Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 14. Jalan-jalan With Felix.


__ADS_3

Joana masih menikmati sarapannya sebelum ia pergi untuk jalan-jalan. Sebenarnya masih sedikit aneh, kok bisa Devan yang semalam bertingkah seperti iblis keesokan paginya malah menyuruhnya keluar rumah. Padahal biasanya pria itu tidak mengizinkan Joana pergi, kecuali bersama Devan.


Disela-sela makannya, Felix tiba-tiba saja datang membuat Joana sedikit kaget. Wanita itu menatap Felix dengan wajah terkejut yang tidak ditutupi.


"Selamat pagi, Nona Mega. Habiskan dulu sarapanmu, setelah itu baru kita keluar," seloroh Felix seraya berjalan mendekati Joana, mengambil duduk disamping wanita itu.


"Kamu serius akan mengajakku pergi?" Joana kembali memastikan, ia tidak mau jika nantinya ia lagi yang akan menjadi amukan Devan.


"Tenang saja, Devan sudah mengizinkanku. Katanya hari ini dia akan sangat sibuk di kantor. Jadi dia memintaku untuk mengajakmu pergi," sahut Felix dengan santai.


Joana mengangguk-angguk singkat, ia segera menghabiskan makanan salad yang sangat susah ia telan itu karena ia tidak suka. Lalu minumnya ia meminum jus strawberry yang rasanya sangat asam sekali, membuat ia mengernyit karena keasaman.


"Kenapa meminumnya jika kamu tidak suka?" tanya Felix, heran melihat Joana yang seperti memaksakan dirinya.


"Devan bilang aku harus menjadi Mega, dari yang aku baca, Mega suka sarapan salad dan jus strawberry," jelas Joana heran saja.


"Itu jika ada Devan, sekarang kamu sedang bersamaku. Jadilah dirimu sendiri, jangan terlalu memaksakan diri," tutur Felix, semakin kasihan saja dengan wanita di depannya ini.


Joana langsung melirik sekelilingnya, dimana banyak sekali anak buah Devan dan pelayan yang tengah menatap kearahnya. Hal itu membuat nyalinya menciut.


Felix mengikuti arah pandangan Joana, ia menghela napas panjang, seolah tahu apa yang sedang wanita itu rasakan.


"Sudah selesai sarapannya? Ayo kita pergi kalau sudah," ucap Felix.


"Iya sudah, kita akan pergi ke mana?" tanya Joana penuh rasa ingin tahu.


"Ke mana saja, hari ini lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan," sahut Felix seraya bangkit dari duduknya.


"Biar aku bantu," lanjutnya lagi ingin membantu Joana duduk di kursi rodanya.


"Tidak perlu, biarkan Tita saja." Joana mengangkat tangannya keatas sebagai tanda penolakan.


"Tita, tolong bantu aku," pintanya pada Tita yang senantiasa menemaninya.


"Baik, Nona."


Tita dengan cekatan membantu Joana untuk duduk di kursi rodanya. Hal itu membuat Felix tertawa kecil, baru pertama kali ada orang yang menolak dirinya dengan gamblang seperti itu. Padahal sebelumnya belum pernah ada wanita yang menolak pesonanya selain Joana.


"Sudah, aku sudah siap," kata Joana.


"Baiklah, kita pergi sekarang saja agar tidak terlalu siang. Nanti panas," sahut Felix.


"Tita ikut bersama kita 'kan?" Sebelum benar-benar pergi, Joana memastikan terlebih dulu kalau dirinya akan aman.

__ADS_1


Felix tersenyum kecil. "Harus ikut, karena itu persyaratan yang diberikan si Tuan pencemburu," seloroh Felix.


Joana mengangguk, ia sedikit tersenyum mendengar sebutan Felix kepada Devan. Pria itu memang pencemburu akut dan pemarah.


Mereka bertiga lalu berangkat menuju tempat yang dimaksud oleh Felix. Mereka tidak hanya pergi bertiga, melainkan dengan puluhan anak buah Devan yang siap mengawal kemanapun Joana pergi. Iring-iringan mobil mereka sudah seperti mobil presiden yang dikawal oleh Paspampres.


Joana tidak heran melihat hal itu semua, Devan adalah orang yang penuh perhitungan. Pria itu pasti sudah memperkirakan kalau kesempatan ini mungkin saja akan Joana pakai sebagai waktu untuk kabur.


Sepanjang perjalanan itu hanya diisi dengan kebisuan, baik Joana dan Felix lebih memilih diam dengan pikirannya masing-masing.


Sampai akhirnya mereka melewati alun-alun kota yang sedang merayakan pagelaran seni sehingga jalanan cukup macet.


"Ada acara apa di dalam?" tanya Joana.


"Hari ini adalah hari ulang tahun kota, Gubernur sedang mengadakan pergelaran seni dan juga bazar," jawab Tita.


"Wah, pasti sangat ramai sekali disana," ucap Joana, teringat dulu ia sering pergi ke acara seperti ini bersama Stella dan Xander.


Namun, semua itu hanyalah tinggal kenangan saja.


"Mau kesana?" Felix mencoba memahami apa yang diinginkan oleh Joana.


Joana mengangguk seraya menatap Felix dengan sendu. "Apa boleh?" tanya Joana sangat berharap sekali bisa melihat pagelaran seni itu.


Tita mengangguk mengiyakan, wanita itu sudah bekerja lama dengan Devan, jadi ia juga sudah tahu tentang Felix. Dari dulu hanya Felix yang dipercaya oleh Devan untuk menjaga Mega jika pria itu tidak ada.


"Ayo masuk ke dalam, Devan sudah mengizinkan kita," ujar Felix pada Joana.


Joana mengembangkan senyumnya, akhirnya hari ini ia benar-benar bisa menikmati waktunya dengan dibantu Felix. Di acara itu Joana ingin menjadi dirinya sendiri sebagai Joana yang suka kebebasan. Bukan sebagai Mega yang semua hidupnya serba diatur.


Kursi rodanya didorong oleh Felix masuk ke area alun-alun yang sangat ramai itu. Semua warga kota tampak tumpah ruah disana, menikmati waktu untuk menonton acara yang hanya diadakan satu tahun sekali itu.


Pusat acara itu ada ditengah area alun-alun, membuat mereka harus memutar cukup jauh dari tempat itu.


"Wah, ada fashion show juga!" Joana berseru begitu melihat peragaan busana yang kini telah digelar di acara itu.


Beberapa model papan atas tampak berjalan di catwalk dengan menggunakan pakaian khas Indonesia yang sudah didesain sedemikian indah.


Melihat hal itu Joana terdiam, ia mengingat dulu dia juga bisa berdiri disana. Berjalan dengan penuh percaya diri dengan kaki panjangnya yang indah. Membuat mata semua orang menatapnya dengan penuh kekaguman. Tapi sayang sekali, sekarang ia hanya bisa melihat semua itu, tanpa bisa menjadi bagian dari mereka.


"Kenapa?" tanya Felix seperti mengerti perubahan diwajah Joana.


"Tidak apa-apa, bajunya bagus-bagus. Disini juga ramai sekali," sahut Joana, tersenyum untuk menutupi perasaannya.

__ADS_1


"Baiklah, aku dengar kamu suka melukis. Ingin melihat lukisan disana?" Felix menunjuk area pameran lukisan yang berada disisi lain alun-alun.


"Boleh." Joana hanya menurut saja, moodnya tiba-tiba memburuk hanya karena melihat hal tadi.


Bagi orang lain semua itu mungkin biasa saja, tapi bagi Joana adalah hal yang sangat menyakitkan. Dimana dulu hal yang pernah dimilikinya dan bisa ia lakukan, kini hanya menjadi sesuatu yang bisa dikenang.


Kini mereka beralih ke pameran lukisan, Felix rupanya juga sangat menggemari lukisan, pria itu mengajak Joana untuk membicarakan mana lukisan yang menurutnya paling bagus. Jika dilihat sekilas, semuanya bagus, tapi semua lukisan pasti memiliki arti tersendiri.


"Lukisan ini sangat bagus, pelukisnya sangat detail sekali. Mungkin ini hanya terlihat seperti pohon, tapi si pelukis menambahkan sedikit sentuhan didalamnya. Akar-akarnya yang berjalinan satu sama lain, menandakan jika sebuah hubungan harus memiliki akar yang kuat, yang saling menjalin menjadi satu agar perasannya kokoh dan tak lekang oleh waktu. Pohonnya mungkin bisa tumbang, tapi tidak dengan akarnya," ucap Joana menjelaskan dengan sangat detail arti lukisan yang ingin dibeli oleh Felix, ia bukan seniman handal, tapi ia merasa itu memang yang ingin disampaikan sang pelukis.


"Wah Nona, Anda hebat sekali. Baru pertama kali ada yang bisa menebak arti lukisan saya. Anda pasti seorang pelukis hebat," puji sang pemilik lukisan.


"Tidak, Pak. Aku hanya menebak saja, lukisan bapak bagus," ujar Joana dengan senyum tipisnya.


Tanpa sadar sejak tadi Felix menatap Joana lekat-lekat. Mungkin terdengar sangat aneh, tapi dia benar-benar kagum dengan analisa Joana yang begitu detail dan sangat mudah dipahami. Felix berpikir Joana ini sepertinya orang yang sangat pintar sekali.


"Baiklah, aku akan membeli lukisan ini saja. Berapa harganya?" Felix langsung memutusakan membeli lukisan itu.


Setelah mengatakan harganya, asisten Felix segera membayarnya dan mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini Joana mengajak Felix untuk melihat pameran hewan-hewan peliharaan. Joana ingin memiliki teman saat di rumah agar dia tidak bosan karena ia sangat suka dengan binatang, apalagi kucing.


"Kira-kira Devan marah nggak ya kalau aku beli kucing?" tanya Joana.


"Mana mungkin? Devan tidak akan marah, jika kamu memelihara sugar Daddy dia marah," seloroh Felix.


"Ish." Joana mencibir seraya melirik malas pada Felix.


"Hahaha, langsung gitu ya mukanya. Kamu boleh kok beli kucing. Devan nggak bakalan marah," ujar Felix menenangkan kegusaran Joana.


"Kalau Devan marah, kamu ya yang tanggung jawab," kata Joana memandang Felix serius.


"Hahaha, bagus sekali ingin menggunakanku sebagai tameng, ya? Menyebalkan," ucap Felix.


"Kan kamu yang bilang boleh," kata Joana, kali ini wajahnya berubah cemberut.


"Baiklah, baiklah, aku yang akan tanggung jawab nanti. Kamu pilih saja, kucing mana yang kamu inginkan. Aku akan menerima telepon sebentar," ucap Felix reflek mengelus rambut Joana.


Joana tersentak, ia menatap Felix yang langsung salah tingkah.


"Sorry, aku pergi dulu." Felix menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum pergi.


Joana hanya diam, ia segera mengajak Tita untuk melihat-lihat kucing yang akan ia beli. Ia tidak ingin ambil pusing tingkah Felix tadi, mungkin saja pria itu hanya tidak sengaja karena menganggapnya Mega.


Saat Joana melihat-lihat, netranya tidak sengaja menangkap bayangan sosok pria yang kini tertawa bahagia dengan seorang wanita. Melihat hal itu tanpa sadar tangan Joana mengepal erat.

__ADS_1


__________


__ADS_2