Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Bersaing Dengan Adil.


__ADS_3

"Sudah Sayang, Kamu harus fokus pada kesembuhan kamu dulu. Nanti kamu bisa mencari Stella lagi," ucap Mama Rita rasanya ingin ikut menangis melihat kondisi putranya yang sangat hancur.


"Aku harus pergi Ma" Xander tak ingin menyerah semudah itu. Ia segera bangkit dan mencabut infusnya dengan kasar.


"Xander, apa yang kamu lakukan? Kamu itu masih sakit," Mama Rita memekik kaget melihat apa yang dilakukan putranya.


"Aku mau mencari Stella," ucap Xander sedikit sempoyongan ketika ia turun dari ranjang.


Mama Rita sudah mencoba mencegahnya tapi sama sekali tak mengurungkan niat Xander untuk pergi menemui Daniel dan menanyakan keberadaan Stella.


"Baiklah, kalau kamu mau pergi, Mama harus ikut," ujar Mama Rita tak ingin anaknya kembali babak belur jika menemui Daniel sendiri.


Mereka berdua masih berjiwa muda dan semua masalah seolah bisa terselesaikan dengan emosi sesaat. Jadi Mama Rita ingin menjadi penengah diantara mereka berdua.


*****


Hari ini Daniel tak begitu banyak pekerjaan, ia masih melimpahkan semua pekerjaannya kepada asisten pribadinya. Daniel sebenarnya ingin menyusul Stella di tempat barunya, tapi Daniel masih pikir-pikir lagi. Saat ini anak buah Xander pasti masih mengawasinya dengan ketat, dan ia tak ingin bertindak gegabah yang akan merugikannya sendiri nanti.


"Selamat siang Tuan, di luar ada tamu yang ingin bertemu Anda," ujar salah satu pengawal mendatangi Daniel yang tengah menikmati waktu santainya.


"Siapa?" tanya Daniel mengerutkan dahinya, seingatnya ia tak mempunyai janji dengan siapapun hari ini.


"Tuan Xander,"


"Ck, suruh saja dia pergi, aku tidak mau menemuinya," sergah Daniel malas sekali jika harus bertemu Xander. Kenapa juga pria itu kembali mendatanginya, apakah apa yang dilakukannya semalam tidak membuat pria itu kapok?

__ADS_1


"Maaf Tuan, tapi kali ini Tuan Xander tidak datang sendiri, beliau datang bersama ibunya," ujar pengawal lagi.


Daniel tersenyum sinis mendengarnya, jadi ba ji ngan itu sekarang membawa ibunya sebagai senjata?


"Baiklah, suruh mereka menungguku," ucap Daniel meski tahu kedatangan Xander hanya untuk mencari tahu tentang Stella, namun ia juga penasaran karena pria itu tak juga menyerah.


Daniel bangkit dari duduknya, ia berjalan menuruni tangga untuk menyambut tamu tak diundang itu. Daniel sedikit mengangkat alisnya saat melihat kondisi Xander yang penuh perban itu, separah itukah dia menghajar Xander semalam.


"Ada apa kau menemui ku lagi? Mau menanyakan keberadaan Stella? Sudah aku katakan aku tak akan memberitahunya," ucap Daniel ketus seraya melirik Xander sinis.


Xander membuka mulutnya bersiap untuk menyahut, namun Mama Rita lebih dulu menahan tangannya, pertanda meminta putranya untuk diam dulu.


"Maaf sebelumnya jika kedatangan kami mengganggu waktu Nak, Daniel.  Maksud kedatangan kami kesini, memang benar ingin menanyakan dimana keberadaan Stella, apakah Nak Daniel tahu?" ucap Mama Rita berbicara lembut, mencoba perlahan-lahan membujuk Daniel untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Kalau pun aku tahu, aku tidak akan memberitahukannya kepada anak Anda, untuk apa sekarang mencarinya? Untuk menyakitinya lagi?" ucap Daniel.


"Apapun alasanmu, aku tidak akan memberitahu dimana Stella," ucap Daniel tak kalah tegasnya.


"Sebenarnya apa maumu? Kau ingin bersaing mendapatkannya? Harusnya kau tahu kalau saat ini dia masih istri sah ku," kata Xander tak peduli Mamanya yang mencoba menenangkannya.


"Saat ini bisa saja berubah nanti," kata Daniel mengulas senyum tipisnya.


Xander mengepalkan tangannya erat, kepalanya kembali berdenyut pusing, tapi ia menahannya sekuat tenaga.


"Tidak akan ada yang berubah, Stella akan tetap menjadi istriku, sekarang, besok dan selamanya," ucap Xander dengan suara yang paling serius yang pernah Mamanya dengar.

__ADS_1


Sekarang Mama Rita percaya kalau Xander benar-benar sudah menyesali perbuatannya dulu.


"Nak Daniel, Tante disini bukan ingin memaksa atau bagaimana. Tapi saat ini Stella sedang hamil, dia pasti butuh sosok suami yang perlu mendampinginya. Putraku mungkin memang sudah pernah membuat kesalahan, tapi bukankah setiap orang bisa mendapatkan kesempatan kedua?" ujar Mama Rita, sekali lagi mencoba untuk membujuk Daniel agar membuka mulutnya.


"Maaf Tante, jika Tante berpikir aku akan berubah pikiran karena kedatangan kalian. Aku akan menjawab dengan tegas, kalau aku tidak akan memberitahu dimana Stella berada saat ini," ucap Daniel tak goyah sama sekali membuat Mama Rita dan Xander bungkam.


"Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin kalian katakan, aku akan pergi, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Daniel mengusir halus seraya bangkit dari duduknya.


Xander ikut bangkit dan menatap lurus pada punggung Daniel yang berjalan menjauh. 


"Kalau kau tidak ingin memberitahu dimana Stella, setidaknya jangan menyembunyikannya!" ucapan Xander membuat langkah Daniel terhenti. Ia segera memutar tubuhnya dan mengerutkan dahinya.


"Aku tidak menyembunyikannya. Aku hanya menuruti keinginan wanita yang aku cintai," sahut Daniel jelas menantang Xander secara terang-terangan.


Xander mengertakkan giginya, Daniel memang pria yang sangat gila. Beraninya pria itu mengatakan kalau mencintai istrinya.


"Kita sama-sama mencintainya, tapi kau harus terima kenyataan kalau Stella hanya mencintaiku!" ucap Xander sangat yakin kalau rasa cinta Stella tidak akan berubah sedikitpun.


Daniel tersenyum tipis, hatinya cukup nyeri karena apa yang dikatakan Xander memang sepenuhnya benar. Tapi ia juga tak akan pernah menyerah untuk memperjuangkan cintanya.


"Kalau kau memang mencintainya, kau pasti bisa menemukannya tanpa harus aku memberitahumu!" ucap Daniel langsung menohok hati Xander.


Pria itu hanya diam membeku di tempatnya memperhatikan punggung Daniel yang menjauh. Ya benar, ia mencintai Stella. Ia pasti bisa menemukan Stella dengan cintanya. Ya, aku pasti bisa.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2