
Devan menikmati rokoknya seraya mendengarkan polisi didepannya mencerca dirinya dengan banyak sekali pertanyaan dan menunjukkan bukti-bukti kekacauan yang terjadi semalam. Di sampingnya sudah ada pengacaranya yang sengaja dibawa oleh Ken untuk menyelesaikan kasus kecil itu.
"Anggota Fajar mendapatkan 7 luka tusukan di bagian perut dan mengenai organ vital yang menyebabkan meninggal. Dia dilukai saat bertugas dan saksi Rendra mengatakan Anda juga berada disana dan melihat Anda yang telah menusuknya," cerca sang polisi menunjukkan foto mayat Fajar yang masih berlumuran darah saat ditemukan.
"Kesaksian seseorang bisa dianggap gagal jika tidak ada bukti. Tidak ada bukti CCTV atau orang lain yang melihat klien kita membunuh saudara Fajar." Pengacara Devan langsung saja membela Devan.
"Tidak mungkin anggota kami berbohong untuk masalah serius seperti ini. Difoto ini jelas anggota kami dihabisi dengan brutal dengan pisau. Kami ingin memastikan jika saudara Devan ada disana atau tidak," tutur polisi.
"Disana banyak hal yang bisa dilakukan. Belum tentu klien saya membunuh anggota Anda. Lagipula kenapa klien saya harus membunuh seorang polisi? Bukankah itu hal aneh? Selagi seseorang tidak diusik, tidak mungkin langsung mengambil tindakan," sahut pengacara Devan.
"Kami hanya bertanya dan ingin memastikan, apakah saudara Devan ada ditempat itu saat kejadian?" Polisi itu tidak hilang akal, ia mengejar poin penting yang akan menjadi kunci utama masalah ini.
"Ya, Devandra ada disana."
Terdengar suara yang mengejutkan tiba-tiba mampir ke telinga mereka. Rendra terlihat masuk dengan raut wajah yang sangat dingin. Tatapannya hanya tertuju pada satu orang, yaitu Devandra yang tidak terusik oleh kedatangannya itu.
"Rendra, apakah kamu sudah sembuh?" sang kapten polisi yang tadi mengintrogasi Devan langsung bangkit begitu melihat kedatangan Devan.
"Aku tidak apa-apa, Kapten. Hanya luka kecil dari seorang pengecut tidak akan membuatku tumbang," tukas Rendra masih melirik Devan dengan tajam.
"Baiklah, kamu bisa memberikan kesaksian." Kapten polisi itu segera mempersilahkan Rendra untuk masuk untuk menjelaskan semua yang terjadi semalam.
Namun, tak sedikitpun Devan goyah apalagi takut. Pria itu benar-benar sangat tenang sekali.
"Katakan, apakah benar semalam kamu dan Fajar terlihat perkelahian dengan Tuan Devandra?" tanya Kapten.
"Ya, dia disana. Dia yang menghabisi Fajar dengan tangannya sendiri. Bahkan anak buahnya juga melukaiku," jelas Rendra.
__ADS_1
"Apakah Anda bisa membuktikan jika Tuan Devandra yang melakukannya? Kami tidak tahu siapa saja yang Anda temui semalam," sergah pengacara Devan.
"Aku tidak buta!" bentak Rendra begitu marah. "Dia memang ada disana dan dia yang telah membunuh Fajar. Jika kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan, aku punya bukti CCTV yang merekam kejadian itu," lanjut Rendra mengulas senyum liciknya.
Devan mengerutkan dahinya, kali ini ucapan Rendra membuat ia sedikit terusik. Ia menatap pengacaranya sekilas lalu menatap Rendra kembali.
"Mana CCTV itu? Bisakah Anda menunjukkannya pada kami?" tanya pengacara.
"Shaka yang telah mengambilnya, dia sedang perjalanan kesini. Lebih baik kamu mengaku saja, Devandra. Dimana kamu semalam saat pukul 2 dini hari?" todong Rendra, ia tahu jika saat ini pasti Devan sedang panik.
"Tidak penting aku menjelaskan padamu. Berikan saja CCTV-nya jika memang merasa dirimu istimewa," ketus Devan, sengaja ingin membuat Rendra semakin tersulut emosi.
Rendra ingin mengumpat kata-kata kasar, tapi Kapten mencegahnya dengan memberikan gestur untuk diam. Berdebat dengan Devan jelas tidak ada gunanya karena pria itu punya banyak alasan untuk mengelak.
"Berapa lama kami harus menunggu? 1 jam dari sekarang, jika Anda tidak bisa membuktikan klien saya bersalah, saya yang akan menuntut Anda atas pencemaran nama baik," tutur pengacara Devan.
Devan memainkan mulutnya, ekspresinya justru terlihat malas dan terkesan bosan dengan situasi ini. Benar-benar menyebalkan dan memuakkan bagi Rendra yang melihatnya. Selain pandai membunuh, Devan ini sangat pandai membuat orang emosi.
Beberapa menit kemudian, Shaka terlihat masuk ke dalam ruangan itu. Rendra langsung saja bangkit dan menghampirinya.
"Apa kamu mendapatkannya?" tanya Rendra.
Shaka memandang Rendra dengan rasa bersalah sebelum menggeleng pelan. "CCTV-nya mati."
"Sial!" Rendra langsung mengumpat marah. Tidak menyangka jika ia akan kalah cepat dari Devan lagi.
Devan tersenyum penuh kepuasan, apa yang dia bilang? Bukankah dia selalu menang?
__ADS_1
"Saudara Rendra tidak bisa membuktikan jika klien saya bersalah. Jadi ini sudah menunjukkan jika klien saya bebas. Untuk masalah ini, saya tetap akan membawanya ke jalur hukum. Tuan Rendra sudah mencemarkan nama baik seseorang tanpa adanya bukti." Pengacara Devan segera membalikkan keadaan dengan menyerang Rendra dengan tuduhan palsu.
"Tidak bisa! Aku adalah saksi yang melihat sendiri dia menghabisi Fajar. Dia tetap harus dihukum!" teriak Rendra tidak terima.
"Apa buktinya? Tidak ada bukan?"
"Sekarang aku yang bertanya, dimana Devan saat jam 2 dini hari. Jika ada yang bisa membuktikan dia tidak ada disana, dia bisa lolos," kata Rendra, ia tidak hilang akal.
"Aku berada di rumah," ucap Devan.
"Pembohong! Kamu memang baji ngan, kamu disana dan membunuh Fajar!" Rendra kian berteriak dengan suara keras.
"Saudara Rendra, kendalikan diri Anda," tutur Kapten memberikan kode untuk Rendra agar tenang.
"Pria ini jelas sedang berbohong, dia ada disana, Kapten!" Rendra bersikukuh ingin Devan dipenjara untuk masalah kematian sahabatnya. Kenapa rasanya susah sekali?
"Devan memang ada di rumah pada jam itu."
Disaat situasi sedang tegang-tegangnya, Joana tiba-tiba muncul mengejutkan semua orang yang ada disana termasuk Devan. Pria itu justru sangat terkejut melihat Joana datang bersama Felix.
"Kamu bertanya dimana Devan ada jam 2 dini hari? Dia ada di rumah bersamaku."
__________
Visual Rendra_
__ADS_1