
Joana melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri memasuki gedung OLX High Conporation. Ya, dia sengaja datang ke kantor Xander setelah melakukan pemotretan. Dulu saat ia berpacaran dengan Xander ia juga sering datang kesana, jadi para karyawan pun sudah terbiasa melihat kedatangan Joana.
Meski ada beberapa orang yang membicarakan Joana karena pernikahannya dan sang atasan gagal, namun Joana sama sekali tak peduli, ia hanya berjalan lurus menuju ruangan Xander.
"Luke, apa Xander ada?" tanya Joana pada Luke, asisten pribadi Xander.
"Selamat siang Nona, Tuan Xander ada di dalam, beliau baru saja kembali dari meeting," ucap Luke memberikan sedikit salamnya karena ia tahu kalau Joana termasuk orang yang sangat penting bagi Xander.
"Baiklah, aku akan masuk dulu," kata Joana tersenyum sedikit.
Saat ia masuk kedalam ruangan, Xander terlihat sibuk dengan file-file yang berserakan di meja. Pria itu tampak begitu fokus sampai tidak menyadari kedatangan Joana.
Joana tersenyum licik, wajahnya yang tadinya biasa saja tiba-tiba berubah sedih dan sangat tertekan.
"Xander …" panggil Joana dengan suara lembutnya.
"Joana?" Xander sedikit terkejut melihat Joana ada disana, ia menyimpan berkas-berkas nya lalu bangkit menghampiri Joana.
"Ada apa kesini? Kenapa tidak mengabari dulu," ucap Xander menatap wajah Joana yang tampak sedih itu, kenapa dia? pikirnya.
"Ya, apa kau masih lama?" tanya Joana.
"Apa terjadi sesuatu?" Xander memegang pipi Joana dan menatap wanita itu serius, ia tahu jika Joana ingin mengatakan sesuatu padanya.
Joana menggelengkan kepalanya, wajahnya benar-benar terlihat sangat sedih membuat Xander khawatir.
"Ada apa Joana? Katakan padaku, apa yang terjadi?" cecar Xander.
"Xander, aku ingin kembali ke Apartemenku sendiri," ucap Joana seraya menangis.
"Kenapa? Bukankah kau yang ingin tinggal bersamaku disana?" tanya Xander tak mengerti, padahal pagi tadi Joana yang merengek ingin ikut tinggal di Apartemennya.
"Iya, tapi aku tidak mau Stella semakin marah padaku jika aku tinggal disana," ucap Joana mengencangkan tangisnya.
Xander mengerutkan dahinya. "Kamu tenang dulu, jangan menangis oke? Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, kamu duduk dulu," ucap Xander menuntun Joana untuk duduk di sofa ruang kerjanya.
Joana masih menangis sesenggukan, membuat Xander memeluk Joana untuk menenangkan wanita itu.
__ADS_1
"Ada apa? Apa yang Stella lakukan padamu?" tanya Xander lembut.
"Dia sangat membenciku Xander, dia ingin aku pergi," ucap Joana mengadu.
"Jangan pikirkan dia, dia tidak punya hak apapun disana, oke?" kata Xander.
"Tapi kau tidak tahu, saat kau pergi tadi, dia sangat marah padaku Xander. Dia juga hampir melukaiku karena aku mengancam ingin memberitahukan fotonya padamu," kata Joana masih dengan aktingnya mencari simpati Xander.
Siapa suruh tadi pagi Stella mencari masalah dengannya, sekarang rasakan pembalasannya. Ia akan membuat wanita itu disiksa habis oleh Xander, Joana tahu jika sampai Xander tahu tentang foto itu, dia pasti akan sangat marah.
"Foto? Foto apa?" Xander menekuk dahinya tak mengerti.
Joana menatap Xander ragu, dari wajahnya tampak menampakkan ketakutan yang sangat. "Itu tidak penting Xander, yang penting aku ingin pergi dari sana, aku tidak mau Stella akan menyakitiku lagi saat kau tidak ada di rumah," ucap Joana dengan wajah enggan.
"Cepat katakan foto apa yang kau maksud?" sentak Xander tak sabar ingin mengetahui foto apa yang Joana miliki.
Ia sangat kesal karena Stella berani-beraninya mengancam Joana sampai wanita itu begitu ketakutan seperti ini.
"Tapi Xander, nanti Stella akan marah," ucap Joana sengaja mengulur waktu dan bertingkah sangat takut.
"Tidak akan, aku sendiri yang akan membalas wanita itu jika sampai dia berani menyakitimu," sergah Xander dengan sorot mata berapi-api.
"Ini, Xander tapi jangan lakukan apapun pada Stella, mungkin dia hanya merasa marah karena aku akan mengambil posisinya," ucap Joana menyerahkan ponselnya pada Xander.
Xander melirik Joana sekilas, ia lalu mengambil ponsel Joana dan melihat dengan jelas foto Stella bersama Daniel. Air muka Xander langsung berubah amarah dan tangannya mengepal erat.
"Darimana kau dapat foto ini?" tanya Xander dingin.
"Saat itu aku sedang melakukan pemotretan di Bogor, dan aku tidak sengaja bertemu dengannya disana. Ehm, sepertinya mereka berdua punya hubungan," kata Joana memanas-manasi Xander.
"Wanita murahan!" geram Xander melempar ponsel Joana dengan keras ke atas meja.
"Xander, aku …"
"Hari ini pulanglah bersama Luke, aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya dan membawamu kembali ke rumah," kata Xander langsung menyela sebelum Joana menyelesaikan ucapannya.
Dari tatapannya sangat gelap dan penuh amarah. Hatinya seperti terbakar membayangkan Stella dan Daniel memang memiliki hubungan. Mereka berdua sudah pergi ke Bogor bersama, memangnya untuk apa seorang pria dan wanita pergi bersama kalau memang tidak memiliki hubungan.
__ADS_1
******
"Stella, bagaimana kabarmu? Apakah masih ada yang sakit?"
Daniel mencerca Stella dengan berbagai pertanyaan saat ia diizinkan masuk oleh Dokter untuk melihat Stella. Raut wajah khawatir itu terlihat sangat jelas di matanya.
"Kak Niel? Kakak disini?" tanya Stella terkejut.
"Ya, bagaimana kondisimu? Kau pingsan tadi," tanya Daniel lagi.
"Aku baik-baik saja Kak, mungkin hanya kelelahan," ucap Stella memaksakan senyumnya meski kepalanya masih terasa pusing.
"Jangan berbohong Stella, kau sedang tidak baik-baik saja, apa yang terjadi padamu?" ucap Daniel sedikit kesal karena Stella tak mau jujur, padahal terlihat jelas kalau wajah Stella sangat pucat dan penuh kesedihan.
"Kak, aku benar-benar tidak papa. Terima kasih sudah mencemaskan ku, aku baik-baik saja Kak," ucap Stella menyentuh tangan Daniel pelan.
"Kak Stella, kakak udah siuman? Syukurlah Kak," ucap Nanda ikut datang menghampiri.
"Nanda? Ya ampun, aku jadi merepotkan semua orang," ucap Stella tak enak hatinya.
"Tidak sama sekali Kak, yang penting Kak Stella cepat sembuh. Dokter Mazaya mengatakan akan melakukan tes darah pada Kakak," kata Nanda menatap Stella sendu.
"Ha? Tes darah? Untuk apa? Aku baik-baik saja kok," ucap Stella sedikit kaget.
"Mau sampai kapan kau mengatakan kalau baik-baik saja Stella? Cepat atau lambat semua orang akan tahu," terdengar suara Dokter Mazaya masuk kedalam ruangan Stella. Wajahnya tampak sangat prihatin menatap Stella yang terbaring lemah di ranjang itu.
Stella menggigit bibirnya, ia melirik Daniel yang semakin memasang wajah murung. Stella sungguh tak ingin semua orang tahu tentang keadaannya, ia tak mau dikasihani hanya karena ia wanita yang penyakitan.
"Setelah ini kita akan melakukan tes darah, yang tidak bersangkutan bisa menunggu di luar," ucap Dokter Mazaya seolah mengerti apa yang dipikirkan Stella.
Daniel menghela nafasnya, ia tak ingin menduga-duga hal yang tidak pasti. Namun jika memang Stella dalam sebuah masalah, ia hanya ingin membantu wanita itu keluar dari masalahnya, itu saja.
"Aku keluar dulu, jangan ragu untuk mengatakan apapun padaku Stella. Aku akan selalu ada untukmu," ucap Daniel dengan nada paling serius yang pernah ia katakan, ia juga mengelus lembut rambut Stella membuat wanita itu hampir saja menangis.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya guys ...