
Seharian di kantor, Xander dibuat uring-uringan dengan keputusan beberapa dewan direksi yang menuntutnya untuk mundur dari jabatannya. Meski Xander membantah apa yang dikatakan berita itu tidak benar, mereka sama sekali tidak percaya. Mereka justru memberi waktu kepada Xander selama dua minggu untuk menyelesaikan masalah ini kalau memang dirinya tidak ingin mundur dari jabatan.
"Brengsek! Sepertinya Medison sudah membayar orang-orang itu untuk memprovokasi yang lainnya agar ikut menjatuhkan ku," Xander mengumpat kesal seraya menjambak rambutnya frustasi.
"Apa lebih baik sekarang kita gunakan Alex untuk menyerang balik mereka, Tuan Medison pasti akan menghentikan hal ini jika beliau tahu kalau Nona Joana bukanlah putri kandungnya," ucap Luke ikut memikirkan jalan keluar untuk masalah ini.
Xander menghela nafas panjang seraya memijit kepalanya yang berdenyut pusing. "Apa ucapan si bodoh itu akan diterima mentah-mentah oleh Medison? Dia orang yang penuh perhitungan, dia juga tak akan mempercayai sesuatu yang hanya berdasarkan ucapan tanpa bukti," ucap Xander menggelengkan kepalanya, merasa cara itu bukan cara yang tepat.
"Anda benar, tapi tidak ada salahnya kalau kita mencoba. Minimal, kita memberitahu Tania kalau Anda sudah mengetahui rahasianya, atau mungkin Anda justru bisa memanfaatkan Tania dalam hal ini?" ucap Luke tersenyum sumringah.
"Memanfaatkan?" Xander menatap Luke dengan dahi berkerut.
"Benar, kita bisa menekan Tania agar membantu membujuk Medison untuk mengehentikan hal ini dengan menggunakan Alex," ucap Luke bersemangat.
Xander terdiam mencerna ucapan asistennya, sesaat kemudian ia tersenyum sinis. "Bagus Luke, mungkin memang ini saatnya kita memanfaatkan wanita licik itu," ucap Xander begitu puas dengan ide yang diberikan Luke.
"Siap Tuan, saya yakin Tania pasti tidak akan menolak karena dia pasti takut jika sampai Kakaknya tahu kalau dia yang sudah menukar putri mereka," ucap Luke mengangguk-angguk senang.
"Menurutmu, apa alasan Tania menukar anaknya dengan anak kakaknya?" tanya Xander masih tak habis pikir dengan kelakukan Bibi Tania yang menurutnya sangat kejam, ia sama saja menikam kakaknya sendiri.
"Mungkin saja Tania ingin anaknya memiliki kehidupan yang baik dan mempunyai status yang pantas," ucap Luke berpikir kemungkinan yang ada.
"Ya, tapi dimana dia membuang anak Kakaknya?" ucap Xander memang tidak diberitahu oleh Alex siapa anak kandung Medison yang sebenarnya, pria itu hanya mengatakan kalau menjebak Stella karena alasan tak ingin Joana memiliki saingan dalam pembagian warisan nanti, sudah itu saja.
"Apa mungkin anak itu adalah Nona Stella?" ucap Luke entah kenapa berpikir kearah sana.
"Stella?" Xander langsung menatap asistennya dengan ekspresi terkejut.
"Mungkin saja, Nona Stella juga anak dari panti asuhan. Dilihat bagaimana usaha Tania yang ingin mengeluarkan Nona Stella dari rumah keluarga Medison, saya rasa alasannya bukan hanya sekedar materi saja. Tuan Medison dan Nyonya Melisa pasti sudah tahu pembagian yang adil itu bagaimana," ucap Luke membuat Xander tak bisa berkata-kata.
Xander tak percaya jika istrinya adalah putri kandung keluarga Medison. Memang apa yang dikatakan oleh Luke itu masuk akal, tapi apakah mungkin bisa kebetulan seperti ini?
__ADS_1
"Jangan pikirkan hal itu dulu Luke, kau urus saja Alex agar kita harus menyelesaikan masalah ini dulu sebelum semuanya jadi tambah runyam," ucap Xander semakin pusing jika harus memikirkan masalah lain lagi.
"Baik Tuan," sahut Luke dengan lugas.
"Ya, kau siapkan saja pria bodoh itu, dia masih hidup 'kan?" ucap Xander tersenyum sinis mengingat wajah babak belur Alex beberapa hari lalu.
"Kondisinya sudah membaik Tuan,"
"Bagus kalau begitu, suruh dia menemui Tania, buat seolah-olah semua ini tidak direncakan. Jika dia sudah membongkar kejahatannya dan kita mendapatkan bukti kuat, barulah kita menekannya," ucap Xander menatap lurus mata Alex, ekspresinya tampak begitu serius dan mengerikan. Jika mereka bisa menggunakan cara licik? Kenapa dia tidak melakukan hal yang sama?
*****
Di panti asuhan, Stella sudah seharian melepas rindu dengan keluarga pertamanya itu. Stella puas-puas bermain dan juga membantu ibu panti memasak. Stella merasa senang karena bisa kembali kesana setelah sekian lama.
Sekarang sudah jam 4 sore, ia juga sudah mandi dan berdandan rapi karena berpikir kalau Xander akan datang menjemputnya. Namun saat hari hampir senja, Xander belum juga datang membuat Stella menghubunginya.
"Xander kemana ya? Apa masih banyak pekerjaan?" gumam Stella menunggu panggilan teleponnya diangkat.
"Ya, ada apa kau meneleponku?" Stella mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan itu.
"Hubby dimana? Belum pulang?" tanya Stella.
"Aku masih ada pekerjaan, ada apa memangnya?" Xander justru balik bertanya membuat Stella semakin menekuk wajahnya.
"Nggak jadi pulang sore?" ucap Stella entah kenapa sebal sekali, padahal pria itu sudah berjanji akan menemaninya belanja, kenapa malah belum pulang?
"Pekerjaanku masih belum selesai, memangnya ada apa?" tanya Xander lagi membuat Stella semakin kesal.
"Tidak, tidak ada apa-apa, yasudah kalau begitu," ucap Stella langsung berubah buruk moodnya.
"Kenapa? Kangen ya?" ucap Xander terdengar tersenyum.
__ADS_1
"Tidak, siapa juga yang kangen. Selesaikan saja pekerjaanmu sana," ucap Stella dibuat uring-uringan sendiri.
"Yasudah kalau tidak kangen, aku tutup teleponnya ya?"
"Hmmm ..." Stella hanya bergumam malas, ia pikir Xander hanya bercanda atau bagaimana, namun ternyata pria itu benar-benar menutup panggilan itu.
"Ih, ngeselin banget sih, dasar pria tidak peka! Ngeselin, ngeselin, ngeselin!" seru Stella benar-benar sangat kesal dengan suaminya itu. Ia memencet-mencet ponselnya untuk meluapkan rasa kesalnya, namun ia tak sengaja malah menelepon Xander lagi.
"Apa yang aku lakukan? Mati aku, mati aku," Stella panik sendiri dan segera mematikan sambungan ponsel itu. Tak selang berapa lama, Xander malah menghubunginya balik, dengan ragu Stella mengangkatnya.
"Halo," ucapnya pelan.
"Kalau rindu bilang saja, kenapa harus membohongi diri sendiri seperti itu," Stella membesarkan matanya mendengar suara Xander yang begitu dekat.
Belum hilang rasa kagetnya, ia kembali dibuat kaget saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan Xander berdiri di sana dengan telepon yang masih di telinga.
"Hubby ..." bibir Stella berucap tanpa suara.
"Masih mau bilang nggak kangen juga?" ucap Xander tersenyum manis, ponselnya masih tetap ia pegang seraya menutup pintunya perlahan.
Happy Reading.
Tbc.
Seperti biasa, jangan lupa like dan komen ya gengss ...
Ini othor mau jualan sekalian, siapa tau minat mampir ke karya othor lain sambil nunggu mas Xander up ...
Langsung klik profil othor ya ...
__ADS_1