Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 46. Ketika Mafia Bucin.


__ADS_3

"Joana, yang benar saja jalan kaki? Aku tidak mau, diluar sedang hujan lebat. Bagaimana bisa kita berjalan kaki?" Devan langsung menolak mentah-mentah permintaan Joana itu.


Selain tidak efisien, diluar juga sedang hujan lebat dan rumahnya cukup jauh dari keramaian. Menurutnya hanya membuang-buang waktu saja dan juga bisa membuat mereka sakit jika terkena hujan.


"Kita bisa menggunakan payung." Joana tidak peduli dengan alasan Devan, ia benar-benar ingin memberikan pelajaran kepada pria sombong itu.


"Permintaanmu aku tolak. Kalau ingin ayo kita naik mobil," tukas Devan dengan wajahnya yang enggan.


Joana tidak menyahut, ia hanya diam saja tapi matanya berkaca-kaca. Merasa ditolak dan tidak diinginkan, itulah yang Joana rasakan saat ini.


"Ayo, aku sudah meminta Ken menyiapkan mobil," ajak Devan seraya menatap ponselnya seraya beranjak dari tempat itu.


Namun, ia mengerutkan dahinya saat melihat Joana hanya diam ditempat. Ia menatap Joana, ingin bertanya kenapa hanya diam? Tapi ia justru terkejut melihat Joana yang sudah menangis.


"Joana-"


"Kalau memang tidak mau, ya sudah. Aku akan kembali ke kamar saja," tukas Joana mendadak begitu kesal, ia segera memutar tubuhnya untuk kembali ke kamar.


Devan dengan cepat menahan tangan Joana. Ia bingung kenapa mood Joana tiba-tiba berubah seperti ini. "Kenapa menangis?" Kamu bilang lapar? Ayo kita pergi," kata Devan.


"Tidak! Aku hanya akan pergi jika kamu mau berjalan kaki. Kalau tidak, artinya kita tidak pergi," sergah Joana dengan wajah cemberutnya.


"Astaga, ini hanya perkara jalan kaki. Aku sudah bilang ...." Devan tidak melanjutkan ucapannya karena Joana kembali menangis. "Baiklah, baiklah, kita akan pergi berjalan kaki. Jangan menangis ya," tutur Devan, tidak tega juga melihat Joana bersedih seperti itu.


"Yang benar? Kamu tidak membohongiku?" tukas Joana masih dengan wajahnya yang cemberut.


Devan mengangguk cepat meski hatinya benar-benar sangat terpaksa. Ini jelas bukan dirinya sendiri, ia bisa saja menolak permintaan itu. Tapi entah kenapa hatinya begitu tidak tega melihat mata Joana penuh dengan air mata. Seolah ada bagian dalam dirinya yang sakit saat melihat Joana bersedih.


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang." Joana langsung bersemangat begitu Devan menyetujui permintaannya, ia tanpa ragu langsung menggandeng lengan pria itu dan mengajaknya pergi.


Devan menghela napas panjang, sepertinya kini hatinya sudah mulai melunak dan bisa dipengaruhi dengan sesuatu yang dinamakan cinta.


Sesampainya di bawah, Ken tergopoh-gopoh menghampiri Devan karena berpikir Devan membutuhkan sesuatu atau bagaimana. Para pengawal pun segera sigap dan siap untuk bertugas. Tapi jawaban yang mereka dapatkan justru membuat mereka terkejut.


"Aku akan pergi, jangan ada yang mengawal," kata Devan.


"Saya akan menyiapkan mobilnya, Tuan." Ken mengangguk dan segera beranjak.


"Tidak usah, aku akan berjalan kaki," tukas Devan lagi.


"Berjalan kaki, Tuan? Tapi diluar sedang hujan lebat, bagaimana jika nanti ada musuh atau-"


"Aku tidak sedang ingin mendengar cermahmu, Ken. Ambilkan saja aku payung, Nona Joana ingin makan dipinggir jalan dan berjalan kaki," sembur Devan mulai tidak sabar.


Ken tidak bisa berkata-kata, ia langsung mengangguk cepat-cepat lalu meminta pelayan untuk mengambilkan payung lalu menyerahkannya pada Devan.

__ADS_1


"Tuan, apakah Anda benar-benar serius? Nona Joana ingin apa? Biar saya saja yang membelikannya," ujar Ken memandang Devan khawatir, banyak musuh Devan yang berkeliaran diluar sana, Ken hanya takut jika mereka akan menyerang Devan saat pria itu lengah.


Devan menatap Ken dengan begitu kesal, ia justru mendorong bahu pria itu dengan kasar. "Untuk apa kamu perhatian dengan calon istriku? Apa kamu menyukainya?" tuduh Devan menatap Ken dengan tatapan membunuh.


"Tidak, Tuan. Saya hanya tidak ingin nantinya terjadi sesuatu dengan Anda," bantah Ken.


"Semoga saja itu benar, aku akan membunuhmu jika kamu berani melihatnya lebih dari dua detik, termasuk kalian semua," sergah Devan dengan nada mengancam, ia bukan hanya menatap Ken, tapi seluruh anak buahnya yang lain.


"Dev," panggil Joana menarik lengan Devan dengan lembut, kenapa malah ingin ribut?


"Ayo pergi." Devan tidak menghiraukannya, ia langsung saja menggandeng Joana seraya tangan satunya memegang payung.


Sumpah demi apapun ini adalah hal konyol yang pernah Devan lakukan. Ia berjalan dengan seorang wanita dengan memakai payung saat hujan. Padahal dulu dengan Mega ia tidak pernah seperti ini.


Namun, berbeda dengan Joana yang tampak sangat senang. Ia tidak henti mengulas senyum saat Devan mau menuruti keinginannya. Mereka berdua berjalan pelan seraya bergandengan tangan dengan Devan. Sebuah hal sederhana tapi sangat menyenangkan.


"Dimana membelinya?" tanya Devan dengan raut wajah datar.


"Ehm tidak tahu. Coba kita cari dulu," sahut Joana juga tidak tahu dimana ia harus mencari penjual seblak.


Jalanan rumah Devan sangatlah sepi, hanya suara hujan serta petir yang terdengar. Devan sendiri sepertinya enggan untuk memulai percakapan karena mood-nya kurang bagus.


Mereka berdua kini sudah ada dijalan raya yang sangat ramai itu. Meskipun hujan masih banyak toko-toko kecil di pinggir jalan yang buka.


"Tidak, aku mau makan seblak." Joana menggeleng dengan tegas, ia hanya ingin seblak, titik.


Devan menghela napas panjang, ia harus sabar, tidak setiap hari juga Joana meminta hal aneh seperti ini.


"Baiklah, ayo kita cari," ujar Devan.


Joana mengangguk mengiyakan, ia dan Devan segera berjalan ke satu persatu tenda penjual yang sedang buka itu. Sejak tadi Devan tidak melepaskan gandengannya sama sekali, justru kini Devan merangkul bahu Joana agar wanita itu tidak terkena air hujan.


"Sepertinya itu, Dev." Joana menunjuk salah satu kedai yang menjual seblak keinginannya.


Joana segera mengajak Devan kesana dan memesan apa yang ia inginkan. Wanita itu sudah membayangkan akan enaknya makanan itu, dengan rasa pedas yang pasti akan sangat menggugah selera.


"Dev, kamu mau pesan topping apa?" tanya Joana menarik-narik tangan Devan.


"Kamu saja, aku tidak lapar." Devan langsung menolak, ia tidak akan mau makan ditempat yang menurutnya tidak higienis itu.


Joana memainkan mulutnya, tidak memaksa juga, ia segera memesan lalu menunggu di kursi yang sudah disediakan seraya menopang dagunya.


"Kayaknya terpaksa banget pergi sama aku," celetuk Joana.


"Tidak."

__ADS_1


"Ck, memangnya dulu kamu tidak pernah seperti ini dengan dia?" tukas Joana cukup penasaran, bagaimana dulu gaya pacaran Devan.


"Tidak."


Joana mendesis sebal, ia menatap Devan bersungut-sungut. "Apa tidak ada jawaban lain selain tidak?" sembur Joana.


"Tidak."


Joana membuka mulutnya, hampir saja ia mengumpat karena kesal yang luar biasa. "Dasar kulkas! Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada orang sepertimu," sergah Joana.


Devan tertawa kecil. "Memang begitulah aku, memangnya apa yang kamu harapkan?" kata Devan.


"Membosankan," celetuk Joana.


Devan tidak membantah sama sekali, ia justru senang karena Joana kini mau berbicara lagi padanya. Ia merapikan rambut Joana yang tampak lepek itu.


"Memang itulah aku, katakan saja apa yang kamu inginkan, aku pasti akan melakukannya jika aku bisa," ujar Devan.


Joana tersentak, ia merasakan jantungnya berdegup kencang. Untung saja makanannya segera datang sehingga pandangan mereka terputus, kalau tidak ia bisa-bisa pingsan karena jantungnya akan meledak.


"Wahhhh, ini sangat enak sekali sepertinya!" Joana berseru riang, tidak sabar ingin melahap makanan itu sampai habis.


"Makanlah," ujar Devan tersenyum tipis, ikut bahagia melihat wajah senang Joana.


Tanpa diperintah dua kali, Joana segera saja melahap seblak pesanannya dengan cepat. Rasanya benar-benar seperti ekspetasinya yang luar biasa. Meskipun panas ia tetap memakannya dengan sangat lahap.


"Ini enak sekali, Dev. Apa kamu tidak ingin mencoba?" kata Joana dengan mulut mengunyah makanan.


"Aku tidak level jika makan junk food seperti ini. Kamu tahu, makanan itu tidak higienis. Tidak menggunakan bahan organik yang berkualitas, kita tidak tahu berapa banyak kuman yang ada disitu," kata Devan, kembali ke setelah awalnya, sombong dan arogan.


Joana melirik Devan dengan kesal, ia bukannya jijik justru menyeruput kuah seblak itu dengan keras hingga menimbulkan suara yang keras.


"Ahhhhhhhhh ... Enak sekali." Joana juga dengan sengaja makan dengan gaya arogan, biar saja tuan muda nan sombong itu tidak suka. Siapa suruh bicara seenaknya.


Devan mengernyitkan dahinya, cukup tidak nyaman juga dengan gaya makan Joana ini. Tapi ia tahu wanita itu hanya ingin memancing emosinya saja.


"Habiskan, setelah ini ayo pulang. Hujannya semakin lebat," tutur Devan.


"Ehm, aku mau makan es krim," sahut Joana memandang Devan dengan matanya yang polos tanpa dosa.


Jika seperti ini, apakah Devan bisa bertahan? Tentu saja tidak. Ia hanya bisa menghela napas panjang dan mengumpat dalam hatinya saja.


'Hanya hari ini saja, Dev.' Begitulah Devan menyemangati dirinya sendiri dan menahan kesabarannya.


__________

__ADS_1


__ADS_2