
Devan pulang ke rumah dengan baju yang masih setengah basah. Ia masuk ke dalam ruangannya dengan diikuti oleh Ken. Emosinya itu sangat tampak dari raut wajahnya, ia bahkan langsung merobek bajunya sendiri lalu melemparkannya ke sembarang arah.
Belum puas melampiaskan amarahnya, Devan juga menendang meja kerjanya sampai terbalik dan isinya berhamburan.
BRAKKKKKKKK!
"Baji ngan!" umpat Devan berteriak sekeras-kerasnya.
"Siapa polisi itu? Kurang ajar! Berani-beraninya dia mengusikku." Devan mengamuk dengan melempar apa saja yang bisa dijangkaunya.
Baru kali ini Devan merasa dipermalukan sama pakaian kotor dan dia berlarian menghindari polisi. Devan pasti akan membantai habis keluarga polisi itu nanti jika sampai bertindak melewati batasnya.
Ken segera meminta tabletnya yang dibawa oleh anak buahnya yang lain. Ia menyelidiki dengan cepat tentang data Rendra, sang polisi baru yang terang-terangan mengibarkan bendera perang pada Devan.
"Namanya Rendra Adiyasa, dia anggota baru di satras narkoba," kata Ken membaca data tentang Rendra.
"Tidak penting tahu siapa baji ngan kecil itu sekarang. Aku hanya butuh kamu mengurus Mega, keluarkan dia dari tempat setan itu," sergah Devan menghempaskan tubuhnya dengan keras di sofa, ia mengambil rokoknya dan segera menyulutnya.
Sial sekali, kenapa ia bisa kecolongan seperti ini? Tempat itu jelas sangat rahasia, tapi kenapa para polisi itu tahu tentang dimana posisinya?
"Siapa yang menembak tadi?" tanya Devan seraya menatap Ken dengan tajam.
Ken menipiskan bibirnya, ia menunduk karena merasa takut melihat sorot mata Devan.
"Apakah kau?" tanya Devan lagi.
"Bukan saya." Ken menggelengkan kepalanya pelan. "Tapi ... Nona Mega yang telah menembak, Tuan."
Devan langsung mengumpat seraya menjambak rambutnya sendiri. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam untuk menguasai dirinya. Siapa yang menyangka jika Joana justru yang akan menembak sehingga menimbulkan kegaduhan.
"Saya rasa Nona Mega sengaja melakukannya agar Anda bisa pergi," kata Ken mencoba memahami situasi yang terjadi pada saat ia menyelamatkan Devan tadi.
Devan semakin menjambak rambutnya, ia mengingat pegangan tangan Joana yang sangat kuat tadi. Sorot matanya yang begitu ketakutan, serta ucapannya yang terakhir kali yang Devan sangat ingat.
'Berjanjilah untuk kembali.'
Devan mende sah frutasi, ia mematikan rokoknya lalu bangkit dari duduknya. Rasanya tidak tenang hanya duduk diam seperti ini sedangkan Joana pasti kini sedang sangat ketakutan.
"Aku tidak mau tahu, aku minta besok Joana harus keluar. Bila perlu malam ini," kata Devan menatap Ken dengan serius.
"Saya akan melakukan yang terbaik, Tuan."
__ADS_1
"Shittttt!" Devan mengumpat marah, ia mendekati Ken lalu memukul wajahnya tanpa alasan. "Apa kau tuli, ha? Aku mau dia keluar! Besok dia harus keluar!" teriak Devan dengan mata yang berkilat-kilat.
Ken meringis, tapi ia tidak menunjukkan kesakitannya. Ia hanya mengangguk patuh pada Devan. Pria itu sudah terbiasa seperti ini jika sedang ada masalah besar.
Devan mengibaskan tangannya, meminta Ken untuk pergi. Ia mengambil rokoknya kembali lalu menikmati rokoknya seraya memandang kegelapan malam dari jendela kaca ruangannya yang sangat besar itu.
'Dev! Kamu itu manusia paling egois yang pernah aku temui. Kamu seenaknya saja memaksa seseorang untuk mencintaimu, tapi kamu sendiri tidak pernah mengerti apa itu cinta!'
'Aku muak, Dev! Aku muak karena aku terus yang harus mengerti kamu. Sekali saja, berikan aku kebebasan untuk menjadi diriku sendiri. Aku butuh kebebasan!'
'Kita akan menikah, bagaimana seorang wanita yang akan menikah bisa bebas berkeliaran kemana-mana dengan pria lain? Kamu pikir ini lelucon?'
'Kenapa tidak? Bahkan dia yang lebih mengerti aku, tahu bagaimana aku dan memahami rasa sakitku! Hanya dia, Dev!'
'Bahkan sepotong besi yang kuat akan hancur karena karatnya sendiri.'
Devan mengingat ucapan Mega saat dua tahun yang lalu dimana mereka bertengkar hebat karena Devan sangat marah saat tahu Mega pergi bersama Felix.
Awalnya Devan hanya menganggap semua itu wajar karena selama ia tidak ada Felix yang menjaga Mega. Tapi semakin lama ternyata mereka ....
'Jika kamu memang mencintaku, maka cintailah aku sebagai aku. Jangan orang lain, kita itu bukan orang yang sama.'
"Joana." Devan langsung tersadar begitu ingat ucapan Joana saat ia mengungkapkan perasaannya.
Sebuah foto dimana ia dan Mega tersenyum sangat lepas dihari kelulusan mereka SMA. Tapi foto itu sudah Devan robek karena ada Felix disampingnya.
'Jika kamu mencintaiku, maka cintailah aku sebagai aku.'
Devan menggenggam foto itu dengan erat lalu ia berjalan keluar ruangannya. Mencari tempat yang sepi dan membuang foto itu disana. Ia lalu mengambil korek apinya dan membakar foto itu.
Devan mengamati foto itu sampai benar-benar habis terbakar. Entah apa yang dipikirkan Devan saat itu, ia hanya ingin melakukan hal yang seharusnya sudah lama ia lakukan.
_________
Joana memandang Rendra dengan ekspresi takutnya. Joana mungkin dulu sangat jahat, tapi ia baru pertama kali ini berurusan dengan polisi. Dan yang lebih parah ia ditangkap dengan alasan yang sama sekali tidak ia ketahui.
"Aku akan membantumu," kata Rendra mengulurkan tangannya pada Joana.
Joana menggeleng pelan, ia malah berpegangan pada meja untuk bangkit dan duduk di kursi. Kakinya ini sepertinya sudah banyak perubahan meski belum bisa berjalan sepenuhnya.
Rendra mendesis pelan, ia langsung duduk di depan Joana kembali. Tak lama kemudian datanglah seorang polisi senior yang bergabung ke dalam ruangan interogasi itu.
__ADS_1
"Namamu tertulis disini adalah Mega Deya Anastasya. Istri dari Devandra Dawson, apakah kamu ingin menyangkalnya?" tanya Rendra seraya menunjukkan data-data tentang Joana.
Joana membacanya, ia menunduk menjalin jari-jarinya dengan perasaan kalut. Sedikit tidak menyangka jika Devan akan mengubah identitas juga menjadi Mega.
"Baiklah, jika masih tidak ingin mengaku. Lalu bagaimana dengan ini?" Rendra kemudian menunjukkan foto kedua yang merupakan foto pistol milik Devan yang tadi digunakan oleh Joana menembak.
"Pistol ini ditemukan ditempat kejadian, lebih tepatnya berada didekatmu. Sekarang alasan apa yang akan kamu katakan?" Rendra langsung memojokkan Joana dengan bukti itu dan polisi senior itu mengawasi gerak-gerik Joana yang langsung menegang.
Joana menelan ludahnya kasar, takut tentunya jika ia harus mengakui tentang pistol itu karena memang ia yang menembak. Tapi alasan apa yang harus ia buat?
"Sebaiknya katakan saja. Kami bisa memberikan perlindungan padamu jika kamu takut Devan akan menghukummu jika membuka mulut," kata polisi senior mencoba membujuk Joana.
"Apa yang harus aku katakan? Aku memang mengenal Devan, tapi aku tidak tahu tentang perdagangan narkoba dan sejenisnya," ucap Joana, ia menjelaskan sesuai yang ia tahu saja.
"Bisakah Anda koperatif, Nona? Akan terdengar aneh jika seseorang memutusakan menikah tanpa tahu siapa calon suaminya. Atau Anda ingin menjadi istri yang berbakti dengan menyembunyikan kebusukan suaminya?" sergah Rendra mulai muak juga melihat Joana yang menurutnya sangat drama.
Joana melirik Rendra kesal. "Sebelumnya aku sudah mengatakan, namaku adalah Joana. Dan aku bukan istrinya Devan," kata Joana mempertegas.
"Lalu bagaimana dengan tembakan itu? Senjata itu jelas bukan milik kami dan bukan diproduksi disini. Apakah Anda bisa menjelaskannya, Nona Joana?" Rendra sengaja menekan kata Joana karena sudah benar-benar kesal dengan kepura-puraan Joana.
"Apa yang harus aku jelaskan lagi? Aku tidak tahu, kalian tadi menangkapku dan tidak memberiku kesempatan apapun. Bagaimana bisa aku menembak? Dan kamu ini polisi, aku hanya wanita lumpuh, bagaimana mungkin aku membawa senjata?" ucap Joana mulai menggunakan kelicikannya agar bisa mengelak, menangis sekarang tidak akan ada gunanya.
Rendra ingin membuka mulutnya, tapi ponselnya terdengar berdering membuat ia mengurungkan niatnya. Ia mengambil ponselnya lalu segera mengangkatnya.
"Ya?" Sahut Rendra mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan sang penelpon.
Wajah Rendra tampak berubah-ubah, antara marah, kaget dan juga terlihat tidak terima. Beberapa kali ia mengumpat pelan dan mengacak-acak rambutnya. Setelah itu ia mematikan ponselnya.
Rendra memandang Joana dengan kekesalan yang tidak ditutupi.
"Kau!" Rendra seperti ingin mengatakan sesuatu, ia mengacungkan telunjuknya pada Joana membuat wanita itu sedikit kaget dan langsung mundur.
Namun, sebelum Rendra mengatakan apapun, pintu ruangan itu terbuka membuat ketiga orang yang didalam ruangan terkejut.
"Felix?"
Joana sendiri terkejut, tadinya ia sudah sangat senang karena Devan yang datang dan akan menyelamatkannya. Tapi mendadak hatinya kecewa saat melihat sosok orang lain.
'Kenapa bukan kamu?'
_________
__ADS_1