
Stella sedikit kaget dengan pertanyaan itu, namun ia hanya bersikap biasa saja.
"Belum, Stella belum menikah Nyonya," sahut Stella tersenyum canggung, dalam hatinya ia merasa bersalah karena tidak mengakui suaminya sendiri.
"Oh, saya kira sudah. Putraku juga belum menikah," ucap Nyonya Radha menatap Stella dan Daniel bergantian.
Daniel mengerutkan dahinya, kenapa ibunya harus mengatakan hal seperti itu, namun ia tak mengatakan apapun, ia melanjutkan saja menyantap makan siangnya.
"Kak Stella, ayo main dong Kak," seorang anak perempuan kecil menghampiri Stella membuat semua perhatian teralihkan padanya.
"Luvi, mau main apa? Udah makan belum,?" ucap Stella mengulurkan tangannya kepada bocah yang berumur lima tahun itu.
"Sudah, Kakak sudah ditunggu yang lain," kata Luvi menjelaskan.
"Oh iya, Kakak lupa kalau mau main. Yaudah kita kesana sekarang," kata Stella tersenyum seraya menjawil pipi Luvi.
"Tuan, Nyonya, saya permisi dulu, silahkan lanjut makan siangnya. Permisi," ucap Stella berpamitan kepada keluarga Mahendra lalu pergi darisana.
Daniel mengikuti gerak tubuh Stella yang perlahan menjauh. "Apa mungkin memang benar itu dia ..." batin Daniel menerawang jauh.
*****
Daniel menatap Stella yang sedang menemani anak-anak panti itu bermain. Mereka sedang melakukan permainan kucing dan tikus. Stella bertugas menjadi kucing yang mengejar anak-anak kecil itu.
"Kakak menangkapmu!" teriak Stella tersenyum senang saat berhasil menangkap Luvi.
"Ini tidak adil, Kakak besar bisa mudah mendapatkan kita yang kecil, Kakak harus melawan orang besar juga," kata Luvi memprotes di ikuti anak-anak lainnya.
"Iya benar, Kakak harus melawan Kakak itu biar adil," ucap yang lainnya menunjuk Daniel yang sejak tadi berdiri menatap ke arah mereka.
"Eh? Aku?" kata Daniel kaget dengan permintaan anak kecil itu.
Stella langsung menoleh, ia mengerutkan dahinya saat melihat sosok Daniel disana.
"Iya, ayo Kak kita bermain. Kakak lawan Kak Stella," kata Luvi menarik tangan Daniel untuk bergabung dengan yang lainnya.
"Luvi, Kak Daniel tidak bisa bermain ini sayang," kata Stella sungkan jika harus bermain dengan Daniel.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Luvi kembali memprotes membuat Stella kebingungan menjelaskannya.
__ADS_1
"Ya, kenapa tidak bisa? Aku mau bermain ini," ucap Daniel kini menatap lekat-lekat wajah Stella.
"Eh? Anda tidak keberatan Tuan?" ucap Stella menatap Daniel ragu.
"Kalau aku keberatan, aku tidak akan ada disini. Ayo, lawan aku," kata Daniel dengan santai melepas jasnya.
Stella semakin bingung dengan sikap Daniel ini, namun ia kemudian tersenyum tipis melihat Daniel yang sudah bersiap di dalam lingkaran.
Permainan pun segera di mulai, Stella beberapa kali mencoba ingin masuk kedalam lingkaran untuk mendapatkan Daniel, namun anak-anak itu juga langsung cepat menutup lingkarannya hingga membuat Stella kesusahan.
"Hahaha ... Ayo kucing, tangkap aku," seru Daniel tak henti tertawa saat melihat wajah Stella yang mulai kesal.
"Kalau berani keluar," kata Stella mendengus kecil, tidak menyangka kalau Daniel juga cukup mengesalkan.
"Siapa takut," kata Daniel malah senang dengan gaya Stella yang menantangnya.
Daniel benar-benar keluar dari lingkaran itu, ia berlari dan Stella segera mengejarnya. Dengan kakinya yang panjang, Daniel tentu saja bisa sangat cepat berlari di bandingkan Stella. Anak-anak kecil yang saling bersorak membuat suasana sangat riuh.
"Ayo, tangkap aku. Jangan menyerah kucing," kata Daniel mengulas senyum mengejeknya kepada Stella yang mulai kelelahan.
"Tidak, siapa bilang aku menyerah?" kata Stella tak terima dikatakan menyerah, ia kembali berlari untuk mengejar Daniel, namun tak sengaja kakinya tersandung hingga ia terjatuh.
"Hei, apa kau baik-baik saja?" tanya Daniel membantu Stella untuk bangkit. Namun tiba-tiba saja Stella tersenyum jahil dan menyentuh pundak Daniel.
"Aku menangkapmu! Yeay ... aku menang" seru Stella melompat kegirangan karena berhasil menipu Daniel, tingkahnya yang seperti anak kecil itu membuat Daniel tersenyum.
"Kakimu terluka," ucap Daniel cemas melihat lutut Stella yang berdarah.
"Oh, ini tidak apa-apa Tuan. Nanti juga akan sembuh," kata Stella tersenyum kecil, luka itu tidak begitu terasa baginya. Ia bahkan pernah mendapatkan luka yang lebih parah dari ini.
"Tidak, ini harus di obati, ayo" tanpa meminta persetujuan Stella, Daniel menarik wanita itu untuk duduk di kursi taman. Ia juga meminta Luvi untuk mengambilkan kotak P3K untuk mengobati luka Stella.
"Tuan, aku benar-benar tidak apa-apa. Anda tidak perlu mengobati saya," kata Stella semakin tidak enak karena sikap Daniel ini.
"Diamlah, jangan selalu berkata kalau kau baik-baik saja. Kau itu sedang terluka Stella," kata Daniel benar-benar khawatir sekali.
Stella mengerutkan dahinya, merasa sikap Daniel ini cukup berlebihan. Pria itu bahkan tanpa ragu duduk berjongkok di depan Stella untuk mengobati lukanya.
"Apa kita pernah mengenal sebelumnya?" tanya Stella entah kenapa berpikir ke arah sana.
__ADS_1
Daniel hanya melirik Stella tanpa ada niatan untuk menjawab. Ia malah fokus membersihkan luka Stella dengan anti septik agar tidak infeksi.
"Kau dari dulu memang ceroboh," celetuk Daniel lagi.
"Dari dulu?" Stella semakin yakin kalau mereka berdua memang pernah mengenal sebelumnya. Ia menatap lekat-lekat wajah Daniel yang semakin lama, entah kenapa terasa sangat familiar.
"Sudah, jangan kenakan air dulu ya, nanti biar cepet sembuh," kata Daniel menempelkan dua jarinya dibibir lalu di tempelkan di luka Stella.
Mata Stella membesar saat melihat tingkah Daniel itu, seketika saja ingatannya melayang pada saat 20 tahun yang lalu. Dulu pernah ada seorang anak laki-laki yang juga melakukan ini padanya saat ia terluka, dan orang itu...
"Kak Niel?" seru Stella tak bisa menutupi rasa kagetnya.
"Akhirnya kau mengingatku Lala," kata Daniel tersenyum kecil.
"Jahat banget sih! Kenapa nggak bilang dari tadi? Ih, jahat!" ucap Stella memukul lengan Daniel dengan keras, matanya bahkan sudah berkaca-kaca karena bisa bertemu lagi dengan pria ini.
"Aduh, jangan memukulku lagi, aku akan mengadukanmu kepada Mama," kata Daniel pura-pura kesakitan.
"Biarkan saja! Rasakan ini, rasakan," kata Stella kembali memukuli Daniel, namun tidak terlalu keras.
"Aku pikir kau sudah melupakanku," kata Daniel semakin melebarkan senyumnya.
"Tentu saja aku lupa, kau dulu tidak setinggi ini," kata Stella ikut tersenyum lebar.
"Well, apa tidak ada pelukan selamat datang untuk pertemuan pertama kali ini?" kata Daniel mengerlingkan matanya.
"Aku tidak mau," sahut Stella sedikit ketus.
"Tidak mau?" kata Daniel mengerutkan dahinya.
"Tapi kau yang kau yang harus memelukku, kemarilah" kata Stella membuka kedua tangannya.
Daniel tertawa seraya menggelengkan kepalanya, perlahan ia mendekatkan dirinya lalu memeluk Stella erat. Tak ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan Daniel saat itu. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan sosok wanita yang menjadi cinta pertamanya ini.
Sedangkan bagi Stella, ia hanya menganggap Daniel sebagai seorang Kakak. Dulu waktu kecil, mereka sering bermain karena Daniel sering datang ke panti. Tapi setelah Stella di angkat anak oleh keluarga Medison, mereka tidak pernah bertemu lagi sampai saat ini.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya guyss...