Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Menjebak Tania.


__ADS_3

Hari sudah cukup malam ketika Xander datang ke sebuah rumah yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Di sana sudah ada Luke dan beberapa anak buahnya yang berjaga-jaga di sekitar sana.


"Dimana dia?" tanya Xander dengan aura dinginnya yang mengancam.


"Dia masih di dalam, apa Tuan mau berbicara padanya?" sahut Luke menunjukkan dimana Alex berada.


"Ya, suruh dia keluar saja," ucap Xander tak sabar sekali rasanya.


Luke menurut, ia segera membawa Alex yang sejak tadi masih di sandra oleh mereka. Luke juga tak ingin gegabah agar pria itu tidak akan lolos.


"Tuan Xander memanggilmu, ingat! Jangan buat masalah kalau kau tidak ingin mati sia-sia!" Luke menarik kepala Alex bagian belakang dan mendekatkan wajahnya. Ia ingin pria ini mendengarkan apa yang sedang dia katakan.


Alex mengangguk cepat-cepat, ia sudah kapok jika harus menjadi bulan-bulan Xander lagi. Sekarang saja badannya masih patah karena kejadian beberapa waktu yang lalu.


Alex segera di bawa ke ruang tengah untuk menghadap Xander. Pria itu hanya menundukkan wajahnya saat melihat Xander yang duduk dengan auranya yang mengancam.


Xander tak berkata apapun, ia melemparkan ponsel ke arah Alex dengan kasar. "Cepat telepon kekasihmu, suruh dia datang kemari," perintah Xander.


"Menelepon siapa?" tanya Alex sedikit bingung, mungkin kemarin Xander terlalu banyak memukul kepalanya hingga ia menjadi linglung.


"Siapa lagi kalau bukan Tania? Suruh dia datang kemari sekarang juga, katakan kau punya informasi penting," ucap Xander begitu jengkelnya.


Alex sedikit terkejut, ia menatap ponselnya dengan ragu. Luke yang tak sabar langsung memencet nomor Tania dan meletakkan ponsel itu ditelinga Alex. Tak beberapa lama, panggilan itu tersambung membuat semua orang menatap Alex dengan tajam.


"Halo? Ada apa kau menghubungiku? Kau tidak lihat ini jam berapa?" Tania membentak kesal karena merasa terganggu dengan telepon Alex.


Luke langsung mengambil pistolnya dan meletakkan tepat di pelipis Alex membuat pria itu panik seketika. Belum lagi tatapan Xander yang membuat ia seperti akan dibunuh hidup-hidup.


"Kau dimana?" tanya Alex dengan suara bergetar karena panik.


"Kau bodoh atau bagaimana? Katakan ada apa kau meneleponku, kau sungguh menganggu!" seru Tania kesal sekali rasanya.


"Aku ingin kau datang kemari, aku ada informasi penting," ucap Alex membaca tulisan di ponsel Xander.


"Informasi penting apa? Besok saja aku akan datang, aku sangat lelah hari ini," ucap Tania lagi.

__ADS_1


"Sekarang! Kau harus datang sekarang! Ini tentang Xander," ucap Alex semakin panik karena Luke terus menekan moncong pistol itu di kepalanya, satu muntahan peluru saja, pasti akan membuat kepalanya hancur berkeping-keping.


"Xander?Ada apa dengan dia?" tanya Tania langsung waspada.


"Kau datang saja kesini, aku ada di rumah," ucap Alex lagi.


"Baiklah, baiklah, aku akan datang. Awas saja kalau informasi mu tidak berguna!" gerutu Tania mematikan ponselnya dan bersiap datang ke tempat Alex.


Xander tersenyum puas, ia segera menyuruh anak buahnya untuk bersembunyi agar Tania menganggap tidak terjadi apapun.


"Lakukan tugasmu dengan benar, di seluruh tempat ini sudah ada para penembak jitu yang siap menembak mu jika sampai kau membuat kesalahan!" ucap Xander menunjukkan anak buahnya yang sudah bersiap di segala penjuru dan fokus kepada satu titik.


Alex meneguk ludahnya kasar, sial sekali! Xander ternyata orang yang sama liciknya dengan dia. Ia harus sangat berhati-hati agar nyawanya aman.


*****


Tania datang ke rumah Alex setelah setengah jam kemudian. Ia sedikit membenarkan jaket yang dipakainya saat keluar dari mobil. Tania tak perlu repot mengetuk pintu karena sudah tahu kebiasaan Alex yang tidak pernah mengunci pintunya.


Alex yang melihat kedatangan Tania langsung berdiri dengan gugup. Tania yang menyadari hal itu sempat mengernyitkan dahinya.


"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Tania heran melihat wajah Alex yang pucat pasi.


Tania masih mengernyit, namun tak mengatakan apapun. Ia langsung duduk saja tanpa rasa curiga.


"Jadi informasi apa yang kau dapatkan?" tanya Tania tak ingin basa-basi.


"Xander sudah tahu kalau Joana itu bukan putri kandung keluarga Medison," ucap Alex sudah diajari berulang-ulang oleh Luke tentang dialog ini.


"Apa?" seru Tania hampir saja berteriak karena sangking terkejutnya.


"Ya, dia sudah tahu kalau Joana itu adalah anak kita berdua dan kau sengaja menukarnya dengan anak kakakmu," ucap Alex lagi.


"Apa yang kau katakan?" bentak Tania panik dan juga takut setelah Alex mengatakan itu.


"Aku mengatakan yang sebenarnya Tania, dia sudah tahu dan ingin mengatakan semuanya kepada Medison," ucap Alex begitu serius.

__ADS_1


"Bodoh! Darimana pria itu bisa tahu!" Tania menjambak rambutnya kesal.


"Dia juga tahu kalau kita yang sudah menjebak Stella,"


"Sialan! Ini tidak bisa dibiarkan Alex, kau harus melakukan sesuatu," ucap Tania berpikir keras agar rahasianya tidak terbongkar.


"Melakukan apa?" ujar Alex tak tahu harus berbicara apalagi.


Tania berdecak kesal, ia menatap Alex dengan ekspresi jengkel tak terperi. Pria di depannya ini memang sangat tidak berguna sama sekali.


"Habisi Xander," ucap Tania menatap lurus mata Alex.


"Kau gila?" seru Alex terkejut.


"Ya, pria itu sudah terlalu banyak membuat putriku sakit hati. Bahkan dia juga sudah membuatnya menjadi wanita cacat. Lebih baik kau bunuh saja dia Alex!" ucap Tania tak mau tanggung-tanggung memberi pelajaran kepada Xander. Lebih baik pria itu mati daripada menjadi batu sandungan untuk masa depan putrinya.


Xander tersenyum puas mendengar semua perkataan Tania. Ia segera mematikan rekaman video di ponselnya lalu keluar dari tempat persembunyiannya.


"Wow! Sungguh rencana yang luar biasa Bibi," ujar Xander seraya bertepuk tangan.


"Xander?!" seru Tania melotot begitu melihat Xander muncul, ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Alex. Tatapan matanya tajam mematikan. Sial! Jadi dia sudah dijebak.


"Kau terlihat sangat terkejut Bibi, bagaimana? Apa kau masih ingin membunuhku?" ucap Xander dengan senyum mengejeknya.


"Apa maumu?" Tania mengepalkan tangannya erat, sorot matanya begitu benci sekali pada Xander.


"Kau sudah tahu mauku Bibi, suruh saja Kakak iparmu menghentikan perbuatannya. Maka, rekaman ini tidak akan sampai ke tangan siapapun," ucap Xander menunjukkan ponsel yang di pegangnya. Ia ingin wanita itu tahu kalau ia mempunyai bukti yang membuat wanita itu akan hancur.


"Ck, kau mengancam ku?" Tania berdecih.


"Anggap saja begitu. Sebenarnya bukan ancaman, ini adalah kerja sama. Jika Bibi berhasil membersihkan namaku dan tidak menggangguku keluargaku, semua rahasia busuk mu itu akan tetap aman," kata Xander melirik Bibi Tania dengan sinis.


"Jangan harap aku akan melakukan itu!" kata Bibi Tania berusaha tenang meski saat ini hatinya sangat kalut.


"Terserah, semua keputusan ada di tangan Bibi. Waktumu paling cepat tiga hari, dan paling lama satu minggu. Kalau Bibi tidak segera memutuskan, Bibi tahu sediri kan apa yang akan terjadi?" ucap Xander kembali menggoyang-goyangkan ponselnya.

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2