tidak bukan? Aku yakin dia terlalu penting untukmu. Jadi, kita akhiri sekarang."


Duarrrrr!


_________

__ADS_1



__ADS_2