Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 9. Seberapa Besar Kamu Mencintaiku?


__ADS_3

Lagi-lagi Joana terbangun dengan merasakan nyeri diseluruh tubuhnya. Ia mencoba membuka matanya dan memegangi kepalanya yang sakit, tapi ia terkejut saat tidak bisa mengangkat tangannya.


Joana membuka matanya lebih lebar, ia melihat sebuah selang infus menancap ditangannya. Selain itu ia merasakan tangannya begitu pegal, dan saat ia melihat apa yang terjadi, ia semakin terkejut karena tangannya diborgol di ranjang.


"Mega, akhirnya kamu sadar juga. Aku sangat mencemaskanmu."


Bulu kuduk Joana langsung merinding saat mendengar suara berat itu, ia melirik kearah pintu masuk, dimana Devan berjalan santai kearahnya. Pria itu tampak menggunakan kaos putih dengan rambut yang acak-acakan, terlihat tampan tapi menyeramkan secara bersamaan.


Devan mendekati Joana, wajahnya terlihat sama sekali tidak bersalah. Padahal pria itu baru saja membuat Joana pingsan karena terlalu kasar saat menyentuh Joana. Ditambah kepalanya yang terluka, membuat Joana tidak sadar dengan apa yang dilakukan Devan. Wanita itu hanya merasakan perih diarea inti dan tubuhnya seperti dipukuli habis-habisan.


"Tadi aku memanggilkan dokter, katanya kepalamu harus dijahit. Maafkan aku, ya. Aku pasti sering menyakitimu," ucap Devan mencium kening Joana.


Joana memejamkan matanya, tidak bermaksud sombong, tapi ia jijik dengan Devan yang notabennya orang asing baginya.


"Oh, kamu pasti merasa heran dengan ini 'kan? Akan aku jawab, aku hanya ingin kamu tidak kabur dariku. Tidak apa-apa 'kan?" kata Devan mengulas senyum ceria, seolah memborgol Joana seperti itu tidak masalah apapun.


"Devan ...." Joana menarik-narik tangannya, tapi semakin ditarik semakin sakit yang ada.


"Kenapa kamu suka menyakiti dirimu sendiri? Kamu cukup diam, maka kamu tidak akan terluka," kata Devan berdecak pelan.


Joana menangis lirih, ia memandang Devan dengan sendu, berharap pria itu mau mengerti apa yang diinginkannya.


"Aku tidak akan pergi kemanapun, tolong lepaskan aku," pinta Joana.


"Apa jaminannya jika kamu tidak akan pergi?" Devan mengangkat alisnya.


Joana menelan ludahnya kasar, ia takut salah bicara dan nantinya akan menyulut emosi Devan lagi.


"Aku hanya wanita lumpuh, kemana aku akan pergi?" jawab Joana, menggunakan kakinya sebagai alasan.

__ADS_1


"Kamu memang tidak akan pergi, tapi aku tahu apa yang kamu rencanakan. Sebaiknya buang jauh-jauh pikiranmu itu sebelum aku mengetahuinya sendiri." Pria itu menunduk agar dirinya semakin dekat dengan Joana. "Aku tidak peduli, meskipun aku mencintaimu, aku akan membuatmu menyesal karena hidup di dunia ini," ucap Devan memasang wajahnya yang sangat serius sekali.


Joana memejamkan matanya, sekarang jalannya semakin sukar rasanya. Dengan orang yang dicintai saja Devan seperti ini, bagaimana nanti jika Joana benar-benar akan membuat kesalahan?


"Maukah kamu berjanji untuk tidak pergi lagi, istriku?" Pria itu menyentuh pipi Joana, gerakannya sangat halus membuai, tapi bagi Joana itu seperti alarm tanda bahaya.


"Aku berjanji," jawab Joana dengan sangat terpaksa. Untuk sekarang ini, hanya itu jalan yang terbaik yang bisa ia pilih.


"Bagus, kalau begitu kamu jadi semakin manis," ucap Devan masih terus mengelus pipi Joana.


Joana membuka matanya, untuk pertama kalinya melihat wajah Devan yang sangat dekat dengannya. Mungkin jika tidak mengingat kekejamannya, semua wanita pasti akan langsung jatuh cinta pada Devan. Tapi bagi Joana, tidak akan semudah itu. Devan adalah orang yang datang dan merusak mimpi yang sudah ia bangun sedemikian indah.


Pria itu telah menghancurkan segalanya dan dengan tega memperkosa dirinya karena menganggap dirinya Mega. Tapi yang akan Joana ingat, Devan telah tega merenggut nyawa ibunya dengan kejam.


"Kata dokter kondisimu sudah membaik, nanti kita bisa langsung pulang. Aku akan membantumu membersihkan diri," kata Devan lagi.


Joana langsung terhempas ke dunia lagi mendengar suara Devan, ia melihat pria itu membuka borgol ditangannya sehingga ia bisa leluasa bergerak.


"Dev," panggil Joana, ia memberanikan diri untuk menyentuh tangan Devan dengan lembut.


Devan seperti terkejut, tapi ia langsung merubah ekspresi wajahnya. Ia memandang Joana dengan tajam.


"Cukup temani aku saja, aku akan mandi sendiri," kata Joana dengan suara pelan, ia berusaha menolak tapi agar tidak membuat Devan tersinggung.


"Hm, lalu apa gunanya aku hanya menemanimu? Aku akan membantumu saja."


Seperti biasa, Devan tidak menghiraukan ucapan siapapun. Pria itu langsung meraih tubuh kecil Joana kedalam gendongan lalu membawanya ke kamar mandi.


Devan meletakkan Joana diatas kloset yang tertutup. Lalu dengan cekatan ia membuka baju Joana tanpa canggung sama sekali.

__ADS_1


"Dev." Joana kembali menahan tangan Devan, sungguh Joana takut jika Devan akan berbuat kasar lagi.


"Apa kamu-"


"Aku tahu, aku hanya ingin membersihkan diriku sendiri. Kamu bilang aku tidak boleh menjadi wanita manja, aku bisa sendiri jika hanya sekedar mandi. Kamu bisa menunggu diluar," ujar Joana merangkai kata-kata yang pas agar Devan tidak tersinggung.


"Kamu sedang sakit, tidak masalah jika kamu manja padaku. Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun padamu, jika itu yang kamu takutkan," tukas Devan tidak begitu peduli.


Pria itu tetap membuka semua pakaian Joana lalu menyalakan shower untuk mengguyur tubuh Joana.


Joana menutup kedua asetnya, ia sempat terkejut melihat beberapa tubuhnya terlihat memar. Semua itu pasti karena ulah Devan yang terlalu bersemangat.


"Kenapa kamu menutupinya?" Devan mengangkat alisnya, ia sudah melihat semuanya, untuk apa harus ditutupi?


"Aku malu," jawab Joana dengan jujur.


Devan terkekeh-kekeh geli, ia menunduk lalu memegang dagu Joana. "Sejak kapan kamu menjadi seperti ini? Tidak ada rahasia apapun diantara kita, Mega," kata Devan dengan senyumnya yang manis.


Joana hampir saja terlena saat melihat senyuman manis itu, tapi saat mendengar nama seseorang yang disebutkan diakhir kalimat membuat ia seperti tertampar oleh kenyataan. Kenapa sakit sekali rasanya saat kehadiran kita tidak dianggap seperti ini?


Devan melanjutkan tugasnya, menyabuni Joana dengan telaten. Bahkan pria itu mengusap lembut setiap jengkal tubuh Joana seolah sangat berharga. Jika seperti ini, Devan sepertinya sangat mencintai Mega.


"Seberapa besar cintamu pada, Mega?" Entah kenapa Joana tiba-tiba bertanya, sedetik kemudian ia menyesali pertanyaan itu.


Devan yang tadinya menyabuni kaki Joana mendongak untuk melihat wajah wanitanya. "Tidak mungkin kamu tidak mengetahuinya, Mega. Kamu tahu bagaimana perjuanganku mendapatkanmu," sahut Devan.


"Jika sebesar itu, apakah kamu mau jika aku meminta kamu meminum racun untukku?" tanya Joana reflek begitu saja, dalam hatinya sudah menaruh dendam pada pria yang ada didepannya ini.


Devan menarik sudut bibirnya, senyuman sinis itu sangat terlihat.

__ADS_1


"Kenapa kita tidak meminumnya bersama?"



__ADS_2