Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Pengakuan Alex.


__ADS_3

Xander mengamati Alex yang merancau tidak jelas, anak buahnya sudah berhasil membawa pria itu ke gudang kosong yang berada di belakang rumah pribadinya.


"Bangunkan dia!" perintah Xander menghisap rokoknya santai, namun ia sedikit tak sabar untuk mendengarkan pengakuan dari Alex.


Luke menurut, ia mengambil air lalu menyiramkannya ke arah Alex yang sudah limbung.


"Argh! Sialan!" Alex mengumpat kesal, ia mengangkat wajahnya untuk melihat keadaan sekitar, namun karena efek alkohol yang di minumnya, ia kembali limbung.


"Apa mau kalian?" tanya Alex tak kuat mengangkat wajahnya, ia hanya melihat wajah Xander dengan samar.


"Sebuah kejujuran," ucap Xander menegakkan tubuhnya, ia mencondongkan dirinya ke arah Alex.


"Aku tidak mengerti," Alex menggelengkan kepalanya pelan.


"Apa hubunganmu dengan Tania?" tanya Xander langsung.


Alex terdiam, ia menyipitkan matanya menatap Xander. Ia lalu tersenyum tipis, kemudian tertawa kecil. Xander mengerutkan dahinya, ia melempar pandang dengan Luke.


"Wanita itu? Kenapa kau menanyakannya padaku? Tanyakan saja kepada pria yang dipujanya itu," ucap Alex tertawa pelan.


"Kalian sebelumnya ingin menikah, kenapa tidak jadi?" tanya Xander dengan suara lebih keras.


"Mana aku tahu," sahut Alex cuek.


Xander mengepalkan tangannya erat, merasa tak sabar dan ingin sekali menghajar pria ini. Namun hal itu tentu tak ada gunanya.


"Dia yang lebih dulu meninggalkan ku ..." ucap Alex secara tiba-tiba membuat Xander menajamkan telinganya.


"Lalu?" tanya Xander mencoba mengorek informasi yang lebih banyak.


"Hah! Jangan menanyakannya lagi, dia sudah membuatku sakit hati. Apa kau tahu, sakitnya itu sampai di sini," ucap Alex menunjuk dadanya sendiri, ekspresi wajahnya tampak begitu sedih karena ia tak sadar dengan apa yang dilakukannya.


"Lalu apa tujuanmu menjebak Stella? Kau pasti tahu itu 'kan? Tania yang sudah menyuruhmu 'kan?" tanya Xander kembali ke pokok awal, ia tak boleh membuang waktu karena bisa saja Alex akan pingsan karena pria itu sudah banyak minum.


"Stella?" Alex kembali mengangkat wajahnya saat mendengar nama itu, ia lalu mengamati Xander dan tertawa sendiri seperti orang gila.


"Hentikan! Apa yang kau tertawakan?" bentak Xander kesal melihat tingkah Alex.

__ADS_1


"Kau pasti pria itu 'kan? Hahaha, kau ingin mencaritahu tentang apa padaku? Jangan harap aku akan memberitahunya," ucap Alex masih sedikit bisa mengontrol ucapannya meski terkadang melantur kemana-mana.


"Dengarkan aku, aku tidak akan melakukan apapun padamu jika kau mau bekerja sama denganku. Kau butuh uang 'kan? Katakan saja, berapa yang kau butuhkan. Aku akan memberinya," kata Xander mencoba bernegosiasi.


"Tidak! Uang dari Tania sudah lebih cukup untukku, sudah, tidak perlu membujukku. Aku tidak akan memberitahunya," ucap Alex tertawa mengejek.


"Oh benarkah? Tapi kau pasti sudah sangat mengenal aku, sedikit informasi, aku pernah membuat orang kehilangan semua jarinya hanya karena dia mengambil uangku. Menurutmu, apa yang akan aku lakukan pada orang yang sudah menjebak ku?" Xander mengucapkan lambat-lambat setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ia ingin Alex tahu jika ia bukan orang yang suka bermain-main.


Alex menelan ludahnya kasar, ia sempat gentar mendengar ancaman Xander. Namun ia bungkam karena ingat janjinya dengan Tania.


"Mau kau membunuhku pun, aku tidak akan memberitahumu," ucap Alex malah sengaja menguap seolah ia tak takut dengan Xander.


Xander hampir saja memukul pria itu tapi Luke segera menahannya. Luke lalu membisikan sesuatu ke telinga Xander membuat pria itu tersenyum kecil.


"Baiklah, kalau kau tidak ingin memberitahuku dengan cara baik-baik. Sepertinya aku memang harus melakukan ini," ucap Xander segera menyuruh anak buahnya menyeret Alex keluar ruangan.


Alex yang setengah mabuk otomatis mengikuti saja kemana mereka membawanya. Ternyata ke halaman belakang yang cukup jauh dari rumah utama. Di sana terdapat sebuah kolam yang hanya melihatnya saja membuat Alex bergidik ngeri.


"Aku tidak mau kesana," ucap Alex langsung berhenti di tempatnya.


Xander sudah berdiri di sisi kolam itu, ia menatap Alex dengan senyum liciknya. Ia tampak puas sekali melihat wajah ketakutan Alex.


"Apa maumu?" tanya Alex langsung waspada. Pria di depannya ini ternyata sangat berbahaya.


"Kenapa kau bertanya? Bukankah kau sudah memilih mati? Karena aku orang yang baik, aku akan membuat kematianmu tidak mudah," ucap Xander tersenyum manis, namun senyuman itu malah terlihat mengerikan di mata Alex.


"Pengecut! Kau ingin bermain keroyokan?" teriak Alex menahan giginya yang gemeletuk karena amarah.


"Banyak bicara, siapkan saja kata-kata terakhirmu," kata Xander santai saja, tak terpengaruh dengan kekesalan Alex.


"Kau ba ji ngan!" teriak Alex ingin sekali membunuh pria di depannya ini, tapi ia juga tidak berdaya.


Xander semakin tersenyum lebar, ia melangkahkan kakinya mendekati Alex lalu menepuk pipi Alex dengan keras.


"Ya, memang itulah aku. Dan kau! Akan tahu seberapa gilanya aku karena kau sudah memancing amarah ku," ucap Xander menatap Alex sangat tajam.


"Luke! Ikat pria ini di sana, biarkan dia menjadi makanan para buaya itu, sepertinya mereka sudah sangat kelaparan karena tidak makan dua hari," perintah Xander membuat mata Alex seolah ingin copot dari tempatnya.

__ADS_1


"Kau gila! Lepaskan aku! Aku tidak mau kesana!" Alex berteriak dan berontak sekuat tenaga. Ia tidak mau mati konyol dengan menjadi santapan para buaya itu. Membayangkan tubuhnya akan di cabik-cabik oleh para buaya, membuat Alex merasa sangat ngeri.


"Ampun! Ampuni aku! Aku janji akan mengatakan semuanya," ucap Alex melakukan satu-satunya cara agar Xander mau mengurungkan niatnya.


"Benarkah? Tapi sayangnya aku tidak percaya padamu, bisa saja setelah aku melepaskan mu, kau akan lari dariku," ucap Xander memasang ekspresi tak minatnya.


"Tidak! Tidak! Aku janji akan mengatakan semuanya, aku akan mengatakan semua tentang Tania padamu," ucap Alex lebih sayang nyawanya daripada rahasia itu.


"Bagaimana kalau kau berbohong?" tanya Xander tak ingin semudah itu percaya dengan Alex.


"Kau boleh membunuhku," ucap Alex menelan ludahnya kasar.


Xander menarik sudut bibirnya, akhirnya usahanya berhasil untuk membuat Alex mau membuka mulutnya.


"Jadi, apa tujuan Tania menjebak ku dengan Stella?" tanya Xander to the point.


"Bisakah kita menyingkir dulu dari sini?" tanya Alex masih ngeri jika berbicara di samping kolam buaya.


"Apa kau pikir posisimu itu sebanding untuk bernegosiasi denganku? Cepat katakan semuanya dengan jelas!" bentak Xander tak sabar sekali rasanya.


"Baik, baik, aku akan bercerita," Alex menghela nafasnya berkali-kali untuk membuat dirinya tenang. "Tujuan Tania menjebak kalian karena ..."


Xander menyimak dengan serius apa yang dikatakan oleh Alex. Ekspresi Xander tampak berubah-ubah, antara terkejut, marah dan juga tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Tapi semakin Alex bercerita, akhirnya Xander bisa mendapatan benang merah dari semua cerita itu.


"Sialan! Kalian semua memang manusia iblis! Aku tidak akan membiarkan hidup kalian tenang!" teriak Xander langsung menendang perut Alex setelah pria itu menjelaskan semuanya. Ia melampiaskan amarahnya kepada Alex hingga membuat pria itu babak belur, tapi Xander masih waras untuk tidak membunuh pria itu.


"Bawa dia ke rumah sakit, pastikan dia jangan sampai mati!"


Happy Reading.


Tbc.


Hayu, udah tiga bab nih ...


Udah pada like dan komen belum?


Ayo yang belum kasih dukungan buat author ya ... tengkyu all...

__ADS_1


__ADS_2