
Stella masih sempat melihat Xander yang membantu Joana sebelum masuk ke kamar. Wajah Xander sangat khawatir dan tampak begitu peduli kepada Joana. Tatapan matanya pun tampak sangat teduh dan menyiratkan rasa cinta yang dalam. Tatapan mata yang tak akan pernah dia dapatkan sampai kapanpun dan hanya bisa dianggap dalam angannya saja.
Stella mengambil buku diary miliknya, hanya disana ia bisa menuliskan keluh kesah hatinya selama ini. Sudah banyak sekali coretan tinta yang hampir memudar karena sangking banyaknya hal yang ia tulis.
"Mulai sekarang aku akan melepaskan mu, tetaplah bahagia bersama pilihanmu. Mungkin memang benar kalau kau bukanlah takdirku, terima kasih sudah hadir dalam hidupku Xander. Meskipun kau tidak akan pernah melihatku, aku akan selalu mencintaimu"
Tanpa sadar setitik air mata langsung saja lolos membasahi pipinya, cengeng? Memang itulah dirinya. Dua hari lagi adalah hari terakhirnya di rumah ini, Stella tak ingin berharap apapun, ia hanya berharap ingin mendapatkan sedikit saja sebuah momen terindahnya bersama Xander agar ia bisa mengingatnya nanti.
Namun bukannya momen indah yang didapatkan, namun sebuah hal yang justru sangat menyakiti hatinya.
"Stella, kau sudah bangun? Ingin sarapan bersama?" ucap Joana sepertinya sengaja memamerkan kemesraannya bersama Xander pagi itu.
Stella hanya berwajah dingin. Sakit? Tentu saja, bagaimana mungkin hatinya tak sakit melihat suaminya sendiri malah menyuapi wanita lain didepan matanya sendiri.
"Tidak, terima kasih," kata Stella buru-buru pergi meninggalkan ruangan yang membuat hatinya sangat sesak.
Xander benar-benar sangat keterlaluan, tak puaskah pria itu menyakiti dirinya?
Tapi nyatanya adegan suap-suapan itu bukanlah yang terakhir kalinya, kedua manusia tak tahu adap itu malah sengaja memamerkan kemesraannya yang lain dengan berciuman mesra di depan televisi. Stella tak ingin melihat, tapi sialnya matanya seolah tak bisa berpaling dari pemandangan menyakitkan itu.
"Apa kalian berdua begitu tak tahu malu sampai bisa bersikap seperti ini? Menjijikan," tukas Stella berdecih kesal.
Xander melepaskan ciuman panasnya dengan Joana, ia lalu menatap Stella yang sangat kesal itu.
"Apa kau keberatan? Jika iya, kami akan melanjutkannya di kamar," kata Xander santai saja, ia justru senang bisa melihat Stella sangat kesal.
Stella pikir Xander hanya menggertaknya saja saat itu, tapi dugaannya salah. Xander justru benar-benar mengajak Joana ke kamarnya. Dan lebih gilanya lagi, Xander sengaja tak menutup pintu kamar dengan rapat sehingga Stella bisa mendengar jelas suara-suara menjijikan itu.
"Nona, sebaiknya Anda pergi saja ke kamar Anda," ucap Ming tak tega melihat Stella yang begitu terpukul.
__ADS_1
"Ming, aku ingin pergi," kata Stella menubruk dada Ming dan menangis di dalam pelukan wanita itu. Semua ini benar-benar sangat menyakitkan sekali.
"Kita akan pergi Nona, bersabarlah sebentar lagi," ucap Ming menghela nafasnya berkali-kali, tangisan Stella membuat dirinya ingin sekali ikut menangis. Perbuatan ini sungguh tak bisa dimaafkan, Tuan Daniel benar-benar harus membawa Stella pergi sejauh mungkin dari suaminya yang jahat.
*****
Huek … Huek …
Pagi ketika Xander terbangun dipagi hari, perutnya terasa mual dan sangat ingin muntah. Ia segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Kejadian ini memang sering terjadi akhir-akhir ini, sepertinya dia memang harus ke Dokter untuk menanyakan masalah ini.
"Xander? Ada apa denganmu?" tanya Joana datang dengan pakaiannya yang sudah rapi.
"Tidak papa, kau mau kemana?" ucap Xander sedikit heran melihat Joana sudah berdandan rapi.
"Aku ada pemotretan pagi ini, mungkin aku tidak akan pulang nanti," kata Joana mengulas senyum manisnya.
"Tidak perlu Sayang, besok saja kau jemput aku di Apartemen. Kau istirahat saja, kau pasti sangat lelah hari ini," ucap Joana mengerlingkan matanya.
Xander tersenyum kecil, ia memang sangat lelah sekali hari ini. Padahal seharian kemarin ia tak melakukan apapun, tapi anehnya ia merasa ingin sekali menyentuh wanita setelah Joana memberinya vitamin. Padahal sebenarnya ia sama sekali tidak ingin berhubungan saat itu, tapi mungkin juga karena Joana yang sudah menggodanya terlebih dulu.
Setelah Joana pergi, Xander segera mandi dan bersiap-siap ke kantornya. Tapi langkahnya terhenti ketika sampai di meja makan.
"Selamat pagi, Tuan" sapa Ming.
"Dimana dia?" tanya Xander sedikit penasaran karena tak menemukan Stella.
"Siapa Tuan? Nona Stella?" ucap Ming ingin memperjelas siapa yang ditanyakan oleh Tuannya.
"Hm," sahut Xander acuh.
__ADS_1
"Nona Stella kembali ke kamarnya Tuan, beliau mengatakan kalau sedang tidak enak badan. Tadi Nona Stella berpesan kalau Anda ingin sarapan, Nona Stella sudah membuatkan nasi goreng untuk Anda," ucap Ming menunjuk nasi goreng yang sengaja dibuatkan oleh Stella pagi tadi.
Xander mengangkat alisnya, Stella membuatkannya nasi goreng? Tumben sekali, ia pikir Stella akan sangat marah karena kejadian kemarin, tapi kenapa malah membuatkannya nasi goreng.
"Aku tidak berselera, kau makan saja kalau kau ingin," kata Xander sedikit ketus.
"Baiklah Tuan, Saya akan memberikannya kepada Penjaga yang didepan nanti," kata Ming ingin membawa piring nasi goreng itu.
"Oh iya aku lupa, tolong ambil semua baju-bajuku yang ada di kamar. Banyak sekali yang kotor, kirimkan saja semua baju itu ke laundry yang ada di depan," kata Xander secara tiba-tiba membuat Ming tidak jadi mengambil nasi goreng itu.
"Baik Tuan, Saya akan mengambilnya nanti," kata Ming mengangguk singkat, ia kembali mengambil nasi goreng yang dimasak Stella.
"Sekarang, aku minta kau mengambilnya sekarang," kata Xander tanpa sadar berbicara cukup besar membuat Ming terkejut.
"Sekarang Tuan?" tanya Ming cukup heran dengan permintaan Xander yang terlalu mendadak ini.
"Ya, letakan makanan itu di meja. Ambil baju-bajuku sekarang juga, sekalian kau ganti seprai di kamarku!" perintah Xander sengaja memberi pekerjaan kepada Ming agar wanita itu tidak cepat kembali.
Ming mengangguk patuh, ia segera meletakkan kembali nasi goreng itu lalu beranjak pergi untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Xander.
Xander memastikan Ming benar-benar pergi, ia menatap sekelilingnya untuk memastikan memang tidak ada siapapun disana. Setelah itu ia mengambil nasi goreng yang dibuat Stella dan memakannya dengan cepat. Sejak tadi perutnya sudah tergiur oleh bau masakan ini, tapi dirinya terlalu gengsi untuk menerimanya langsung.
"Nasi goreng ini benar-benar enak," batin Xander rasanya tak cukup dengan porsi nasi goreng yang dibuat oleh Stella ini.
Setelah menghabiskan nasi goreng itu hingga licin, Xander mencuci piring bekas miliknya agar tidak ada yang tahu apa yang dilakukannya. Setelah itu barulah ia pergi ke kantor dengan perut kenyang dan hati riang.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1