Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 16. Bunuh Aku Sekarang!


__ADS_3

Joana sudah sangat siap untuk mati dengan menyayat nadinya, tapi tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh seseorang yang membuat ia mengurungkan niatnya.


"Lepas, aku mau mati! Lepaskan aku!" teriak Joana begitu histeris, menarik-narik tangannya untuk bisa menyayat nadinya sendiri.


"Aku tidak akan mengizinkanmu mati! Apa-apaan kamu Mega?" Devan balas berteriak, ia kaget bukan kepalang melihat Joana akan mengakhiri hidupnya sendiri.


Joana langsung mengangkat pandangannya begitu mendengar suara Devan. Ia tersenyum seperti orang gila seraya menangis.


"Bunuh aku, bunuh aku sekarang. Aku mau mati, bunuh aku sekarang," pinta Joana menarik tangan Devan untuk mencekik lehernya, yang ia inginkan saat ini hanya kematian!


"Mega, apa-apaan kamu!" hardik Devan semakin terkejut, ia menarik tangannya kembali tapi Joana terus menahannya.


"Bunuh aku Dev, bunuh aku sekarang juga. Aku sudah tidak sanggup, aku mau mati. Bunuh aku sekarang Devan!" teriak Joana semakin histeris, tangsinya kian terdengar jelas pertanda betapa frustasinya wanita itu.


"Mega, apa yang kamu katakan? Sadarlah!" Devan sampai mendorong Joana dengan kasar agar tangannya terlepas, ia tidak mengerti kenapa Joana bisa jadi seperti ini.


"Aku cuma mau mati, aku mau mati. Aku mau mati ...." Joana mengulangi kata-kata yang sama berulang kali, ia sudah seperti orang linglung.


Joana yang melihat kaca yang tadi sempat dipegangnya, langsung mengambilnya kembali.


"Aku mau mati," ucapnya ingin sekali menusuk tangannya.

__ADS_1


Namun, lagi-lagi Devan menghentikannya. Pria itu mehanan tangan Joana dengan kuat sekali.


"Lepaskan aku! Biarkan aku mati!" teriak Joana.


"Tidak akan aku biarkan!"


Devan dan Joana akhirnya saling berebut pecahan kaca itu, Joana terus ngotot ingin membunuh dirinya, tapi Devan sekuat tenaga menahannya. Hingga pada akhirnya Devan berhasil menghentikan apa yang dilakukan oleh Joana, tapi sekarang gantinya dahinya tidak sengaja tergores.


"Akkkhhh!" Joana berteriak kaget, ia menutup mulutnya syok melihat darah yang keluar dari dagu Devan.


Devan mendesis pelan, dagunya cukup perih sekali. Ia langsung membanting kaca yang tadi dipegangnya dengan keras.


"Jangan pernah berpikiran untuk mati, Mega! Aku sudah menunggumu datang kembali, kenapa kamu begitu ingin pergi? Apa salahku?" Devan memegang kedua lengan Joana.


Devan terdiam, ia sudah tahu kalau Joana memang bukan Mega. Tapi melihat wajah Joana mengingatkannya dengan Mega yang asli. Devan ingin Joana terus disampingnya karena wajahnya yang mirip dengan Mega.


"Kamu memang bukan tunanganku, tapi kamu adalah istriku," ucap Devan mencengkram lengan Joana sedikit kuat.


"Sampai kapan aku harus terus berpura-pura menjadi orang lain? Aku Joana, Dev. Aku bukan Mega. Aku tidak sanggup lagi, tolong lepaskan aku, aku ingin mati saja. Dunia ini terlalu kejam, aku ingin mati, Dev! Ayo bunuh aku, bunuh aku sekarang!"


Joana kembali mengamuk, kali ini menarik-narik kemeja Devan, sesekali memukuli dadanya dengan terus menjerit histeris.

__ADS_1


"Hentikan Mega."


Joana tidak menghiraukannya, ia terus memukuli Devan sampai perlahan-lahan pukulannya melemah tapi ia masih terus menangis dengan mata terpejam.


"Mega!"


Devan berteriak saat melihat tubuh Joana langsung limbung, ia segera meraih tubuhnya dan membawanya ke ranjang. Devan panik sekali, ia tidak tahu kenapa Joana bisa tiba-tiba seperti ini.


"Mega, Mega, tetaplah sadar. Aku akan menelpon dokter," ucap Devan mengusap-usap pipi Joana.


Joana menahan tangan Devan, ia memandang pria itu dengan air matanya yang masih mengalir.


"Aku bukan Mega," ucapnya sebelum benar-benar tidak sadarkan diri.


Devan terlihat terkejut, ia menatap wajah Joana yang sangat sedih itu. Meskipun dalam keadaan tidak sadar, kesedihan itu tampak sangat jelas diwajahnya. Apakah selama ini Joana tertekan sampai wanita itu sangat trauma dan ingin mengakhiri hidupnya sendiri?


"Maafkan aku, aku sangat mencintaimu. Aku tidak tidak mau kamu pergi lagi, Mega. Maafkan aku," ucap Devan seraya memeluk Joana, memeluknya sangat erat seolah tidak ingin melepaskannya.


Devan mungkin memang gila, dia manusia yang sangat terobsesi dengan sosok Mega yang telah tiada. Tapi Devan tidak peduli, ia hanya ingin Mega kembali bersamanya. Tanpa berniat untuk kabur dari hidupnya dan terus mendampinginya.


Namun, Devan melakukan kesalahan terbesar dengan melupakan jati diri Joana yang sebenarnya dan terus menganggap wanita itu sebagai Mega-nya. Hal itu tanpa ampun membuat Joana merasa tersiksa fisik dan batinnya.

__ADS_1


________


__ADS_2