Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 41. Ditangkap.


__ADS_3

Devan menemui dua orang polisi yang datang ke rumahnya bersama Joana. Pria itu sudah tahu jika polisi itu pasti mendatanginya karena masalah semalam.


"Selamat pagi, Tuan Devandra." Salah satu polisi langsung bangkit begitu melihat Devan datang.


Devan memberikan gestur untuk duduk, ia berjalan santai dengan menggandeng Joana untuk duduk didepan kedua polisi itu.


"Sangat pagi sekali untuk jam bertamu. Aku rasa ada hal darurat," ujar Devan masih dengan santainya, sementara Joana justru yang ketar-ketir di sampingnya.


"Kami mendapatkan laporan jika Anda terlibat perkelahian dengan salah satu anggota kami dan beliau meninggal. Saya ditugaskan untuk menangkap Anda atas kesaksian dari salah satu saksi yang melihat Anda berada di lokasi dan melakukan pembunuhan itu," ujar Polisi itu menunjukkan surat perintah penangkapan Devan.


Devan mengambilnya, ia membaca sekilas dan mengulas senyum tipisnya. Terlihat sangat aneh bagi kedua polisi itu.


"Hanya kesaksian dari satu belah pihak, tidak cukup untuk menangkapku. Bisa saja dia meninggal karena penyakit lain," elak Devan.


"Apapun alasannya, anggota kami melihat Anda berada disana. Sebaiknya Anda ikut dengan kami, Anda bisa menjelaskannya di kantor nanti." Polisi itu tidak mau mendengarkan penjelasan apapun dari Devan, ia memberikan gestur untuk anak buahnya agar menangkap Devan.


Devan hanya diam, membiarkan saja polisi itu memborgol kedua tangannya. Tapi tidak dengan Joana yang langsung bangkit dari duduknya dan menatap mereka dengan tatapan yang tidak biasa.


"Kalian tidak bisa seenaknya saja menangkap Devan. Tidak ada bukti apapun jika Devan membunuhnya," kata Joana segera membela Devan, ia tidak mau jika pria itu sampai ditangkap polisi.


"Tuan Devan bisa menjelaskannya di kantor nanti. Jangan menghalangi kami, Nona. Kamu tanya menjalankan tugas," tutur polisi itu dengan suara yang tegas.


Joana menggelengkan kepalanya, ia ingin menahan mereka tapi Devan justru tersenyum padanya.


"Jangan khawatir, aku pasti akan kembali padamu," kata Devan menyempatkan dirinya untuk mencium kening Joana sebelum tubuhnya diseret oleh kedua polisi itu.


"Dev! Jangan membawanya pergi, dia tidak bersalah." Joana segera mengejarnya, sumpah demi apapun ia tidak rela jika Devan harus ditangkap sekarang.


"Nona, tetaplah disini. Saya akan mengurus semuanya," ujar Ken menahan tangan Joana saat wanita itu ingin mengejar Devan.


"Apa yang akan kamu lakukan? Jawab aku, Ken. Devan benar-benar tidak bersalah 'kan?" Joana membentak dengan suara tertahan.

__ADS_1


"Tetap percaya saja pada Tuan Devan, Nona. Beliau pasti akan segera pulang," kata Ken.


Joana mende sah frutasi, jelas itu bukan jawaban yang ia inginkan. Ia benci sekali dengan situasi ini, dimana ia harus menunggu sebuah kabar yang membuat hatinya selalu dibuat ketar-ketir setiap waktu.


"Ken, aku ingin datang ke kantor polisi," ucap Joana dengan raut wajah penuh tekadnya.


"Permintaan Anda saya tolak, Nona. Kita tidak tahu bahaya apa yang sedang menunggu kita disana. Sebaiknya Anda diam di rumah, saya akan mengurus semuanya," sahut Ken dengan suara tegasnya.


"Maka dari itu, aku perintahkan kamu untuk melindungiku. Aku ingin ada disana, Ken," sergah Joana langsung saja emosi saat permintaannya ditolak.


"Saya tidak bisa, Nona. Untuk kali ini saja, tetaplah di rumah." Ken tetap pada pendiriannya, ia tahu Devan pun tidak akan mau jika Joana sampai ikut ke kantor polisi yang nantinya pasti akan memakan waktu yang cukup lama itu.


"Ken." Joana mencoba memohon dan mengancam, tapi hal itu percuma saja karena Ken tidak menghiraukannya dan justru meninggalkannya begitu saja.


Joana semakin kesal dan ingin sekali marah, ia ingin berontak tapi berpikir ulang jika mungkin ada bahaya yang sedang mengintainya sewaktu-waktu diluar sana. Devan juga sudah mewanti-wanti dirinya untuk tidak pergi sendirian. Tapi ia ingin pergi untuk melihat Devan ke kantor polisi.


"Felix."


Ya, kenapa ia tidak minta bantuan kepada Felix? Pria itu pasti bisa membantunya untuk pergi dan pastinya akan memastikan dirinya aman nanti.


"Apa yang harus aku lakukan?" Joana semakin frutasi, benar-benar dibuat mati kutu oleh keadaan.


"Tidak ada jalan lain. Devan pasti mengerti kenapa aku pergi bersama Felix." Joana menganggukkan kepalanya, merasa menang tanya Felix yang bisa membantunya saat ini.


________


Rendra terlihat sangat terpuruk sekali setelah mengantarkan teman kerjanya ke peristirahatan terakhir. Ia masih babak belur, bahkan tangannya masih disangga. Tapi rasa sakit dalam tubuhnya itu tidak sebanding dengan rasa sakit jika mengingat bagaimana Fajar dihabisi dengan brutal oleh Devan.


Mengingat namanya saja membuat Rendra sangat emosi. Ia mengepalkan tangannya, kini semakin yakin untuk menghentikan Devan segera agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan.


"Kapten berhasil menangkap, Devan." Seorang teman Rendra menghampirinya, namanya Shaka, sama-sama dari satras narkoba yang semalam memang tidak ikut bertugas.

__ADS_1


"Dia pasti akan mengelak dan lolos," sahut Rendra dengan wajah geramnya.


Dengan mata tertutup pun ia bisa menebak kalau Devan punya seribu satu alasan untuk mengelak dari jerat hukuman.


"Seperti biasa, tapi setidaknya temui dia. Aku yakin dia akan semakin memandang remeh kita jika kita terus berdiam diri," ujar Shaka.


"Aku memang akan menemuinya. Aku tidak akan membiarkan dia lolos dengan mudah. Jika aku punya waktu satu malam untuk mempenjarakan dia, aku akan menggunakan kesempatan itu untuk menghabisinya," kata Rendra sangat emosional sekali.


"Keinginanmu itu salah."


Rendra mengerutkan dahinya, memandang Shaka dengan tatapan tajam.


"Ya, jangan berambisi untuk menghabisinya atau membalaskan dendam. Tapi kita harus berusaha sebaik mungkin untuk menangkap dia dan membongkar semua kebusukannya. Kita ini polisi, bukan seorang pembunuh. Jika dia tertangkap, biarkan hukum yang menyelesaikan semuanya," tutur Shaka.


"Sayangnya hukum di negeri ini sudah tumpul. Mereka hanya tajam ke bawah, tapi tumpul jika kebagian atas. Tapi aku tahu maksudmu, saat ini waktunya kita fokus dan menyusun rencana baru untuk menangkap Devan. Kita harus menemukan dimana pabrik pengolahan senjata dan barang itu," ujar Rendra dengan sorot mata berapi-api.


"Kamu benar, Ren. Saat ini memang kesempatan yang bagus untuk menjebak Devan." Shaka mengangguk setuju.


"Apa maksudmu?" Rendra memandang Shaka tidak mengerti.


"Barang baru itu, aku yakin bukan milik Devan."


Rendra langsung menegakkan tubuhnya, ia memandang Shaka dengan raut wajah terkejut.


"Entah benar dugaanku atau tidak, tapi Devan punya musuh lain yang juga ingin melihatnya hancur. Kita bisa menggunakan kesempatan ini untuk menangkap, Devan," kata Shaka menganalisa semuanya.


"Siapa orang itu?"


"Aku juga belum tahu, tapi ada satu orang yang kemungkinan besar tahu," ucap Shaka dengan senyum misteriusnya.


"Siapa?"

__ADS_1


"Marko."


__________


__ADS_2