
Jakarta.
Xander datang ke kantornya tepat pukul 08.00 pagi. Semua karyawan berjejer rapi menyambut kedatangan pimpinannya itu. Raut wajah Xander terlihat sangat dingin dan kejam, di wajah tampan itu kini tak pernah terlukis sebuah senyuman atau ekspresi apapun selain ekspresi datar.
Xander yang sekarang, dikenal sebagai sosok yang tak memiliki hati nurani. Ia sering marah-marah tidak jelas dan memecat orang tanpa sebab. Maka dari itu semua pegawai di perusahaan kini sangatlah berhati-hati jika mereka masih sayang pekerjaan mereka. Karena jika Xander dalam mood buruk, maka nasibnya dijamin tidak akan baik.
"Berikan semua berkas yang harus aku cek dan sebutkan semua jadwalku hari ini," ujar Xander kepada Luke yang setia di belakangnya.
Luke mengangguk siap, ia segera mengerjakan semua yang diinginkan oleh pimpinannya itu. Ia juga sangat takut jika memancing sedikit saja amarah atasannya itu maka nyawanya bisa dipastikan akan melayang.
"Apakah ada kabar?" tanya Xander di sela-sela mengecek berkas yang akan ditandatangani.
"Belum ada kabar apapun Tuan anak buah kita …" ucapan Luke menggantung saat tiba-tiba Xander membanting map di tangannya dengan keras di atas meja.
"Sebenarnya apa yang mereka lakukan? Kenapa mencari satu wanita saja tidak becus! Ini sudah dua bulan, tapi tidak ada kemajuan apapun. Aku tidak mau mendengar apapun lagi, cepat pecat saja orang tidak berguna itu! Cari detektif yang lebih handal untuk menemukan istriku!" Perintah Xander sudah sangat muak mendengar berita yang sama setiap harinya.
Sudah banyak sekali detektif yang ia sewa untuk melacak keberadaan istrinya, namun sama sekali semuanya tidak membuahkan hasil apapun. Dua bulan ini ia hidup dalam bayang-bayang Stella dan perasaan bersalah yang terus menghantuinya setiap saat.
Xander kini lebih sering menghabiskan waktunya bekerja, jika malam hari tiba, maka alkohol lah yang menjadi pelariannya. Hanya dengan semua itu, Xander bisa melupakan sejenak masalah hidup yang dialaminya.
"Baik Tuan," sahut Luke hanya mengangguk pasrah, ia sudah terlalu biasa melihat atasannya itu marah jika apa yang diinginkannya tidak sesuai keinginannya.
"Kau boleh pergi, nanti aku akan memanggilmu lagi jika aku membutuhkanmu," ucap Xander mengibaskan tangannya pertanda mengusir asistennya itu dari ruangan.
Xander lalu membuka laci meja kerjanya, di sana terlihat sebuah bingkai foto yang berisi foto masa kecilnya bersama Stella. Tangan Xander terulur untuk mengelus lembut bingkai foto itu.
"Lala, kenapa kau pergi? Sekarang aku sudah mengenalmu, apa kau tidak ingin pulang? Kau bilang, kau merindukanku, sekarang aku juga merindukanmu. Pulanglah La, aku merindukanmu …" gumam Xander dengan suara tercekat, air matanya sudah menggenang di sudut mata.
Kepergian Stella benar-benar merubah sosok seorang Xander. Ia kini bisa menjadi seseorang yang kejam namun juga cengeng secara bersamaan. Ia sering menangis untuk alasan-alasan kecil, bahkan setiap malam ia selalu menangis karena merindukan wanita yang dicintainya itu.
__ADS_1
Xander rasanya hampir gila karena tak bisa menemukan Stella, semua langkah sudah dilakukannya, namun jejak Stella benar-benar tidak bisa ditemukan, wanita itu bagai lenyap ditelan bumi.
"Mohon maaf, Tuan" Luke tiba-tiba masuk ke dalam ruangan membuat Xander terkejut.
Xander dengan cepat menghapus air matanya, ia lalu menyimpan kembali bingkai foto di tempat semula. Ia menatap Luke dengan ekspresi datarnya.
"Ada apa lagi? Bukankah aku mengatakan akan memanggilmu jika aku butuh." Xander cukup tak suka melihat Luke yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangannya.
"Mohon maaf tuan, tapi di luar ada Tuan Kendrick," ujar Luke mengabarkan kalau ada Ayah Xander yang datang.
"Papa?" Xander terkejut mendengar kalau Papanya yang datang. Untuk apa Papanya kesini? Pikir Xander.
"Suruh langsung masuk!" Perintahnya lagi.
"Baik Tuan,"
"Xander, bagaimana kabarmu?" ucap Kendrick mendekat ke arah putranya.
"Tidak ada, Papa hanya ingin berkunjung ke perusahaan," sahut Kendrick memeluk putranya dengan hangat lalu mereka duduk di sofa.
"Bukannya Papa juga sudah tahu bagaimana perkembangan perusahaan saat ini?" kata Xander tahu betul kalau Papanya ini selalu memantau keadaan Perusahaan.
"Kau benar, apakah kau sudah bisa menstabilkan saham kita yang sempat turun? tanya Kendrick teringat akan beberapa minggu terakhir saham perusahaannya anjlok karena ada yang sengaja ingin menjatuhkan nama Xander.
"Papa tidak perlu memikirkan masalah itu, aku pasti akan menyelesaikan semua ini," ucap Xander sudah bisa menebak kalau Daniel yang berada di balik anjloknya saham perusahaan miliknya.
"Papa hanya ingin kau berhati-hati, saat ini kita butuh investor besar untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan, Nak," kata Kendrick menasehati puteranya.
"Ya,aku sedang berusaha mencarinya," sahut Xander seadanya.
__ADS_1
"Papa punya kenalan, dia salah satu teman lama Papa. Kemarin Papa sudah menghubunginya, dia bilang cukup tertarik dengan perusahaan," ucap Kendrick mengatakan maksud tujuannya datang kesana.
"Lalu?"
"Ini kesempatan bagus, kau harus bisa meyakinkan teman Papa untuk investasi di perusahaan ini," kata Kendrick lagi.
"Aku akan mencobanya, siapa nama teman Papa?" Tanya Xander tak begitu tahu menahu siapa saja teman orang tuanya itu.
"Namanya Tuan Herlambang, dia memiliki bisnis mall yang berada di semua kota. Tapi saat ini kantor pusatnya bukan di Jakarta," ujar Kendrick.
"Memangnya ada di kota mana?" tanya Xander sedikit penasaran.
"Kantor pusat Tuan Herlambang ada di kota Surabaya, dia memiliki perusahaan raksasa di sana. Jika kau berhasil bekerja sama dengannya, maka nilai jual saham kita akan naik," kata Kendrick menganalisa semua kemungkinan yang akan terjadi.
"Surabaya?" Xander mengingat-ingat kapan terakhir kali dia ke kota Surabaya.
"Iya, jika kau setuju, Papa akan menghubunginya untuk mengatur jadwal lebih pasti," ucap Kendrick memang sudah tak memegang perusahaan, tapi setidaknya ia ingin membantu putranya.
"Aku akan pikirkan dulu, saat ini sudah ada beberapa investor yang sudah aku masukkan dalam daftar dan mereka juga sudah setuju untuk bertemu denganku," kata Xander harus sebaik mungkin mengatur strategi kali ini.
"Baiklah, Papa akan pulang dulu. Kalau kau punya waktu luang, tolong pulang ke rumah. Mamamu kemarin menanyakan mu," ucap Kendrick cukup kesusahan jika membujuk Xander agar menginap di rumah, karena pria itu lebih senang tinggal di apartemennya sejak dulu.
"Ya, nanti akan pulang kesana Pa," sahut Xander mengiyakan saja keinginan Papanya.
Beberapa hari terakhir ini, jadwalnya semakin padat merayap. Daniel benar-benar tak main-main melayangkan serangan kepada Xander. Pria itu seolah ingin balas dendam dengan membuat Xander bangkrut, namun dengan kecerdasan otaknya Xander tak semudah itu untuk dijatuhkan.
Setelah kepergian Papanya, Xander merenung sejenak di ruangan. Ia sedang mempertimbangkan usulan dari sang Papa tentang investor dari Surabaya itu. Entah kenapa saat mendengar kota itu, hatinya merasa terusik. Ia tidak tahu apa itu, yang jelas seperti ada sebuah dorongan yang menyuruhnya untuk menerima tawaran itu.
"Apa aku terima saja tawarannya?"
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.