
Xander melangkahkan kakinya dengan gontai menuju unit Apartemennya. Seharian ia mencari Stella ke segala tempat, namun ia sama sekali tidak menemukan jejaknya. Kenapa Stella harus pergi sebelum ia menyadari semuanya? Apakah mungkin Stella sudah begitu muak dan tidak ingin memaafkannya.
"Xander, kamu darimana saja? Kenapa tidak menjawab telepon Mama?"
Xander tertegun sejenak saat melihat Mamanya yang berada di Apartemennya. Sudah lama sekali rasanya ia tak pernah bertemu dengan Mamanya. Saat menatap wanita itu, seketika saja ingatannya langsung melayang kepada Stella.
"Mama …" Xander tak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis dan menghambur memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.
"Eh? Kamu kenapa?" tanya Mama Rita heran melihat putranya tiba-tiba menangis.
"Stella …" Xander tak sanggup lagi mengatakan apa yang telah terjadi. Hatinya sangat hancur mengetahui perselingkuhan Joana, namun hatinya lebih hancur saat Stella lebih memilih pergi meninggalkannya.
"Stella kenapa?" ucap Mama Rita memegang kedua lengan putranya.
Ia sebenarnya cukup lucu melihat Xander yang sudah besar malah menangis seperti ini, tapi seorang pria tak akan menangis jika apa yang dialami tidak benar-benar sangat menyakitkan.
"Ini semua salahku, Ma. Stella pergi meninggalkanku, seharusnya aku lebih percaya dia daripada Joana," ucap Xander harus menghela nafasnya berkali-kali untuk menyusun setiap bait kata yang akan terlontar.
"Stella pergi? Maksud kamu apa? Apa selama ini hubungan kalian?" Mama Rita tak bisa menatap Xander terkejut, ia pikir hubungan putranya dan Stella baik-baik saja selama ini.
"Tidak Ma, aku salah karena sudah …" Xander menjelaskan semua apa yang sudah dilakukannya selama ini kepada Stella.
Mama Rita yang mendengarkan ucapan putranya seketika saja seperti mendapatkan pukulan gada yang bertalu-talu dihatinya. Ia sebagai seorang wanita tahu bagaimana perasaan Stella yang melihat suaminya berselingkuh di depan matanya sendiri.
Mama Rita sangat marah saat tahu bagaimana sifat putranya yang sangat buruk. Tanpa sadar ia langsung mengangkat tangannya untuk menampar pipi Xander dengan keras hingga wajah pria itu tertoleh kesamping.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Stella! Dia itu wanita paling baik yang pernah Mama kenal! Kenapa kau malah menyakitinya!" Mama Rita kembali menampar pipi Xander untuk kedua kalinya.
Hati ibu mana yang tak sakit saat mengetahui anak yang sudah di didiknya baik-baik ternyata tak lebih dari seorang ba ji ngan.
__ADS_1
"Pukul aku lagi, Ma. Aku memang pantas mendapatkannya," kata Xander lebih rela dimarahi habis-habisan karena ia memang sangat pantas mendapatkannya.
"Mau Mama membunuhmu pun tak akan bisa merubah semuanya! Kau sudah menyakiti Stella, itu sama saja sudah menyakiti hati Mama. Astaga Xander, kenapa kau jadi seperti ini," ucap Mama Rita menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis karena rasa kecewanya yang mendalam kepada sang putra.
Xander semakin terluka melihat Mamanya seperti ini. Ia bersimpuh di hadapan sang Mama dan meminta pengampunan kepada wanita itu.
"Maafkan aku, Ma. Mama sudah benar mendidik ku, tapi hatiku terlalu gelap untuk bisa melihat semua kebenarannya. Maafkan aku, Ma" ucap Xander lirih.
"Itu semua karena kau buta akan cintamu kepada Joana. Kau tahu kenapa Mama lebih senang melihatmu menikah dengan Stella? Karena Mama tahu kalau Joana itu bukan wanita baik-baik!" ucap Mama Rita mendorong putranya menjauh.
"Kenapa Mama tidak mengatakannya padaku?" tanya Xander tak percaya kalau Mamanya juga sudah tahu sifat asli Mamanya.
"Apakah mungkin kau akan percaya? Kau terlalu mencintai wanita itu sampai kau tidak bisa melihat kebenarannya!" bentak Mama Rita.
Menyesal dan hanya menyesal, itulah yang melingkupi hati Xander. Jika ada sebutan pria terbodoh di dunia ini, maka sebutan itu sangat pantas untuknya. Ia mengabaikan wanita yang tulus mencintainya demi wanita yang ternyata tak lebih dari seorang wanita murahan dan sangat licik.
"Penyesalanmu sama sekali tidak berguna Xander, Mama harap Stella masih punya satu kata maaf untukmu," ucap Mama Rita menarik nafasnya dalam-dalam.
"Maafkan aku, Ma"
"Mama tidak akan memaafkan mu sebelum Stella memaafkan mu. Ingat kata-kata Mama, jangan menemui Mama sebelum kau berhasil membawa menantu Mama pulang," ucap Mama Rita mengambil tasnya dan buru-buru pergi.
Ia tadinya ingin menengok keadaan anak menantunya karena cukup lama tidak bertemu. Tapi ia justru hal yang sangat mengejutkan. Jika ditanya apakah ia kasihan kepada Xander? Jawabannya tentu saja iya, seburuk apapun Xander, dia tetaplah darah dagingnya. Namun ia juga harus tegas agar putranya itu merenungi kesalahannya.
Xander terdiam di tempatnya, ia bingung harus berbuat apalagi. Ia kemudian bangkit lalu berjalan menuju kamar Stella. Setiap langkahnya menuju kamar Stella, tiba-tiba saja sekelebat bayangan saat Stella masih ada disana muncul.
"Xander, kau baru bangun? Mau sarapan dulu, atau mandi dulu?"
Kata pertama yang sering Stella katakan saat ia keluar dari kamarnya. Wajah wanita itu selalu tersenyum ceria, namun ia sama sekali tak menggubrisnya.
__ADS_1
"Makan dulu ya, hari ini aku masak …"
"Apakah kau tidak bisa diam? Telingamu panas mendengar ocehanmu!"
Tapi apa yang dilakukannya? Ia justru membentak dan memaki-maki wanita itu tanpa memikirkan perasaannya sama sekali.
Xander mendongakkan kepalanya, ia menghalau air mata yang memaksa ingin keluar. Hembusan nafasnya kian berat saat ia masuk kedalam kamar Stella. Dimana di kamar itu, ia selalu menyentuh Stella dengan kasar dan tanpa perasaan.
"Stella, kamu dimana Sayang ..." batin Xander tak sanggup lagi mengingat apa yang sudah di perbuatanya selama ini pada Stella.
Jika Xander boleh meminta, ia ingin sekali bertemu satu kali lagi dengan Stella. Ia ingin bersujud di kaki wanita itu dan mengganti seluruh luka yang pernah ia torehkan.
Semalaman ini, hal yang dilakukan Xander hanyalah berdiam diri di kamar Stella, mengingat jelas semua dosa yang pernah diperbuatnya dan menyesali semuanya meski sama sekali tak berguna.
Ia sama sekali tak tidur sepanjang malam, ketika esok kembali datang. Xander teringat sesuatu, ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Luke. Ia tak boleh terus menerus seperti ini, ia harus melakukan sesuatu untuk menemukan Stella.
"Halo Luke, apa kau sudah melacak dimana Daniel berada?" tanya Xander memijit pangkal hidungnya yang terasa sangat pegal karena tidak tidur semalaman.
"Anak buah kami masih kesulitan untuk mencarinya Tuan, sepertinya Tuan Daniel sudah merencanakan ini matang-matang,"
Xander menggenggam tangannya erat, ternyata Daniel sudah satu langkah di depannya. Ia sekarang harus berusaha keras mencari titik terang masalah ini.
"Baiklah, hubungi aku jika ada kabar sekecil apapun," ucap Xander mematikan sambungan teleponnya. Ia mencoba bangkit dari duduknya, ia harus ikut berusaha mencari Stella.
Saat ia bangkit, kepalanya terasa sangat pusing hingga ia hampir saja terhuyung. Namun ia sama sekali tak memperdulikan rasa sakit itu, rasa sakit itu tak sebanding dengan apa yang Stella dapatkan selama ini.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1