Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Akhir Kisah Tania Dan Joana.


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang dan semuanya terungkap. Medison akhirnya mengusir Tania dan juga Joana. Meski wanita itu meminta maaf dan memohon, Medison sama sekali tidak menggubrisnya. Ia bukan orang bodoh yang tidak bisa melihat sikap Tania yang sama sekali tidak ada penyesalan sedikit pun karena telah melakukan ini semua.


"Aku bukannya kejam, tapi kau yang sudah membuatku seperti ini Tania. Aku tidak memasukan mu ke penjara itu sudah menjadi bentuk kebaikanku. Maka sekarang pergilah sejauh mungkin dari keluargaku," ucap Medison datar.


"Aku akan pergi kemana Kak? Kakak tidak kasihan dengan kondisi Joana? Dia sakit dan dia masih butuh perawatan," ucap Tania menatap kedua Kakaknya bergantian.


"Kakak, aku tahu kau masih menyayangi Joana, jika aku pergi tolong jangan usir dia. Biarkan dia tetap menjadi anak kalian," ucap Tania bersimpuh di kaki Kakaknya Melisa.


"Kau tidak perlu berbuat seperti itu Tania. Jawabanku tetap sama seperti sebelumnya. Kalian tetap harus angkat kaki dari sini!" ujar Medison benar-benar tak bisa mentolerir masalah ini.


"Kakak, hanya Joana Kak, aku mohon," pinta Tania tetap menangis di bawah kaki Kakaknya.


"Pa ..." Melisa ternyata tidak setega itu jika harus mengusir Joana, apalagi wanita itu sedang sakit.


"Keputusan Papa sudah bulat. Mereka akan tetap harus meninggalkan rumah ini. Bahkan kalau bisa kalian harus pergi sejauh mungkin. Untuk masalah Joana, aku akan memastikan biaya pengobatannya sampai sebuh, tapi dengan syarat, Jangan pernah tunjukan lagi wajah kalian di depanku, bahkan jika kita bertemu, kalian harus pergi sejauh mungkin. Kau mengerti itu?"


Tania semakin mengencangkan tangisnya, se benci itukah Medison kepada mereka berdua. Ia memang bersalah, tapi Joana tidak salah apapun dalam hal ini.


Sudah tidak ada jalan lain selain menerima semua ini, daripada ia dan Joana harus hidup terlunta-lunta di jalanan. Akhirnya dengan berat hati Tania mengangguk lemah, ia akan pergi sejauh mungkin dari keluarga ini.


*****


Xander melipat tangannya di atas perut, wajahnya terlihat begitu masam dan tak bersemangat. Setelah kejadian tadi siang, Stella kini seolah menjadi hak milik orang tua barunya. Ia bahkan sejak tadi belum ada kesempatan mengobrol dengan istrinya karena Mama Melisa masih asyik melepas rindu.


"Ini tidak bisa dibiarkan!" gerutunya kesal sendiri. Ia sepertinya harus memanggil istrinya itu agar mereka memiliki waktu berdua.


Xander melangkahkan kakinya terburu-buru keluar dari kamar hotel, namun saat tiba di pintu ia hampir saja bertabrakan dengan orang hingga orang itu hampir saja jatuh kalau ia tidak menangkapnya.


"Stella!" serunya terkejut.


"Kau mau kemana? Kenapa buru-buru?" tanya Stella.

__ADS_1


Xander berdecak kesal, mau kemana katanya? Dasar tidak peka, batin Xander kesal.


"Aku mau memanggilmu, ayo masuk," ucap Xander langsung menarik tubuh istrinya dan menutup pintunya lalu menguncinya.


"Eh, kau ini kenapa?" tanya Stella semakin keheranan.


"Aku merindukanmu," ucap Xander menarik pinggang Stella mendekat ke arahnya.


"Aku juga," ujar Stella tak kalah rindunya dengan Xander.


Keduanya saling tatap mengingat saat beberapa saat yang lalu. Dimana saat Xander di jebak oleh Bibi Tania dan mengirimkan foto-fotonya kepada Stella.


Saat itu Stella tentunya sangat marah dan kecewa kepada Xander. Namun Mama Rita berkata padanya kalau semua itu pasti ulah Tania dan Joana. Stella tidak tahu harus percaya atau tidak saat itu. Akhirnya Mama Rita menyusun rencana agar dia berpura-pura marah pada Xander.


Tujuannya tentu saja membuat Joana percaya kalau rencananya sudah berhasil membuat mereka salah paham. Selama ia tidak bersama Xander, Stella diam-diam mencari bukti tentang kelicikan Joana dengan dibantu oleh Papa Mertuanya dan juga Luke.


Saat itulah fakta-fakta baru mulai terungkap hingga pada saat Joana datang memintanya untuk bercerai dengan Xander. Hal itu langsung dimanfaatkan oleh Stella menjalankan rencananya.


Xander tentunya sangat marah karena pria itu memang tidak tahu apa alasan di balik semuanya.


"Kau pasti tahu maksudku," ucap Stella waktu itu seraya menyerahkan kertas kecil yang berisi semuanya.


"Kenapa kalian merencanakan ini tanpa sepengetahuanku?" protes Xander masih tak terima karena tidak dilibatkan dalam rencana itu sebelumnya.


"Kalau aku mengatakannya, respon mu pasti tidak akan bisa senatural itu," kata Stella tertawa kecil.


"Ya, tapi setidaknya kan bisa bilang dulu. Kau tidak tahu saja, aku sampai hampir gila waktu itu," kata Xander cemberut.


"Untung nggak gila beneran," sahut Stella santai.


"Kau ini," Xander mencubit gemas pipi Stella. "Lain kali jangan pernah minta bercerai lagi dariku, lebih baik kau membunuh ku saja daripada kau meminta itu," ujar Xander memeluk Stella erat, ia benar-benar tak bisa kehilangan wanita ini.

__ADS_1


"Tidak akan pernah, aku masih terlalu muda untuk menjadi janda," kata Stella malah sengaja menggoda Stella.


"Sayang, pokoknya aku tidak mau kehilanganmu. Aku mencintaimu," ucap Xander mengeratkan pelukannya, akhirnya setelah sekian lama ia bisa memeluk istrinya kembali.


"Aku juga by ..." ucap Stella balas memeluk Xander erat.


Xander lalu mengurai pelukannya, ia menyentuh lembut pipi Stella, jempolnya mengusap lembut bibir Stella dan sorot matanya begitu mendamba. Xander mendekatkan wajahnya bersiap mencium bibir Stella namu wanita itu malah memalingkan wajahnya hingga ciuman Xander mengenai pipi.


"Kenapa?" tanya Xander mengerutkan dahinya, apa Stella tidak tahu ia sejak tadi sudah menahan dirinya.


Stella mendorong bahu Xander menjauh lalu melipat tangan di atas perut. "Jangan kau pikir aku tidak marah ya by karena kau sudah menyembunyikan masalah sebesar ini dariku," kata Stella menyipitkan matanya.


"Astaga, aku hanya tidak mau membebani pikiranmu Sayang," Xander menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tetap saja hal itu salah, kau tahu alasan kenapa rumah tangga orang sering berantakan? Semua itu karena komunikasi yang kurang, aku adalah istrimu, jadi semua yang terjadi padamu aku berhak tahu by. Jika kau hanya diam saja, lalu apa tugasku sebagai seorang istri?" kata Stella benar-benar masih kesal dengan sikap Xander yang tidak terbuka padannya.


"Iya Sayang, aku salah, maafin aku ya," bujuk Xander memegang kedua lengan Stella.


"Enggak! Aku masih kesel, untung aja Mama Rita sama Papa bisa bantu masalah ini. Kalau nggak bagaimana? Hubby bakalan kembali lagi pada Joana? Iya?" cerca Stella tak semudah itu luluh.


"Mana mungkin aku kembali padanya, aku sudah punya kamu yang lebih dari segalanya Sayang. Maaf ya ..." kata Xander mencium kedua tangan Stella, membujuk istrinya dengan lembut.


"Gombal banget, pokoknya aku masih kesel titik." Stella langsung buru-buru merebahkan tubuhnya di kasur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Sayang udah dong ngambeknya, kamu nggak kasihan sama aku," Xander merengek seraya melihat juniornya yang sedang mode on.


"Bodo amat!"


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2