
Joana berteriak sekeras-kerasnya, tatapan penuh ketakutan dan kekhawatiran itu benar-benar tidak bisa disembunyikannya. Wanita itu jika sudah mencintai prianya, pasti akan menjadi sangat emosional dan terkesan berlebihan. Tapi apakah itu salah? Joana hanya ingin Devan baik-baik saja dan kembali ke jalan yang benar.
"Apa yang kamu katakan?" Devan menggelengkan kepalanya.
"Mengikuti caramu. Jika memang tidak ingin berhenti, artinya aku juga akan ikut menghancurkan hidupku bersamamu," kata Joana.
"Ck, banyak hal yang kamu tidak tahu, Joana. Semua tidak semudah seperti kita membalikkan telapak tangan. Jika memang semudah itu, aku pasti akan berhenti sejak dulu," ujar Devan mengacak rambutnya frutasi.
"Pasti bisa, Dev. Aku akan bersamamu," tutur Joana mengulurkan tangannya pada Joana.
Devan tidak menjawab, dia hanya diam menatap Joana yang kini memandangnya penuh kekhawatiran itu. Sebuah tatapan yang membuat hatinya seperti disirami oleh air yang sangat menyejukkan. Mungkin bisa dibilang tatapan itu adalah kali pertama ia dapatkan setelah ibunya berpulang.
Joana mendekati Devan, ia memegang pipi pria itu. "Percaya padaku, Dev. Aku pasti akan selalu mendukungmu. Tapi tinggalkan semua ini, apakah bisa?" lirih Joana dengan penuh permohonan.
Hati Devan semakin tersentuh, ia hanya mengangguk sebagai jawaban karena tidak sanggup untuk mengatakan apapun.
Namun, hal itu sudah membuat Joana sudah sangat lega, ia segera memeluk Devan dan dibalas pelukan erat oleh pria itu.
"Berjanjilah padaku, kamu benar-benar akan berhenti," kata Joana.
Devan mengangguk cepat seraya mengusap punggung Joana dengan lembut. Ia masih menenggelamkan wajahnya dikeharuman rambut wanita itu yang terasa sangat menenangkan.
"Baiklah, ini sudah siang. Aku akan meminta Tita untuk mengantarkan makanan. Kamu belum minum obat tadi," ujar Joana teringat jika Devan masih sakit.
"Bukannya sudah?" Devan mengerlingkan sebelah matanya.
"Apanya?" Joana mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Yang tadi itu sudah menjadi obat untukku. Masih belum sembuh sih, tapi kalau ditambah lagi, sepertinya boleh juga," kata Devan mengulas senyum yang tidak biasa.
"Ditambah apa?" Joana mendadak gugup, jelas ia paham sekali maksud Devan itu, tapi ia hanya berpura-pura tidak tahu saja.
"Kamu sangat tahu maksudku, Joana. Karena kamu memintaku tetap tinggal, sebagai gantinya ...." Devan langsung meraih tubuh Joana dan menggendongnya dengan mesra lalu mengajaknya ke kamar.
"Dev!" pekik Joana terkejut, ia langsung melingkarkan tangannya ke leher Devan.
"Ssstttttt ... Kamar ini tidak kedap suara jika jendelanya dibuka," bisik Devan.
"Apa?" Joana semakin terkejut, ia malah menerka-nerka apakah tadi suara mereka berdua bersuara keras atau tidak? Bagaimana kalau para pelayan mendengar?
Namun, Joana sama sekali tidak mendapatkan jawaban, ia justru mendapatkan serangan ciuman yang membabi buta dari Devan yang membuat ia lupa segalanya. Padahal tadinya ia lelah, tapi setelah Devan menggodanya dengan sentuhan-sentuhan yang memabukkan, ia sudah tidak ingat apapun, seperti meninggalkan dunia barang sejenak.
__ADS_1
"Devan ... Ahhhhhhhhh."
_________
Suara detik jarum jam terdengar sangat nyaring. Suasana sudah sangat sepi sekali karena waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam. Hembusan angin yang sejuk masuk melalui celah jendela Devan yang terbuka, membuat sosok wanita mungil yang kini berada di pelukan Devan itu sedikit menggeliat lalu memeluk tangan Devan dengan sangat posesif.
Devan hanya diam, matanya bergerak-gerak seperti memikirkan sesuatu. Ia lalu melirik Joana yang tertidur sangat pulas itu. Hampir seharian ini Joana benar-benar tidak memperbolehkannya untuk pergi kemanapun. Ia hanya menghabiskan waktu mereka berdua dengan bersantai dan beristirahat.
Devan lalu mengambil ponselnya dengan gerakan yang sangat pelan agar Joana tidak terbangun. Ia mengirimkan pesan kepada Ken, lalu menutupnya kembali.
Setelah itu, Devan memeluk Joana yang kini tertidur membelakanginya dan memeluk tangannya. Ia mengusap pipi Joana perlahan lalu mencium pipinya.
"Maafkan aku," bisik Devan lalu dengan gerakan sangat halus menarik tangannya agar terlepas dari pelukan posesif Joana.
Joana menggeliat, tapi ia tidak bangun membuat Devan cepat-cepat mengambil bajunya di kemari dan juga senjatanya. Ia mungkin bisa berjanji untuk berhenti, tapi sejatinya ia tidak akan benar-benar bisa berhenti. Banyak hal yang justru akan ia pertaruhan jika ia akan berhenti pada saat ini.
Yang harus Devan lakukan adalah menyelesaikan apa yang telah Devan mulai.
Setelah semuanya siap, Devan langsung berjalan keluar kamar. Tapi ia ingat akan Joana, ia mencium kening wanita itu kembali lalu membenarkan selimutnya. Malam ini juga ia harus menuntaskan rasa penasaran pada sosok musuh yang sudah menampakkan dirinya itu.
Namun, mau sepelan apapun Devan bertindak, Joana tetap mendengarnya karena wanita itu sudah terbangun saat Devan mencium pipinya untuk pertama kali.
Joana membuka matanya, ia mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir.
_________
Suara dentuman musik terbesar sangat keras mengisi ruangan yang kini dipenuhi oleh gemerlap lampu warna-warni itu. Pria dan wanita saling membaur dengan kebutuhannya masing-masing.
Sejauh ini club itu adalah club termahal dan sangat ramai di kota tersebut. Tidak heran jika pengunjungnya sangat ramai dan sering digunakan tempat Devan mencari mangsa baru.
Devan dan anak buahnya langsung terlihat mencolok saat mereka datang. Beberapa orang yang sudah mengenalnya langsung menyingkir untuk memberikan jalan. Beberapa jala ng kecil juga terlihat ingin mendekati Devan tapi dengan cepat anak buahnya menendangnya karena mereka tidak pantas dengan Tuan mereka yang sangat sempurna.
"Marko, keluar!" Ken langsung berteriak begitu mereka sampai di ruangan VIP yang sering digunakan oleh pemilik klub itu bersantai.
Beberapa orang yang ada disana tampak saling memandang dengan ekspresi takut. Ruangan itu sepenuhnya digunakan untuk bermain kasino oleh pengusaha kelas atas dan pastinya sudah banyak yang mengenal Devan.
"Lanjutkan saja, aku hanya ada keperluan dengan Marko," kata Devan seraya menikmati rokoknya.
Tak lama kemudian terlihat seorang pria dengan perawakan kecil keluar dari sebuah ruangan. Ekspresinya langsung terkejut begitu melihat sosok Devan yang sudah duduk dengan santai di klub miliknya.
"Tuan Devan? Kapan Anda datang? Kenapa tidak berkabar dulu?" ucap Marko tergopoh-gopoh menghampiri Devan lalu berdiri dihadapan.
__ADS_1
Devan masih menikmati rokoknya, ia memberikan gestur untuk Marko duduk dan pria itu langsung menurut.
"Sudah berapa lama kita bekerja sama?" tanya Devan tiba-tiba.
"Sudah sangat lama, Tuan Devan. Saya relasi setia Anda," sahut Marko dengan cepat, ia sudah menyiapkan mental jika Devan akan marah nantinya.
"Begitu ya?" Devan mengangguk-angguk seraya bangkit dari duduknya, ia berdiri lalu mendekati Marko yang sangat ketakutan itu.
"Jadi, siapa orang yang telah mengkhianatiku? Aku dengar ada barang baru selain barangku yang ada disini, benar Marko?" Devan bertanya dengan nada pelan, tapi tanpa siapapun duga, ia menyulut tangan Marko dengan mematikan rokoknya di lepak tangan pria itu layaknya asbak.
"Arghhhhhhhh shittttt!" Marko menjerit-jerit kesakitan, panas dan kulitnya seketika langsung terbakar karena ulah Devan.
Devan ini benar-benar orang yang kejam, pria itu tidak suka mengancam. Jika ingin melakukan, maka akan ia lakukan.
"Kamu tahu aku sangat benci pengkhianat. Katakan, siapa baji ngan kecil itu?" sentak Devan mulai tidak sabar.
"Saya benar-benar tidak tahu, Tuan." Marko menggelengkan kepalanya.
"Apa aku perlu menghancurkan tempat ini agar aku menemukan sendiri barang itu? Semua yang beredar berasal darisini, Marko!" Devan kembali membentak seraya menarik kerah baju Marko dengan kasar.
"Tuan Devan, tolong ampuni saya. Semua itu benar-benar diluar kendali saya. Tidak tahu siapa yang telah menjualnya, tapi barang itu sangat cepat beredar disini," ucap Marko terbata-bata, tubuhnya sangat mungil jika bersanding dengan Devan. Pria itu pasti dengan mudah akan menghabisinya.
"Tidak ada gunanya, Tuan. Biar saya yang bereskan. Lebih baik menyakiti dirimu sendiri atau keluargamu yang ada di rumah?" Ken ikut bertindak, ia mengeluarkan pisaunya dan tiba-tiba menekan leher Marko dan mendorong pria itu ke meja.
"Arghhhhhhhh ampun, Tuan. Ampuni saya.", Marko berteriak sekeras mungkin, ia sangat takut sekali hingga rasanya ingin pingsan.
"Cepat katakan siapa pelakunya?" hardik Ken, percayalah ia bisa lebih menyeramkan dari Devan jika marah seperti ini.
Marko mendesis pelan seraya mengepalkan tangannya. "Saya benar-benar tidak tahu. Orang itu bekerja sendiri dan tidak mencolok. Saya menduga dia orang yang sangat paham situasi disini," ucap Marko dengan sejujur-jujurnya.
"Pembohong!" teriak Ken begitu marah.
"Hancurkan semuanya!" titah Ken pada anak buahnya.
Mereka langsung sigap, menghancurkan apa saja yang ada disana tanpa melukai siapapun orang karena niat mereka hanya ingin menghancurkan tempat Marko. Dari mulai, meja, kursi dan botol-botol minuman mereka hancurkan sampai tidak tersisa.
Devan menikmati saja rokoknya seraya duduk kembali, anak buahnya sudah bekerja dengan benar.
"Tuan Devan, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak tahu apapun, Tuan. Tolong jangan hancurkan usaha saya." Marko memohon sampai bersujud didepan Devan, tapi pria itu sama sekali tidak peduli.
Anak buah Devan tetap menghancurkan tempat itu tanpa peduli permohonan dari Marko dan tangisan buayanya. Hingga beberapa saat kemudian, saat mereka menghancurkan lemari kaca yang ada disana, sebuah botol yang berukuran cukup besar terjatuh dan isinya berserakan.
__ADS_1
"Tuan, ini yang kita cari!" teriak salah satu anak buah Devan menunjuk sebuah permen yang memang sedang mereka cari. Setelah ini pasti tamat riwayat Marko.
_________