
Medison tersentak mendengar suara istrinya, ia tampak gelagapan dan begitu kuku, ia takut salah menjawab jika ditanya istrinya.
"Memangnya ada apa, Ma? Papa baik-baik saja kok," sahut Medison mencoba tersenyum agar istrinya tidak curiga.
"Belakangan ini, Mama perhatikan Papa menjadi sangat sibuk, ada masalah di kantor?" tanya Melisa sudah sangat hafal betul gelagat suaminya jika sedang memikirkan sesuatu.
"Enggak, Papa enggak ada masalah apa-apa. Mama nggak usah mikirin itu, mendingan Mama fokus saja pada kesembuhan Joana," ucap Medison tak ngin bercerita lebih dulu, ia merasa waktunya saat ini belum tepat.
Melisa mengurutkan dahinya, merasa suaminya ini sedang tidak berkata jujur. Membina rumah tangga selama hampir 30 tahun, tentu ia sudah sangat hafal bagaimana sikap suaminya ini.
"Papa yakin nggak bohong sama Mama?" tanya Melisa mencoba bersikap lembut agar suaminya mau berbicara.
Namun nyatanya Medison tetap bungkam hingga membuat Melisa semakin curiga. Apalagi belakangan ini ia sering melihat suaminya itu memperhatikan Joana secara diam-diam. Puncaknya adalah saat mereka mendatangi Xander untuk meminta pertanggungjawaban pria itu, namun yang mereka dapatkan justru sebuah penghinaan.
"Ini nggak bisa dibiarkan, anak itu sudah membuat malu nama keluarga kita! Ini semua adalah salah Mama, akibat didikan Mama yang terlalu memanjakan Joana, dia menjadi seperti ini!" Medison langsung marah-marah di kamar, ia merasa namanya tercoreng dan harga dirinya diinjak-injak karena ulah Joana hamil diluar nikah.
"Kenapa Papa malah nyalahin Mama? Bukannya Papa tahu bagaimana sifat Joana? Dia tidak mungkin seperti ini kalau bukan karena rayuan dari Xander," ujar Melisa tak terima putrinya disalahkan.
"Bisakah Mama tidak menyalahkan orang lain? Apa selama ini Mama selalu memperhatikan Joana? Bagaimana dia tumbuh dan bagaimana pergaulannya? Mama tidak pernah memperhatikan dia! Mama hanya mementingkan status sosial tanpa mau tahu apa yang sedang dilakukan Joana di luar sana!" sergah Papa Medison sudah tak bisa lagi menahan amarahnya, apalagi belakangan ini otaknya selalu diracuni oleh kecurigaan tentang jati diri Joana yang sebenarnya.
"Oh jadi semua ini salah Mama? Mama yang salah di sini? Tega ya kamu Pa? Padahal selama ini Mama yang selalu ada untuk Papa dan selalu menemani Papa dari nol sampai sekarang. Papa anggap apa semua itu?" jerit Melisa geram, ia tak terima jika dirinya di salahkan. Ia juga seorang ibu, mana mungkin ia akan membiarkan putrinya mendapatkan perlakuan seperti ini.
"Jadi kau ingin itung-itungan? Sepertinya aku harus mengingatkan padamu Melisa, bagaimana dulu hubungan kita terbentuk. Aku tidak akan mau menikahi mu kalau bukan karena perjodohan keluarga kita!" tukas Medison malah melebar ke mana-mana.
"Lalu, apa kau pikir aku mau menikah dengan pria sepertimu jika bukan karena di jodohkan? Tidak! Aku juga tidak akan mau!" sahut Melisa tak mau kalah, ia sebenarnya wanita lemah lembut, tapi sekarang ia tak bisa lagi menahan emosinya akibat terlalu geram dengan apa yang dikatakan Medison.
__ADS_1
"Pantaslah, sekarang aku tahu apa alasannya dan aku sangat yakin kalau dugaanku itu benar," ucap Medison mengertakan giginya erat, emosinya langsung muncul seketika.
"Dugaan?" Melisa mengurutkan dahinya tak mengerti.
"Iya dugaan, dugaan kalau kau sudah berselingkuh di belakangku," tuduh Papa Medison tanpa basa-basi.
Melisa tentu sangat syok mendengar hal itu, ia menggelengkan kepalanya seolah tak percaya jika suaminya bisa berkata hal yang sangat menyakitkan seperti ini.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Melisa semakin tak mengerti.
"Sekarang kau ingin bertingkah tidak tahu apa-apa Melisa? Sudahlah, katakan saja yang sebenarnya, anak siapa Joana itu," ujar Medison langsung saja menjebloskan apa yang dipikirkannya.
"Anak siapa? Papa meragukan Putri kita sendiri?" Melisa justru semakin geram karena tuduhan suaminya itu.
"Bagaimana mungkin aku tidak ragu, sedangkan sudah jelas buktinya kalau Joana memanglah bukan anakku,"
"Kalau memang kau tidak berselingkuh, kenapa golongan darahku dan Joana tidak sama!" Medison mengambil sebuah kertas yang berisi hasil pemeriksaan rumah sakit lalu melemparkannya ke arah Melisa.
Melisa yang masih sangat terkejut langsung membuka surat itu dengan tangan gemetaran. Ia sesekali menatap suaminya dan menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya itu.
"Kau lihat itu? Bagaimana mungkin Joana bisa memiliki golongan darah AB rhesus negatif sedangkan aku memiliki golongan darah O," ucap Medison tak ingin mencurigai istrinya, tapi buktinya sudah jelas kalau Joana memanglah bukan putri kandungnya.
Melisa menutup mulutnya saat membaca keseluruhan data yang berisi tentang Joana dan suaminya. Ia bukan orang yang mengerti hal-hal medis, namun ia sangat tahu jika 99% gen yang menurun kepada anak, adalah gen dari sang Ayah. Lalu kenapa Joana bisa memiliki golongan darah yang berbeda dengan Ayahnya?
"Ini tidak mungkin ... ." Melisa menggelengkan kepalanya, benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja dibaca.
__ADS_1
"Berhentilah mengelak Melisa, katakan saja anak siapa sebenarnya Joana itu? Siapa yang sudah menghamili mu?" desak Medison mencengkram kedua lengan Melisa dengan erat, suami mana yang rela jika tahu istrinya berselingkuh di belakangnya.
"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, aku tidak pernah berselingkuh darimu, ini pasti ada yang salah. Aku yakin dokter pasti salah melakukan pemeriksaan, kita harus melakukannya lagi, Papa" ucap Melisa sangat-sangat yakin.
Meski ia dulu tidak mencintai suaminya namun seiring berjalannya waktu ia sudah bisa menerima takdirnya dan menjalaninya dengan ikhlas. Ia juga bukan tipe wanita yang sembarangan akan memberikan tubuhnya kepada pria lain.
"Melisa tolong ... katakanlah, aku tidak marah padamu jika itu benar, tapi setidaknya katakanlah dengan jujur," ucap Medison lagi, kali ini suaranya terdengar lirih dan begitu terluka, ia memandang istrinya dengan begitu sendu.
Melisa ikut sakit melihat tatapan mata suaminya namun ia juga sangat yakin dengan pendiriannya.
"Apalagi yang harus aku katakan? Kau sudah lebih mengenalku Medison, apakah menurutmu aku wanita yang mudah memberikan tubuhku kepada pria lain?" tanya Melisa memandang suaminya dengan tatapan yang sama sendunya.
"Tapi kenapa Joana ..." Medison tk sanggup lagi melanjutkan perkataannya.
Sejujurnya ia tak ingin mengungkit masalah ini dan ingin menganggap kalau Joana itu memanglah putrinya. Apalagi dulu ia sangat menginginkan seorang anak dan harus menunggunya selama 4 tahun. Jadi ia benar-benar sudah mencintai putrinya itu melebihi nyawanya sendiri.
"Ini pasti ada yang salah Pa, percaya sama Mama. Mama tidak pernah mengkhianati Papa," ucap Mama Melisa menggenggam tangan suaminya dengan erat.
Medison menggelengkan kepalanya. "Papa sudah mencoba melakukan tes di berbagai rumah sakit dan jawabannya tetap sama, Ma" ucap Medison balas menggenggam erat tangan istrinya, ia berusaha menahan emosinya dalam-dalam.
"Jadi menurut Papa?" Mama Melisa mengusap air matanya, ja menatap suaminya dengan tatapan tahu sama tahu.
"Jika Mama sangat yakin tidak pernah melakukan hal itu, kemungkinan besar ada yang menukar Putri kita saat mereka lahir dulu,"
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.