Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Bertemu Untuk Kedua Kalinya.


__ADS_3

Perusahan Harvis terletak cukup jauh dari restoran tempat Stella bekerja. Ia harus menempuh perjalanan sekitar 45 menit baru sampai di sana. Perusahaan itu merupakan perusahaan besar dan paling berpengaruh di kota Surabaya. Jadi tak heran jika sering mengadakan meeting dan selalu mempercayakan di Restoran Daniel.


"Ini kantornya, Ra? Gede banget ternyata," ujar Stella kagum melihat besarnya kantor Harvis.


"Iya, kamu nunggu di mobil ajalah, aku yang bawa ini masuk," ujar Maira sedikit menyipitkan matanya saat terik matahari begitu menyengat.


"Loh kenapa? Aku bantuin aja, ini nggak berat kok, santai aja" ujar Stella langsung ikut turun dari mobil untuk membawa pesanan masuk.


"Kamu lagi hamil Stella, udah biar aku aja," kata Maira.


"Enggak, aku kuat. Ayo kita bawa masuk, udah pada nunggu nih pasti," Stella tetap kekeh mengangkat semua makanan itu sendiri, ia hanya hamil, bukan sakit. Jadi ia masih bisa mengerjakan ini semua sendiri.


Di sisi lain Xander juga baru saja menyelesaikan meeting terakhirnya. Ia sangat puas karena Tuan Herlambang sudah setuju untuk menjadi investor di kantornya. Setidaknya ada setitik pelangi dari masalahnya yang gelap gulita.


"Setelah ini kamu hubungi Rian, suruh dia mengurus karyawan pabrik yang terus berbuat ulah. Aku jadi ingin tahu siapa orang yang mengkhianati ku," ujar Xander dengan wajah seriusnya.


"Baik Tuan," sahut Luke mengangguk mantap.


"Oh ya, apa sudah mendapatkan hasil untuk masalah waktu itu?" ujar Xander tiba-tiba teringat sesuatu.


"Sudah saya lakukan, tapi orang tua itu cukup sulit untuk membagi informasi. Dia salah satu pria yang sering menghabiskan uangnya di Kasino," kata Luke melaporkan.


"Kasino?"


"Benar Tuan,"


"Itu hal bagus, awasi saja pergerakannya, aku yang akan menemuinya sendiri nanti," ujar Xander tersenyum licik, sepertinya ia tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Xander lalu melanjutkan langkahnya, ia baru saja keluar dari lift di lantai bawah kantor. Hari ini seharusnya ia sudah bisa pulang ke rumah, tapi ia tak akan pulang sebelum menemukan Stella.


"Pak, kami dari Restoran X, kami ingin mengantarkan pesanan atas nama ibu Winda,"

__ADS_1


Deg


Seketika langkah Xander terhenti, matanya terbelalak lebar saat mendengar suara wanita yang sangat dikenalnya. Kepalanya otomatis menoleh melihat sosok wanita yang kini sedang sibuk mengangkat dua kantong plastik kotak makan siang.


"Stella ..." Bibir Xander berucap tanpa suara, ia memperhatikan dengan seksama bagaimana Stella mengangkat kotak makanan itu dengan susah payah. Tubuhnya yang mungil tampak cukup kesusahan, namun wanita itu seperti memaksanya.


Xander mendekatkan langkahnya, ia tak ingin memanggil Stella, karena jika itu ia lakukan, wanita itu pasti akan pergi. Ia memilih berdiri di belakang pillar besar yang sangat dekat dengan Stella.


"Semuanya sudah saya bawa kesini ya, Tuan. Untuk pembayarannya sudah lunas," ucap Stella mengulas senyum manis meski ia cukup lelah karena membawa kotak-kotak makanan itu dari luar.


"Terima kasih, tapi tolong bawakan ke dalam sekalian ya, sudah di tunggu soalnya," ujar seorang pria yang mengatur catering makan siang ini.


"Oh, baiklah" Stella mengangguk setuju, ia dan Maira segera mengangkat kembali kotak-kotak itu menuju ruangan lain.


Xander yang melihat apa yang dilakukan Stella hanya bisa tersenyum miris. Hatinya seperti di remas-remas melihat bagaimana Stella harus bekerja dengan susah payah. Wanita itu terlihat sangat lelah, tapi ia masih bisa tersenyum begitu manis.


"Stella, apa yang sudah aku lakukan padamu?" batin Xander seperti di hatam gelombang dahsyat yang membuat hatinya luluh lantak.


"Maafkan aku Stella, maafkan aku ..."


*****


Xander masih terus memperhatikan Stella sampai wanita itu keluar dari kantor. Sejak tadi Xander tak henti menghela nafas berat karena perasaan bersalah juga kerinduan kepada Stella.


"Tuan, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Luke bingung kenapa Xander sejak tadi hanya diam memperhatikan Stella, kenapa tidak menemuinya? Pikir Luke.


"Aku sengaja, Stella pasti akan kabur lagi jika bertemu denganku," sahut Xander.


Luke mengangguk-angguk mengerti. "Lalu apa yang akan kita lakukan, Tuan? Sepertinya Nona Stella akan pergi," ujar Luke ikut memperhatikan Stella.


"Aku akan mengikutinya, ayo Luke" ucap Xander bergerak cepat mengajak Luke ke mobil untuk mengikuti Stella. Ia harus tahu dimana Stella tinggal, itulah yang dipikirkan Xander saat ini.

__ADS_1


Xander mengikuti mobil Stella dengan perlahan, ia tak ingin terlalu kentara agar Stella curiga. Akhirnya ia bisa tahu kalau saat ini Stella sedang bekerja di sebuah restoran.


"Aku harus masuk kesana Luke," ujar Xander tak bisa lagi menahan dirinya untuk berdiam diri. Ia ingin sekali menemui Stella dan memeluk wanita itu segera.


"Jangan dulu Tuan, saat ini saya rasa belum aman. Kita perhatikan saja dulu," ujar Luke memikirkan segala kemungkinan yang ada.


"Tapi mau sampai kapan? Stella akan terus lari dariku," ucap Xander men de sah frustasi.


"Jika memang Anda ingin sekali bertemu, sebaiknya Anda menggunakan penyamaran," ucap Luke menemukan ide bagus di kepalanya.


Xander membesarkan matanya, Luke benar. Ia harus menyamar agar Stella tidak tahu jika itu adalah dirinya.


"Kau benar, aku harus menyamar agar bisa bertemu Stella," ucap Xander mengulas senyum tipis.


Luke ikut tersenyum saat bisa melihat kembali atasannya itu tersenyum. Ia segera membelikan Xander baju baru, topi dan juga masker untuk menutupi identitasnya. Saat di rasa Xander sudah tak bisa dikenali, pria itu langsung masuk ke dalam restoran.


Jantung Xander berdetak kencang saat bisa melihat wajah Stella dengan jelas. Wanita itu sama sekali tidak berubah, ia masih cantik seperti yang dia ingat. Bahkan sekarang Xander rasa semakin cantik.


Kakinya tiba-tiba bergerak mengikuti instingnya untuk mendekat ke arah Stella, tatapan Xander tak putus sama sekali pada wanita indah itu.


"Selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Stella langsung bangkit dan menyapa ketika melihat orang berdiri di depannya.


Xander hanya diam saja, ia terus memperhatikan Stella hingga tanpa sadar air matanya mengumpul di sudut mata. Pertemuan ini benar-benar sangat berarti baginya.


"Tuan?" Stella menyapa kembali saat tak mendapatkan tanggapan, ia mengerutkan dahinya saat melihat mata Xander yang entah kenapa seolah ia mengenalinya.


"Aku, ingin pesan kopi," ucap Xander mengepalkan tangannya erat untuk menahan perasaannya.


"Kopi apa Tuan? Ini daftar menu di restoran kami, silahkan di pilih," Stella mengambilkan buku menu dan menunjukkannya pada Xander. Posisinya saat ini dengan Xander sangat dekat hingga membuat Xander hampir tak bisa mengendalikan dirinya.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2