
Matahari tampak sudah meninggi, cahaya menerobos masuk ke celah jendela kamar Stella. Wanita itu masih tergolek lemas dibalik selimut tebalnya.
"Ssshhhh …" Stella mendesis pelan, seluruh tubuhnya seolah remuk dan sendi-sendinya terasa lepas dari tempatnya. Apalagi di daerah sensitifnya yang masih sangat perih, sepertinya membengkak karena perlakuan kasar suaminya semalam.
Stella lalu melihat sekelilingnya dimana ia melihat sebuah pil kontrasepsi dan juga segepok uang yang pasti sengaja ditinggalkan Xander. Stella tersenyum miris, bagaimana Xander bisa bersikap sangat kejam padanya.
"Selamat pagi, Nona. Anda sudah bangun?"
Stella memicingkan matanya begitu mendengar suara yang ia rasa sangat asing. Dilihatnya seorang wanita paruh baya yang datang membawa sebuah nampan berisi makanan dan juga susu.
"Kamu siapa?" tanya Stella menarik dirinya untuk bangun. Ia menutupi tubuh polosnya dengan selimut karena malu jika sampai dilihat orang lain.
"Saya Ming Nona, Saya ditugaskan oleh Tuan Xander untuk menemani Anda disini. Jika Anda membutuhkan sesuatu katakan saja kepada Saya," ucap Ming tersenyum sopan kepada Stella.
Meski sedikit heran melihat kondisi Stella, namun ia tak ingin mengatakan apapun karena ingat perkataan Xander yang sangat tak suka jika ada yang mencampuri urusan pribadinya.
"Dimana dia?" tanya Stella sedikit heran kenapa Xander mempekerjakan orang lain, padahal seingatnya pria itu yang dulu menyuruhnya menyelesaikan pekerjaan rumah.
"Tuan Xander sudah pergi pagi-pagi sekali. Nona mau mandi dulu atau makan dulu? Saya akan menyiapkannya," ucap Ming meletakkan sarapan yang dibawanya ke meja.
"Nanti saja, aku akan memanggilmu jika aku membutuhkanmu," ucap Stella rasanya tak ada tenaga untuk beranjak dari kasurnya.
"Baik Nona, Saya permisi dulu," ucap Ming pamit undur diri.
Stella hanya mengangguk singkat, ia melihat tangannya yang masih memerah karena ikatan tangan semalam. Stella merasa sangat trauma jika mengingat perlakuan brutal Xander semalam, untung saja anak didalam kandungannya baik-baik saja meski ia sempat kesakitan.
"Maafkan Mama, seharusnya Mama bisa menjagamu," ucap Stella mengelus perut bawahnya dengan perasaan perih yang tak tertahankan.
Namun sekarang bukanlah waktunya ia menangis atau menyerah. Ia benar-benar harus mencari cara agar bisa pergi dari meninggalkan Xander.
Setelah membersihkan dirinya, Stella keluar dari kamar dan bersiap untuk pergi.
__ADS_1
"Nona akan kemana?" tanya Ming ketika melihat Stella lewat di ruang tengah.
"Aku mau pergi ke minimarket depan, ada barang yang mau aku beli," ucap Stella singkat.
"Biar Saya saja yang membelikannya, Nona butuh barang apa?" ucap Ming buru-buru menghampiri Stella.
"Tidak usah, kau selesaikan saja pekerjaanmu," kata Stella menolak, ia sudah berencana untuk pergi saat ini juga sebelum Xander pulang.
"Tapi Nona, Anda tidak boleh keluar oleh Tuan Xander," ucap Ming membuat langkah Stella terhenti.
Stella melirik Ming tajam, apa-apaan Xander melarangnya pergi. Ia tak menghiraukan perkataan Ming dan tetap melanjutkan langkahnya untuk keluar Apartemen, namun ternyata di depan juga sudah ada pengawal Xander yang berjaga.
"Anda tidak boleh keluar Nona," ucap Pengawal menghalangi Stella.
"Minggir, aku tidak punya urusan dengan kalian," kata Stella mengepalkan tangannya kesal.
Kedua pengawal itu bergeming, Stella sangat kesal dan mencoba menerobos kedua orang berbadan besar itu.
"Aku mau pergi! Jangan halangi aku," teriak Stella tak menyerah untuk mencoba keluar.
Kedua pengawal itu juga tetap mencekal kedua lengan Stella agar tidak keluar. Meski sempat kewalahan menghadapi Stella, tapi mereka berhasil memasukan Stella ke dalam kamarnya.
"Hei! Buka pintunya! Kalian semua jahat!" Stella memukul-mukul pintu dengan keras, ia sangat frustasi karena tak bisa pergi dari tempat itu.
"Argh!" Stella mendudukkan dirinya di lantai bersimpuh karena rasa lelahnya.
Apa sekarang dia harus menyerah dan berdiam diri menjadi tawanan Xander? Apa yang harus dilakukannya.
******
"Nona, Saya sudah menyiapkan makan siang Anda. Apakah Saya harus membawanya kemari?"
__ADS_1
Pukul 12 siang, Ming kembali menghampiri Stella yang sejak tadi berdiam diri di kamarnya.
"Aku akan makan nanti," kata Stella bergeming, ia hanya menatap lurus pemandangan kota Jakarta dengan tatapan mata kosongnya.
"Tapi Nona, jika Anda tidak makan, Tuan Xander akan marah," ucap Ming sedikit merinding mengingat ucapan Xander saat menelponnya tadi.
Stella mengerutkan dahinya, Xander marah jika ia tidak makan?
"Aku tidak peduli," kata Stella tak terpengaruh. Untuk apa Xander menyuruhnya makan jika hanya akan menyakitinya lagi, lebih baik dia kelaparan daripada menuruti pria itu.
Ming tak lagi memaksa Stella, ia berjalan keluar kamar dan menemui Xander yang ternyata sejak tadi ada di rumah.
"Bagaimana?" Xander bertanya dengan wajah dinginnya.
"Nona Stella menolak makan, Tuan" lapor Ming menundukkan wajahnya.
Xander berdecak kesal, sebenarnya ia tak peduli Stella mau makan atau tidak. Ia hanya tak ingin wanita itu sampai tak punya tenaga dan ia tak bisa melakukan apa yang ia suka nantinya.
"Siapkan makanannya!" Perintah Xander kepada Ming.
Ming menangguk singkat, ia segera menata makanan untuk Stella di nampan lalu menyerahkannya kepada Xander. Pria itu yang akan membawa makanan itu sendiri ke kamar Stella.
Saat ia masuk pandangannya tertuju dimana Stella masih duduk merenung di tempatnya. Xander membawa makanan itu mendekat.
"Untuk apalagi kau kesini? Bukankah aku sudah bilang kalau aku tak mau makan apapun," ucap Stella tanpa menoleh, ia berpikir kalau Ming yang datang kembali untuk memaksanya makan.
"Makan atau kau akan mati kelaparan?" ucap Xander membuat mata Stella membesar.
Ia memutar lehernya dan terkejut melihat Xander berdiri dengan wajah dinginnya. Seketika saja Stella memeluk dirinya erat, masih sangat trauma dengan apa yang dilakukan Xander semalam.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.