
Joana mempersiapkan dirinya dengan sebaik mungkin. Ia tampak sangat gugup sekali karena akan bertemu orang banyak setelah sekian lama. Joana masih sedikit bersyukur karena dulu Papa Medison tidak memblow-up skandalnya di publik dan menutup mulut para wartawan yang ingin tahu kabar tentang Joana.
Namun, kabar tentang Joana bukan anak kandung keluarga Medison itu tidak bisa ditutupi lagi. Keluarga Medison sangat terkenal dan pewaris keluarga itu tentu yang menjadi sorotan publik.
Setelah dirasa penampilannya cukup menarik, Joana segera pergi bersama Bibi Tania yang selalu siaga untuk mengantar dia kemanapun. Meski Joana sering bersikap ketus, tapi rasa sayang Bibi Tania tidak berkurang sedikitpun.
Joana pikir pameran itu hanya diikuti sedikit peserta. Tapi ternyata sangat banyak sekali, dan lukisan mereka sangat bagus-bagus. Joana merasa minder dengan hasil karyanya, belum lagi penampilannya yang sangat jauh dari kata sempurna itu.
"Mengejar mimpi itu bukan sekedar tentang ambisi. Tapi kita harus mewujudkan yang sebelumnya hanya mimpi, menjadi sesuatu yang membanggakan. Ayo, hal indah menantimu disana," ujar Tania mengusap lembut bahu Joana, kata-katanya begitu bijak sekali, membuat Joana begitu tersentuh.
Joana memandang ibunya, memandang wanita yang selama ini selalu ia perlakuan sangat buruk karena menganggap wanita itu begitu jahat. Joana tidak membernarkan perbuatan ibunya karena telah dengan tega menukar bayi yang tidak bersalah hanya untuk kehidupan yang layak bagi dirinya.
Namun, Joana bisa merasakannya rasa sayang yang sangat besar dari wanita itu.
"Terima kasih," ucap Joana dengan suara yang kecil.
"Hm?" Tania menoleh, ingin mendengar lebih jelas apa yang dikatakan oleh Joana.
"Terima kasih, ibu," kata Joana dengan suara tercekat, lidahnya sangat kelu ketika memanggil kata ibu.
__ADS_1
Tania begitu terkejut, air matanya seolah luruh begitu saja mendengar putrinya mau memanggilnya Ibu setelah sekian lama. Ia tersenyum, tapi menangis secara bersamaan. Ia mengusap pipi Joana dengan lembut.
"Ayo kita masuk, acaranya akan segera dimulai," ucap Tania segera mendorong kursi roda putrinya masuk ke dalam gedung itu.
Tania tidak pernah menginginkan apapun di dunia ini selain kebahagiaan putrinya. Dulu, ia tidak berhasil memperjuangkannya didepan sang ayah dan harus membuang anaknya sendiri setelah dilahirkan. Tapi Tania yang sudah begitu menyayangi putrinya, tidak mau melakukannya dan ingin merawat putrinya dengan tangannya sendiri.
Tania ingin putrinya mendapatkan apapun yang terbaik, tapi semua itu tentu bukan hal yang mudah untuk dirinya. Ia harus menentang orang tua dan terusir dari rumah.
Tania merasa tidak terima diperlakukan seperti itu, sehingga ia nekat untuk menukar bayi kakaknya dengan bayinya sendiri agar putrinya mendapatkan kehidupan yang nyaman. Tania tidak peduli jika ia harus menjadi jahat, baginya yang terpenting adalah kebahagiaan putrinya.
Sekarang saat Joana menyebutnya dengan sebutan ibu, ternyata rasanya berkali-kali lipat lebih menyenangkan.
_______
Acara pameran itu digelar jam 7 malam hingga selesai. Disana ternyata juga diadakan lelang, bagi siapa yang berani membayar dengan harga tinggi, maka akan mendapatkan lukisan yang ia mau.
Joana mendengar nominal uang yang disebutkan dengan tubuh yang gemetaran, sepertinya yang datang kesana adalah golongan crazy rich yang dengan mudah menggelontorkan uangnya puluhan juta hanya karena sebuah lukisan.
"Lukisan selanjutnya, diberi nama Granenca. Lukisan ini dibuat oleh Hidden J. Siapa yang ingin mengambilnya? Harga awal 10 juta," ucap sang pembawa acara.
__ADS_1
Joana sengaja memasang harga murah karena belum tentu ada yang mengerti arti lukisan itu. Memang hanya sebuah lukisan, tapi bagi Joana lukisan adalah tempatnya menuangkan perasaan.
"30 juta, Deal!" teriak salah satu orang mengangkat tangannya.
"40juta, Deal!"
Beberapa orang kemudian saling menyahut dan menawar lukisan itu. Mereka pasti bisa membaca apa arti yang dilukiskan oleh Joana itu karena kebanyakan dari mereka adalah penyuka seni.
"160juta, stop!" Teriakan yang terakhir itu yang paling tinggi dari semua yang menawar.
"160 juta, apakah ada yang berani lebih tinggi?" tawar sang pembawa acara sebelum memutuskan akan memberikan lukisan itu.
Tidak ada sahutan dari orang-orang karena harga lukisan itu sudah terlalu mahal dan sepadan dengan lukisan yang akan dibeli. Tingkat kerumitan dalam lukisan itu yang menjadi daya jual yang kuat.
"Baiklah, jika tidak ada yang berani lebih tinggi, saya putuskan lukisan Granenca, katanya Hideen J, akan jatuh kepada ..."
"Aku berani membayar satu miliar."
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.