
Waktu terus berjalan, tak sudah satu bulan berlalu setelah kejadian di pesta itu terjadi. Kini semua telah berjalan seperti sebelumnya. Xander dan Stella menjalani kebahagiaan dan penuh cinta. Dengan keluarga besar yang saling menyayangi membuat hubungan mereka semakin hangat.
Xander juga sudah resmi menjadi pemimpin perusahaan milik Papa Medison setelah Stella memutuskan menerima semua hak yang telah di berikan. Papa Medison menegaskan kalau semua itu memang tetap menjadi miliknya, sedangkan Joana sendiri sudah mendapatkan bagiannya sendiri.
"Selamat pagi istriku," Stella tersentak saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Ternyata Xander yang datang dengan wajahnya masih sangat mengantuk.
"Pagi, belum cuci muka?" tanya Stella menyempatkan diri untuk menyentuh rambut Xander, kegiatan yang belakangan ini sering Stella sukai.
"Belum, aku baru bangun mencari mu tidak ada. Kau masak apa," ucap Xander sedikit mengintip apa yang di masak istrinya.
"Cuma tumis brokoli sama wortel, hubby mau bawa bekal?" tanya Stella mencoba fokus dengan masakannya disaat tangan Xander sangat jahil.
"Aku mau di rumah saja," bisik Xander menyusuri tengkuk Stella dengan bibir basahnya, tangannya mengelus lembut perut Stella yang sudah menonjol di usia kehamilan yang 6 bulan.
"By, kamu minggir dulu gih, aku sedang masak," sergah Stella kegelian dengan sentuhan halus suaminya.
"Masak saja, aku hanya ingin memelukmu," kata Xander tetap dengan sikapnya.
"Tapi aku nggak konsen, sebentar lagi jadi kok. Hubby tunggu aja di meja makan," ucap Stella mana bisa konsen jika mendapatkan dua serangan di kedua titik sensitifnya.
"Aku kangen, belakangan ini jarang ada waktu, kamu nggak kangen apa sama aku," ucap Xander langsung saja mematikan kompor Stella lalu menggendong wanita itu dan diletakkannya di pantry dapur.
Stella terdiam, belakangan ini mereka jarang ada waktu bersama karena Xander sangat sibuk. Mungkin hanya sekedar mengobrol sesaat lalu tidur. Tapi kalau untuk urusan ranjang, Xander tak pernah absen soal itu, hanya saja jarang memiliki waktu bersama.
"Kan Hubby sekarang tanggung jawabnya besar, jadi nggak boleh ngeluh, harus semangat dong," kata Stella menepuk-nepuk pelan pundak suaminya.
"Iya, tapi aku kangen banget sama kamu, pengen liburan, mau nggak?" ucap Xander memeluk Stella dengan manja.
"Liburan kemana?" tanya Stella mengernyit.
"Kamu pengennya kemana?" tanya Xander.
"Kemana ya, aku dulu sering banget kalau di ajak Mama lihat aurora," kata Stella teringat liburan termanisnya melihat aurora yang sangat indah saat umurnya 10 tahun dulu.
"Aurora?"
"Ya, di negara X. Bagus banget tahu by, liburan kesana gimana?" ucap Stella memandang suaminya penuh harap.
"Itu sangat jauh, perjalannya saja hampir 10 jam, kamu malah kecapekan lagi, yang lain saja," kata Xander tentu memikirkan kondisi istrinya yang sedang hamil.
__ADS_1
"Kan ada kau by, kalau aku capek minta pijit kamu aja, boleh ya ..." kata Stella merayu dengan mengusap-usap dada suaminya.
"Stella ..." Xander menggeleng tak setuju.
"By, anggap aja aku ngidam, jadi harus di turutin biar anak kita nggak ileran," kata Stella terpaksa memakai alasan absurd agar suaminya mau di ajak ke negara X.
"Ada-ada saja, kamu nanti kecapean Sayang," kata Xander harus sabar menghadapi tingkah Stella ini.
"Kan ada kamu by, kamu bisa pijitin aku kalau aku capek," ujar Stella dengan wajah memohonnya.
Kalau sudah begini, mana mungkin Xander bisa menolak. Menolak permintaan Stella saja sangat susah, apalagi di tambah dengan anak mereka.
"Baiklah, tapi kalau kau kecapean nggak boleh di paksa, ingat, kamu sedang hamil," ucap Xander terpaksa mengangguk setuju.
Stella mengangguk-angguk senang, ia langsung memeluk suaminya erat. "Makasih by, aku seneng banget," ucap Stella tak henti mengulas senyum manisnya.
"Eitss, tapi ini tidak gratis," bisik Xander tersenyum mesum.
"Ish! Dasar aji mumpung," celetuk Stella sudah hafal sekali trik suaminya.
"Halah, nanti juga kamu kesenangan," sahut Xander mengulas senyum mengejek.
Bahkan bukan hanya dapur saja yang menjadi TKP Xander melepas adrenaline, pria itu kadang mengajaknya di ruang tengah, di ruang makan, di ruang kerja, dan yang paling gila, Xander pernah mengajaknya bercinta di gazebo belakang rumah. Benar-benar sangat gila, tapi anehnya, Stella mau-mau saja melakukannya.
*****
Sebelum berangkat melakukan perjalanan liburan ke negara X. Stella memeriksa kan dulu keadaannya yang sedang hamil. Xander tak ingin ambil resiko jika mereka liburan nanti.
"Pokoknya, nanti kalau Dokter bilang nggak boleh, kamu nggak boleh keras kepala," ucap Xander mencoba sekali lagi membuat istrinya ini mengerti.
"Iya iya, kamu bawel banget sih by," ucap Stella mengerucutkan bibirnya sebal, memang jika menyangkut ia dan bayinya, Xander selalu overprotektif.
"Stella, ya ampun, akhirnya kita ketemu juga, kamu apa kabar?" terdengar sapaan riang dari seorang wanita membuat keduanya menoleh bersamaan.
"Kak Mazaya?" Stella juga terkejut bertemu dengan dokter pribadinya ini.
"Kamu apa kabar hei? Lama banget nggak ketemu," kata Dokter Mazaya memeluk Stella hangat.
"Kabar baik Kak, Kakak sendiri kemana aja nggak pernah kelihatan," sahut Stella balas memeluk Dokter Mazaya dengan hangat.
__ADS_1
"Biasalah, kemarin aku di kirim di perbatasan," ujar Dokter Mazaya dengan wajah kesal dibuat-buat.
"Hahaha, seru dong bisa petualangan," kata Stella tertawa melihat wajah masam Dokter Mazaya.
"Seru apaan, yang ada malah ketemu nyamuk mulu," gerutu Dokter Mazaya, ia lalu memperhatikan perbedaan dari Stella. "By the way, perut kamu udah besar? Usia berapa sekarang?" tanya Dokter Mazaya sedikit mengernyit.
"6 bulan kak," sahut Stella mengelus perutnya bangga.
"Terus, gimana sama penyakit kamu? Kamu nggak apa-apa? Kamu udah nggak pernah minum obat 'kan?" tanya Dokter Mazaya selalu khawatir dengan kondisi Stella yang satu ini, meskipun Stella terlihat biasa saja, tapi penyakit itu menggerogotinya secara perlahan.
Stella membesarkan matanya mendengar perkataan Dokter Mazaya, ia lalu melihat Xander yang menatapnya curiga dan penuh tanya.
"Oh iya Kak, kenalin Kak, dia suami aku, Xander. Udah kenal 'kan?" Stella berpura-pura mengalihkan perhatian Xander dan juga memberikan kode kepada Dokter Mazaya untuk tak mengatakan apapun.
Dokter Mazaya juga terkejut, ia tidak memerhatikan kalau ada Xander di sana sejak tadi.
"Oh, hai Xander. Tentu saja aku mengenalnya, apa kabar?" Dokter Mazaya mengulurkan tangannya kepada Xander, ekspresi wajahnya dibuat senatural mungkin agar Xander tidak curiga.
"Aku sangat baik, kau sendiri?" sahut Xander menyambut uluran tangan itu dengan mata tak lepas memandang Dokter Mazaya.
"Syukurlah, akhirnya kalian bisa bersatu juga," ucap Dokter Mazaya tersenyum kikuk.
"Terima kasih, tapi kalau boleh tahu, penyakit apa yang kau maksud tadi?"
Happy Reading.
Tbc.
Selamat sore gengs ...
Maaf untuk keterlambatan up nya, jangan lupa like dan komen ya gengs ...
Oh ya, author mau rekomen novel bagus nih, karya teman author ...
Mampir ya gengs ...
Judul : Gadis Desa Kesayangan Tuan Muda.
Author : Bunga Alika.
__ADS_1