Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 51. Sudah Waktunya.


__ADS_3

Suara tembakan itu benar-benar sangat mengejutkan bagi Devan. Pasalnya pria itu belum menarik pelatuk pistolnya, kenapa tiba-tiba ada suara tembakan. Devan menajamkan pandangannya dan ia terkejut melihat beberapa orang polisi tampak berlarian ke arahnya.


Musuh Devan tampak sangat puas sekali, akhirnya rencananya berhasil untuk membuat Devan terjebak. Tanpa siapapun duga ia kembali menyabetkan pisaunya kearah Devan hingga mengenai lengannya untuk kedua kali.


"Argghhhh!" Devan berteriak dengan suara tertahan, tidak ingin polisi tahu dimana posisinya saat ini.


Namun, melihat musuhnya kabur begitu saja membuat darahnya mendidih. Ia langsung saja menarik pelatuk pistolnya tanpa pikir panjang sehingga mengenai tepat dipunggung pria itu.


Duarr!!!


Devan tersenyum penuh kepuasan, setidaknya ia masih bisa membalaskan sedikit dendamnya kepada orang itu. Akan tetapi karena tembakan itu membuat para polisi tahu dimana posisinya saat ini dan musuh Devan masih bisa kabur meski harus tertatih-tatih.


"Disana!" teriak Rendra memberikan komando kepada anak buahnya untuk menyerbu arah tembakan itu berasal.


Devan mengumpat dalam hatinya, ia memegangi perut dan lengannya yang sangat sakit. Darah juga tidak mau berhenti sehingga kondisi Devan semakin lemah. Ia berusaha keras untuk bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu sebelum polisi menemukannya disana.


Rendra yang melihat siluet tubuh Devan segera mengejarnya, ia harus mendapatkan pria itu apapun caranya. Bila perlu memberikan nyawanya ia rela asalkan Devan bisa ditangkap.


"Devandra! Berhenti!" teriak Rendra dengan suara yang lantang.


Devan menghentikan langkahnya sejenak, ia bersedih seraya menahan perih diseluruh tubuhnya. Saat ini sepertinya ia sudah dikepung di tempat itu karena kebodohannya sendiri.


"Marko."


Hanya satu nama itu yang Devan ingat, ia pasti akan menuntut balas nanti jika diberi umur panjang atau kehidupan setelah kematian. Ia tetap akan membalasnya.


"Berhenti atau aku tembak?"


Duarrr!!!


Rendra kembali memberikan tembakan peringatan kepada Devan meksipun hal itu percuma saja. Karena bukannya takut Devan justru balas melesatkan tembakan ke arah Rendra. Bahkan tidak hanya satu kali, tapi Devan memberondong Rendra dengan tembakan yang sangat banyak sehingga pria itu harus bersembunyi untuk menghindar.


"Dia tidak akan bisa menangkap aku," kata Devan dengan suara yang bergetar.


Semakin lama lukanya semakin parah, tapi ia harus tetap pergi meninggalkan tempat itu apapun caranya.


Namun, untung tidak bisa diraih dan malang tidak bisa dicegah. Devan pikir ia akan bisa kabur, tapi ternyata tempat itu benar-benar sudah dikepung dari segala sisi sehingga ia terpojok tidak bisa kemanapun.


"Jatuhkan senjatamu, Devandra." Kapten Tama segera memberikan instruksinya.


Devan mengeram rendah, ia melirik sekelilingnya yang banyak sekali polisi. Hanya ada satu jalan untuk pergi dari tempat itu yaitu turun kebawah, tapi ia tidak akan tahu ada apa dibawah sana.


"Menyerahlah Devandra, hentikan tindakanmu ini," titah Tama.


Sekarang ini ada banyak sekali moncong pistol yang mengarah kepada Devan. Ia bergerak sedikit saja, pasti berondongan peluru akan masuk kedalam tubuhnya.

__ADS_1


"Sudah aku bilang, kebetulan tidak akan terjadi berkali-kali, Devandra. Mungkin kamu selalu bisa lolos, tapi tidak untuk kali ini," kata Rendra ikut menodongkan pistolnya ke arah Devan.


Devan meliriknya, ia berusaha tenang meski tubuh dan hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ia menurut dengan mengangkat tangannya dan menjatuhkan senjatanya.


"Baiklah, aku terjebak, bagus sekali," kata Devan dengan senyum sinis khas dirinya.


Tama segera memberikan gestur kepada Rendra untuk menangkap Devan karena pria itu sudah meletakkan senjatanya. Devan pun tidak melakukan perlawanan dan membiarkan Rendra mendekatinya.


Namun, saat Rendra menyentuh tangan Devan, pria itu segera merubah posisinya dengan menarik tangan Rendra lalu merampas senjatanya dan mengalungkan tangannya ke leher Rendra, menjadikan pria itu tameng.


"Rendra!"


Semua pasukan langsung sigap mengarahkan pistolnya sehingga Devan pun menekan pistol yang dipegangnya tepat di pelipis Rendra.


"Tembaklah atau maju saja selangkah lagi. Aku pastikan teman kalian ini mati bersamaku," kata Devan dengan gigi gemeletuk, menahan emosi bercampur sakit diseluruh tubuhnya.


"Brengsek!" Rendra mengumpat dan berontak , tapi meskipun Devan sudah terluka pria itu masih sangat tangguh dan kuat.


"Jangan coba-coba Devandra. Tempat ini sudah dikepung, apa kamu pikir kamu bisa lolos?" kata Kapten Tama yang memegang pistolnya dengan tangan gemetaran. Ia sedang berusaha membidik Devan tanpa mengenai Rendra.


Devan tidak menghiraukannya, ia justru menekan pistol itu semakin kuat. "Mundur!" teriak Devan sangat keras.


Para polisi itu tetap ditempatnya dan terus berusaha fokus. Hal itu membuat Devan semakin murka, ia tanpa peringatan menembakkan pelurunya mengenai lantai didepannya sehingga membuat semua orang terkejut.


Akan tetapi bukan tembakan itu saja yang membuat mereka terkejut, tembakan itu memicu percikan api karena pelurunya tidak sengaja mengenai sebuah tabung yang berisi bahan bakar dan beberapa saat kemudian terdengar ledakan yang mengguncang tempat itu dan membuat beberapa orang terpental. Yang lainnya juga sangat malang karena posisinya sangat dekat, sehingga api langsung menyambar tubuh mereka.


Keadaan benar-benar sangat kacau, Devan secara reflek melepaskan Rendra dan ingin menyelamatkan dirinya. Jika terlambat sedikit saja, ia bisa mati terpanggang ditempat itu.


Dengan terseok-seok Devan meninggalkan tempat itu, minimnya cahaya serata kondisi lorong yang sempit membuat ia cukup kesusahan berjalan. Ia harus berpegangan pada tembok-tembok agar tidak terjatuh.


Rendra tidak melepaskan Devan dengan mudah. Ia sudah bersumpah akan menangkap pria itu meksipun nyawa taruhannya. Ia bergegas berlari mengejar Devan dan tanpa ampun langsung menendang punggungnya dengan keras.


Dugh!


Devan langsung jatuh tersungkur, lukanya semakin nyeri saat menghantam lantai dengan keras. Ia berusaha bangkit, tapi Rendra justru kembali menghantam wajahnya dan menarik kerah bajunya.


"Urusan kita belum selesai Devandra! Kamu harus membayar nyawa temanku yang kamu bunuh!" teriak Rendra tanpa ampun menghantamkan kepalanya sendiri ke kepala Devan dengan keras.


Devan langsung linglung, kepalanya tentu sangat sakit sekali dan pandangannya kabur. Ia kembali berpegangan dengan tembok. Tapi ia masih bisa tertawa mengejek.


"Lakukanlah, membunuh seseorang perlu sebuah keberanian. Aku yakin pria sepertimu tidak akan berani," kata Devan dengan wajah mengejeknya.


"Kurang ajar! Kamu pasti menyesal telah berkata seperti itu, keparat!"


Rendra begitu murka, ia langsung saja menyerang Devan. Akan tetapi kali ini Devan membalasnya, ia tidak akan menyerah meski saat ini ia sudah berdarah-darah. Mereka berdua saling beradu dengan tangan kosong.

__ADS_1


Pukulan dan tendangan sudah mereka dapatkan dan mereka pun sama-sama babak belur. Devan sudah berdarah-darah dimana-mana, kepalanya sangat sakit tapi perutnya lebih sakit karena beberapa kali Rendra memukulnya. Bajunya sudah penuh dengan darah, tapi ia masih sadar.


Rendra tersenyum melihat Devan yang sudah lemas, dibelakangnya api semakin membesar, tapi ia belum puas sebelum melihat Devan mati. Ia lalu mengambil sebuah kursi yang ada ditempat itu, ia mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Kamu benar, membunuh seseorang memang perlu sebuah keberanian. Sekarang aku akan membuktikannya, polisi pun bisa bertindak jahat tergantung sikapmu padaku. Terimalah ini, Devandra! Arghhhhhhhh!" Rendra berteriak sekeras-kerasnya, ia membanting kursi itu tepat mengenai Devan yang sudah lemah.


Namun, sebelum kursi itu mengenai Devan, seseorang tiba-tiba mendorong Rendra dengan keras hingga kursi itu meleset tak jauh dari Devan.


Rendra yang belum siap ingin melawan, namun naas ia justru mendapatkan pukulan telak di kepalanya sehingga ia langsung pingsan seketika karena pukulan itu menggunakan besi yang berat.


Ken berdecih seraya meludah ke lantai, ia bergegas mendatangi Devan yang tengah tak berdaya itu.


"Tuan, ini saya," ucap Ken memegang tangan Devan dan membantu pria itu untuk duduk. "Kita harus secepatnya pergi dari sini, Tuan. Tempat ini hampir terbakar," lanjut Ken segera mengajak Devan untuk meninggalkan tempat itu.


Devan berusaha untuk bangkit, meski ia terluka parah, ia tetap ikut berjalan mengikuti Ken yang menuntunnya untuk pergi. Kobaran api kian membesar karena disitu banyak sekali bahan yang mudah terbakar.


Cukup jauh mereka berjalan, tapi tempat itu benar-benar sudah penuh dengan api. Devan tidak sanggup lagi untuk berjalan, lukanya sudah terlalu menguras tenaganya dan tubuhnya lemas.


"Pergilah," ucap Devan melepaskan pegangan Ken begitu saja.


"Tuan?" Ken begitu terkejut, ia kembali memegang Devan agar tidak terjatuh.


"Pergi, jangan pikirkan aku," kata Devan kembali mendorong Ken dan tubuhnya kembali ambruk ke lantai.


"Sebentar lagi kita bisa keluar, Tuan. Ayo kita pergi sekarang!" teriak Ken cukup emosional, mana mungkin ia meninggalkan Devan ditengah kobaran api seperti itu.


Devan menggeleng pelan, untuk pertama kalinya ia merasa tidak berdaya lagi. Ia segera mengambil sesuatu yang sejak tadi ia simpan didalam saku jas miliknya lalu menyerahkannya pada Ken.


"Pergi, jaga dia untukku. Musuhku terlalu banyak, jaga dia," ujar Devan dengan napas tersengal.


Ken menggelengkan kepalanya, ia melihat sebuah amplop kecil dan juga kotak cincin yang diberikan Devan padanya.


"Tuan jangan seperti ini, Nona Joana pasti menunggu Anda. Besok Anda akan menikah, Tuan," kata Ken mencoba menyadarkan Devan dengan menggunakan Joana.


Devan tersenyum, tapi mata pria itu terlihat berkaca-kaca. Bayangan pernikahan indah itu sepertinya harus ia buang jauh-jauh. Kehidupan indah tidak akan pernah bisa ia dapatkan karena dunia yang ia pilih terlalu kelam. Justru jika ia yang egois, ia bisa membuat orang yang berada disekitarnya ikut dalam bahaya.


"Pergi, Ken. Jangan pikirkan aku, jika memang dia jodohku, aku akan menikahi dia di kehidupan selanjutnya. Pergilah," kata Devan semakin berat hembusan napasnya, ia memegang perutnya yang tak henti mengalirkan darah, rasanya sangat menyakitkan dan ia rasa akan benar-benar tamat hari ini.


"Tuan?"


"Pergi, kamu pasti tahu maksudku," kata Devan segera mendorong Ken untuk menjauh darinya.


Ken menangis seperti orang bodoh didepan Devan, ia tidak bisa melakukan apapun. Ia berjalan mundur dengan membawa barang yang dititipkan Devan. Ia memandang Devan, tapi pria itu tidak mau memandangnya sama sekali.


Devan mendongak untuk menghalau air matanya. Jalan ini memang yang terbaik, mungkin memang sudah waktunya pendosa sepertinya pergi ke neraka.

__ADS_1


'Selamat tinggal, maafkan aku.'


___________


__ADS_2