
Kota Surabaya sering disebut sebagai kota terbesar kedua setelah kota Jakarta. Di sana juga banyak bisnis dan juga pabrik yang beroperasi sangat banyak. Popularitas penduduknya juga cukup banyak, tak jarang ada orang luar yang tinggal menetap di kota Surabaya, namun kebanyakan warga yang ada di kota Surabaya merupakan warga pendatang dari daerah-daerah yang mencari pekerjaan.
Sebelum berangkat bekerja, sering berjalan-jalan di taman kota. Selain bagus untuk kesehatan, Stella juga sering mencari makanan-makanan yang kadang tak ditemukannya di kota Jakarta.
Pagi ini kota Surabaya cukup mendung karena semalam baru saja hujan deras, cuacanya masih juga sangat dingin. Stella berjalan-jalan ditemani oleh Maira, temannya itu tinggal tak jauh dari Apartemen tempat Stella tinggal, jadi mereka cukup sering keluar bersama.
"Hari ini mau beli apa lagi?" tanya Maira seraya melihat-lihat pedagang kaki lima yang sudah berjejer rapi di pinggir jalan.
"Masih pagi, aku sebenarnya belum selera makan sih," ujar Stella tidak terbiasa makan pagi-pagi.
"Oke, kita jalan-jalan aja. Nanti kamu jadi periksa kandungan?" tanya Maira.
"Jadi, harusnya jadwalnya kemarin sore. Tapi kamu tahu sendiri kemarin hujan sampai malem," ujar Stella.
"Kamu kenapa memilih pindah ke sini?" tanya Maira cukup penasaran sebenarnya tentang kehidupan setelah sebelumnya. Namun ia juga tak ingin terlalu kepo.
"Cuma tempat ini yang kepikiran waktu itu," ucap Stella singkat.
"Tapi kamu beneran nggak ada hubungan apa-apa sama Tuan Daniel?" tanya Maira lagi.
"Enggak Maira, aku sama kak Daniel itu cuma berteman. Dia udah banyak bantuin aku, Ra" ucap Stella menjelaskan.
"Aku nggak tahu masalah kamu apa, tapi menurut aku lari dari masalah itu bukan pilihan yang bagus," ucap Maira secara tiba-tiba.
"Aku nggak lari dari masalah, Ra. Tapi semuanya memang sudah berakhir," ucap Stella lirih di akhir kalimatnya, hatinya mendadak mengharu biru jika mengingat rumah tangganya yang sangat menyakitkan.
"Kenapa harus berakhir? Apa Ayah dari anak itu tidak mau bertanggung jawab?" tanya Maira terkesan lancang, tapi selama ini ia memang berpikir kalau Stella memilih pergi karena ayah dari bayinya itu tidak ingin tanggung jawab.
"Aku nggak yakin kalau Ayahnya tau dia ada disini," sahut Stella setelah terdiam cukup lama, hatinya nyeri sekali jika mengingat Xander yang tidak pernah menginginkan anak dari wanita seperti dirinya.
Kali ini Maira yang terdiam, sepertinya ia sudah tahu pakar masalahnya. "Kau tau, dulu ibuku juga sepertimu," ucap Maira menerawang jauh.
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Stella memandang Maira yang wajahnya berubah sendu.
"Ya, aku tidak pernah tahu siapa Ayahku Stell,ibuku tidak pernah bercerita meski aku selalu bertanya padanya," ucap Maira, dalam nada suaranya terdengar kesedihan yang sangat mendalam.
"Kamu nggak sendiri, Ra. Aku juga tidak pernah tahu seperti apa wajah kedua orang tuaku dari aku kecil," kata Stella mengulas senyum tipis, namun senyuman itu terlihat sangat miris.
"Kamu?" Maira memandang setelah seolah tak percaya.
"Iya benar, aku hanya anak yatim piatu Ra. Orang tua kandungku lebih memilih membuang ku dari aku bayi, sepertinya aku anak yang tidak diinginkan," ucap Stella tersenyum kecut
Melihat senyum kecut Stella, entah kenapa perasaan Maira jadi tak enak. "Jangan sedih, kita berdua pasti bisa melewati ini semua," kata Maira tersenyum tipis.
"Ya, tetaplah menjadi teman baikku, Ra" ucap Stella memandang Maira penuh harap.
"Teman? Kenapa kita tidak jadi saudara saja? Aku dari dulu ingin mempunyai saudara perempuan," ujar Maira lagi.
"Memangnya kamu mau punya saudara sepertiku?" ucap Stella.
Stella mengembangkan senyumnya, ia lalu menghentikan langkahnya dan menatap Maira yang juga menatapnya. Tanpa mengucapkan kata, mereka berdua lalu berpelukan erat. Bagi orang yang tidak mempunyai keluarga seperti Stella mendapatkan satu seorang teman adalah hal yang sangat berharga baginya jika teman bisa menjadi keluarga kita harus senantiasa menjaganya.
******
Xander tiba di kota Surabaya setelah mengambil jam penerbangan pagi. Semalam begitu Papanya mengatakan kalau Tuan Herlambang sudah setuju bertemu dengan Xander, ia tak membuang waktunya lagi. Ia langsung mengurus keperluannya dan berangkat keesokan paginya.
"Apa kita ke hotel dulu, Tuan?" tanya Luke.
"Kita langsung ke tempat Tuan Herlambang saja," sahut Xander melihat jam ditangannya. Ia benar-benar berkejaran dengan waktu, ia juga sangat berharap kalau Tuan Herlambang mau bekerja sama dengannya.
"Asisten beliau mengatakan kalau pagi ini Tuan Herlambang masih ada acara keluarga, kita diminta datang ke kantor nanti siang, Tuan" ucap Luke baru saja membuka tabletnya dan baru membaca pesan yang dikirimkan oleh Asisten Tuan Herlambang.
"Kita ke hotel dulu kalau begitu," kata Xander mengangguk singkat, mungkin ia juga harus beristirahat sejenak karena tubuhnya yang cukup lelah.
__ADS_1
Xander langsung melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat mereka menginap. Xander menyandarkan kepalanya seraya menatap jalanan yang super padat itu,di jam-jam seperti ini, memang jamnya macet karena orang berangkat bekerja dan juga sekolah. Ia ingin memejamkan matanya untuk mengurangi rasa pegal yang mengganjal di pelupuk mata, namun tiba-tiba saja ia melihat siluet wanita yang sangat ia kenal.
"Stella ..." ucapnya langsung menegakkan tubuhnya dan mengamati sosok wanita itu.
"Anda mengatakan sesuatu, Tuan?" tanya Luke.
Xander tak menyahut, ia terus memperhatikan wanita yang kini sedang berjalan bersama temannya itu. Mata Xander membesar saat tahu jika wanita itu memang Stella. Xander sangat hafal, meski hanya melihat wanita itu dari samping.
"Stella, itu benar-benar Stella," Xander tak membuang waktunya, ia bergegas turun untuk menemui wanita itu.
"Tuan, Anda.akan kemana Tuan?" Luke tak bisa ikut turun karena saat ini posisi lampu merah sudah berganti lampu hijau.
Perasaan Xander campur aduk tak karuan, antara senang, cemas, semuanya bergabung menjadi satu. Dengan langkah tak sabar, Xander berlari agar secepatnya sampai. Namun karena rasa senang yang membuncah, membuat Xander tak memperhatikan jalanan. Saat itu lampu sudah berganti menjadi hijau dan Xander yang tak sadar malah menyeberang tanpa melihat kanan kirinya.
Dan terjadilah ....
BRAKK!!!!
Sebuah mobil sedan hitam melaju dengan kencang dan menabrak Xander hingga tubuhnya terpental. Semua orang memekik kaget, mereka berbondong-bondong melihat keadaan Xander yang terjatuh di pinggir jalanan.
Stella yang memang berada di sana ikut melihat kejadian itu, ia ingin melihat apa yang terjadi, tapi karena sangking banyaknya orang yang mengerumuninya, jadi Stella tak bisa melihatnya.
"Stella, aku udah dapat nih bubur ayamnya, kita pulang yuk, udah siang nih,"
"Iya, itu ada kecelakaan kayaknya," ujar Stella menunjuk kerumunan orang-orang.
"Biarin aja, nanti udah ada yang urus. Pada lihat juga paling cuma ngambil gambar," ucap Maira sudah hafal kebiasaan orang jaman sekarang, mereka lebih mementingkan mengambil gambar daripada menolong korban yang terluka.
Stella mengangguk setuju, ia segera pergi dari tempat itu. Sesekali ia masih menengok ke belakang, ia merasa cukup penasaran sebenarnya, tapi ia juga tak mungkin melihatnya langsung.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.