
Hari berganti dengan cepat, semenjak kejadian waktu itu, Joana kini menjadi lebih pendiam. Wanita yang kini genap berusia 26 tahun itu hanya menghabiskan waktunya dengan melukis dan melamun.
Beberapa kali Felix ingin menemuinya, tapi Joana enggan untuk bertemu siapapun. Semangat hidupnya telah hilang diterpa angin kehancuran.
Joana hanya menjalani hidup bagai raga tanpa nyawa. Ia hanya mengikuti apa yang Devan katakan. Selebihnya yang ia lakukan hanya bernapas mengikuti skenario Tuhan yang entah sampai kapan mempertahankan hidupnya di dunia yang kejam ini.
"Apa kamu tidak bosan melukis terus?"
Sore itu entah kenapa Devan pulang cepat. Pria dengan postur tinggi tegap itu berjalan mendekati Joana yang tengah melukis di taman belakang rumah.
"Tidak." Joana menyahut tanpa menoleh.
Devan mendekati Joana, ia duduk di samping wanita itu, tatapannya terlihat sangat lembut, tapi tidak membuat Joana ingin melihatnya.
"Ingin pergi ke mana?" tanya Devan, kali ini terlihat moodnya sedang baik.
"Tidak pergi kemanapun." Lagi-lagi Joana hanya menjawab singkat.
Mungkin biasanya Devan akan langsung marah karena Joana bersikap dingin. Tapi kali ini ia mencoba menahan dirinya.
Alasannya karena Devan baru saja mendapatkan informasi tentang psikologis Joana yang terganggu karena tekanan hidup yang berlebihan. Devan takut jika semakin ia bersikap keras, Joana akan semakin depresi.
Selain itu, Devan diam-diam sudah menyelidiki kenapa Joana waktu itu ingin mengakhiri hidupnya. Ternyata hanya karena seorang pria yang sangat mudah ia lenyapkan.
"Kamu tahu, kenapa aku suka menyelesaikan masalah sampai ke akarnya?" Devan tiba-tiba bertanya meksi tahu tidak akan mendapatkan jawaban dari Joana. "Karena aku tidak ingin para bedebah sialan itu datang lagi di kemudian hari dengan embel-embel kata menyesal. Memohon ampun seolah dia paling bersalah, manusia penjilat yang tidak pantas mendapatkan kesempatan kedua," lanjutnya dengan suara yang terdengar sangat emosional.
Joana bergeming, ia hanya diam seraya terus melukis seolah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Devan. Pikiran wanita itu entah kemana-mana. Joana sekarang seperti seseorang yang linglung.
__ADS_1
"Mega," panggil Devan seraya menyentuh tangan Joana.
Kali ini Joana menoleh, tapi tatapan matanya kosong.
"Ada apa?" sahut Joana.
Devan mengigit bibirnya, melihat wajah Joana yang terlihat sangat kebingungan itu entah kenapa hatinya begitu terusik. Apakah Joana begitu tersiksa berada di dekatnya?
"Kenapa kamu jadi seperti ini? Apa yang kamu inginkan? Katakan padaku, aku akan melakukan semuanya, Mega. Jika perlu aku akan membunuh baji ngan itu," ucap Devan begitu frustasi rasanya.
Devan lebih suka jika Joana melawan dirinya, bukan seperti ini. Joana hidup tapi seperti tidak hidup.
"Kamu ingin membunuhku?" Joana mendadak berbinar cerah mendengar kata "bunuh" yang keluar dari bibir Devan.
"Mega-"
Devan tidak sanggup melihat Joana seperti ini. Ia yang bisanya berwatak keras akhirnya mulai meluluhkan hatinya. Ia langsung memeluk Joana sangat erat seraya mengelus lembut rambutnya.
"Bunuh aku, bunuh aku sekarang ...."ucap Joana berusaha berontak dari pelukan Devan.
"Tidak, aku tidak akan membunuhmu. Kamu tidak boleh mati, aku tidak sanggup, Mega. Jangan pergi lagi," ucap Devan seraya terus memeluk Joana dengan erat.
Namun, pelukan itu sama sekali tidak menenangkan Joana. Wanita itu malah menjadi histeris, Joana benci dengan nama Mega. Benci karena nama itu membuat hidupnya hancur berantakan.
Tapi sejujurnya Joana lebih benci pada dirinya sendiri. Sangat membenci dirinya yang menurutnya sangat tidak berguna. Joana hanya ingin mati.
Devan akhirnya menyerah, tidak sanggup terus menerus melihat Joana bertingkah histeris karena mentalnya terguncang. Untuk pertama kalinya, ia mendatangi sahabatnya Felix dan menanyakan langkah apa yang harus ia lakukan agar Joana sembuh.
__ADS_1
"Bro, tumben datang? Ada apa?" Felix tentu heran melihat kedatangan Devan yang sangat mendadak.
"Ini tentang Mega," ucap Devan mengusap wajahnya dengan kasar. Terlihat sekali pria itu juga sangat tertekan.
"Mega? Maksudmu Joana?" tanya Felix memastikan lebih jelas.
Devan langsung memberikan lirikan tajamnya sehingga membuat Felix mengangkat tangan sebagai pertanda minta maaf.
"Sorry, aku mengenalnya hanya sebagai Joana, bukan Mega," ucap Felix dengan sengaja.
"Dia itu Mega, apa kamu tidak lihat wajahnya? Mereka sangat mirip, aku yakin dia adalah Mega."
Untuk yang satu ini, Devan nyatanya masih belum bisa terima jika wanita yang selama ini bersamanya bukanlah Mega, melainkan wanita lain.
"Terserah kamu saja. Jadi, apa masalahnya?" Felix langsung bertanya hal lain daripada nanti akan sibuk berdebat panjang lebar dengan sahabatnya.
"Belakangan ini, Mega bertingkah sangat aneh. Dia menjadi lebih pendiam dan sibuk dengan dunianya sendiri. Aku merasa ... Dia butuh liburan, menurutmu ke mana aku harus membawanya?" ujar Devan meminta pendapat.
"Wait, Joana lebih pendiam? Ehm, maksudku Mega." Felix memperbaiki kata-katanya karena Devan kembali meliriknya.
"Ya, setelah pergi bersamamu waktu itu, dia menjadi seperti orang lain. Dia selalu ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Aku takut jika aku tidak ada ...." Devan menggelengkan kepalanya, tidak sanggup mengatakan hal yang akan sangat menyakitkan untuk dirinya.
"Semua ini gara-gara cecunguk bodoh itu, aku pasti akan menghabisinya," ucap Devan sangat geram jika mengingat laporan dari anak buahnya yang mengatakan jika ada seorang pria yang menjadi alasan Joana menjadi seperti ini.
"Daripada kamu sibuk mengurusi hal yang tidak jelas. Lebih baik kamu habiskan waktumu bersama dia. Dengan kejadian ini seharusnya kamu itu sadar, Dev. Dia itu bukan Mega yang kamu kenal, tapi hanya orang lain yang mirip Mega. Mau sekuat apapun kamu ingin merubah dia menjadi Mega, dia tidak akan menjadi Mega yang sebenernya. Sekali lagi, buka mata hatimu dan lihatlah dirinya, kamu pasti akan menemukan kalau mereka itu berbeda."
"Aku tahu kamu pasti merasa bersalah atas kejadian dua tahun yang lalu. Itu bukan salahmu, Dev. Tapi itu memang kecelakaan dan Tuhan yang telah menentukan. Sudah waktunya kamu berubah dan kembali menata hidup dengan lembaran yang baru."
__ADS_1
____________