
Devan masuk ke dalam kapal yang sudah tak dipakai dengan ditemani Ken dan juga Marko. Anak buah lainnya tidak bisa langsung masuk karena tempat itu cukup sempit dijalan saat akan turun.
Dari jarak beberapa meter sudah terdengar suara dentuman besi dan juga alat-alat lainnya. Aroma menyeruak obat-obatan juga begitu kuat. Tempatnya lumayan gelap karena penerangan lampu tidak terlalu banyak.
"Benarkah ini tempatnya?" tanya Devan dengan pandangan yang sangat waspada. Sekelilingnya tempat tertutup yang ia tidak tahu bagaimana situasi luarnya.
"Dari info yang kami dapatkan memang ini tempatnya, Tuan. Mungkin kita harus masuk lebih dalam," ujar Marko.
Devan mengangkat alisnya, ia memberikan gestur untuk Marko berjalan terlebih dulu dan ia melirik Ken dengan tatapan tahu sama tahu. Merasa curiga karena tempat itu tidak ada keamanan sama sekali.
Marko berjalan didepan Devan dengan wajah yang sangat was-was, ia menggenggam pistol yang berada dibalik jasnya dengan sangat erat. Jika Devan melakukan hal macam-macam padanya, ia akan langsung membidik pria itu.
"Marko." Devan tiba-tiba memanggil membuat jantung Marko seperti berhenti berdetak.
"Ya, Tuan?" Marko menyahut tanpa menoleh, ia sudah memegang senjatanya dengan sangat erat.
"Berapa lama lagi kita akan sampai?" tanya Devan dengan nada yang sangat tenang, tapi diam-diam ia sendiri sedang memegang senjatanya.
"Sebentar lagi, Tuan. Ada didepan sana," ujar Marko.
Devan mengangguk singkat, ia menajamkan mata serta telinganya. Tapi karena suara yang berisik ia tidak bisa mendengar apapun. Devan semakin waspada, akan tetapi ia lengah, saat ia berbelok ke salah satu ruangan, tiba-tiba ada yang menendang dadanya dengan keras hingga terjengkang ke belakang.
"Oh shittttt!" Devan langsung mengumpat kasar, ia mencoba melihat siapa yang menendangnya, tapi sialnya lampu di ruangan itu mendadak kedap-kedip.
Ken sendiri langsung sigap, ia langsung melesatkan tembakan kearah seorang pria yang tadi menendang Devan. Sayangnya tembakan itu meleset sangat jauh sekali karena kurangnya konsentrasi.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" Ken bergegas membantu Devan.
"Marko." Devan mendorong Ken agar tidak mempedulikannya, ia meminta pria itu mengejar Marko.
"Tangkap dia apapun yang terjadi, hubungi yang lain. Baji ngan itu benar-benar harus mati," kata Devan dengan raut wajah yang sangat marah.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Ken langsung pergi setelah mendapatkan perintah, ia menghubungi anak buahnya yang lain agar masuk untuk menangkap Marko. Sementara Devan bergegas mengejar pria yang tadi menendangnya, ia yakin kalau orang itu adalah orang yang menjadi dalang dari penjebakan ini, alias musuh yang sedang ia cari.
Devan tak henti mengumpat kata-kata kasar saat ia berjalan menyusuri lorong-lorong sempit yang cukup gelap itu. Ia harus mendapatkan pria itu dan membunuhnya dengan tangannya sendiri.
Namun, lagi-lagi Devan kecolongan, ia yang terlalu marah tidak tahu jika tempat itu sudah diatur sedemikian rupa dan penuh jebakan. Saat ia berjalan tiba-tiba saja punggungnya dipukul menggunakan besi panjang yang membuat ia langsung terjatuh seketika.
"Brengsek!" Devan langsung bangkit, sakit sedikit tidak dihiraukannya sama sekali dan ia langsung melibas kaki orang yang paling dekat dengannya.
"Habisi dia!" Seseorang yang menggunakan topeng dan tadi menyerang Devan segera memberikan perintah. Ia berdiri dengan jarak 5 meter dari Devan dan masih menggunakan topengnya.
Devan berdecih, justru mengulas senyum mengejek kepada pria itu. Merasa pria itu benar-benar pengecut karena tidak berani melawannya sendiri.
Devan langsung saja sigap saat anak buah musuhnya menyerang dirinya. Ia tidak lagi menggunakan pistol, melainkan pisaunya untuk membalas serangan mereka.
BUGH.
Srettttt!
Dakkk!
"Brengsek!"
"Arghhhhhhhh!"
Salah satu teman yang melihat rekannya dihabisi dengan brutal langsung membalas memukul Devan dengan tabung gas yang cukup besar. Tapi Devan sudah sadar terlebih dulu sehingga ia langsung menghindar dan pukulan itu mengenai temannya sendiri.
"Baji ngan! Sekarang giliranmu!"
Pria yang tadi menyerang Devan langsung mundur ke belakang, akan tetapi Devan yang sudah kalap langsung menarik tangan pria itu lalu membanting tubuhnya ke lantai.
Musuh Devan yang melihat hal itu tidak tinggal diam, ia bergegas maju dan tanpa sepengetahuan Devan ia mengeluarkan pisaunya lalu menusuk Devan dari belakang.
Devan yang tidak siap tentu terkejut, ia sekuat tenaga menghindar akan tetapi gerakannya terlambat sehingga perutnya terkena sabetan pisau itu hingga darah langsung mengucur.
__ADS_1
"Arghhhhhhhh!" teriak Devan merasakan nyeri yang luar biasa.
Musuh Devan tersenyum sinis, ia kembali menyerang Devan dan lagi-lagi Devan lengah karena perutnya yang nyeri. Kali ini lengannya yang mendapatkan sabetan pisau dan kembali berdarah.
Devan menjauhkan dirinya, menyeret tubuhnya menjauh dan mengambil pistolnya untuk membidik pria itu. Tenaganya terkuras cukup banyak karena baru saja melawan banyak orang. Ia berusaha fokus membidik pria itu.
"Seorang pengecut tidak akan bisa mengalahkanku. Jika ingin membunuhku, lakukanlah, kamu tidak akan bisa melakukannya," kata Devan mengulas senyum mengejeknya.
"Terlalu banyak bicara tidak akan membuat nyawamu bertahan lama. Sudah waktunya kamu pergi ke neraka, Dev!"
Duarrrrr!!!
"Shitttttt!"
_________
Joana mengisi waktunya dengan menonton film dengan ditemani Tita. Ia tidak bisa tidur sebelum mendapatkan kabar dari Devan. Setiap waktu ia ingin menghubunginya, tapi Devan mengatakan jika ia tidak boleh menghubungi pria itu dan hanya memintanya menunggu.
Akhirnya daripada menunggu dengan perasaan yang sangat gusar, Joana mengisi waktunya dengan menonton film dan makan cemilan karena perutnya sering merasa lapar.
"Tita, apa dulu Devan juga sering pergi seperti ini?" tanya Joana mulai bosan menatap layar televisi didepannya.
"Tuan Devan hampir setiap hari tidak pernah pulang, Nona. Beliau hanya akan ada di rumah beberapa jam saja," sahut Tita seadanya.
"Ha? Dia jarang di rumah? Lalu bagaimana Mega? Apa dia juga selalu sendirian seperti aku ini?" Joana kembali bertanya karena merasa sangat penasaran.
"Ya kadang-kadang, tapi Nona Mega sering pergi bersama Tuan Felix, Nona."
"Felix? Itu artinya mereka berdua sangat dekat?" Joana semakin penasaran, bagaimana dulu hubungan mereka bertiga.
"Ehm, bisa dibilang seperti itu, Nona. Tapi sebelum meninggal, Nona Mega sangat dekat dengan Tuan Devan, bahkan dulu beliau yang mengajak Tuan Devan menikah. Padahal sebelumnya Nona Mega selalu menolaknya," kata Joana.
Joana mengerutkan dahinya, heran juga kenapa sebelumnya Mega selalu menolak Devan tapi mendadak ingin menikah segera. Apa ada sesuatu yang sedang disembunyikan?
__ADS_1
"Lalu, Mega meninggal karena apa?"
________