Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 39. Ketulusan Cinta.


__ADS_3

Devan pulang ke rumah dan langsung membersihkan dirinya. Ia tidak mungkin langsung masuk ke dalam kamar untuk menemui Joana dengan baju dan tangan yang masih penuh darah seperti ini. Devan berpikir Joana mungkin masih terlelap karena masih jam 4 pagi.


Namun, Devan justru dikejutkan dengan keberadaan sosok Joana yang menunggunya di ruang tengah.


"Joana, kenapa kamu ada disini?" Devan benar-benar terkejut, ia memejamkan matanya singkat, pastinya Joana sudah tahu jika tadi pergi diam-diam.


Joana menatap Devan lekat-lekat, napasnya seolah terhenti begitu melihat kondisi Devan yang berantakan dan penuh bercak darah itu. Tanpa bertanya pun Joana tahu jika Devan baru saja melakukan apa.


"Apa kamu baik-baik saja?" Joana tidak menghiraukan hal lain, ia justru mengkhawatirkan kondisi Devan. Apalagi ia melihat sudut bibir Devan terluka.


"Ya, ayo kembali ke kamar. Aku akan membersihkan diriku," ajak Devan.


Joana menurut tanpa mengatakan apapun, wanita itu seperti menahan dirinya agar tidak marah. Sesampainya di kamar pun Joana langsung mengambilkan handuk untuk Devan dan menyiapkan bajunya.


"Sebenarnya aku ingin melarangmu mandi, tapi kamu sangat kacau sekali. Aku akan menyiapkan bajumu," ujar Joana tanpa menatap Devan sama sekali.


Devan mengangguk mengiyakan, ia harus menyiapkan dirinya jika Joana sebentar lagi akan marah karena ia ketahuan membohongi wanita itu.


________


Tidak sampai 30 menit, Devan sudah keluar kamar dengan menggunakan kimono handuknya. Pria itu tampak sudah lebih segar dari sebelumnya. Ia mendekati Joana yang tampak duduk di ranjang dan sedang melamun.


"Hei," ucap Devan menyentuh lembut tangan wanita itu.


"Eh? Apakah sudah selesai? Aku sudah mengambilkan kotak P3K, aku akan mengobati lukamu." Joana tersentak, ia buru-buru mengambil kapas dan betadine agar bisa segera mengobati sudut bibir Devan yang terlihat memar itu.

__ADS_1


Devan hanya diam saja, ia merasa sangat bersalah sekali melihat Joana seperti ini. Wanita itu tidak langsung menodongnya dengan banyak pertanyaan atau menyudutkannya. Tapi Joana justru sibuk mengobati lukanya.


"Aku tidak apa-apa," kata Devan.


"Ini memar, aku akan mengobatinya sebentar." Joana tidak menghiraukannya, ia tetap mengobati luka Devan sampai benar-benar selesai.


Setelah itu Joana mengambil tangan Devan untuk mengecek apakah ada luka atau tidak. Karena tadi ia melihat tangan pria itu berlumuran darah.


"Apakah ada yang terluka lagi? Coba tunjukkan padaku, aku akan mengobatinya," ujar Joana masih mengecek tubuh Devan yang lainnya.


Devan menggeleng pelan, ia memegang tangan Joana dengan lembut sehingga wanita itu menatap dirinya.


"Ada apa?" tanya Joana.


"Kamu marah?" Devan balas bertanya.


Devan mengulum bibirnya, ia tahu Joana marah tapi wanita itu tidak menunjukkannya. "Aku minta maaf untuk masalah ini. Aku tidak bisa langsung berhenti begitu saja, banyak hal yang perlu aku selesaikan sebelum aku benar-benar meninggalkan semuanya," ucap Devan.


"Ya, aku percaya padamu." Joana hanya mengangguk pelan seraya tersenyum sebagai tanggapan.


"Istirahatlah, aku akan mengembalikan ini sebentar. Masih ada waktu sebelum pagi," kata Joana seraya membersihkan kota obat yang baru saja ia gunakan.


Devan kembali memegang tangan Joana, kali ini lebih kuat dari sebelumnya. "Aku tahu kamu marah, katakan semuanya, Joana. Marahi aku, maki aku jika perlu. Aku memang salah karena membohongimu," kata Devan tidak suka jika Joana hanya diam.


Joana menghela napas panjang, ia melepaskan tangan Devan lalu menyentuh pipinya membuat pria itu cukup terkejut.

__ADS_1


"Jika kamu bertanya apakah aku marah? Ya, aku memang marah. Tapi rasa marahku tidak sebesar rasa khawatirku padamu. Aku tidak peduli, dan tidak ingin tahu apa yang kamu lakukan di luar sana. Aku hanya ingin tahu apakah kamu terluka dan kamu pulang dengan selamat itu sudah membuat hatiku sangat senang, Dev. Bahkan aku akan selalu percaya padamu meskipun yang kamu katakan adalah sebuah kebohongan," tukas Joana dengan suara yang lirih, pun tatapan matanya yang kecewa bercampur kekecewaan yang mendalam itu pada Devan.


Devan membuka mulutnya, sangat terkejut dengan respon Joana yang seperti itu. Ia bisa merasakannya, perasaan mencintai yang sangat tulus dan hampir tidak pernah Devan dapatkan dari Mega waktu dulu. Devan tidak menyangka jika Joana yang akan memberikannya cinta yang sangat besar.


"Dev, sebaiknya jangan katakan apapun padaku. Aku tidak akan bertanya apapun, aku hanya ingin kamu kembali pulang kepadaku dengan selamat, apakah kamu bisa berjanji untuk hal itu? Tetaplah baik-baik saja, Dev." Joana kembali berbicara, kali ini memegang kedua pipi Devan dan menatap pria itu dengan sangat dalam.


Devan tidak bisa menjawabnya, ia justru merasa malu karena sikap Joana yang seperti ini. Ia hanya bisa meraih tubuh mungil itu dan mendekapnya sangat erat.


"Aku tidak ingin mengatakan apapun, hanya ingin kamu tahu, aku sangat beruntung bisa memilikimu," kata Devan mencium rambut Joana.


Joana sendiri semakin mengeratkan pelukannya, benar-benar sudah mencintai pria ini dengan segenap jiwa raganya. Ia sangat marah dan kecewa saat tahu Devan membohonginya. Tapi semakin lama Devan tidak kembali justru perasaannya semakin takut. Dan Joana akhirnya sadar jika rasa cintanya lebih besar dari rasa marahnya kepada Devan.


Devan mengurai pelukannya, ia mengusap air mata Joana yang mengalir lalu menciumnya.


"Ini sudah pagi, ayo beristirahat. Kamu pasti tidak tidur tadi," kata Devan.


Joana mengangguk singkat. "Aku akan mengembalikan ini dulu," ucap Joana menunjuk kotak obat yang tadi ia bawa.


"Biar aku saja, kamu istirahat." Devan melarangnya, ia segera mengambil kotak itu dan segera meletakkannya di meja rias setelah itu langsung kembali dan merebahkan dirinya.


Devan membuka lengannya dan tersenyum pada Joana. Wanita itu sudah tahu artinya, ia segera mendekat lalu memeluk Devan dan ikut merebahkan dirinya disamping pria itu.


"Tidurlah," ucap Devan tersenyum, ia mengecup kening Joana lalu memeluknya seraya mengusap-usap rambutnya perlahan.


Joana mengangguk seraya memasukkan tangannya ke dalam kimono Devan, menyentuh dadanya yang kini menjadi kebiasaan saat tidur itu. Joana benar-benar merasakan kenyamanan tersendiri saat bersama Devan. Pria yang dulunya sangat kejam itu ternyata memiliki sesuatu yang membuat dirinya enggan untuk sekedar berpaling.

__ADS_1


__________


__ADS_2