
Xander memakai pakaian khusus setelah ia mencuci tangannya. Ia menguatkan hatinya yang sudah hancur berkeping-keping untuk menemui Stella. Sebenarnya hal ini belum boleh dilakukan, tapi Xander memaksa ingin bertemu Stella.
Saat ia masuk kedalam, keheningan langsung menyapa dirinya. Pandangan Xander terpaku pada sosok wanita yang kini berbaring dengan segala alat bantu kehidupannya. Perlahan Xander mendekatkan langkahnya, ia menarik nafas berkali-kali demi menahan air mata yang sudah di pelupuk mata.
"Stella, cepatlah bangun," ucap Xander menggenggam lembut tangan Stella yang terasa dingin.
Tak ada sahutan apapun, hanya suara monitor yang menjadi jawaban perkataan Xander.
"Kau tahu, kau adalah wanita yang paling hebat yang pernah aku temui. Kau berani melawan penyakit itu sendirian demi anak kita. Sekarang, anak kita sudah lahir, apa kau tidak mau bangun dan melihatnya?" ucap Xander dengan suara tercekat saat mengingat bayi mereka yang sama-sama masih butuh perawatan.
"Stella, sekarang bangunlah. Jangan terlalu lama tidur, aku disini menunggumu Stella, bangunlah, buka matamu. Kembalilah padaku Stella, bukankah kau mengatakan sangat mencintaiku, kau ingin terus bersamaku 'kan?" ucap Xander harus berulang kali menghela nafas untuk menyampaikan apa yang diucapkannya.
Hening sejenak, tidak ada sahutan apapun dari Stella membuat Xander sangat frustasi. Xander bangun dari duduknya dan mengelus lembut rambut Stella.
"Stella, bangunlah. Aku akan sangat marah padamu jika kau tidak segera bangun. Ayo bangun Stella, jangan menyiksaku seperti ini. Kalau kau tidak bangun juga, aku akan marah untuk alasan apapun. Ayo bangun Stella, kembalilah padaku," ucap Xander awalnya sangat keras seraya menangis, tapi diakhir kalimat terdengar lirih dan putus asa.
Kembali hening, hanya suara mesin monitor dan tangis Xander yang menyayat hati. Namun tiba-tiba monitor itu berbunyi sangat nyaring diikuti tubuh Stella yang kejang-kejang.
"Stella?" seru Xander terkejut.
"Xander, kau harus keluar dulu. Biarkan kami menanganinya," Beberapa dokter masuk kedalam ruangan Stella saat mendengar ada yang tidak beres.
Tubuh Xander memaku melihat tubuh istrinya yang terus kejang, ia tak rela saat tubuhnya di seret keluar oleh perawat.
"Xander, apa Nak?" tanya Mama Rita.
Xander menggelengkan kepalanya seraya menjambak rambutnya. Apa yang sudah dilakukannya, seharusnya ia tidak memaksa Stella seperti tadi.
Xander lalu menyandarkan kepalanya di kaca penghubung ruangan Stella, melihat dengan mata kepalanya sendiri tubuh kecil istrinya terus ditekan hingga terhentak berulang kali.
__ADS_1
"Stella, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan memarahi mu nanti. Bertahanlah."
Xander ikut sakit melihat apa yang terjadi dengan Stella. Ia tak tahu apa yang akan terjadi lagi setelah ini, ia hanya memperhatikan apa yang dilakukan dokter dengan air mata yang tak henti mengalir.
****
"Detak jantungnya sangat lemah, kita harus segera melakukan tindakan," Dokter senior yang menangani Stella juga sudah menggelengkan kepalanya melihat kondisi Stella yang memburuk meski sudah mendapatkan transfusi darah.
Dokter Mazaya mengangguk singkat, ia melangkahkan kakinya dengan gontai menemui semua keluarga Stella yang sudah menunggunya di depan. Wajah-wajah panik dan penuh harap itu memandang Dokter Mazaya dengan tatapan yang sama.
"Kondisi Stella semakin memburuk, aku bukan Tuhan yang bisa memprediksi kematian seseorang, tapi kau harus segera mengambil keputusan Xander," ucap Dokter Mazaya langsung tanpa bertele-tele.
Xander mengepalkan tangannya erat, ia memandang Papa Medison yang sudah sangat siap mendonorkan sum-sum tulang belakangnya untuk Stella.
"Aku setuju Dokter, lakukan yang terbaik untuk istriku," ucap Xander mengangkat pandangannya ke atas, berharap semua yang dilakukannya ini sudah tepat.
Papa Medison menarik nafas lega, ia menatap Melisa yang menggenggam tangannya erat. Medison langsung memeluknya dan tangis Melisa seketika langsung pecah.
Melisa mengangguk seraya mengeratkan pelukannya, mana mungkin ia bisa memilih antara anak dan suaminya sendiri. Ia hanya bisa berdoa, semoga ada jalan yang terbaik untuk mereka semua.
Medison segera melakukan segala tes tentang kesehatannya. Memastikan kalau DNA nya dengan Stella cocok dan tentunya dalam kondisi yang sehat. Selain itu, sum-sum tulang belakang keduanya juga memiliki kecocokan hampir 95%. Hal ini membuktikan dengan jelas kalau Stella memanglah putri kandung Medison.
Setelah semua prosedur dilakukan, Medison dan Stella di dorong ke dalam ruang operasi. Medison sedikit memberikan senyumnya kepada semua orang yang menanti mereka kembali dengan selamat.
"Sampaikan salamku pada Stella Pa, katakan aku selalu menunggunya," ucap Xander menggenggam tangan mertuanya. Sedikit memberikan semangat untuk mertuanya agar bisa kembali bersama keluarga mereka.
*****
Di salah satu kota yang terpencil, terlihat seorang wanita yang berjibaku dengan alat-alat lukisnya. Ia duduk di kursi taman belakang seraya memandang keindahan alam yang sejuk. Wajahnya tampak sanga serius memperhatikan lukisannya yang hampir saja jadi.
__ADS_1
"Joana Sayang, kita sarapan dulu yuk," Tania menghampiri putrinya seraya membawa segelas susu dan roti panggang yang hangat.
Sudah beberapa bulan ini mereka berdua tinggal bersama di kota itu. Joana juga masih sering melakukan pengobatan meski belum ada kemajuan apapun, ia kini lebih sering menghabiskan waktunya dengan melukis agar tidak selalu ingat dengan kakinya yang lumpuh.
"Udahan dong melukisnya, ini udah siang loh. Makan ya," bujuk Tania melihat Joana yang bergeming sama sekali.
"Taruh saja di situ," ucap Joana menunjuk meja kosong di sampingnya.
Tania menurut, ia meletakkan sarapan yang dibawanya lalu melihat lukisan Joana. "Wah, lukisannya sangat bagus Sayang, kau sudah semakin pandai sekarang. Andai saja Xander tahu kalau kau punya kehebatan ini, ibu yakin dia akan menyesal," ucap Tania lagi.
Ucapannya itu kini berhasil membuat Joana meliriknya. "Sudah berapa kali aku katakan, jangan menyebut nama pria itu!" sentak Joana marah.
"Kenapa? Apa kau sudah tidak mencintainya? Ibu baru mendapatkan kabar kalau Stella saat ini sedang dirawat karena sakit parah, ibu rasa sebentar lagi, Xander akan mencari mu kembali," ucap Tania berniat menghibur putrinya yang masih sangat sedih jika mengingat Xander.
"Aku tidak perduli! Kenapa kau selalu mengajarkanku semua sifat buruk mu! Kau tahu, aku tidak akan membenci Stella kalau bukan karena kau! Sejak kecil kau selalu meracuniku untuk selalu bersikap serakah!" teriak Joana marah bukan karena Xander atau Stella, tapi ia marah kepada wanita yang mengatakan kalau dia adalah ibunya.
"Joana, kenapa kau berbicara seperti itu? Ibu ingin yang terbaik untukmu," kata Tania tak percaya Joana akan berkata seperti itu.
"Terbaik untukku? Tapi kau salah besar Bibi Tania! Kau membuat aku tumbuh menjadi wanita licik yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuanku! Semua ini adalah salahmu! Karena kau hidupku menjadi hancur! Aku membencimu Bibi! Aku sangat membencimu! Sampai mati pun aku tidak mau menyebutmu Ibu! Karena kau bukanlah Ibuku!" Joana menjerit histeris seraya menangis, ia segera memutar kursi rodanya meninggalkan Tania.
Tania diam memaku, tubuhnya bergetar hebat mendengar ucapan Joana yang tidak mau mengakuinya. Air matanya perlahan menetes membasahi pipinya, inikah karmanya? Dibenci oleh putrinya sendiri adalah hukuman terkejam dan sangat menyakitkan untuk Tania.
Happy Reading.
Tbc.
Mohon maaf untuk keterlambatan up ..
Jangan lupa like dan komen ya gengs ..
__ADS_1
Author juga mau kasih rekomendasi novel bagus nih, mampir ke karya teman author ya 👇👇👇