Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Unforgettable Moment. ( Ending Part )


__ADS_3

Seorang pria yang memiliki tinggi 180 cm, terlihat berjalan menyeberangi lobby perusahaan yang sangat luas. Langkahnya mantap dengan wajah dinginnya yang sangat menawan. Beberapa karyawan tampak menyapa namun hanya dibalas senyum tipis oleh pria itu.


"Tuan, apakah Anda yakin ingin membawa mobil sendiri?" tanya asisten yang mengikuti pria itu kemana pun.


"Ya, katakan saja pada Mama kalau aku akan pulang terlambat," ucapnya lalu masuk ke dalam mobil pribadinya dan perlahan melajukan mobilnya meninggalkan gedung perusahaan.


Ia mengendarai mobilnya cukup jauh sampai memasuki sebuah perumahan elite yang berada di kota Jakarta. Ia menghentikan mobilnya ke sebuah rumah megah yang bernuansa putih bersih. Di sana juga banyak mobil yang berjajar rapi menandakan kalau sang pemilik rumah sedang mengadakan acara.


Pria itu langsung turun dari mobilnya dan masuk melalui pintu samping. Dimana ia bisa melihat dua orang bocah laki-laki yang sedang berkejar-kejaran di taman kecil samping rumah.


"Om Daniel!" teriak salah satu anak yang berumur sekitar 8 tahunan, ia berlari menghampiri sosok Daniel yang berdiri seraya mengulas senyumnya.


"Eagle, jangan lari-lari, tungguin adiknya dong," ucap Daniel menggelengkan kepalanya melihat tingkah Eagle.


Eagle menurut, ia menggandeng tangan adiknya Ethan yang memiliki umur berbeda dua tahun dengannya.


"Apa kabar nih? Tos dulu dong kita," ucap Daniel mengulurkan kepalan tangannya kepada Eagle dan Ethan.


"Om, om, kita udah jago loh main basketnya," Ethan langsung melompat-lompat menunjukan bakat barunya.


"Oh ya? Wah, hebat dong? Keren ih Ethan, siapa sih yang ngajarin?" kata Daniel mengacungkan kedua jempolnya.


"Papa dong om pastinya," sahut Ethan dengan begitu bangga.


Daniel tertawa seraya mengacak gemas rambut kedua bocah yang seperti kembar sepasang itu.


"Kau sudah datang? Kenapa tidak langsung masuk?" Daniel langsung menoleh saat mendengar suara teguran dari balik punggungnya.


"Aku mau masuk, tapi aku di hadang kedua jagoanmu ini," kata Daniel mengerlingkan matanya kepada Eagle dan Ethan lalu kembali menatap sang pemilik rumah, yaitu Xander yang menghampirinya dengan putri pertamanya Xaren.


Bayi mungil yang lahir prematur itu kini sudah tumbuh menjadi anak perempuan yang sangat manis. Putri kecil Xander dan Stella terlihat sudah besar diusianya yang menginjak umur 9 tahun. Semakin besar, Xaren memiliki wajah yang plek ketiplek dari Ayahnya, tak heran jika orang sering mengatakan kalau Xaren adalah Xander versi perempuan.


Sedangkan Eagle dan Ethan merupakan putra dari Xander yang lahir dua tahun berturut-turut karena Stella sering kecolongan tidak menggunakan pengaman hingga membuatnya hamil saat anak pertamanya Xaren masih kecil.


Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Xander dan Stella yang ke 10 tahun. Pasangan bahagia itu sengaja mengundang beberapa kerabat dekat dan juga teman untuk merayakan momen bahagia ini.


Ah iya, sudah sangat lama ya ternyata? Tapi sayangnya kehidupan Daniel masih seperti itu saja. Tapi Daniel sangat bersyukur bisa melihat Stella bahagia bersama keluarga kecilnya.


"By, kebiasaan banget sih, kalau ada tamu itu suruh masuk dong by, masak di suruh di pintu aja," Stella datang seraya mengomeli suaminya yang malah mengajak Daniel mengobrol di depan pintu.


"Tidak apa-apa Stella, kita pasti akan segera masuk," ucap Daniel tersenyum santai.


"Nggak bisa gitu dong Kak, ayo masuk dulu, acaranya di taman belakang. Anak-anak juga nggak mau masuk? Mau main di luar aja?" kata Stella menggeleng tak setuju, ia lalu memandang ketiga anaknya yang masih sibuk bermain dengan mainnya.


Terkadang Stella merasa tak percaya sudah berada di titik ini, ia yang selalu berpikir ingin menyerah tapi Tuhan ternyata masih berbaik hati untuk memberinya kesembuhan hingga ia bisa membangun keluarga impiannya. Kehidupan sempurna dengan memiliki suami siaga dan anak-anak yang menggemaskan.


Tapi meskipun begitu, ada sesuatu yang selalu mengusik hati Stella. Yaitu seseorang yang sudah berkorban demi kesembuhannya, seorang Ayah yang rela menukar nyawanya untuk putrinya sendiri.


"Jangan menangis, Papa pasti bangga bisa melihatmu bahagia seperti sekarang. Doakan agar Papa dan Mama tenang di sana," Xander yang mengetahui kesedihan istrinya langsung memeluk wanita itu.


Xander tahu bagaimana perasaan Stella, wanita itu pasti akan menangis di saat momen bahagianya jika mengingat kedua orang tuanya yang telah tiada.


Kabar itu memang sangat mengejutkan mereka, karena Papa Medison yang semula baik-baik saja, namun keadaannya tiba-tiba memburuk dan berpulang dua minggu setelah operasi itu selesai. Sedangkan Mama Melisa ikut menyusul beberapa bulan kemudian karena kesedihan yang mendalam setetah ditinggal Papa Medison.

__ADS_1


"Aku bahagia, aku bahagia hidup bersamamu by, terima kasih karena selalu ada untukku," ucap Stella memandang Xander dengan tatapan sendu dan penuh cinta.


Pria yang dulunya hanya ada dalam cerita buku hariannya, akhirnya menjadi sosok pria pendamping yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Selalu mengutamakan dirinya dan juga keluarga.


"Aku yang berterima kasih padamu Stella, terima kasih sudah bersedia mencintai pria brengsek sepertiku. Selalu menemaniku disaat apapun, kau wanita hebat ku, istriku ..." ucap Xander memeluk Stella seraya mencium kening Stella dalam-dalam.


Jika Stella mengatakan mencintainya satu kali, Xander pasti akan membalasnya ribuan kali. Xander benar-benar beruntung memiliki Stella yang mau menerima sikap buruknya di masa lalu, selalu mendukungnya di saat terburuk sekalipun.


Membina hubungan rumah tangga selama 10 tahun, bukan berarti jalan mereka sangat mudah. Pasti ada suatu guncangan yang ada di jalan yang mereka lewati. Tapi Xander dan Stella tak pernah sekalipun melepaskan genggaman tangan mereka.


"Papa sama Mama di panggil Nenek," teriakan Xaren terdengar membuat Xander segera mengajak Stella untuk bergabung dengan yang lainnya.


"Selamat sore semuanya, di hari bahagia ini, aku Xander Oliver dan istriku Stella, bersama ..." ucap Xander memeluk Stella lalu memeluk Xaren dari belakang.


"Putri pertama kami Xarena Shazia Oliver."


"Putra kedua kami Eagle Matthew Oliver."


"Dan putra ketiga kami Ethan Mateo Oliver."


"Mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya karena sudah datang ke acara ulang tahun pernikahan kami yang ke 10 tahun ..." ucap Xander langsung disambut teluk tangan riuh.


"Di momen bahagia ini, aku ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada rekan-rekan yang selalu mendukung dan mensuport kami berdua. Dan di momen bahagia ini juga, aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat spesial untuk istriku," ucap Xander kembali di sambut tepuk tangan riuh.


"Untuk istriku Stella, terima kasih sudah hadir dalam hidupku. I love you now, tomorrow, and so on ( Aku mencintaimu sekarang, besok dan selamanya )," ucap Xander kembali mencium kening Stella, lalu matanya dan terakhir bibirnya dengan penuh cinta lalu memeluknya erat.


Para tamu yang datang kembali bertepuk tangan riuh. Semua orang setuju jika pasangan ini adalah pasangan yang sangat ideal. Xander yang begitu tampan dan Stella yang begitu manis.


Daniel yang menyaksikan itu ikut tersenyum bahagia, ia mungkin belum bisa melupakan Stella, tapi ia sudah tidak mengharapkan wanita itu kembali padanya. Baginya melihat Stella bahagia, ia juga sudah merasa bahagia.


Hubungan mereka memang sudah sangat baik karena Xander dan Daniel sudah berdamai dengan perasaannya masa lalu mereka.


"Thanks sudah datang, tapi bisakah aku meminta satu hal padamu?" ucap Xander memasukan kedua tangannya di dalam saku celana.


"Katakan saja," sahut Daniel.


"Berhentilah mencintai istriku, carilah kebahagiaanmu sendiri Daniel," kata Xander to the point, ia bukan orang bodoh yang tidak tahu kalau Daniel masih mencintai istrinya.


"Jika ada wanita yang seperti Stella, aku pasti akan berhenti mencintai istrimu," ucap Daniel menarik sudut bibirnya lalu beranjak pergi meninggalkan Xander.


Daniel berjalan terburu-buru karena setelah ini ia memang ada jadwal untuk keluar kota. Tapi saat ia akan berjalan keluar, sudut matanya tak sengaja menatap bayangan perempuan yang cukup familiar?


"Dia?"


"Maira? Ya ampun akhirnya datang juga," teriak Stella langsung menyambut sahabatnya yang jauh-jauh datang dari Surabaya.


"Sorry telat, jalanan macet banget," ucap Maira menatap Stella penuh sesal.


"It's oke, yang penting kamu dateng aku sudah seneng," kata Stella tersenyum manis.


"Pasti dateng dong, eh by the way, mana keponakanku yang cantik, aku kangen banget ini," ucap Maira mencari-cari Xaren.


"Itu Xaren lagi main," kata Stella menunjuk putrinya berada.

__ADS_1


"Ah Xaren, tante kangen ..." Maira yang sudah mengenal dekat dengan Xaren langsung memeluk putri sahabatnya itu.


Stella tersenyum manis melihat Xaren yang juga senang jika bertemu dengan Maira.


"Maira dateng?" tanya Xander menghampiri istrinya.


"Iya, nanti malam dia nginep sini ya," ucap Stella melirik suaminya jahil.


"Boleh, asal tidur di kamar sendiri. Malam ini khusus malam kita berdua," bisik Xander tersenyum menggoda.


Stella mencibir pelan, meskipun umur Xander sudah memasuki kepala tiga, pria itu sama sekali tidak berubah, masih saja mesum.


"Mau apa? Hari ini puasa dulu, kayaknya juga sampek dua bulan ke depan," kata Stella dengan senyum misteriusnya.


"Kenapa memangnya?" tanya Xander tak mengerti.


Stella tak menyahut, ia mengambil sesuatu yang sejak tadi di simpannya di saku baju lalu menyerahkannya kepada Xander.


"Happy Anniversary yang ke 10 tahun by, selamat bakalan jadi Ayah lagi," ucap Stella membuat Xander membulatkan matanya.


Xander membuka kotak kecil yang diberikan Stella, ternyata berisi sebuah testpack. Ia memandang Stella dan testpack itu bergantian.


"Kamu hamil lagi?" tanya Xander kaget namun juga senang secara bersamaan.


Stella tersenyum seraya mengangguk malu. "Sudah 3 bulan, kamu harus tanggung Akhhhhh!!!!" Stella tak lagi melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba tubuhnya disambar oleh Xander.


"Istriku hamil lagi! Yes! Terima kasih kadonya Sayang, ini kado terindah dalam hidupku!" Xander malah berteriak kegirangan seraya memutar tubuh istrinya di udara.


Stella juga tertawa melihat kelakukan random suaminya. Hari ini adalah hari tersempurna dalam hidupnya, sebuah momen yang tercipta, dan akan selalu dikenang di sepanjang usia.


"Seperti rerumputan yang tumbuh di tanah, meliuk-meliuk terkena terpaan angin. Begitulah juga arti sebuah kehidupan, kita harus berdiri tegap menghadapi setiap hujan dan badai yang datang menerpa. Karena sejatinya hidup bukan hanya sebuah rasa nyaman dan ketentraman. Ada kalanya masalah akan datang mengguncang, namun kita tetap harus berdiri dan kuat untuk menghadapinya bersama,"


...------------The End------------...


Akhirnya selesai juga cerita ini ya gengs.


Terima kasih yang sudah bersedia mampir dan memberi dukungan kepada pasangan Xander dan Stella.


Author tidak bisa membalas apa-apa selain kata terima kasih yang sebesar-besarnya karena sudah mendukung karya author sampai sejauh ini.


Kalau bersedia, silahkan mampir ke karya author yang baru ya ...


Judulnya :


Gadis Penebus Hutang.


Istri Kecil Gabriel.


Sekali lagi author ucapakan terima kasih untuk semua readers yang sudah mendukung author.


Salam bahagia gengs, see you next story semuanya ... bye bye ...


Salam Penulis.

__ADS_1


Virzha With Love ❤️


__ADS_2