Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Usaha Xander.


__ADS_3

Pagi menyingsing cepat, Stella seperti biasa mengisi waktu paginya dengan berjalan-jalan di dekat Apartemen. Kali ini Stella ingin pergi ke pasar karena ingin membeli sayur-sayuran untuk mengisi kulkasnya. Ia juga pergi sendiri karena Maira sedang sibuk membantu ibunya.


Stella keluar Apartemennya saat hari masih cukup pagi. Karena lokasi pasar yang cukup dekat, Stella memutuskan untuk berjalan kaki. Namun saat ia membuka pintu apartemennya, ia justru terkejut saat melihat Xander sudah berdiri di sana.


"Xander? Untuk apa kau disini?" tanya Stella kaget dan juga bingung, padahal saat subuh tadi ia melihat, Xander masih berdiri di bawah, tapi kenapa sekarang sudah berada disini?


"Kau mau kemana? Akan aku antar," ucap Xander menegakkan tubuhnya yang semula bersandar pada pintu.


Stella mengerutkan dahinya, ia menatap Xander yang terlihat sangat pucat, lingkar hitam pun tampak menghiasi sekeliling mata Xander. Tentu, pria ini tidak tidur semalam dan juga kehujanan. Apakah dia baik-baik saja? pikir Stella.


"Tidak usah, aku bisa sendiri." kata Stella ketus, ia mengunci pintu Apartemen lalu ngeloyor pergi begitu saja.


Xander tak tinggal diam, ia mengikuti Stella dan berjalan di belakangnya. "Kau tahu, di Surabaya termasuk Kota yang memiliki tingkat kriminalitas cukup tinggi. Bagaimana kalau nanti ada orang yang mengganggumu dan berniat mencelakai mu? Jadi, biarkan aku mengantarmu ya," ucap Xander mecoba menakuti Stella untuk merayu hati wanita itu.


"Kau pikir aku anak kecil? Aku bisa menjaga diriku sendiri," kata Stella tersenyum sinis mendengar ucapan Xander.


"Aku tidak bilang kau anak kecil, tapi kau adalah istriku, aku harus memastikan kau selamat dan baik-baik saja," kata Xander tak mau kalah.


"Sebenarnya apa sih maumu?" ucap Stella menghentikan langkahnya karena terlalu kesal.


Xander ikut berhenti, ia memandang Stella yang dengan tatapan lembutnya. "Aku tidak ingin apapun, aku hanya ingin kau kembali padaku," kata Xander lirih.


"Dan kau juga pasti sudah tahu apa jawabanku!" ucap Stella dengan tegas dan menatap Xander tajam.


"Aku tahu, dan kau juga harus tahu kalau aku akan selalu menunggu sampai jawabanmu berubah. Ayo, aku akan mengantarmu, kau akan pergi kemana?" sahut Xander mengulas senyum manis lalu dengan santai menarik lembut tangan Stella dan menggandengnya pergi.


"Bagaimana jika jawabanku tidak akan berubah?" ucap Stella hanya diam ditempatnya membuat pegangan tangan mereka berdua merenggang.

__ADS_1


"Maka jawabanku akan tetap sama, aku akan menunggumu Stella. Aku akan selalu menunggumu sampai kau bisa percaya padaku dan kembali bersama membangun keluarga yang utuh. Aku, kau dan anak kita nanti," ucap Xander mengulas senyum tulus saat pandangannya menyorot ke arah perut rata Stella, namun sebenarnya hatinya sangat ingin sekali menyentuh anaknya dan memberikan kasih sayang yang selama ini belum pernah mereka berikan.


Melihat sorot mata Xander yang terlihat sendu dan penuh rasa bersalah itu, hati Stella mendadak ikut merasa sedih. Matanya memanas saat tahu apa yang sedang di perhatikan Xander saat ini.


"Saat ini usianya sudah berjalan 4 bulan, dia tumbuh sehat di perutku," ucap Stella dengan suara tercekat.


Mata Xander berbinar saat Stella mengatakan hal itu. Ia memandang Stella dengan perasaan harunya.


"Benarkah? Apakah dia nakal? Maksudku, apa kau pernah menginginkan sesuatu?" tanya Xander dengan begitu bersemangat.


"Nakal? Tentu saja tidak, aku tidak pernah menginginkan apapun," sahut Stella seolah lupa jika ia sedang marah dengan Xander. Pertanyaan itu memang terkesan biasa saja, tapi bagi Stella hal itu sangatlah berarti.


Xander tersenyum mendengarnya, ia senang saat Stella menceritakan tentang buah hatinya. Namun hatinya tak bisa berbohong kalau dirinya semakin merasa bersalah. Ia sudah membiarkan Stella hidup dalam kesedihan dan tanpa di dampingi olehnya.


"Bolehkah aku menyentuhnya?" tanya Xander cukup ragu, tapi ia sangat ingin sekali bisa menyentuh anaknya.


"Untuk apa kau ingin menyentuhnya? Bukankah kau tidak pernah menginginkan anak dari wanita seperti ku?" ucap Stella kembali nyeri jika mengingat kata-kata Xander saat awal mereka menikah.


Xander terdiam, ia seperti mendapatkan sebuah tamparan keras mendengar ucapan Stella. Itulah kebodohannya, ia menutup mata hatinya dan menjadi suami yang kejam hanya karena kesalahpahaman dari wanita yang telah dibelanya.


"Maafkan aku," ucap Xander menunduk penuh penyesalan.


"Andai saja kata maafmu bisa menggantikan seluruh lukaku, maka aku akan dengan senang hati akan melakukannya, Xander" ucap Stella lirih, ia memilih beranjak pergi agar tidak menangis di sana. Ia benar-benar masih belum bisa melupakan apa yang pernah pria itu lakukan.


*****


Setelah mendengar apa yang dikatakan Stella pada pagi waktu itu, Stella pikir Xander akan menyerah untuk menemuinya. Namun lagi-lagi ia salah, Xander bukannya menyerah tapi justru semakin menjadi-jadi saat ini.

__ADS_1


Bayangkan saja, hampir setiap hari Xander datang ke Apartemennya dan membawakan aneka makanan, bukan hanya itu saja, pria itu juga membawakan ia susu ibu hamil. Stella sudah berulang kali menolak, tapi pria keras kepala itu tetap saja memaksa.


"Sekarang apalagi yang kau bawa? Aku sudah bilang, aku tidak mau menerima apapun darimu," sergah Stella menatap Xander dengan ekspresi kesal yang tak bisa di tutupi. Hampir dua minggu berturut-turut Xander selalu melakukan hal ini.


"Aku tidak memberikan ini untukmu, tapi aku memberikannya untuk anakku," jawab Xander dengan santainya.


Stella memutar bola matanya malas. "Dia anakku, bukan anakmu!" kata Stella sepertinya perlu mengingatkan sekali lagi pada Xander.


Xander hanya tersenyum kecil, ia tiba-tiba melangkah maju ke depan membuat Stella mundur.


"Hei! Kau mau apa? Aku tidak mengizinkanmu masuk," ucap Stella mengangkat tangannya ke depan.


Senyum Xander kian lebar, ia tetap melangkahkan kakinya membuat Stella terus mundur.


"Xander! Berhenti di tempatmu atau aku akan marah!" kata Stella takut jika Xander akan macam-macam.


"Aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya ingin menyentuh anakku," ucap Xander tiba-tiba berjongkok di depan Stella.


Stella belum sempat mencegah saat Xander menyentuh lembut pinggangnya lalu menempelkan pipinya diperutnya.


"Xander, kau ..."


"Bagaimana kabarnya hari ini? Apakah dia baik-baik saja?" ucap Xander tersenyum seraya menutup matanya, ingin merasakan kedutan halus dari anaknya.


Tubuh Stella membeku, bohong rasanya jika ia mengatakan jika tidak senang. Setelah sekian lama, akhirnya anak di dalam kandungannya bisa merasakan sentuhan dari sang Ayah. Mata Stella sendiri tak bisa dicegah untuk tidak mengeluarkan buliran air mata. Momen seperti inilah yang selalu ia tunggu sejak dulu.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2