
Keesokan harinya Joana sudah terbangun terlebih dulu. Ia tersenyum melihat Devan yang masih tertidur dipelukannya. Pemandangan itu adalah pemandangan yang paling indah yang pernah Joana lihat. Ia mengusap lembut pipi Devan, memandangnya begitu lama lalu mencium hidungnya sebelum ia beranjak dari ranjang dan bangun.
Joana langsung membersihkan dirinya dan mengganti bajunya. Hari ini ia rencana ingin keluar, tapi itupun kalau Devan mengizinkan. Ada beberapa hal yang ingin Joana lakukan nanti.
Saat ia sedang merias dirinya, Devan terbangun dari tidurnya. Pria itu hanya diam di kasur seraya tersenyum dalam tidurnya, sengaja diam agar bisa melihat apa yang dilakukan oleh Joana. Ternyata wanita itu membuat hal yang sangat menakjubkan. Rasanya kini ia ingin terus tertidur dengan lelap, padahal sekarang sudah jam 7 pagi dan waktunya dia bekerja. Tapi entah kenapa ia ingin bermalas-malasan.
"Selamat pagi," ucap Joana membalas senyuman Devan dari kaca di depannya. Pria itu masih acak-acakan tapi entah kenapa ketampanannya tidak berkurang sama sekali.
"Pagi." Devan menyahut singkat, masih terlalu kaku untuk bersikap manis kepada Joana.
"Mau mandi sekarang? Aku akan menyiapkan bajumu ya," ucap Joana menyelesaikan acara dandannya dengan cepat lalu bangkit dari duduknya.
"Hm, kemarilah. Sepertinya aku akan libur hari ini," kata Devan masih belum ingin beranjak dari kasurnya.
"Libur?" Joana mengernyitkan dahinya, tapi ia menurut saat Devan memintanya untuk mendekat.
"Ya, ingin di rumah saja." Devan mengangguk lalu menarik pinggang Joana dan memeluknya.
"Memangnya tidak ada pekerjaan?" Joana tersenyum, ia mengusap rambut Devan yang kini tengah bermanja-manja padanya itu.
"Aku adalah bosnya, jadi terserah aku mau masuk kapan," celetuk Devan dengan sombongnya.
"Hahaha, benar juga. Baiklah kalau memang libur, kamu bisa istirahat di rumah. Kemarin harusnya jangan pergi dulu, 'kan masih sakit," kata Joana mengulas tawa kecilnya.
Devan tidak menyahut, ia asyik menenggelamkan wajahnya diperut Joana dan menikmati elusan rambut wanita itu. Lalu ia teringat akan sesuatu, ia mendongak dan menatap Joana.
"Aku harus menyelesaikan semuanya," kata Devan ambigu, membuat Joana kebingungan.
"Menyelesaikan apa?" tanya Joana.
"Aku ingin segera menikahimu sebagai dirimu," ucap Devan menjelaskan.
Joana membulatkan matanya, cukup terkejut juga dengan kata-kata itu. Tapi bukankah itu bagus? Ia dan Devan tentu tidak mungkin terus tinggal bersama tanpa sebuah ikatan. Hal itu bisa saja membuat Joana kembali mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu. Dimana ia harus menghancurkan dirinya sendiri karena kesalahan yang sangat fatal itu.
"Sebelum kamu menikahiku, kamu harus tahu bagaimana aku dulu," kata Joana dengan suara tercekat. Mendadak hatinya sangat takut jika Devan akan menolaknya setelah tahu betapa buruknya dia.
"Aku pernah membuat hidup seseorang yang tidak bersalah menderita. Menjadi wanita jahat yang ingin merebut kebahagiaan wanita lain. Bahkan aku pernah membu-"
__ADS_1
"Seperti dirimu menerimaku, aku pun juga akan menerima semua dalam dirimu, Joana. Aku tidak ingin tahu bagaimana masa lalumu, yang aku tahu hanya dirimu sekarang. Seseorang yang hebat dan bisa menerima semua sifat burukku. Bagiku kamu adalah wanita terhebat yang pernah aku temui selama aku hidup di dunia ini," tukas Devan langsung menutup bibir Joana dengan tangannya.
Jika Joana bisa menerima dirinya yang penuh dosa ini, kenapa ia harus mempermasalahkan masa lalu Joana? Lagipula masa lalu seseorang sama sekali tidak penting bagi Devan. Yang terpenting sekarang ia tahu Joana adalah wanita yang sangat tepat untuk dirinya dan satu-satunya wanita yang bisa mengerti dirinya.
"Aku tidak sebaik itu, Devan. Aku pernah membunuh anakku sendiri karena keegoisan. Apakah kamu bisa menerimanya?" Joana tidak ingin disebut wanita hebat, karena dirinya adalah wanita yang begitu buruk.
Seorang wanita yang dengan tega melenyapkan bayi dalam perutnya yang tidak punya dosa apapun kepada dirinya. Apakah wanita seperti itu pantas mendapatkan kebahagiaan?
Devan cukup terkejut dengan ucapan Joana ini. Ia mengira dulu Joana hanya seseorang yang pernah merelakan dirinya kepada pria lain sampai kehilangan sesuatu yang sangat berharga itu. Tapi ternyata diluar dugaannya.
"Ya, aku memang seburuk itu, Dev. Mungkin Tuhan sedang mengutukku sekarang. Dia tidak bersalah, tapi aku ...." Joana tidak sanggup melanjutkan ucapannya, ia menangis dan menjauhkan dirinya dari Devan. Terlalu malu membahas masa lalunya yang sangat buruk itu.
Devan segera memeluk Joana dan menenangkannya. "Aku tidak peduli apapun. Yang aku tahu aku mencintaimu, dan kehilanganmu adalah hal yang paling aku takutkan. Mulai detik ini, berhenti memikirkan masa lalu, aku ingin kita memulai semuanya dari awal lagi," tutur Devan dengan suara yang datar, tapi terdengar lembut di telinga Joana.
Devan mengurai pelukannya, ia lalu duduk berjongkok didepan Joana seraya memegang kedua tangannya.
"Dev." Joana begitu kaget melihat sikap Devan ini.
"Joana, aku mungkin pria yang sangat kejam di matamu. Aku akan mencoba untuk merubah diriku, meskipun itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Terima kasih karena sudi menerima seorang pendosa seperti diriku dan menjadikan diriku sebagai pilihan. Mulai detik ini, aku Devandra Dawson, berjanji untuk selalu mendukungmu dan akan melindungimu sampai aku tidak bisa bernapas. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya, Joana. Berikan aku kesempatan itu dan maukah kamu menikah denganku?" ucap Devan memegang kedua tangan Joana dengan erat, tatapan matanya sangat dalam dan penuh cinta kepada sosok wanita yang mampu membuat ia sadar jika ada seseorang yang mencintainya dengan tulus selain ibunya.
Joana menangis, ia balas menggenggam tangan Devan tak kalah eratnya sebelum mengangguk dengan penuh keyakinan.
Devan tersenyum, ia mencium kedua tangan Joana lalu bangkit dan memeluk wanita itu dengan begitu mesra.
"Terima kasih, dan maaf karena belum bisa memberikanmu cincin. Yang terpenting, aku sudah mengikatmu sekarang. Jadi kamu tidak bisa pergi kemanapun," kata Devan dengan tatapan seriusnya.
Joana tertawa kecil disela-sela tangsinya. "Bagaimana bisa aku pergi, sementara kamu sudah mengikat hati dan ragaku?" celetuk Joana memasang wajah pura-pura kesalnya.
Devan ikut tertawa, ia begitu gemas melihat wanita itu dan membuat ia langsung meraih tengkuknya lalu mencium bibirnya dengan mesra.
Joana tersenyum, ia langsung merangkul leher Devan dan membalas ciumannya. Memang tidak ada hal yang membahagiakan selain rasa cinta yang saling terbalas seperti ini. Banyak cinta yang pernah singgah dihati Joana, tapi hanya Devan yang memiliki tempat spesial dalam hatinya.
Ciuman mereka semakin lama semakin intens, Devan hampir saja terlena dan mendorong Joana ke ranjang untuk memulai pertempuran panas mereka seperti kemarin.
Namun, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk sehingga membuat ciuman mereka terlepas dan konsentrasi mereka langsung buyar.
"Shitttttt, rasanya aku akan membunuh orang yang ada diluar sana," umpat Devan dengan ekspresi jengkel yang tidak ditutupi.
__ADS_1
Joana tersenyum, ia mendorong bahu Devan perlahan dan melepaskan dirinya. "Bersihkan dirimu, Tuan muda. Aku akan melihatnya dulu," kata Joana mengerlingkan sebelah matanya.
Devan menipiskan bibirnya, menahan senyuman yang ingin terukir diwajahnya yang selalu terlihat dingin itu. Sepertinya kini ia sering tertawa dan tersenyum, apakah itu artinya ia sudah bahagia?
_________
Joana menemui Ken yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya. Pria itu langsung membungkuk hormat begitu melihat Joana keluar.
"Ada apa, Ken? Devan masih mandi," tutur Joana memberitahu sekaligus bertanya.
Ken tampak ragu untuk mengatakannya, tapi ia ingat kata-kata Devan jika Joana juga harus tahu masalah apapun yang Devan lakukan atau hal yang terjadi pada Devan.
"Diluar ada polisi," kata Ken.
"Polisi?" Kaki Joana mendadak goyah mendengar nama polisi.
"Ya, beliau ingin bertemu dengan Tuan Devan dan sedang menunggu dibawah," lanjut Ken dengan wajah yang menunduk.
"Kenapa ada polisi? Apa terjadi sesuatu?" Joana kembali bertanya dengan jantung yang tak henti berdetak kencang.
"Semalam-"
"Ada apa, Ken?" Devan langsung menyela sebelum Ken mengatakan apapun, ia memberikan tatapan berkomplot kepada pria itu.
"Ada polisi yang mencari, Anda." Ken menjelaskan kembali.
"Aku akan kesana." Devan mengangguk singkat, ia memberikan gestur kepada Ken untuk segera meninggalkan mereka.
Joana langsung mendatangi Devan, ia menatap pria itu dengan wajah khawatir dan juga penuh tanya.
"Hei, kenapa wajahmu seperti itu? Aku tidak apa-apa, tenangkan dirimu, Joana. Ini bukan hal sulit untukku," ujar Devan mengelus lengan Joana dengan lembut.
"Aku harap itu benar, Dev," kata Joana.
"Percaya padaku, aku akan menemui mereka sebentar. Kamu tidak perlu cemas." Devan kembali menenangkan Joana meksipun ia sendiri tidak tahu apa yang akan dihadapinya saat ini.
Lagipula kenapa Devan harus takut, bukankah selama ini ia selalu menang?
__ADS_1
___________