Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 48. Sesuatu Yang Aneh.


__ADS_3

Disisi lain, Marko terlihat sangat ketakutan saat berhadapan dengan seorang pria yang kini menatapnya sangat tajam seolah bisa membunuhnya itu. Ia menggenggam tangannya sendiri dan berharap jika waktu segera berakhir. Tapi pria di depannya itu seolah enggan untuk memalingkan wajahnya.


"Bodoh!" kata itu langsung meluncur begitu saja dari mulut pria itu kepada Marko, wajahnya tampak sangat geram sekali.


"Saya tidak menyebut nama Anda, Tuan." Marko segera membela dirinya, ingin tahu jika ia tidak menyebutkan identitasnya kepada Devan.


"Selain bodoh kamu memang tidak berguna, Devan sudah mengambil barang milikku dan dia pasti akan menyelidikinya!" Pria Itu membentak dan semakin marah.


Marko semakin ketakutan, ia segera bersujud didepan pria itu. "Tuan, maafkan saya. Saya sudah menyembunyikan permen itu tapi Devan menghancurkan tempat ini dan menemukannya. Saya benar-benar minta maaf," ucap Marko.


"Tidak berguna!" Pria itu justru menendang Marko dengan kasar.


"Sepertinya kamu sudah siap kehilangan lidahmu, sekarang lihat apa yang akan aku lakukan. Pegang pria tidak berguna itu!" Pria itu mengambil pisau panjang miliknya dan meminta anak buahnya untuk memegangi Marko.


Marko begitu ketakutan, ia tidak mau jika harus sampai kehilangan lidahnya. Ia mengatupkan kedua tangannya memohon.


"Tuan tolong jangan lakukan itu, Tuan. Saat ini saya bisa membantu Anda dengan menjebak Devan," kata Marko.


"Memberimu kesempatan tidak akan berpengaruh apapun. Kamu pasti hanya akan membual untuk menyelamatkan dirimu," tukasnya semakin geram.


"Tidak, tidak Tuan. Saya benar-benar akan membantu Anda. Saat ini Devan menjadi incaran polisi, saya akan melemparkan umpan padanya agar datang ke tempat kita dan bisa menjebak Devan disana. Dia pasti penasaran tentang siapa Anda."


Pria itu mengurungkan niatnya mendengarkan rencana Marko. Ia mengusap-usap dagunya lalu sesaat kemudian tersenyum dan tertawa terbahak-bahak.


Pria itu lalu mendekati Marko dan menjambak rambutnya. "Idemu sangat bagus, tapi sayang sekali kamu sudah membuatku sangat kesal hari ini. Bobi, berikan pria ini kenang-kenangan," kata pria itu dengan raut wajahnya yang menyeramkan.


Marko membulatkan matanya, ia menggelengkan kepalanya dan mencoba berlari. Tapi ia tentu kalah langkah dan membiarkan anak buah pria itu menangkapnya lalu dengan sangat kejam memotong dua jarinya.


"ARRGHHHHHHHH!"


Teriakan Marko terdengar sangat menyayat hati, tapi hal itu justru menambah kesenangan sang algojo yang dengan kejam memotong jarinya hingga berdarah-darah dan bercecer kemana-mana.


_________


Devan dan Joana pulang ke rumah dengan keadaan tubuh yang basah kuyup. Tapi wajah mereka terlihat sangat bahagia dan tak henti mengulas senyumnya. Devan segera meminta pelayan mengambilkan handuk untuk Joana agar wanita itu tidak masuk angin.


"Dingin sekali," kata Joana dengan suara bergetar, benar-benar sangat kedinginan. Padahal tadi saat mereka hujan-hujanan tidak kedinginan sama sekali.


"Aku akan menyiapkan air hangat, bersihkan dirimu nanti," kata Devan lalu mengajak Joana masuk ke dalam kamar mereka.


Devan sendiri masih basah kuyup, tapi ia mementingkan Joana terlebih dulu. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat agar wanita itu segera mandi nantinya.

__ADS_1


Malam ini sepertinya Devan benar-benar berbeda, pria itu seolah ingin membuat Joana nyaman bersamanya sehingga mau merelakan apa saja untuk Joana. Padahal dulu ia juga tidak pernah seperti ini. Mau seperti apapun Mega membujuknya, ia tidak akan merubah pikirannya sama sekali.


'Apa dulu aku tidak benar-benar mencintai dia? Atau hanya rasa nyaman karena kita sering bersama?'


"Dev," panggil Joana yang kini berdiri tepat dibelakang Devan.


"Hmmm ... airmu akan segera siap," sahut Devan menoleh, tapi ia terkejut saat Joana sudah berdiri dibelakangnya.


"Apakah sudah siap? Aku kedinginan Dev, bantu aku melepas ini," kata Joana membalik tubuhnya dan meminta Devan untuk melepaskan resleting bajunya.


Devan cukup terkejut akan hal itu, mendadak saja ia tidak bisa mengatakan apapun. Padahal ia sudah sering melihatnya, tapi entah kenapa kali ini ia seperti gemetaran sendiri.


"Dev, dingin," kata Joana mengejutkan Dev yang tadi tengah melamun.


Devan tersentak, ia segera membantu Joana melepaskan resleting bajunya dengan tangan gemetar. Ia benar-benar seperti seorang pemula yang belum pernah melakukan apapun, padahal dulu saat pertama kali melakukannya dengan Mega ia juga tidak seperti ini. Dan perasaannya juga biasa saja, apalagi saat itu Devan sedikit kecewa saat tahu ia bukan yang pertama untuk Mega.


Perlahan-lahan resleting gaun itu terlepas sehingga punggung mulus Joana terekspos indah. Devan melepaskan gaun itu hingga lolos ke lantai begitu saja. Setelah itu ia memeluk Joana dari belakang lalu mencium bahunya dengan bibirnya yang basah


"Dev," ucap Joana seraya mengigit bibirnya, menahan gejolak perasaan yang tiba-tiba saja muncul.


Devan tidak menyahut, ia mengecup bahu Joana lalu beralih ke lehernya sehingga wanita itu mendongak secara alami. Devan tidak bisa menahan dirinya, mencium bau ranum tubuh Joana membuat ia kalap dengan menarik lengan wanita itu agar menatapnya lalu kembali mencium bibirnya dengan panas.


Joana memejamkan matanya, ia mengalungkan tangannya ke leher Devan dan membalas ciuman itu dengan kelihaiannya. Saling bertukar saliva dan saling mengigit kecil bibir mereka. Entah karena kedinginan atau memang hasrat sudah menguasai dirinya, Joana segera mencari-cari ujung baju Devan lalu menariknya dengan kasar hingga kancingnya berhamburan ke lantai.


Byurrrrrrrrr!


Suara riak air itu terdengar membuat ciuman mereka terputus untuk sejenak, tapi Devan kembali mencium bibir Joana dengan panas dan segera melepaskan semua penghalang diantara keduanya.


Joana sendiri tidak mau kalah, ia justru mendorong Devan lalu duduk dipangkuan pria itu lalu mencari apa yang sedang mereka cari.


"Ahhhhhhhhh oh shittttt!" Devan sampai mengumpat frutasi saat merasakan nikmat yang luar biasa, ia merasa Joana ini semakin seksi sehingga membuat ia tidak tahan untuk tidak menciumnya kembali.


"Dev ..." Joana sendiri tidak sanggup untuk menahan suaranya, ia merasa menggila karena menginginkan Devan dan membuang semua batasan yang selama ini ia buat sendiri.


"Enak, lagi ..." Devan sampai tidak sanggup berkata-kata, padahal ia adalah seorang pemain, tapi malam ini sepertinya ia harus mengakui jika ada seorang wanita yang mampu membuatnya bertekuk lutut.


Malam itu Joana benar-benar liar dan menggila, Devan sampai dibuat mabuk kepayang oleh wanita itu. Bukan karena pelayan yang luar biasa, tapi dari sentuhan, ucapan serta perlakukan Joana yang begitu memuja dirinya, membuat hatinya terasa sangat bahagia luar biasa sehingga ia merasakan cintanya semakin meluap-luap kepada wanita ini.


Joana bisa memberikan segalanya yang tidak pernah Mega berikan. Cinta yang begitu besar dan juga ketulusan. Mau menerima segala masa lalunya dan mencoba memahami dirinya yang terkadang suka emosi tidak jelas.


Diberikan cinta yang sebesar itu, bagaimana mungkin bisa Devan menolaknya? Ia justru berjanji dalam hatinya jika akan selalu ada untuk wanita itu dan menjadikannya prioritas untuk sekarang, besok dan selamanya.

__ADS_1


_________


Pagi-pagi sekali Devan sudah terganggu tidurnya, ia masih mengantuk karena semalam tidak tahu tidur jam berapa. Saat ia membuka matanya, ia terkejut melihat Joana sudah menciuminya dadanya.


"Joana!" Devan berseru dengan suara serak.


"Lagi."


Hanya kata itu yang meluncur dari bibir Joana tapi membuat Devan tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa menahan senyumnya. Kenapa Joana menjadi aneh seperti ini? Apakah ia melewatkan sesuatu?


_______


Pukul delapan pagi, Devan dan Joana sudah rapi sehabis mandi dengan rambut yang setengah basah. Kali ini Devan terlihat sangat baik moodnya, ia menikmati sarapannya dengan Joana yang setia di sampingnya. Wanita itu tengah meminjam ponsel Devan dan menunggu suapan makanan dari Devan.


"Buka mulutmu," titah Devan dengan suara datar, tapi siapapun yang mengenal Devan, sangat tahu jika suara Devan itu terdengar lembut.


Joana membuka mulutnya tanpa menoleh, wanita itu sibuk menatap ponsel Devan dan mencari-cari sesuatu.


"Apa ponsel itu lebih menarik dari aku?" celetuk Devan merasa cemburu karena Joana hanya menatap ponsel saja.


Joana meringis, ia lalu menunjukkan sesuatu yang baru saja dilihatnya kepada Devan.


"Apa?" Devan bertanya dengan wajahnya yang bingung.


"Singanya sangat lucu, Dev. Aku mau satu," kata Joana menatap Devan dengan wajah imutnya.


"Apa?" Devan kembali mengulangi perkataannya, bukan ia tidak mendengar, tapi ingin memastikan lagi kalau ia tidak salah dengar.


"Aku mau Singa yang seperti ini, Dev. Sangat lucu bukan? Rambutnya gondrong, dan dia pasti akan sangat galak sepertimu," ucap Joana mengedipkan matanya menggoda.


Devan justru memandang Joana tidak percaya, apakah Joana tidak salah? Meminta singa untuk apa?


"Kamu pikir ini mainan yang bisa kamu minta seenaknya saja? Singa itu hewan yang berbahaya, dia bisa saja membunuh kita semua," sergah Devan dengan wajah kesal yang tidak ditutupi.


"Kita 'kan bisa memasukkannya ke dalam kandang. Belikan ya, Dev. Aku gemas sekali melihatnya," kata Joana merayu dengan menggelayuti lengan Devan.


"Sebenernya aku sangat benci dengan hal seperti ini. Kalau bukan karena aku mencintaimu, aku akan membunuhmu sekarang," ketus Devan mengomel sendiri.


Joana tadinya ingin kesal, tapi mendengar Devan mencintainya ia tidak jadi kesal. Apalagi Devan mau menuruti keinginannya. Ia sudah tidak sabar ingin merawat singa itu nantinya, pasti akan sangat menyenangkan.


Devan hanya mengerutkan dahinya, ia semakin merasa aneh dengan tingkah Joana ini. Selain suka bermanja padanya, Joana justru meminta hal yang sangat aneh. Dari semua sesuatu yang ada di dunia ini, kenapa Joana justru menginginkan Singa, bukankah itu benar-benar aneh?

__ADS_1


__________


__ADS_2