Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 12. Felix.


__ADS_3

Siapa yang tidak terkejut jika melihat seseorang yang sudah meninggal tiba-tiba duduk didepannya. Felix sampai mundur ke belakang karena benar-benar syok. Ia memperhatikan kembali wajah Joana lekat-lekat, barulah dia sadar jika wajah mereka tidak sama, hanya mirip sekilas.


"Apa ini, bro? Siapa gadis ini?" tanya Felix memusatkan kembali pandangannya pada Devan.


"Dia Mega," sahut Devan singkat saja.


"Gila apa? Mega udah meninggal dua tahun lalu, siapa dia sebenarnya?" Felix kembali bertanya dengan wajahnya yang serius.


"Jangan menjadi bodoh, Felix. Sudah aku katakan kalau dia, Mega," kata Devan diiringi dengusan kecil.


Felix menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Justru kamu yang bodoh, dia bukan, Mega. Tapi orang lain yang hanya mirip dengan Mega," tegas Felix.


Devan mendesis jengkel, ia melirik Joana yang tampak mendengarkan mereka dengan serius.


"Lalu, apa masalahmu? Kamu datang kesini tidak untuk mengomentari hidupku apalagi ikut campur urusanku," sergah Devan.


"Jika itu menyangkut Mega, aku harus ikut campur. Bagaimana bisa kamu semudah itu menggantikan Mega dengan orang lain? Aku tidak terima, bagiku Mega hanya ada satu, dan dia sudah meninggal." Felix pun tidak terima jika Devan memutuskan seenaknya saja.


Bukan masalah apa, tapi sejak kecil mereka bertiga sudah terbiasa bersama. Ia sangat tahu bagaimana terobsesinya Devan kepada Mega, apalagi setelah Mega meninggal, Devan semakin menjadi-jadi saja.


"Terserah, yang perlu kamu tahu, dia adalah Mega." Devan tak ingin ambil pusing, menganggap ucapan Felix hanya angin lalu.


Felix mendesis pelan, ia melirik Joana dari atas sampai bawah. Memang sangat mirip sekali dengan Mega, tapi ada sedikit perbedaan dari sorot mata mereka.


Mega memiliki sorot mata lembut, dan teduh. Sedangkan Joana tajam, menunjukkan kalau wanita itu pemberani. Felix jadi penasaran darimana Devan menemukan wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Mega ini.


"Permisi, Tuan Devan. Maaf menganggu waktunya, Anda sudah ditunggu oleh karyawan lain." Ken terpaksa menyela ke dalam ruangan Devan, karena waktu yang terbuang sudah cukup banyak.


Devan terdiam sesaat, ia memberikan gestur pada Ken untuk menunggu sebentar.


"Felix, aku akan meeting sebentar. Kamu berbicaralah pada Mega, kalian sudah lama tidak bertemu," ujar Devan.


"Dev." Felix menggelengkan kepalanya, prihatin dengan mental sahabatnya yang sangat kacau itu.


"Tenang saja, ketentuannya masih sama. Jangan memandangnya terlalu lama, aku bisa membuat kamu kehilangan matamu nanti," kata Devan menepuk lengan sahabatnya dengan keras.


"Oh shittttt! Kamu memang tidak pernah berubah!" umpat Felix memegang lengannya yang panas seketika.


Devan menarik sudut bibirnya, ia mendekati Joana yang sejak tadi hanya diam. Ia memegang lengan wanita itu dengan lembut.


"Aku akan meeting sebentar, tidak apa-apa 'kan aku tinggal?" ucap Devan.

__ADS_1


"Ehm, apa sebaiknya aku pulang saja?" kata Joana, merasa tidak nyaman bersama orang asing.


"Kamu akan pulang nanti, bersamaku. Sekarang disini dulu, katakan saja apa yang kamu inginkan, nanti Ken akan memberikannya. Jika kamu bosan, datang saja ke ruangan meeting," ujar Devan, tidak akan membiarkan Joana lepas dari pengawasannya sedikitpun.


"Aku tidak butuh apapun ... aku hanya butuh kamu melepaskanku," ucap Joana singkat, tentu saja ucapannya yang terakhir itu hanya di dalam hati saja.


Joana tidak seberani itu mengibarkan bendera perang pada Devan setelah melihat sendiri bagaimana perangai Devan yang menyeramkan.


"Baiklah, aku akan pergi dulu." Pria itu mengangguk, ia mengusap pelan rambut Joana, tak lupa memberikan ciuman manis dikening Joana.


Devan melirik Felix sekilas, seolah memperingatkan pria itu agar tidak macam-macam pada Joana dan hanya dibalas angkatan bahu saja. Sudah terlalu biasa meladeni sifat Devan yang cemburuan itu.


Sepeninggal mereka Devan, kini hanya tersisa Felix dan Joana. Keduanya tampak sangat canggung sekali karena pada dasarnya mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.


"Ah, sepertinya kita tidak perlu membicarakannya. Aku tahu posisimu, dia ingin merubahmu menjadi Mega, seperti itu?" Felix langsung bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Devan.


"Ya." Joana menyahut singkat, enggan untuk berbicara dengan Felix yang notabenenya adalah sahabat Devan. Jadi Joana menganggap kalau Felix sama saja dengan Devan.


"Dia sama sekali tidak pernah berubah, aku pikir setelah kejadian waktu itu, dia jadi sadar. Tapi sepertinya dugaanku salah," kata Felix menggelengkan kepalanya.


Joana meliriknya, ia seperti memikirkan sesuatu.


"Sepertinya kamu begitu mengenal Devan?" tanya Joana.


"Oh, kalian sudah bersahabat sejak kecil. Pantaslah, sepertinya Devan sangat mencintai Mega," ucap Joana, diam-diam memperhatikan setiap perubahan sekecil apapun diwajah Felix.


"Hmm, mereka harusnya sudah menikah. Sayang sekali waktu itu mereka kecelakaan." Felix tidak bisa menutupi raut wajah sedihnya.


Joana diam saja, memang perpisahan yang paling menyakitkan adalah perpisahan karena kematian. Mau se rindu apapun kita dengan orang itu, tidak akan pernah mereka bisa bertemu kecuali di kehidupan setelah kematian.


"Oh ya, siapa namamu? Dan bagaimana kamu bisa terjebak dengan Devan?" tanya Felix dengan raut wajah penasaran.


"Seperti yang kamu lihat, karena kemiripan kami berdua, Devan menculikku dan membunuh ibuku," jawab Joana tanpa menutupi apapun, kebencian yang terlihat dari sorot matanya itu begitu nyata.


Felix merasa prihatin, entah kesialan apa yang membuat wanita manis seperti Joana terjebak dengan pria seperti Devan.


"Devan itu tidak sepenuhnya jahat, dia hanya tidak suka ditolak. Segala jenis penolakan apapun, dia sangat membencinya. Hanya sekedar info saja, lebih baik turuti saja keinginannya. Tidak masalah juga, dia pria yang memiliki segalanya," kata Felix.


"Kalau aku boleh memilih, aku lebih baik menahan lapar tapi hatiku tenang daripada aku makan daging tapi fisik dan hatiku yang terluka. Bagaimana rasanya kamu hidup tapi justru dianggap sebagai orang lain?" sergah Joana melirik Felix dengan sinis.


Felix menghela napas panjang. "Mungkin dia menyesal karena dulu tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Mega," ucap Felix tampak menerawang jauh.

__ADS_1


"Apa maksudnya? Bukankah Devan sangat mencintai Mega?" tanya Joana semakin penasaran.


"Semua orang bisa mencintai, tapi tidak semua orang bisa mengerti apa yang dinamakan cinta. Devan hanya tahu jika Mega selalu menurut padanya dan selalu menerima apapun yang dia berikan. Padahal bisa saja bukan hal itu yang diinginkan oleh Mega. Yang kamu rasakan saat ini, sama seperti yang Mega rasakan dulu, seperti cangkang kosong yang berjalan tanpa nyawa. Itu juga yang menjadi alasannya memilih pergi ...." Felix mengusap wajahnya kasar saat mengatakan hal itu.


"Alasannya memilih pergi?" Joana membesarkan matanya.


'Apa maksudnya? Alasannya memilih pergi? Apa kau artinya Mega sengaja bunuh diri dengan alasan kecelakaan itu?'


Felix langsung menegakkan tubuhnya saat mendengar perkataan Joana. Ia menatap wanita itu dengan wajahnya yang serius.


"Lupakan saja, fokus saja pada tujuanmu. Saat ini, kamu pasti ingin pergi dari sisi Devan?" Felix mengalihkan pembicaraan ke hal lain.


"Ya, tapi aku lebih sayang nyawaku. Mungkin kalau aku bisa berjalan, aku sudah akan berlari sejauh-jauhnya dari Devan," celetuk Joana.


"Tidak bisa berjalan? Maksudmu?" Felix mengerutkan dahinya.


"Aku hanya wanita lumpuh yang menyedihkan," kata Joana mengulas senyum kecutnya, ia sudah bisa menarik kesimpulan jika Felix sepertinya lebih tahu tentang Mega daripada Devan.


"Lumpuh? Dari lahir atau?"


"Bukan, karena kebodohanku sendiri aku menjadi seperti ini," sahut Joana semakin tersenyum kecut.


"Aku turut prihatin, tapi aku dengar bisa melakukan terapi agar bisa berjalan," ucap Felix menandang Joana dengan dahi berkerut, ternyata kasihan juga wanita didepannya itu.


"Bisa, seharusnya bisa. Tapi kamu tahu sendiri, Devan tidak akan pernah mengizinkanku. Jika aku bisa berjalan, dia pasti berpikir kalau aku akan kabur," ucap Joana lagi dengan tawa yang menyedihkan.


Felix hanya diam saja, ia malah semakin kasihan dengan Joana. Ia menebak hal apa saja yang sudah dilakukan Devan pada wanita itu.


"Kamu tidak tertawa? Semua orang pasti menertawakan diriku yang menyedihkan ini. Tapi aku sadar, mungkin saja ini juga karma untukku," kata Joana masih dengan tawanya yang hambar.


"Kenapa harus tertawa? Setidaknya jika tidak bisa membantu aku akan diam. Menertawakan orang lain, belum tentu jika hidupku lebih baik dari dia," ujar Felix masih dengan raut wajah datarnya.


"Ya sayang sekali, aku pikir kamu akan membantuku. By the way, namaku Joana. Tapi sebaiknya kamu panggil aku, Mega agar sahabatmu tidak marah," kata Joana lagi.


"Aku bisa membantumu," ucap Felix dengan wajah seriusnya.


"Hah?" Joana langsung menegang, ia menatap Felix dengan raut wajah kagetnya. "Kamu serius akan membantuku, Felix?" tanyanya lagi.


"Aku bis-"


"Akan membantu apa?"

__ADS_1



__ADS_2