
"Setelah membuat anak orang lumpuh, sekarang bisa seenaknya saja bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Bagus sekali,"
Tania bertepuk tangan seraya mengulas senyum sinis menatap Xander. Ia mendorong kursi roda Joana sampai di depan pria itu. Tadinya ia ingin mengajak Joana jalan-jalan agar tidak terlalu memikirkan Xander, tapi ternyata mereka justru bertemu dengan pria ini.
Xander hanya menatap kedua wanita licik itu dengan ekspresi dingin. Ia sempat memperhatikan Joana yang terlihat kurus dan menyedihkan.
"Xander, kau apa kabar?" tanya Joana mencoba bersikap lembut kepada Xander.
"Jangan bertanya padaku!" sergah Xander ketus, ia sudah muak sekali dengan kelakuan wanita licik yang berpura-pura lemah ini.
"Jaga sikapmu ya pria kurang ajar! Kau lupa siapa yang sudah membuat keponakanku seperti ini? Dasar tidak tahu diri!" tukas Bibi Tania langsung emosi melihat sikap Xander yang begitu kasar.
Xander tersenyum sinis mendengar Bibi Tania yang mengatakan kalau Joana adalah keponakannya. Benar-benar wanita licik dan kejam, tega-teganya dia mengakui anaknya sendiri sebagai keponakan.
"Oh benarkah? Kenapa kau selalu membelanya Bibi, aku rasa, kau semakin cocok menjadi ibunya," ucap Xander dengan sengaja.
"Tutup mulutmu! Sekarang kau masih bisa bersikap sombong, tapi lihat saja saat Kak Medison berhasil menghancurkan mu. Aku yakin kau akan mengemis ampun kepada Joana!" sentak Bibi Tania menunjuk batang hidung Xander dengan begitu emosi.
"Mengemis ampun? Kepada wanita lumpuh ini? Cih, jika satu-satunya wanita di muka bumi ini hanya tersisa dia, aku tetap tidak akan sudi memilihnya," ucap Xander melirik Joana dengan ekspresi jijik, entah apa yang dulu dilihatnya dari wanita ini. Sekarang ia menyesal karena pernah menjadikan wanita itu bagian hidupnya.
Joana mengigit bibirnya, hatinya nyeri sekali saat Xander mengatakan hal itu. Apa se menjijikan itu dirinya sekarang sampai Xander tidak mau bersamanya lagi.
"Kau! Kurang ajar!" teriak Bibi Tania semakin marah melihat Joana yang hampir menangis karena perkataan pedas Xander. Ia tak segan mengangkat tangannya untuk menampar mulut Xander yang tidak berakhlak itu.
__ADS_1
Namun, sebelum ia melakukannya, tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh seseorang.
"Jangan berani menyentuh suamiku!" ucap Stella menatap Bibi Tania dengan tajam.
Semua orang terkejut melihat kedatangan Stella. Mereka menatap Stella yang terlihat begitu marah, namun Bibi Tania sama sekali tidak takut.
"Cih, anak pungut! Kau juga sama saja dengan dia!" ucap Bibi Tania menarik tangannya dari Stella, ia mengusap-usap tangannya seolah jijik setelah bersentuhan dengan Stella.
"Sayang, jangan buang tenaga mu untuk mengurusi orang tidak penting. Sebaiknya kita pulang saja," ucap Xander menarik tangan Stella agar menjauh dari Tania.
"Jangan pergi kalian! Kalian berdua pasangan tidak tahu malu, kalian ingin berbahagia di atas penderitaan orang lain? Sungguh manusia yang sangat kejam," ucap Bibi Tania menarik kembali tangan Stella, ia sengaja mengeraskan suaranya agar semua orang di sana bisa mendengar apa yang diucapkannya.
"Kau!" Xander mengepalkan tangannya erat, ia ingin merangsek maju tapi Stella menahannya. Wanita itu memberi kode untuk Xander diam.
"Apa maksud Anda?" ucap Stella menanggapi dengan tenang, tak peduli sekarang orang saling berbisik dan menatap kearah mereka.
Benar saja, orang-orang mulai memandang Stella dengan sinis dan menggunjingnya. Stella masih mencoba bersikap tenang.
"Benarkah? Aku yang merebut atau dia yang merebut?" ucap Stella menunjuk Joana yang hanya diam saja.
"Stella, kenapa kau begitu jahat. Dia itu Kakak mu meski kalian bukan saudara kandung. Kau lihat keadaannya sekarang? Dia lumpuh karena di paksa oleh suamimu untuk mengugurkan bayinya, kau lihat itu? Kelakuan suamimu sangat licik, dia ingin menyembunyikan kebusukannya itu dari semua orang," ucap Bibi Tania menangis seraya memeluk Joana.
Stella memutar bola matanya malas, Bibi Tania ini memang aktris yang sangat hebat.
__ADS_1
"Benarkah? Katakan padaku Bibi, jika memang suamiku yang salah kenapa dia harus mau? Seharusnya dia tahu kalau pria yang menjalin hubungan dengannya adalah pria yang sudah beristri, lalu kenapa dia dengan mudah menyerahkan dirinya? Apa itu yang disebut murahan Bibi?" ucap Stella tenang tanpa emosi sama sekali.
"Suamimu itu yang bersalah! Jangan menyalahkan Joana!" teriak Bibi Tania tak terima Stella menyebut Joana murahan.
"Asal Bibi tahu, jika seorang wanita memang memiliki prinsip dan tahu kelasnya, dia pasti bisa membedakan mana hal yang baik atau tidak. Jika memang suamiku yang bersalah, kenapa dia tidak menolak? Kenapa dia justru mau-mau saja?" ucap Stella membuat semua orang terdiam, bahkan Xander saja seperti tidak mengenali istrinya sendiri.
"Tutup mulutmu wanita tidak tahu diri!" Bibi Tania langsung mengangkat tangannya untuk menampar wajah Stella, dirinya sudah cukup bersabar melihat kelakuan wanita ini tapi lagi-lagi Stella lebih sigap.
"Bibi mau apa? Mau menamparku? Maaf Bibi, semua yang aku katakan adalah sebuah kebenaran. Keponakan Bibi yang Bibi bela ini, tidak lebih dari seorang pe la cur murahan. Dia seperti ini juga karena ulahnya sendiri. Bibi tahu apa itu karma? Inilah karma yang sebenernya, apa yang Joana tanam, akan dia petik!" ucap Stella mengangkat alisnya, nada bicaranya lembut namun sangat menyakitkan.
Setelah mengatakan hal itu, Stella langsung mendorong Bibi Tania hingga wanita itu hampir saja terhuyung. Stella tak peduli, sudah cukup selama ini dia diam saja membiarkan ketidakadilan menimpa dirinya, sekarang dia tak akan membiarkan orang lain masuk kedalam rumah tangganya yang baru saja mencicipi rasanya kebahagiaan.
Xander tersenyum tipis melihat sikap Stella, ia begitu takjub dengan cara Stella menghadapi Bibi Tania. Halus namun mematikan.
"Ayo kita pulang by," ucap Stella mengambil tas nya.
Xander mengangguk, ia segera merangkul pinggang Stella seraya beranjak dari sana. Sebelum ia pergi, ia sempat melirik Joana yang melihatnya, dengan sengaja ia membuat posisinya dengan Stella menjadi lebih intim agar wanita itu tahu kalau sudah tidak ada tempat lagi dihatinya untuk wanita manapun selain Stella.
"Sayang, kamu jangan sedih. Kita pasti akan membalas mereka," ucap Bibi Tania menenangkan Joana yang terlihat sangat sedih.
"Xander sudah membenciku Bibi, dia tidak akan mau kembali padaku," Joana menangis lirih, ia mungkin tidak mencintai Xander, namun ia tidak terima melihat Xander bersikap begitu manis kepada Stella.
"Mau, pasti dia mau. Jika Papa mu tidak bisa membuatnya kembali padamu, Bibi sendiri yang akan membuatnya kembali padamu," ucap Bibi Tania mantap dan serius, ia tersenyum licik saat menemukan ide yang cocok untuk membuat pria arogan itu menunduk ampun kepada Joana.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.