Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 34. Complicated.


__ADS_3

Devan melihat semuanya, melihat Joana menangis sampai bahu kecilnya terguncang. Jangan ditanya bagaimana perasaannya saat ini. Ingin sekali ia memeluk wanita itu dan menenangkannya atau mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.


Namun, perasaan itu tergerus oleh rasa bersalah dan kepercayaan dirinya yang hilang karena menganggap Joana tidak akan bisa memilihnya. Joana bahkan terang-terangan mengatakan kalau ingin menjauhinya. Devan sudah tidak ingin lagi menyakiti wanita itu. Devan berpikir mungkin melepaskan Joana adalah pilihan yang terbaik agar wanita itu tak lagi tersiksa jika bersamanya.


Devan langsung pergi begitu melihat Joana kembali ke kamarnya. Ia tidak langsung tidur, tapi ia malah dengan sengaja berenang ditengah malam yang sangat dingin itu.


Devan selalu begini, ia lebih baik menyiksa dirinya daripada melampiaskan amarahnya pada Joana dan akan menyakiti wanita itu lagi. Ia membiarkan tubuhnya mengigil kedinginan dan terasa sangat sesak karena terus berenang lalu perlahan-lahan membiarkan tubuhnya dipeluk oleh kegelapan yang mencekam.


_________


Entah jam berapa Joana tertidur semalam, ia sudah menyiapkan tekadnya begitu pagi datang, ia akan segera pergi dari rumah Devan. Lagipula pria itu sendiri yang menyuruhnya untuk melakukan apa yang ia suka, jadi untuk apa ia terus bertahan disana?


Setelah membersihkan dirinya, Joana mengganti bajunya dengan pakaian biasa. Ia tidak mau membawa apapun karena ia datang kesini pun tidak membawa apapun. Ia hanya berjalan pelan keluar kamarnya dengan menggunakan sepasang baju yang ia pakai.


Namun, saat ia keluar kamar, ia cukup terkejut melihat beberapa pelayan tampak sangat sibuk didepan kamar yang ia tahu kini ditempati oleh Devan.


"Tita, apa yang terjadi?" Joana langsung bertanya kepada Tita saat wanita itu lewat didepannya.


"Tuan Devan sakit, Nona. Semalam beliau berenang," sahut Tita sambil lalu, wanita itu sedang membawa makanan yang diminta oleh Ken untuk Devan.


Joana terkejut mendengar kalau Devan sakit. "Pria itu bodoh atau bagaimana? Untuk apa berenang malam-malam?" gerutu Joana antara kesal dan juga khawatir.


"Ish, untuk apa aku mempedulikan dia? Dia sudah tidak membutuhkanku," ucap Joana semakin kesal saat ingat jika Devan telah membuang dirinya.


Joana mencoba mengabaikan Devan yang sedang sakit itu. Ia fokus berjalan keluar meninggalkan rumah itu karena itulah tujuan utamanya.


Namun, sialnya ia malah tidak bisa untuk tidak memikirkan sosok pria yang telah membuatnya terluka berkali-kali itu. Akhirnya Joana memutar langkahnya kembali menuju dimana kamar Devan berada.


Disana ada beberapa anak buah Devan yang berjaga termasuk Tita. Mereka langsung memberikan hormat begitu Joana datang.


"Nona," ucap Tita menyapa.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Joana seraya melirik kamar Devan yang tertutup rapat itu.


"Dokter masih memeriksa keadaan beliau," sahut Tita.


Joana mengangguk, ia ikut menunggu disana agar tahu bagaimana kondisi Devan. Hingga beberapa saat kemudian seorang dokter keluar bersama Ken yang membuat Joana langsung berdiri.


Ken melihat Joana sekilas, ia lalu berbincang sejenak dengan dokter yang baru saja memeriksa Devan lalu mengizinkannya pergi.


"Ken, bagaimana keadaan Devan?" tanya Joana langsung.


"Nona peduli dengan Tuan atau memastikan kalau perbuatan Anda telah berhasil?" tukas Ken dengan tatapan sinisnya.


"Apa maksudmu?" Joana terkejut bercampur bingung mendengar perkataan Ken itu.

__ADS_1


"Tidak, hari ini Tuan Devan tidak ingin diganggu dan siapapun tidak boleh masuk ke ruangannya," titah Ken kepada semua orang yang ada disana.


Joana mengigit bibirnya, ia memberanikan diri untuk menahan tangan Ken saat pria itu akan pergi.


"Aku ingin melihatnya, aku berjanji hanya akan melihat, tidak akan melakukan apapun," pinta Joana dengan tatapan penuh harapnya.


Ken menghela napas panjang sebelum mengangguk. "Nanti, jika Tuan Devan sudah tidur."


Joana mengangguk cepat-cepat, tidak masalah jika harus menunggu. Ia hanya ingin melihat bagaimana keadaan Devan, setelah itu mungkin ia bisa pergi dengan tenang.


________


Joana membuka pintu kamar Devan dengan sangat pelan agar tidak membangunkan pria itu. Hampir satu jam ia menunggu diluar dan Ken baru mengizinkannya masuk karena Devan sudah tidur. Dilihatnya Devan yang kini berbaring dengan wajah pucatnya, tidak ada lagi wajah garang yang sering pria itu tunjukkan. Kini Devan terlihat seperti manusia biasa yang juga bisa sakit.


Joana lalu mendudukkan tubuhnya disamping pria itu, tangannya terulur untuk menyentuh dahi Devan, tapi ia malah terkejut saat merasakan suhu tubuhnya yang sangat panas.


"Panas sekali," ucap Joana semakin bertambah khawatir akan kondisi Devan.


Joana lalu melihat air es serta handuk yang ada disamping pria. Ia langsung mengambilnya lalu mulai mengompres dahi Devan dengan telaten.


Namun, sebelum ia melakukannya tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh Devan sehingga membuat Joana terkejut.


"Bukannya aku sudah melarang siapapun masuk kesini?" ucap Devan seraya membuka matanya perlahan.


Devan menghela napas panjang, ia bangkit dari tidurnya dan menatap malas pada Joana.


"Kenapa datang kesini? Dasar keras kepala," ketus Devan.


"Aku ingin tahu keadaanmu," jawab Joana jujur saja.


"Kemari," kata Devan.


"Ha?" Joana terbengong sesaat.


Devan berdecak pelan, ia langsung menarik pinggang Joana dengan cepat lalu menempelkan dahinya ke dahi wanita itu.


"Dev!" teriak Joana berusaha berontak.


"Bukankah kamu ingin tahu keadaanku? Sekarang rasakan sendiri," ucap Devan masih tetap menempelkan dahinya di dahi Joana.


Joana terkejut mendengarnya, posisinya sangat dekat sekali dengan Devan saat ini. Bukan hanya bisa merasakan suhu tubuh Devan, tapi Joana bisa merasakan hembusan napas Devan yang hangat.


"Badanmu sangat panas, aku akan segera mengompresnya." Joana buru-buru menjauhkan dirinya, ia merasa hatinya tidak baik-baik saja jika terus berdekatan dengan Devan seperti ini.


"Tidak usah, sebaiknya kamu keluar saja. Aku tidak mau kamu tertular nanti," kata Devan.

__ADS_1


"Ada-ada saja. Lagipula kenapa kamu malam-malam harus berenang?" omel Joana seraya mengambil handuk dan mulai mengompres Devan.


"Aku hanya sedang menghabiskan jatah sakitku," sahut Devan sekenanya saja.


"Ck, mana ada seperti itu? Kemari, aku akan mengompresmu," ketus Joana sedikit menarik tangan Devan agar dekat dengannya.


Devan hanya diam saja, menurut apa yang diperintahkan oleh Joana. Tapi ia terus menatap wanita itu tanpa henti.


"Kenapa kamu datang lagi padaku? Apa kamu khawatir?" tanya Devan tiba-tiba.


"Aku tidak khawatir." Joana langsung mengelak. "Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, setidaknya para pelayan disini tidak kamu repotkan nanti. Dan aku rasa, mungkin hanya ini yang bisa aku berikan padamu sebelum aku pergi," lanjut Joana dengan suara tercekat.


Sengaja tidak ingin melihat Devan, ia takut jika hatinya akan kembali melemah nantinya. Ia harus pergi karena Devan tidak menginginkannya lagi.


"Apa memang begitu ingin pergi dariku?" tanya Devan, sama seperti Joana, ia juga sedang menahan perasaannya.


"Ya, memang itu yang aku inginkan sejak dulu 'kan? Lagipula, kamu sudah tidak membutuhkanku lagi," kata Joana, berusaha keras menahan air matanya agar tidak keluar. Ia fokus untuk mengompres Devan agar secepatnya sembuh dan ia bisa pergi dengan tenang.


"Jika aku memintamu untuk tetap tinggal, apa kamu tetap akan pergi?"


_________


Gemerlap lampu bersinar silih berganti bersamaan dengan musik yang dimainkan dengan keras. Diluar matahari masih sangat cerah, tapi didalam ruangan itu sudah banyak sekali orang yang mabuk dan saling berjoget. Ada juga dibagian lain yang sedang bermain kasino dengan serius seraya ditemani wanita cantik yang setia menuangkan minuman disampingnya.


Seorang pria berperawakan tinggi tegap masuk ke dalam ruangan itu. Kedatangannya tidak terlalu mencolok, tapi pria itu perlahan-lahan mendekati seorang yang sedang minum lalu merangkulnya.


"Satu butir permen akan membuatmu menjadi lebih bahagia. Melihat surga yang sangat indah dan menjadi kebahagiaan dunia yang paling ditunggu. Tinggal dicampur dengan minuman, wussss ... Keajaiban akan datang."


Pria itu berbisik dengan nada yang merayu, meletakkan sebuah permen kecil ke dalam gelas yang berisi minuman itu.


"Sabu-sabu dan inex sudah terlalu biasa. Efeknya hanya beberapa jam saja bukan? Dengan satu permen ini, kamu bisa merasakan kebahagiaanmu sewaktu-waktu," bisiknya lagi saat sang target mulai ragu.


"Terdengar menarik, tapi kami tidak bisa mengkhianati Devandra," sahut sang target itu.


"Sssshhh ... Ini bukan tentang Devandra, tapi ini antara kita berdua. Dia tidak akan tahu, cukup diam dan hubungi aku. Aku akan mengirim barangnya dengan cepat, bagaimana?"


Pria itu terus merayu sang target sampai benar-benar mau membeli permen yang dijualnya. Setelah mendapatkan target satu, pria itu tidak langsung berhenti, tapi ia terus-menerus mencari target untuk permen yang dijualnya agar barang Devan tidak lagi dibutuhkan.


Dalam artian ia ingin menggeser pasar milik Devan yang sudah dikuasai oleh pria itu selama bertahun-tahun.


"Baji ngan itu sudah waktunya untuk berpensiun dan menikmati masa tuanya. Sekarang waktunya yang lebih muda yang menggantikannya. Karena yang muda yang lebih menggila, hahaha ... Devandra Dawson, masa kejayaanmu akan segera usai ...."


Pria itu berbicara keras karena sudah mulai tidak sadar setelah mengkonsumsi permen yang baru saja diproduksinya. Sebentar lagi produknya pasti akan melejit dan menggantikan produk milik Devan yang selama ini menguasai pasar dunia bawah tanah.


___________

__ADS_1


__ADS_2