Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Rumah Neraka.


__ADS_3

"Seperti yang kau lihat, Joana akan tinggal disini," sahut Xander hanya menatap Stella tanpa ekspresinya.


Stella menatap Xander tak percaya, sebenarnya apa yang ada dipikiran Xander, pria itu ingin membuat selingkuhannya tinggal bersama istri sah? Lelucon apa ini?


"Tidak akan, aku tidak mengizinkan wanita ini tinggal disini!" sergah Stella beralih menatap Joana tajam.


"Aku juga tidak butuh izin darimu, Apartemen ini milik kekasihku, jadi dia bebas membawa siapapun yang dia mau," ucap Joana tersenyum sinis.


"Ayo sayang, kita masuk saja ke kamar. Jangan pikirkan wanita ini," ucap Joana menggandeng tangan Xander dan mengajak pria itu masuk ke dalam.


"Jangan coba-coba masuk kedalam rumahku!" teriak Stella menarik tangan Joana dengan kasar hingga wanita itu terhuyung.


"Akh!" Joana meringis kesakitan.


"Joana! Apa yang kau lakukan? Kau gila?" bentak Xander mengecek keadaan kekasihnya.


"Ya! Aku memang gila! Dan kau! Akan tau seberapa gilanya aku jika ku sampai melewati batasanmu!" ucap Stella dengan sorot mata tajam dan penuh emosi. 


Hatinya sangat tak terima jika Xander membawa Joana, lebih baik ia menganggap dirinya tak tahu agar hatinya tak terlalu sakit, tapi jika mereka tinggal disana bersama, maka lebih baik dia saja yang pergi daripada membuat luka hatinya semakin berdarah.


"Berani sekali kau menggunakan nada seperti itu jika berbicara pada Joana!" bentak Xander mengepalkan tangannya erat, tak suka Stella berteriak keras padanya.


"Ya aku tentu saja aku berani, aku istrimu! Bukan wanita ja la ng yang hanya bisa menggoda …"


Plak!


Ucapan Stella menguap di udara saat tiba-tiba Xander mengayunkan tangannya untuk menampar pipi Stella dengan keras. Sangat keras hingga bibir Stella robek seketika.


Stella terdiam, dunianya seolah berhenti di detik itu juga. Kepalanya pusing dan matanya berkaca-kaca. Tamparan Xander memang sangat sakit, tapi hatinya lebih sakit karena suaminya tega memukul dirinya hanya demi seorang wanita lain.

__ADS_1


"Xander!" pekik Joana begitu terkejut namun wajahnya tampak tersenyum penuh kepuasan.


"Masuklah ke kamarmu, aku akan harus memberitahu wanita murahan ini bagaimana posisinya di mataku!" kata Xander tanpa melirik Joana sama sekali, ia langsung menyeret Stella dan membawa wanita itu ke kamarnya.


Stella tidak berontak, ia hanya menatap Joana dengan ekspresi penuh dendam dan dibalas senyum licik oleh wanita itu.


"Berapa kali aku memperingatkan padamu, jangan berani-berani mengaturku! Kau itu hanya wanita murahan yang tak pantas menghina Joana!" bentak Xander menghempaskan tangan Stella hingga wanita itu hampir saja terjatuh.


Stella tersenyum miris, senyuman itu tampak sangat menyedihkan. "Baik, sekarang aku mengerti. Kau sudah memilih dia kan? Fine, aku yang akan pergi dari sini," ucap Stella seraya berjalan menuju walk ini closet miliknya, ia mengambil semua baju-bajunya dan memasukannya kedalam koper.


Untuk apalagi dia bertahan, jika sudah tak ada lagi harapan. Lebih baik dia pergi dan membesarkan anaknya sendiri tanpa pria brengsek seperti Xander.


Xander semakin emosi, ia menyusul Stella dan langsung mencekal tangan wanita itu. "Aku tidak akan pernah mengizinkanmu pergi Stella!" bentak Xander memegang kedua lengan Stella dengan sangat erat.


"Untuk apalagi? Kau belum puas menyiksaku? Sekarang siksa aku lagi, ayo siksa aku lagi, puaskan hatimu!" teriak Stella mengambil tangan Xander dan menarik tangan pria itu agar memukulnya lagi.


"Kenapa? Ayo lakukan sekarang juga! Aku wanita murahan yang pantas disakiti kan? Ayo sakiti aku lagi!" Stella benar-benar seperti orang gila, ia menangis putus asa dan ia balas mendorong Xander hingga pria itu bersandar di lemari. Tanpa diduga Xander, Stella malah mencium bibirnya penuh gairah layaknya ja la ng yang menggoda lawannya. 


"Apa yang kau lakukan?" dengan kasar Xander kembali mendorong Stella hingga ciuman mereka terlepas.


"Ayo sentuh aku lagi, aku memang wanita murahan, ayo sentuh aku lagi!" kata Stella ingin membuka pakaiannya tapi dengan cepat Xander mencekalnya.


"Tidak akan! Aku pikir dengan aku menghukum mu kau akan merasa terhina! Tapi ternyata kau malah menikmatinya! Dasar wanita tidak tahu diri," kata Xander benar-benar tak tahu apa yang ada dipikiran Stella. Ia pikir menjadikan Stella pemuas nafsunya akan membuat harga diri wanita itu jatuh, namun sepertinya ia salah.


"Iya, memang itulah aku! Kau sudah tau semuanya, lalu kenapa kau tidak membiarkan aku pergi? Kau ingin hidup diantara dua wanita? Menjijikan sekali," kata Stella tak perduli lagi jika Xander akan semakin marah.


Terbukti rahang Xander mulai mengeras dan ekspresinya semakin menakutkan. Ia menghimpit tubuh mungil Stella di dinding dan mencengkram dagu wanita itu dengan kasar.


"Dengarkan aku baik-baik, kau tau aku sangat membencimu? Dalam hatiku ini hanya ada dendam dan amarah, aku tidak akan melepaskan mu dengan mudah sebelum kau hancur, ingat itu Stella, sebelum kau hancur, kau tidak akan lepas dariku!" ucap Xander menghempaskan wajah Stella lalu meninggalkan wanita itu pergi.

__ADS_1


Tubuh Stella luruh kebawah dengan air mata yang kembali mengalir.


"Kau bilang sebelum aku hancur Xander? Sekarang aku sudah hancur Xander, sangat hancur melihatmu membawa wanita itu datang kesini," batin Stella tak bisa lagi mengungkapkan bagaimana perih hatinya saat ini. Sangat perih bagai ditikam ribuan anak panah.


Pagi dimana ia akan menyampaikan kabar bahagia justru berakhir dengan tangisan. Stella menatap perutnya dan mengelusnya perlahan.


"Maafkan Mama, kamu pasti jadi ikutan sedih, Mama janji akan selalu menjagamu Sayang …" ucap Stella sudah bertekad akan pergi dari rumah neraka ini apapun caranya.


*****


Stella keluar dari kamarnya, ia sudah berdandan rapi karena akan pergi ke sekolah. Ia sudah membawa banyak uang karena ia sudah berencana akan kabur dari rumah ini. Saat ia melewati ruang tengah, disana terlihat Joana yang duduk bersantai seraya membaca majalah.


Tanpa sadar Stella berdecih, wanita yang selama ini ia pikir memiliki hati seperti malaikat ternyata tak lebih dari iblis yang berwujud manusia. Bagaimana bisa seorang wanita bisa menyakiti hati wanita lainnya.


"Stella …" ucap Joana tersenyum polos tanda dosa.


"Jangan berbicara padaku!" sergah Stella melirik Joana dengan ekspresi jijik.


"Woho, aku terkejut adikku yang sangat lemah lembut ini bisa berbicara kasar padaku," kata Joana dengan ganyanya yang sangat menyebalkan.


"Adik? Bahkan aku sudah lupa pernah memiliki seorang Kakak sepertimu," kata Stella mengangkat alisnya, lalu berjalan meninggalkan Joana, ia tak ingin membuang waktu hanya untuk meladeni orang tidak penting seperti Joana.


Joana bedecak kesal, ia pikir Stella akan menangis dan memohon padanya untuk melepaskan Xander, tapi ternyata dugaannya salah.


"Ini tidak bisa dibiarkan,"


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2