
Xander pulang lebih awal dari kantornya. Ia yang biasanya sering lembur memutuskan pulang sore karena ia sudah janji kepada istrinya untuk makan malam di rumah. Lagipula ia juga masih belum puas melepas rindu dengan istrinya itu.
"Aku akan membawa mobilku sendiri, kau pulang saja, nanti aku akan mengabari mu lagi," ucap Xander berencana akan mampir dulu ke toko bunga sebelum pulang. Jadi ia lebih nyaman membawa mobilnya sendiri.
Luke mengangguk siap, mereka berdua lalu melanjutkan langkanya untuk keluar dari kantornya. Namun, saat di lobby perusahaan, langkah Xander melambat, ia mengurutkan dahinya saat melihat sosok wanita yang sedang duduk di kursi roda. Wanita itu kini sedang menatap ke arahnya.
"Untuk apa wanita itu di sini?" Xander langsung berdecak kesal melihat Joana ada di sana.
Joana yang memang sengaja ingin menemui Xander tampak begitu senang saat melihat pria itu sudah keluar. Ia mendorong kursi rodanya mendekat ke arah Xander yang hanya memasang wajah dinginnya.
"Xander? Kamu udah pulang? Sejak tadi menunggumu," ucap Joana tersenyum lembut seraya mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Xander.
"Diam di tempatmu Joana!" sergah Xander langsung mundur selangkah begitu tahu Joana akan menyentuhnya.
Joana terkejut, ia menggigit bibirnya seraya menarik kembali uluran tangannya dengan perasaan kecewa. "Maafkan aku, kau pasti masih marah tentang masalah itu," ucap Joana menunduk, ia memasang wajah sedih agar Xander kasihan dengannya.
"Kalau kau sudah tahu, untuk apa lagi kau datang kesini?" tukas Xander tak ada ramah-ramahnya sekal, hilang sudah sikap lemah lembut yang dulu pernah ia tunjukkan kepada wanita ini.
"Aku ingin memperbaiki segalanya, maafkan aku Sayang ... tolong jangan membenciku seperti ini," ucap Joana menangis lirih.
"Itu saja yang ingin kau katakan? Sungguh tidak penting sekali, terima kasih basa-basi nya, lain kali tidak perlu menemui ku lagi," ucap Xander tak ingin mendengarkan apapun yang dikatakan Joana, ekspresinya sudah begitu muak dan ia langsung pergi begitu saja.
"Jangan pergi Xander! Tolong jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu ..." teriak Joana tiba-tiba turun dari kursi rodanya, karena kakinya yang lumpuh ia otomatis langsung terjatuh bersama kursi rodanya.
Xander langsung menghentikan langkahnya, ia menoleh dan melihat Joana yang terjatuh. Ia bukan kasihan atau bagaimana, dia hanya diam di tempatnya tanpa beranjak dari tempatnya berdiri. Masih banyak orang yang bisa membantu wanita itu, yang jelas bukan dia orangnya.
"Xander tolong, jangan jadi pria yang kejam. Aku begini karena kamu juga," ucap Joana sengaja berbicara keras agar orang-orang mendengar apa yang dikatakannya.
Sayangnya Xander tidak peduli sama sekali, dia hanya menatap tajam wanita itu kemudian pergi begitu saja. Baginya berbicara dengan Joana sangatlah tidak penting, wanita itu sangat licik dan lihai. Ia tidak mau sampai masuk perangkap wanita itu lagi dan tertipu oleh permainan liciknya.
"Xander! Jangan pergi Xander!" teriak Joana masih mencoba memanggil pria itu, tapi usahanya itu sia-sia.
Joana menangis lirih, ia di bantu beberapa karyawan yang masih tinggal di sana. Hatinya sangat hancur saat Xander menolaknya, sekarang kemana lagi ia harus meminta keadilan.
"Ini semua gara-gara Stella sialan, aku harus mendapatkan Xander kembali apapun caranya,"
*****
__ADS_1
Kediaman Oliver.
Hari ini tak banyak yang dilakukan Stella, ia mengisi waktunya dengan membantu ibu mertuanya mengurus taman bunga dan juga sedikit ngobrol-ngobrol. Ketika sore hari tiba, Stella sudah sibuk di dapur, memasak makan malam untuk suaminya nanti saat pulang bekerja.
Pukul enam sore, Stella sudah tampil cantik dengan gaunnya yang berwarna hijau pupus. Ia menata makanan di meja agar jika pulang nanti suaminya bisa langsung makan. Namun saat ia sedang sibuk-sibuknya, ia malah dikejutkan dengan seseorang yang memeluknya dari belakang lalu mencium pipinya.
"Astaga! Xander!" pekik Stella begitu terkejut, ia mencubit kesal tangan suaminya yang mengingkari perutnya.
"Wangi banget, udah mandi ya?" ucap Xander menciumi tengkuk Stella yang ia rasa memiliki bau yang sangat wangi.
"Ya udah, lepasin ih. Nanti ada orang," ucap Stella kegelian karena kelakuan suaminya ini.
"Kenapa kau tidak menyambut ku pulang?" tanya Xander dengan gayanya yang pura-pura merajuk, ia menyandarkan dagunya dengan manja di pundak istrinya.
"Aku sedang menyiapkan makan malam, kamu mandi dulu gih, habis itu makan," ujar Stella takut jika sewaktu-waktu mertuanya datang dan memergoki mereka.
"Nanti aja, aku ada sesuatu buat kamu," ucap Xander mengambil buket bunga melati putih yang disengaja dibelinya untuk Stella.
"Bunga?" Stella begitu terkejut, namun matanya berbinar begitu cerah melihat apa yang dibawa suaminya.
"Aku tidak tahu kau suka bunga apa, tapi ini bunga yang sangat cantik, sangat cocok untuk istriku yang cantik," ucap Xander mengedipkan sebelah matanya menggoda istrinya.
"Semua bunga yang kau berikan aku pasti suka," ucap Stella tersenyum manis seraya mencium wangi bunga itu. Ini adalah bunga pertama yang diberikan Xander untuknya, tentu saja hatinya begitu bahagia.
"Sudah pintar gombal ya?" Xander begitu gemas mencubit pipi Stella.
"Enggak, ini bunga nya beneran bagus. Terima kasih," ucap Stella memberikan senyum terbaiknya.
"Hanya terima kasih saja?" Xander merengkuh pinggang Stella bermaksud menggoda wanita itu.
"Memangnya apalagi?" Stella mengerutkan dahinya.
"Siapa tahu kau ingin memberiku bonus," ucap Xander menaik turunkan alisnya.
"Bonus? Apa kau tidak ikhlas memberiku ini?" ucap Stella merenggut.
"Tentu saja aku ikhlas, tapi kalau kau memberiku bonus, aku akan lebih senang," ucap Xander dengan senyumnya yang membuat wanita manapun meleleh.
__ADS_1
"Memangnya minta bonus apa?" Stella menyipitkan matanya, sepertinya ia sudah tahu apa yang diinginkan suaminya ini.
"Berikan aku apa yang tidak bisa kau berikan kepada orang lain," Xander berisik di telinga Stella, ia tersenyum misterius lalu mencium pipi Stella dan beranjak pergi begitu saja.
"Sesuatu yang tidak bisa aku berikan ke orang lain?" gumam Stella menatap punggung suaminya yang menjauh.
Stella terdiam sesaat, ia mengelus pipinya yang basah karena ciuman Xander barusan. Ia kemudian tersenyum manis seraya menggelengkan kepalanya. Rasanya, memiliki hidup seperti ini saja sudah sangat indah.
*****
Setelah makan malam selesai, Stella kembali ke kamarnya lebih dulu. Ia terlihat kebingungan sendiri dan mondar-mandir di depan lemari. Stella lalu membuka lemari yang sudah berisi baju-bajunya, sepertinya Xander sudah mempersiapkan segalanya begitu ia akan pulang ke sini.
"Apa aku harus melakukannya?" gumam Stella sedikit ragu dengan apa yang dipikirkannya saat ini.
Stella lalu menggeser tangannya mencari baju yang akan dipakainya malam ini. Entahlah apa yang dipikirkannya saat itu, hanya karena Xander memberinya bunga ia malah berpikiran untuk melakukan hal gila ini.
Stella mengambil sebuah lingerie tipis yang berwarna merah maroon. Ia ingin memakai baju dinas itu untuk membuat suaminya senang.
"Nggak, nggak, ini gila, aku nggak bisa ngelakuin ini," gumam Stella merasa geli sendiri membayangkan ia akan memakai baju tembus pandang itu.
Setelah bertempur dengan pikiran-pikiran nya, Stella akhirnya benar-benar memakai lingerie tipis itu. Dia harus membuang rasa malunya untuk membuat suaminya senang.
"Astaga! Baju ini tidak bisa menutupi apapun," ucap Stella terkejut melihat penampilannya yang sangat seksi.
"Sayang ..." suara Xander terdengar masuk ke dalam kamar membuat Stella sedikit panik dan gugup.
Stella berusaha menguasai dirinya, ia menarik nafasnya dalam-dalam dan membuat dirinya setenang mungkin.
"Setidaknya pernah satu kali ini saja ..."
Happy Reading.
Tbc.
Jangan lupa dukungan ya guys...
Like dan komen ...
__ADS_1