
Semua orang yang berada di meja makan itu heran kenapa Xander tiba-tiba mual. Padahal bau kue pandan itu sangat enak dan menyelerakan, tapi kenapa Xander bisa mual.
"Aku akan melihatnya dulu, Ma" ucap Stella khawatir melihat Xander yang tiba-tiba muntah itu.
Mama Rita hanya mengangguk singkat, ia saling pandang kepada suaminya. "Apa mungkin Stella hamil ya, Pa?" tanya Mama Rita entah kenapa berpikir seperti itu.
"Kita tanyakan saja nanti kepada mereka, bisa saja Xander hanya masuk angin atau apa, Ma" sahut Papa Xander tak ingin terlalu memikirkan hal yang belum pasti.
*****
Stella menyusul Xander ke kamar mandi, pria itu muntah-muntah hebat. Semua makanan yang dimakannya tadi ia keluarkan semua hingga kerongkongannya terasa sangat pahit.
Stella mencoba membantu Xander dengan memijit tengkuknya, ia juga mengambilkan tisu untuk menyeka keringat dan air mata Xander yang ikut meleleh, terlihat sekali pria itu sangat kesakitan. Tentu saja, Stella pernah mengalami muntah dan rasanya memang sangat tidak nyaman.
"Kamu kenapa? Salah makan?" tanya Stella seraya terus memijat lembut tengkuk suaminya.
Xander hanya menggelengkan kepalanya, ia sendiri heran kenapa dia bisa muntah-muntah seperti ini. Seingatnya ia tak makan makanan yang salah.
"Udah enakkan? Atau mau lagi?" tanya Stella lagi melihat Xander yang berantakan, ia langsung menyeka bibir Xander yang basah habis muntah. Wajahnya pun sangat pucat pasi membuat Stella semakin khawatir.
"Kita ke Dokter aja ya, nanti biar di kasih obat," ujar Stella lagi.
Xander menggeleng lemah. "Aku akan tidur saja," kata Xander menolak.
"Baiklah, aku akan membantumu," kata Stella langsung sigap mengambil tangan Xander dan meletakkannya di bahu, ia memapah pria itu sampai ke kamarnya yang ada dilantai dua.
Ini pertama kalinya Stella masuk kedalam kamar Xander. Kamar itu sangat luas dan memiliki desain yang elegan. Stella langsung membantu Xander untuk berbaring di ranjang, ia juga melepaskan sepatu dan kaos kaki pria itu.
"Bajumu basah, kau harus menggantinya agar tidak masuk angin," ucap Stella melirik baju Xander yang basah karena terkena air.
"Terserah kau saja," Xander menyahut lirih, ia memejamkan matanya untuk mengurangi rasa pusing dan juga mual diperutnya.
Stella mengerutkan dahinya, ia menatap kamar Xander yang sangat luas itu. Ia lalu berjalan menuju walk ini closet untuk mengambil salah satu kaos Xander.
__ADS_1
Saat Stella kembali, dilihatnya Xander masih memejamkan matanya. Sepertinya pria itu tertidur, ditandai dengan dengkuran halus yang terdengar. Stella bingung saat ingin mengganti baju pria itu, apa dia bangunkan saja? Tapi ia juga tak tega karena pria itu baru saja tidur.
Akhirnya dengan penuh kehati-hatian, Stella melepaskan satu persatu kancing kemeja suaminya. Stella sempat menahan napas saat melihat perut sixpack suaminya.
Stella menggelengkan kepalanya, apa yang sebenarnya ia pikirkan, ia harus segera mengganti baju Xander agar pria itu tak masuk angin.
Butuh waktu sekitar 15 menit untuk Stella mengganti baju suaminya. Ia melakukannya sangat pelan agar tidak sampai membangunkan suaminya itu. Setelah mengganti baju Xander, Stella beranjak berdiri untuk menyimpan baju yang basar, namun tiba-tiba tangannya ditarik dengan keras hingga ia terjatuh di atas tubuh Xander.
"Akh!!!" pekik Stella terkejut, ia menatap Xander yang masih memejamkan matanya itu, tapi ternyata tarikannya sangat kuat.
"Disini saja," gumam Xander dengan mata terpejam.
"Aku akan menyimpan bajumu dulu," kata Stella namun tak ada sahutan apapun.
Sepertinya Xander hanya mengigau saja tadi, Stella mencoba melepaskan dirinya tapi Xander justru malah memeluknya sangat erat. Stella tak henti mencoba melepaskan dirinya, tapi hasilnya tetap saja gagal. Stella heran kenapa Xander disaat tidur pun masih memiliki kekuatan yang sangat kuat.
Akhirnya karena usahanya tak membuahkan hasil dan hanya membuat ia kelelahan, Stella tertidur dengan posisi yang masih dalam pelukan Xander.
Xander membuka matanya, seulas senyum tipis tersemat di bibirnya. Sejak tadi ia memang belum tidur, tapi ia berpura-pura tidur agar bisa memeluk Stella.
Wanita itu hanya menggeliat kecil dan kembali melanjutkan tidurnya. Xander kembali tersenyum, ia mengeratkan pelukannya kepada Stella, mencium rambut Stella yang sangat harum dan menangkan.
******
Keesokan harinya, Stella terbangun saat mendengar suara Xander yang muntah-muntah dengan keras. Stella beranjak dari kasurnya untuk melihat keadaan suaminya yang sangat lemas di kamar mandi.
"Kamu kenapa? Muntah lagi?" tanya Stella membantu Xander yang lemas kembali ke kamar.
"Iya," sahut Xander lirih, saat ia bangun tadi perutnya langsung mual dan muntah tanpa bisa dikontrol lagi.
"Sebentar, aku buatkan air jahe untuk kamu," ucap Stella ingat jika air perasan jahe bisa mengurangi mual dalam perut.
"Tidak perlu, siapkan saja air hangat untukku, aku akan mandi, ada meeting penting hari ini," kata Xander mencegah Stella saat wanita itu akan beranjak.
__ADS_1
"Tapi kau sedang sakit," kata Stella tak bisa menyembunyikan nada cemasnya.
"Ck, lakukan saja tugasmu. Aku tidak suka dibantah." Ucap Xander dengan tegas, meski lemah ia masih bisa menahan rasa mual ini. Ia tak ingin mengabaikan pekerjaannya begitu saja.
Stella menghela nafasnya, baiklah jika Xander menolak, ia juga tak ingin memaksa. Ia menuruti saja keinginan Xander, menyiapkan air hangat dan juga pakaian kantor untuk suaminya. Setelah itu Stella turun ke dapur untuk membantu Mama mertuanya memasak.
"Sudah bangun Sayang? Bagaimana keadaan Xander? Dia nggak apa-apa 'kan?" pertanyaan itu langsung Mama Rita lontarkan saat melihat kedatangan Stella.
"Tadi pagi masih muntah, Ma. Tapi katanya udah nggak apa-apa, sekarang Xander mau ke kantor, padahal mukanya masih pucat banget," kata Stella mengadu.
"Anak itu memang keras kepala. Kalau udah sakit nanti dia juga yang rewel," Mama Rita ikut menggerutu karena sifat keras kepala anaknya.
Stella tak menyahut, ia membantu Mama mertuanya memasak sarapan lalu membersihkan dirinya karena hari ini dia akan langsung pulang. Pukul 7 pagi, semua orang sudah berkumpul di meja makan termasuk Xander yang sudah siap dengan pakaian kantornya.
"Gimana keadaan kamu? Udah enakkan?" tanya Mama Rita kepada putranya.
"Udah," sahut Xander singkat, ia mulai memakan sarapan yang tadi diambilkan Stella.
"Muntah-muntah kenapa? Apa Stella hamil?" pertanyaan Mama Rita itu membuat Xander langsung tersedak karena terkejut.
Stella dengan sigap menyodorkan air putih kepada suaminya. Ia pun sama terkejutnya, namun ia berusaha mengontrol ekspresi wajahnya.
"Mama ngomong apa?" ucap Xander tak percaya dengan perkataan Mamanya.
"Ya bisa saja 'kan? Kamu muntah terus kayak Papa kamu saat Mama hamil dulu, jadi mungkin saja istri kamu juga hamil," kata Mama Rita lagi.
Xander langsung menatap Stella tajam, apakah yang dikatakan Mamanya itu benar? Bagaimana mungkin Stella hamil, bukankah dia selalu memberikan pil kontrasepsi setelah mereka bercinta.
"Kamu hamil?" tanya Xander to the point.
Stella langsung menggelengkan kepalanya cepat-cepat saat melihat tatapan suaminya. "Enggak," jawab Stella sangat ragu, ia sendiri tidak tahu apakah dia hamil atau tidak.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.