
"Nona Mega meninggal karena kecelakaan saat akan menikah dengan Tuan Devan."
Tita akhirnya menjawab setelah sekian lama, wanita itu seperti merasa kehilangan jika membicarakan tentang Mega karena dulu mereka sangat dekat sekali.
"Kecelakaan? Dia membawa mobil sendiri?" Joana kembali bertanya.
Melihat gaya Devan yang sangat posesif itu tentu sangat mengherankan jika membiarkan Mega pergi sendiri. Lagipula saat itu posisi mereka akan menikah, tentu mereka seharusnya berangkat ke tempat pernikahan bersama.
"Untuk itu saya kurang tahu, Nona. Tapi waktu itu Nona Mega diantar oleh Ken dan mobil mereka kecelakaan karena serangan dari musuh Tuan Devan," tutur Tita kembali menjelaskan.
Joana tidak ingin memikirkannya, tapi semakin kesini semakin aneh. Ia merasa ada sesuatu rahasia yang belum terungkap disini. Ia malah curiga jika meninggalkannya Mega ada unsur kesengajaan.
Namun, Joana tidak ingin bertanya lagi, ia kembali menatap layar televisi dimana kini terlihat adegan seorang wanita yang menangisi kepergian sang suami yang akan pergi berperang. Melihat tatapan dari istrinya itu membuat Joana merasa itu adalah dirinya sendiri yang juga tidak rela jika Devan harus pergi. Tapi pria itu benar-benar keras kepala.
"Tita, apakah aku sudah bisa menghubungi Devan? Ini sudah tengah malam, apa pekerjaannya belum selesai?" tanya Joana sekaligus menggerutu, hatinya mendadak sangat khawatir akan kondisi Devan.
"Saya akan mencoba menghubungi Ken, Nona."
Joana mengangguk mengiyakan, ingin sekali mendengar suara Devan meksipun itu hanya satu detik. Ia ingin tahu apakah pria itu baik-baik saja? Selain itu hatinya mendadak sangat merindukan pria itu dan memeluknya.
'Aku yakin dia baik-baik saja, dia sudah janji akan pulang.'
Joana mencoba berpikir positif, ia harus yakin karena Devan sudah berjanji padanya dan besok akan segera menikahi dirinya. Untuk saat ini ia harus mendoakan yang terbaik untuk pria itu.
___________
Tita beranjak meninggalkan Joana sejenak, sebelumnya ia sudah diberitahu oleh Ken jika dilarang menelpon jika tidak benar-benar penting. Tapi ia juga kasihan melihat Joana yang sangat mengkhawatirkan Devan itu. Ia akhirnya mencoba diam-diam menghubungi pria itu.
"Tita?"
Tita tersentak saat mendengar suara berat seorang pria yang memanggilnya. Ia menoleh dan bernapas lega begitu melihat sosok Felix yang datang dengan raut wajah tegang.
"Tuan Felix? Anda datang malam sekali, Tuan Devan sedang tidak ada di rumah," tutur Tita memberitahu.
"Jadi berita itu benar? Dimana Joana sekarang?" Felix seolah langsung lemas begitu mendengar perkataan Tita.
"Berita apa, Tuan?" tanya Tita.
__ADS_1
Felix melirik Tita sekilas, ia lalu memberikan gestur kepada wanita itu untuk mengikutinya ke ruangan para karyawan. Disana ada sebuah TV besar yang biasa digunakan para karyawan untuk beristirahat. Felix segera menyalakannya.
"Breaking News! Upaya penangkapan sosok buronan kelas kakap Devandra Dawson menimbulkan kekacauan yang merenggut banyak nyawa. Kebakaran terjadi sangat besar dan banyak orang terjebak didalamnya, termasuk sosok Devandra sendiri yang belum keluar dari tempat tersebut."
"Dua peleton polisi gabungan gagal menangkap buronan (DD) dan menyebabkan kebakaran besar yang memakan banyak korban."
"Pelabuhan lama yang menjadi saksi terbunuhnya puluhan polisi dan seorang bandar narkoba (DD). Seluruh tempat hangus terbakar dan puluhan orang terpanggang didalamnya."
Tita menutup mulutnya sangat syok, ia memandang Felix dengan raut wajah tak percaya bercampur sedih.
"Tuan Devan?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Aku hanya ingin mengatakan padamu, jangan sampai Joana melihat berita ini. Pastikan dia tidak mendengar kabar apapun dan jangan biarkan dia keluar rumah. Apa kamu mengerti?" titah Felix.
Tita mengangguk cepat-cepat, masih terlalu syok dengan berita yang didengarnya. Apalagi ia ingat api yang berkobar sangatlah besar sekali. Tempat itu pasti akan habis dalam sekejap saja.
"Aku akan mencaritahu semuanya, saat ini musuh Devan ada dimana-mana. Jangan sampai mereka menggunakan kesempatan ini untuk mengambil kekuasaan Devan. Kamu mengerti maksudku 'kan?" ujar Felix lagi.
"Iya, Tuan. Saya akan menjaga Nona Joana," sahut Tita kembali menganggukkan kepalanya.
"Bagus, ingat pesanku tadi. Jangan sampai Joana tahu kabar ini," kata Felix dengan wajahnya yang sangat-sangat serius.
Felix dan Tita begitu terkejut saat mendengar suara Joana. Mereka seketika langsung menoleh secara bersamaan dan kaget melihat Joana berdiri tidak jauh dari mereka.
"Joana!"
"Kabar apa yang tidak boleh aku ketahui?" tanya Joana memandang Felix dan Tita dengan curiga.
"Bukan kabar apapun, sebaiknya kamu istirahat, ini sudah malam." Felix buru-buru mendatangi Joana dan memberikan kode kepada Tita untuk mematikan saluran televisi yang masih menyala.
Namun semuanya terlambat karena Joana sudah lebih dulu melihat berita itu. Ia mendadak mematung dan dunianya seolah terhenti.
"Dari laporan yang kami dapatkan, Devandra Dawson memang masih terjebak didalam dan bisa dipastikan tidak akan selamat."
Berita itu terdengar sangat keras ditelinga Joana, tapi ia begitu bingung. Ia hanya ingat kata-kata tentang nama Devan dan kobaran api yang menyala-nyala begitu besar.
"Devan, itu bukan Devanku bukan?" Joana bertanya seperti orang bodoh, ia menatap Felix dan Tita bergantian seolah meminta penjelasan kepada mereka berdua.
__ADS_1
"Joana, berita ini salah. Kamu tidak perlu memikirkannya. Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar saja, ini sudah malam, tidak baik untuk kesehatanmu," ujar Felix segera meraih Joana, tidak mau wanita itu semakin terpukul jika melihat berita yang lebih menyakitkan.
"TIDAK!" Joana langsung berteriak dan berontak. "Katakan kalau itu bukan Devan! Devan pasti selamat dan dia masih hidup. Dia mengatakan akan menikahiku besok," ucap Joana begitu histeris, tidak bisa menerima kenyataan yang luar biasa menyakitkan ini.
Felix mengigit bibirnya, merasa sakit sekali melihat Joana seperti ini. "Joana, jangan seperti ini. Ayo, istirahatlah, kamu pasti lelah," kata Felix kembali meraih Joana.
Namun Joana justru mendorongnya dengan kasar. Ia menatap Felix dengan tatapan penuh amarah dan ia tiba-tiba menarik kerah baju Felix.
"Kamu! Pasti kamu yang sudah merencanakan ini! Ya, kamu pasti orang yang menjadi musuh Devan. Berpura-pura baik dan kamu menjebaknya! Iya 'kan? Pasti kamu orangnya!" teriak Joana menatap Felix penuh amarah.
Joana mencoba merangkum semuanya, dari ajakan Felix yang memintanya untuk mengkhianati Devan dan ditambah dengan cerita Tita tadi, membuat Joana merasa memang Felix ini adalah orang yang sebenarnya menjadi musuh Devan.
"Joana, apa yang kamu katakan? Aku tidak akan melakukan itu kepada sahabatku. Aku juga terkejut dengan kabar ini," bantah Felix.
"Pembohong! Kamu pembohong Felix, kamu yang telah menjebak Devan dan akan mengambil keuntungan dari masalah ini. Kamu pembohong!" Joana justru semakin histeris, ia memukuli Felix dengan membabi buta seraya menangis histeris.
"Kembalikan Devan! Dia pasti masih hidup! Kembalikan dia!" teriak Joana lagi dengan tangan tak henti memukuli Felix.
"Joana, sadarlah! Aku disini ada untukmu!" Felix ikut berteriak dan meraih kedua tangan Joana agar berhenti memukulinya.
Joana semakin menangis, ia menarik tangannya dengan kasar tapi Felix justru memeluknya.
"Lepaskan aku!" teriak Joana.
"Aku tahu perasaanmu, marahlah sepuas yang kamu mau. Aku mohon jangan menyakiti dirimu sendiri, jika memang dia masih hidup, dia pasti akan kembali, aku juga berharap akan hal itu," ujar Felix terus saja memeluk Joana meski wanita itu berontak.
Joana tiba-tiba berhenti berontak dan menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya yang tadi berontak mendadak lemas mengingat berita yang baru saja ia dengar. Sebuah kabar terburuk yang tidak akan pernah Joana lupakan.
"Devan pasti masih hidup, dia masih hidup. Dia berjanji akan menikahiku," lirih Joana dengan suara yang begitu kecil, tapi perlahan-lahan suaranya menghilang seiring tubuhnya yang mendadak merosot jatuh ke lantai.
"Joana!" Felix berteriak terkejut, ia segera menahan pinggang Joana lalu membawanya ke sofa panjang dan merebahkan Joana disana.
"Tita, tolong ambilkan minyak angin," titah Felix.
Felix mengusap-usap tangan Joana yang dingin, wajahnya sangat pucat sekali dengan air mata yang masih mengalir. Felix merasa sangat kasihan sekali dengan wanita ini, kenapa ia harus terjebak dengan hubungan rumit bersama seorang Devan yang punya banyak musuh?
'Takdir memang lucu, kenapa harus dia yang menemukanmu terlebih dulu? Kenapa bukan aku?'
__ADS_1
_____________