Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 4. Mengambil Apa Yang Menjadi Milikku.


__ADS_3

Semua orang pasti terkejut mendengar nominal yang disebutkan itu. Joana bahkan sampai membulatkan kedua mata indahnya karena rasa terkejut yang luar biasa. Apakah ia tidak salah dengar? 1 Miliar bulan nominal yang kecil.


"Wah, 1 miliar, deal?" tanya sang pembawa acara sebelum memutuskan.


"Deal."


"Deal! Lukisan Granenca terjual seharga 1 miliar, berikan tepuk tangannya," ujar sang pembawa acara.


Tepuk tangan langsung riuh, semua orang pasti penasaran tentang siapa sang pembeli yang rela menggelontorkan uang 1 miliar hanya untuk sebuah lukisan. Termasuk Joana sendiri sangat ingin tahu bagaimana rupa sang pembeli lukisannya.


Namun, karena banyak orang dan tempatnya cukup jauh membuat Joana kesusahan untuk melihat wajahnya. Sekilas ia melihat pria itu memiliki garis wajah sempurna dengan hidung yang tinggi dan dagu lancip. Hanya sekali melihat saja sudah bisa memprediksi jika pria itu pastilah sangat tampan.


"Joana, lukisanmu terjual dengan harga mahal. Selamat, selamat, Nak. Ibu sangat bangga padamu," ucap Tania begitu heboh, ia tersenyum manis kepada putrinya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku juga tidak menyangka, ini berkat Ibu juga. Terima kasih sudah selalu mendukung ku," ujar Joana balas tersenyum kepada ibunya.


"Semua hal yang membuatmu bahagia, pasti akan ibu lakukan, Nak. Kamu adalah cinta pertama ibu," kata Tania mengelus lembut pipi Joana.


Joana tersenyum, ia mengambil tangan ibunya lalu menciumnya tanpa mengatakan apapun. Hal itu sudah membuat hati Tania begitu bahagia, ia tidak henti mengulas senyum manis.


"Permisi, Nona Joana?"


Seorang petugas acara tersebut menghampiri Joana dan Tania.


"Ada apa?" tanya Tania mewakili putrinya.


"Mohon maaf sudah menunggu, saya ditugaskan oleh Tuan Alfian untuk memanggil Nona Joana. Beliau mengatakan jika sang pemberi lukisan itu ingin bertemu secara langsung dengan Nona Joana," tutur petugas tersebut.


"Bertemu denganku?" Joana bertanya bingung, apakah ia tidak salah dengar?


"Benar, Nona. Beliau ingin menanyakan sesuatu tentang lukisan, Anda."


"Ehm, dimana aku harus menemuinya?" tanya Joana harus berhati-hati sebelum memutuskan segalanya.


"Beliau sudah menunggu di lantai 3, Nona. Anda bisa langsung datang kesana, mari saya antar," tutur sang petugas.


"Baiklah, aku akan mengantar putriku sendiri," kata Tania bersiap mendorong kursi roda putrinya.


"Mohon maaf, Nyonya. Tuan Alfian hanya meminta Nona Joana sendiri yang datang. Anda tidak boleh ikut," ucap petugas.


"Kenapa tidak boleh? Aku sedang mendampingi putriku, apa kamu tidak melihat kondisinya?" kata Tania menunjukkan kaki celana yang ditutupi dengan selimut.


"Saya mengerti, Nyonya. Tapi ini perintah langsung dari sang pembeli lukisan, beliau orang yang sangat tidak suka dibantah, demi kelangsungan hidup aman putri Anda, sebaiknya Anda menurut saja," ujar petugas itu.


Joana mengerutkan dahinya tidak mengerti, entah kenapa firasatnya tidak enak. Pria itu sebenarnya siapa? Kenapa orang itu terlihat sangat takut seperti itu. Lalu, untuk apa juga dia meminta bertemu denganku?

__ADS_1


"Nona, ayo pergi sekarang. Waktu Anda tidak lama," ujar sang petugas.


"Tidak bisa, aku tetap harus menemani putriku. Katakan saja pada Tuanmu, jika memang ingin bertemu dengan Joana, aku harus ikut," tukas Tania tidak mau semudah itu menyerah, ia juga merasa perasannya tidak enak.


Petugas itu terdiam sesaat, ia seperti sedang berpikir, lalu sesaat kemudian ia mengangguk pelan.


"Baiklah, Anda boleh ikut," ucap sang petugas.


Tania berpanas lega, ia melirik Joana yang sama leganya dengan dirinya. Ia lalu mendorong kursi roda putrinya mengikuti petugas yang berjalan terlebih dulu itu.


Mereka berdua lalu diarahkan menaiki lift menuju lantai tiga. Joana berpikir mungkin orang itu tidak suka keramaian, karena dilantai tiga itu sangat sepi sekali. Hanya terlihat puluhan pria dengan pakaian serba hitam dengan raut wajah dingin.


"Ibu," ucap Joana menahan tangan ibunya agar tidak mendorongnya terlalu jauh.


"Ya?" Tania menunduk, mendengarkan apa yang ingin putrinya katakan.


"Aku takut, sebaiknya kita pergi saja," kata Joana, mulai bisa membaca situasi yang terjadi saat ini.


Tania mengerutkan dahinya, ia menatap sekelilingnya dan baru sadar jika mereka dikelilingi oleh pria-pria yang berbadan besar. Tatapan mereka tulus dan sangat dingin sekali. Tania lalu melirik petugas yang tadi mengantarnya, pria itu tidak ada.


"Kemana pria itu?" gumam Tania kebingungan.


"Siapa ibu?" tanya Joana.


"Pria tadi," sahut Tania.


Namun, suara derap langkah kaki yang berjalan kearah mereka membuat ia terkejut. Ia lebih terkejut melihat seorang pria yang memiliki raut wajah dingin datang kearahnya dengan beberapa orang dibelakangnya.


Joana menggenggam tangannya sendiri, ia sudah mengenali pria itu meski hanya sekali melihat. Pria itu yang tak sengaja ditabraknya beberapa waktu lalu. Tapi yang membuat Joana heran, kenapa pria itu datang padanya?


Devan berjalan dengan langkahnya yang tegap, ia tidak henti menatap wajah wanita yang telah ia rindukan. Semakin dekat, jantungnya berdetak tak karuan, ia berhenti tepat didepan wanita itu.


"Selamat malam," ucap Devan mengulas senyum yang tidak biasa. "Namaku, Devandra Dawson," lanjutnya lagi dengan nada yang tidak biasa.


"A-da apa? Apa yang kamu inginkan?" tanya Joana terbata-bata, ia takut melihat sorot mata Devan yang menurutnya tidak biasa itu.


"Pertanyaan bagus, aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."


Jawaban Devan itu membuat Joana terkejut, perasaannya semakin tidak enak.


"Aku tidak tahu maksudmu, jika tidak punya perlu, aku akan pergi. Ayo ibu," kata Joana meminta Tania untuk mengajaknya pergi.


"Jangan coba-coba!" kata Devan berubah dingin raut wajahnya.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dari putriku? Kami tidak pernah menganggu kalian, biarkan putriku pergi dan hidup tenang," tukas Tania mencoba melawan Devan meski sebenarnya ia sangat takut, ia sudah bisa menebak kalau pria itu memiliki kuasa dan sangat berbahaya.

__ADS_1


Devan mendesis pelan, ia yang tadinya hanya menatap Joana langsung mengalihkan pandangannya kearah Tania. Ia terlihat sangat tidak suka, ia menganggap Tania ini akan menjadi pengganggu hubungannya dengan Joana nanti.


"Aku sudah katakan, aku tidak sedang menganggu. Tapi mengambil apa yang seharusnya menjadi milikmu. Orang-orang seperti dirimu-lah yang telah menggangu," ujar Devan.


"Aku tidak mengerti maksudmu, ayo Joana, kita pergi dari sini. Jangan melakukan hal yang sia-sia," kata Tania segera memundurkan kursi roda Joana lalu membawanya pergi dengan cepat. Ia benar-benar takut melihat perangai Devan yang menyeramkan.


"Berhenti." Devan langsung menegakkan tubuhnya, sorot matanya berkilat-kikat penuh amarah dan kebencian.


Tania tidak mempedulikannya, ia tetap mendorong kursi roda Joana dengan cepat.


"Aku bilang berhenti!" teriak Devan hingga suaranya menggema di ruangan yang sepi itu.


Namun, lagi-lagi tidak direspon oleh Tania. Ia berjalan cepat mendorong kursi roda Joana dan berniat cepat-cepat pergi. Pria itu memang sangat berbahaya, dari matanya saja sudah menjelaskan semuanya.


"Ibu, sepertinya dia marah," kata Joana.


"Tidak usah peduli, selama kita tidak menganggu mereka, tidak usah takit," sahut Tania.


"Tapi bagaimana kalau-"


Duarrrr!!!


Ucapan Joana langsung terhenti mendengar suara tembakan yang keras. Ia membesarkan matanya syok, tapi ia lebih syok melihat tangan dan rambutnya yang tiba-tiba basah. Jantung Joana berpacu lebih cepat, ia memperhatikan tangannya lagi yang berwarna merah. Lalu ia memegang rambutnya yang juga ada darahnya.


Tak lama kemudian, Joana kembali dikejutkan dengan tubuh ibunya yang tiba-tiba roboh ke depan dengan darah yang tak henti keluar dari punggungnya.


"Akhhhhhhhhhhhh!" Joana menjerit histeris, ia begitu ketakutan melihat darah yang muncrat kemana-mana. Tapi ia lebih takut melihat Ibunya yang tergeletak seperti itu, tembakan itu sangat luar biasa hingga tembus ke dada depan.


"Ibu!" teriak Joana lagi, ia langsung menjatuhkan dirinya ke lantai, menangis meraung memeluk ibunya yang tergeletak dengan bersimbah darah itu.


Suara rintihan Tania masih terdengar, ia ingin menggapai wajah Joana, tapi ia sudah tidak sanggup. Ia kemudian menutup matanya, memeluk kegelapan yang terasa mencekam.


"Ibu, bangun ibu!" Joana menangis histeris, ia memeluk Tania dengan erat, ia tidak mau kehilangan ibunya. Bagaimana Tuhan begitu tega memisahkan mereka yang baru saja bertemu dan Joana baru merasakan bagaimana memanggil Tania ibu.


Devan mengertakkan giginya, gerahamnya mengetat karena amarah yang luar biasa. Jangan dikira apa yang dia katakan main-main. Ia tidak suka jika ada yang berani menantangnya, apalagi berniat untuk mengambil Mega darinya.


Devan berjalan mendekati Joana yang masih meraung itu.


"Ayo kembali, Mega," kata Devan dengan wajah dinginnya.


Joana terkejut, ia mendongak menatap Devan dengan penuh kebencian. Pria itu yang telah membunuh ibunya!


"Kamu pembunuh! Aku sangat membencimu! Kamu pembunuh, kembalikan ibu!"


Happy Reading.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2