
Joana tidak bisa menyembunyikan raut wajah marahnya melihat Marvin tengah berbahagia dengan wanita lain. Bagaimana bisa pria itu dengan begitu santai tertawa bahagia setelah melakukan ini semua pada Joana?
Pria yang ia puja dan ia bela mati-matian. Seorang pria yang Joana sangat percaya sejak ia remaja hingga ia rela memberikan kesuciannya kepada pria itu. Memberikan waktu dan seluruh hidupnya. Tapi yang Joana dapatkan hanya sebuah pengkhianatan, dan yang lebih menyakitkan adalah Marvin yang telah menjadi penyebabnya menjadi wanita lumpuh karena pria itu memaksa Joana untuk mengugurkan kandungan di tempat ilegal.
"Aku tidak rela, aku tidak rela kamu bahagia sedangkan aku menderita seperti ini," gumam Joana dengan gigi gemeletuk menahan amarah.
Tanpa berpikir panjang, Joana mendorong kursi rodanya mendekati pria itu. Mungkin tidak bisa membalasnya, tapi ia ingin memberikan sedikit tamparan kepada pria kurang ajar itu.
"Nona Mega, Anda akan kemana?" Tita terkejut melihat Joana yang tiba-tiba pergi, ia bergegas mengikutinya agar tidak kehilangan jejak.
Joana terus mendorong kursi rodanya, melewati panas matahari yang kerumunan orang yang ramai untuk menemui Marvin.
"Marvin, menurutmu bunga ini lebih cantik yang mana?" tanya sang wanita menggelayuti lengan kekar Marvin.
"Kamu yang lebih cantik, Sayang." Marvin melancarkan bualannya yang membuat wanita itu tersipu-sipu.
Joana semakin benci melihatnya, setelah dekat dengan pria itu ia langsung menarik tangannya dengan kasar lalu mendorongnya hingga terjatuh.
"Pria brengsek!" teriak Joana penuh amarah.
Marvin tentu terkejut mendapatkan serangan tiba-tiba seperti itu, tapi saat melihat Joana ia tersenyum sinis. Ia langsung bangkit dengan dibantu kekasih barunya.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya sang wanita Marvin memandang kekasihnya dengan raut wajah khawatir.
"Tidak masalah, Sayang. Hanya sedikit dorongan dari wanita lumpuh, tidak akan membuatku terluka," ucap Marvin dengan sinis, ia memandang Joana begitu rendah, terlalu bosan dengan wanita itu.
"Kamu memang brengsek, Marvin! Kamu lupa siapa yang udah buat aku kayak gini? Kamu, Vin! Gara-gara kamu aku jadi wanita lumpuh. Kembalikan semuanya, Vin. Kembalikan kakiku yang normal!" Joana marah dan kembali memukuli Marvin.
Rasa sakit hati dan kecewa yang mendalam membuat Joana begitu histeris. Kenapa? Kenapa ia harus jatuh cinta kepada pria seperti Marvin? Disaat Xander bisa memberikan segalanya, ia tetap mencintai Marvin. Tapi kenapa sosok pria yang sangat ia cintai justru menjadi sosok yang telah menghancurkan hidupnya.
"Apa-apaan kamu, lepas!" bentak Marvin, ia menghalau pukulan yang dilayangkan oleh Joana padanya.
"Kamu jahat, Vin. Kamu yang udah hancurin aku, kamu harus tanggung jawab. Kamu jahat!" Joana terus berteriak dan memukuli Marvin dengan membabi buta, tangsinya juga tidak bisa ditahan lagi.
"Lepaskan! Dasar wanita gila!" Marvin pun begitu kesal, ia mendorong Joana dengan keras hingga wanita itu terjatuh dari kursi rodanya.
"Sakit, Vin ...." Joana semakin menangis, kakinya sakit, tapi hatinya lebih sakit mendapatkan perlakuan seperti ini.
"Kamu yang telah memulai dulu, dasar wanita tidak tahu diri. Kamu mengatakan aku seolah aku yang paling bersalah, lalu bagaimana denganmu? Kamu bahkan wanita hina dari yang terhina di dunia ini, cih sampah," cemooh Marvin seraya meludah ke tanah, ia sudah tidak punya perasaan apapun lagi pada Joana.
Bahkan saat mereka berpacaran pun tidak pernah Marvin merasakan perasaan itu. Hanya saja Joana terlalu mencintainya, sayang sekali melewatkan gadis kaya raya seperti Joana. Sekarang setelah tahu kenyataan jika Joana bukan pewaris keluarga Medison, Marvin semakin enggan saja.
"Sebaiknya berkacalah terlebih dulu sebelum mengatakan orang lain buruk. Bahkan kamu lebih buruk dariku, Joana. Wanita tidak tahu diri," ucap Marvin lagi.
__ADS_1
Hal itu semakin membuat hati Joana remuk, ia menggenggam tanah yang ada dibawahnya dengan kuat. Melampiaskan rasa sakitnya dengan menyakiti fisiknya.
"Nona Mega, apa yang terjadi pada, Anda?" teriak Tita yang baru saja menemukan Joana, ia kaget melihat Joana yang bersimpuh di tanah.
Joana tidak menjawab, yang ia lakukan hanya menangis. Menangisi kebodohannya, dan terus saja seperti itu. Berharap jika semua yang dialaminya itu hanyalah sebuah mimpi buruk dan akan segera hilang saat ia bangun besok pagi.
"Nona Mega, saya akan membantu Anda," tutur Tita.
Lagi-lagi Joana tidak menjawab, wanita itu seperti hilang semangat hidup beserta nyawanya. Tatapan matanya kosong dengan air mata yang tak henti mengalir.
Tak lama kemudian, Felix yang baru saja selesai menerima telepon mendatangi mereka berdua. Tapi ia terkejut melihat Joana yang menangis sesenggukan.
"Joana, ada apa denganmu?" tanya Felix dengan wajah bingungnya.
Joana hanya menggeleng pelan, tidak ingin berbagi cerita apapun. Sebuah cerita yang menyakitkan yang akan selalu ia ingat dalam hidupnya. Juga sebuah cerita yang akan selalu mengingatkan pada Joana jika sekuat apapun wanita berusaha dan memberikan seluruh waktu dan hidupnya. Akan tetap kalah dan tidak berharga untuk pria manapun.
Para pria itu hanya datang ketika butuh dan pergi setelah bosan. Sementara dia? Masih terus berpegang pada janji yang dulu pernah terucap.
"Joana, katakan padaku, kenapa kamu menangis? Apa yang membuatmu seperti ini?" Felix kembali bertanya karena Joana hanya diam saja.
"Aku mau pulang," ucap Joana singkat.
"Pulang? Bukannya kamu mau beli kucing?" Felix mengerutkan dahinya bingung, apa yang telah terjadi?
"Tidak, aku mau langsung pulang saja." Joana menggeleng pelan sebagai jawaban, sudah tidak ada minat apapun lagi. Ia hanya ingin menangis di rumah dan meluapkan segala perasaanku.
_________
Sepanjang perjalanan pulang, Joana tidak mengatakan sepatah katapun. Wanita itu hanya diam seraya memandang ke arah jalanan. Sesekali air matanya mengalir tapi segera ia tepis agar tidak ada orang yang melihat.
Namun, Felix sudah melihatnya. Melihat saat ini Joana hanyalah wanita rapuh, wanita yang memiliki sorot mata sendu, seolah memanggil seseorang untuk mengasihannya.
"By the way, aku sudah menghubungi temanku. Dia bisa melakukan terapi untuk kakimu," ujar Felix.
Felix berani terbuka karena saat ini ia hanya bersama Joana di dalam mobilnya. Sengaja meminta Tita untuk tidak ikut mobil mereka, karena ia ingin berbicara dengan Joana.
"Apa aku pantas jika mendapatkan kesembuhan itu?" lirih Joana tanpa menoleh kearah Felix.
"Tentu saja, mungkin aku tidak tahu apa masalahmu sebenarnya. Tapi berjuang untuk sembuh itu adalah hak setiap manusia. Kamu tidak mungkin hanya berpasrah pada takdir yang digariskan oleh Tuhan. Kamu berhak menentukan takdirmu sendiri," kata Felix.
"Aku berhak menentukan takdirku sendiri, tapi akhirnya Tuhan yang akan memutuskan segalanya. Endingnya sama saja ditangan Tuhan, jika benar aku bisa menentukan takdirku, aku ingin Tuhan mencabut nyawaku sekarang," ucap Joana tampak sudah sangat frutasi dengan hidupnya yang sangat tidak berguna itu.
"Joana, kamu ini berbicara apa? Banyak orang diluar sana berusaha untuk sembuh, tapi kamu malah bersikap seperti ini. Itu artinya kamu sudah kalah sebelum berperang. Mungkin saat ini kamu sedang marah, sedang ingin balas dendam kepada seseorang yang telah menyakitimu. Tapi kamu harus tahu, balas dendam terbaik adalah memaafkan kesalahan orang itu," tutur Felix dengan suara lembutnya, ia semakin yakin kalau wanita di sampingnya itu tidak sedang baik-baik saja.
__ADS_1
"Aku sudah mencobanya, Felix. Tapi hatiku tidak sebaik itu ...." Joana menjawab perkataan itu dengan suara lirih, hembusan napasnya sangat berat sekali seolah begitu banyak beban di pundaknya.
"Joana-"
"Mobilnya sebentar lagi sampai, aku akan turun. Terima kasih atas waktunya."
Joana tidak ingin mendengar apapun lagi yang dikatakan oleh Felix. Wanita itu langsung meminta Tita untuk membantunya turun begitu sampai di rumah. Joana bahkan tidak berpamitan dengan sopan kepada Felix, ia langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
Joana diam, memejamkan matanya karena kepalanya yang terasa sakit. Tapi saat ia memejamkan matanya, justru bayangan dimana Marvin menghina dirinya dan memandang rendah dirinya terngiang.
Joana membuka matanya kembali, tapi bayangan itu tidak hilang, justru kian bertambah jelas.
'Hahaha, kamu hanya wanita bodoh, Joana! Hahaha wanita lumpuh.'
'Wanita cacat, siapa pria yang mau bersamamu?'
'Berkacalah sebelum kamu menyudutkanku. Pandanglah dirimu dan kamu akan sadar betapa menyedihkannya dirimu.'
'Hahaha wanita lumpuh.'
Suara suara itu terdengar sangat jelas seperti Marvin sedang tertawa disampingnya dan mengolok-olok dirinya. Semakin lama semakin jelas membuat Joana menutup kedua telinganya.
"TIDAK!" Joana berteriak sangat keras seraya menutup kedua telinganya.
"Tidak! Aku bukan wanita lumpuh, aku bisa sembuh!" teriak Joana lagi semakin histeris. Pandangannya yang semula normal mendadak seperti orang kebingungan.
"Arghhhhhhhh! Marvin, kamu jahat! Arghhhhhhhh!" Tiba-tiba Joana menjerit histeris, ia menggapai apa saja yang bisa dijangkau tangannya lalu membuangnya.
"Aku bukan wanita lumpuh, aku bisa sembuh."
Kata-kata itu terus terlontar dari bibir Joana seraya membuang barang-barang yang ada dikamar itu. Joana menangis histeris seperti orang gila, pikirannya benar-benar kacau dan tidak bisa memikirkan apapun selain kemarahan dalam dirinya.
Kemarahan, rasa sakit hati, dan kekecewaan yang mendalam membuat Joana seperti bukan dirinya sendiri, ia menghancurkan segalanya dan terus berteriak-teriak.
Terkahir, Joana menangis keras lalu mengambil sebuah lampu tidur melemparkannya ke arah kaca rias hingga hancur berkeping-keping.
Pranggggggg!!!
Kaca langsung berhamburan ke lantai, hancur dan menambah kacau suasana disana. Tidak ada yang tahu yang Joana pikirkan saat itu, wanita itu tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya lalu menyeret dirinya mendekati kaca itu.
Joana mengambilnya, air matanya terus mengalir deras. Memegangi kaca yang sangat tajam sekali itu. Joana sudah tidak punya apapun yang bisa dijadikan semangat untuk hidup..Lalu, untuk apa dia harus hidup jika harus menderita?
'Ibu, aku akan menyusul ibu ....'
__ADS_1
____________