
Di kediaman Medison, suasana rumah tampak sangat sepi. Melisa sedang duduk termenung di ruang tengah, banyak sekali hal tentang Joana yang saat ini di pikirannya. Hatinya jelas menolak kalau Joana bukanlah putrinya, ia masih tak percaya jika anak yang selama ini dibesarkannya bukan darah dagingnya sendiri.
Lalu dimana sekarang putri kandungnya? Apakah dia memiliki kehidupan yang baik? Apakah dia baik-baik saja? Dan siapa orang yang begitu tega menukar putrinya.
"Kak," Tania menghampiri Melisa, ia cukup heran melihat kakaknya ini sering merenung.
"Tania," Melisa hanya melirik adiknya sekilas, lalu kembali menatap ke arah lain.
"Kakak kenapa sering melamun? Lagi mikirin apa?" tanya Tania.
"Tidak ada, aku hanya memikirkan Joana," sahut Melisa enggan menceritakan masalahnya kepada Tania. Ia sudah sepakat dengan suaminya jika tak akan membahas hal ini sebelum semuanya jelas.
"Hah, aku juga kasihan melihat kondisinya. Kakak harus segera menyuruh Kak Medison untuk melaporkan Xander, pria itu harus bertanggung jawab atas penderitaan Joana," ucap Tania masih sangat kesal jika mengingat Xander.
"Ya, tapi dengan foto-foto itu tidak bisa membuat Xander langsung di penjara. Dia pasti akan mudah menyangkal dan bisa lolos dari jerat hukum. Lagipula, Joana juga bersalah dalam hal ini, dia sudah tahu kalau Xander sudah menikah, kenapa dia harus mau lagi menjalin hubungan dengan pria beristri," ucap Melisa merasa Joana juga bersalah dalam hal ini, ia bukan orang tua yang mudah menyalahkan orang dan membela anaknya. Jika anaknya berbuat salah, ia pasti akan tetap menasehatinya.
"Kenapa Kakak malah menyalahkan Joana? Dia disini itu korban dari keegoisan Xander, Kakak tidak lihat putri Kakak sampai di buat lumpuh seperti ini? Memang sudah seharusnya dulu mereka tidak jadi menikah," tukas Tania tak terima Kakaknya ini malah menyalahkan Joana.
"Tania, aku tidak tahu siapa yang salah dan benar disini. Tapi entah kenapa instingku mengatakan kalau Xander mengatakan yang sebenarnya, lagipula saat kita menemukan Joana, sebelumnya ada Marvin yang datang kesana," ucap Melisa mengingat kembali hari dimana Joana di temukan tergeletak dengan bersimbah darah di Apartemen.
"Jadi menurut Kakak Joana sudah berbohong kepada kita? Astaga, kenapa Kakak begitu tega menuduh putri Kakak sendiri," ucap Tania semakin menggebu-gebu.
"Bukan seperti itu, aku hanya ... ."
Pranggggg!!!!!
Ucapan Melisa menguap begitu saja saat tiba-tiba terdengar suara benda yang pecah dari arah kamar Joana.
"Joana ..."
Kedua orang itu saling pandang dan reflek bergerak untuk melihat apa yang terjadi. Tanpa mengetuk pintu, mereka berdua langsung masuk ke dalam kamar dan terkejut melihat kondisi kamar Joana yang berantakan.
Semua barang-barang di kamar itu berjatuhan dan ada juga yang hancur tak berbentuk. Melisa lalu menatap Joana yang terduduk seraya memukuli kakinya.
__ADS_1
"Joana, apa yang kamu lakukan?" ujar Melisa langsung merengkuh tubuh Joana yang terguncang karena tangis.
"Aku tidak mau lumpuh, aku benci dengan kakiku. Kenapa dia tidak bisa bergerak, aku benci, aku benci ...." Joana menangis meraung seraya terus memukul kakinya. Ia tidak mau menjadi wanita cacat seperti ini.
"Sayang, sayang, jangan seperti ini ... Joana pasti sembuh, jangan seperti ini, nak" ucap Melisa memeluk putrinya penuh kasih, hatinya ikut sakit melihat Joana yang biasanya bisa berjalan, kini harus berteman dengan kursi rodanya.
"Mama bohong! Aku tidak bisa sembuh, aku hanya wanita cacat sekarang, Ma. Kenapa aku harus hidup seperti ini, lebih baik aku mati saja," ucap Joana seperti orang kesetanan, ia mendorong Melisa lalu mengambil salah satu pecahan kaca rias yang bertebaran.
"Joana! Apa yang kau lakukan? Letakan benda itu Sayang, jangan ..." Melisa memekik kaget melihat Joana sudah meletakkan kaca itu di pergelangan tangannya.
"Iya Sayang, jangan lakukan itu. Kamu pasti sembuh, Bibi mohon," Tania ikut membujuk Joana agar mau mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.
"Untuk apalagi aku harus hidup? Katakan! Untuk apa aku hidup? Xander sudah menolak ku, dia sekarang sangat membenciku, dia tidak mencintaiku lagi karena aku sudah lumpuh. Jadi, biarkan aku mati saja!" teriak Joana seraya menangis tersedu-sedu seraya terus menekan pecahan kaca itu ditangannya.
"Berhenti! Berhenti Joana! Tolong jangan tinggalkan Mama, Mama Sayang sama Joana, kita semua mencintai Joana," Melisa tak akan sanggup jika harus melihat putrinya akan mengakhiri hidupnya sendiri.
"Tapi Xander tidak mencintaiku, Ma. Aku hanya ingin dia, aku mau dia kembali bersamaku, apa Mama bisa melakukannya? Tidak kan, biarkan aku mati saja daripada tidak bisa hidup bersama orang yang aku cintai," ucap Joana terdengar putus asa.
"Mama janji akan mengembalikan Xander ku?" tanya Joana memandang Melisa penuh harap.
"Mama janji, sekarang letakan benda itu Sayang. Mama sayang Joana," ucap Melisa lagi.
Joana menurut, ia meletakan kembali pecahan kaca itu lalu memeluk Mamanya erat. Melisa tersenyum lega karena Joana mau merubah keputusannya.
"Maafkan Joana, Ma," ucap Joana lirih.
"Tidak perlu minta maaf, sekarang Joana istirahat dulu ya, jangan pikirkan apapun lagi. Mama pasti akan membawa Xander untuk Joana," ucap Melisa memberikan kode kepada Tania untuk membantunya membawa Joana ke kasur.
Melisa merapikan selimut Joana seraya mengecup kening putrinya sebelum pergi keluar. Ia harus mendesak suaminya untuk membuat Xander mau menikahi Joana.
Setelah Mamanya pergi, Joana membuka matanya, ia tersenyum licik.
"Xander, bersiaplah kembali padaku, kau itu hanya milikku selamanya,"
__ADS_1
****
Kehidupan rumah tangga Xander dan Stella masih diliputi kebahagiaan. Hari ini Xander sedang mengantar istrinya untuk memeriksa kandungan. Xander terlihat begitu gugup dan tak sabar menunggu giliran istrinya di panggil.
"By ..." panggil Stella menyentuh lembut lengan Xander, ia cukup tertarik saat melihat ekspresi Xander yang menurutnya tak biasa itu.
"Ya? Apa kau butuh sesuatu?" Xander langsung menoleh dan memusatkan perhatiannya kepada sang istri.
"Enggak, aku perhatikan, hubby terlihat gugup, kenapa?" tanya Stella.
"Oh tidak, aku hanya tidak sabar untuk melihat anak kita," sahut Xander tersenyum seraya mengelus lembut perut istrinya.
"Dia pasti senang, apalagi mau ketemu Papanya," ucap Stella tertular akan senyuman Xander, hatinya menghangat saat Xander begitu mencintai anak mereka.
"Bukannya setiap hari aku sudah mengunjunginya?" ucap Xander tersenyum geli.
"Berkunjung? Kapan?" tanya Stella mengerutkan dahinya.
"Setiap malam, aku sering mengunjunginya kan? Malah secara langsung," ucap Xander langsung mendapatkan hadiah cubitan keras di lengannya.
"Aduh, jangan mencubit ku disini. Nanti kalau kita di dalam kamar saja," ucap Xander membuat Stella mencibir.
"Dasar mesum," sungut Stella sebal sendiri.
"Mesum sama istri sendiri itu hukumnya wajib tahu Sayang," ucap Xander santai saja.
"Diem deh, Hubby nggak lihat ini dimana?" sergah Stella mengingatkan suaminya kalau saat ini masih berada di tempat umum.
Xander hanya tersenyum-senyum saja, ia kemudian menggenggam tangan Stella, sesekali ia menciumnya seraya menunggu antrian. Meski Stella risih karena Xander menunjukkan kemesraan mereka di tempat umum, tapi Xander tak peduli. Ia ingin semua dunia tahu kalau ia mencintai istrinya.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1