Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Seminggu Berlalu.


__ADS_3

Sesampainya di Apartemen, Stella langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Daniel. Ia mengabaikan rasa sakit kepala dan perutnya yang terasa kram. Ia panik dan takut saat kembali bertemu Xander. Kenapa Xander bisa disini, hanya itu yang ada dipikirannya saat ini.


"Halo Kak," ucap Stella langsung begitu panggilan itu tersambung.


"Halo Stella, ada apa?"


"Bisakah Kakak datang kesini?" pinta Stella dengan penuh harap.


"Ada apa memangnya?" tanya Daniel merasa ada yang tidak beres, ia bisa merasakan suara Stella yang bergetar seperti menahan tangis.


"Aku mau Kakak datang," ucap Stella rasanya tak sanggup jika harus menjelaskan lewat ponsel.


"Nanti aku usahakan, sekarang aku masih ada meeting. Aku akan menghubungimu lagi nanti." Ujar Daniel semakin khawatir, namun ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.


Stella menggigit bibirnya, ia tak bisa mengatakannya kepada Daniel sekarang. Ia harus bertemu Daniel untuk menjelaskan semuanya. Entah kenapa Stella merasa se takut ini, ia lalu teringat anaknya yang berada di dalam kandungan. Bagaimana jika Xander marah saat tahu dia hamil, sudah itu saja yang ada di pikirannya.


*****


Xander menemui Tuan Herlambang sendirian. Ia sengaja menyelesaikan pekerjaan ini segera dan memerintah Luke untuk mencari tahu tentang Stella. Bahkan semalaman Xander tidak tidur karena selalu terbayang wajah Stella. Apa sebegitu takutnya Stella padanya sampai wanita itu memilih pergi lagi?


"Luke, apa kau sudah mendapatkan kabar tentang Stella?"


Ketika fajar menyapa, hal pertama yang Xander lakukan adalah menanyakan perkembangan pencarian istrinya itu.


"Belum, Tuan. Anda tahu kalau Surabaya kota yang besar, tim kita cukup kesusahan mencari Nona Stella, apalagi tidak ada petunjuk apapun," ujar Luke sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari istri Tuannya ini, tapi nyatanya tidak mendapatkan hasil yang maksimal.

__ADS_1


Xander mengusap wajahnya kasar, pencariannya ini benar-benar buntu. Tapi setidaknya Xander masih cukup senang karena tahu jika Stella berada di kota ini dan dalam keadaan baik-baik saja.


"Lakukan cara apapun, aku ingin Stella cepat di temukan, Luke." Ujar Xander hanya bisa melakukan hal itu untuk saat ini.


*****


Seminggu berlalu dengan cepat, semenjak kejadian dimana Stella bertemu Xander, ia sama sekali keluar dari rumahnya. Stella merasa takut jika sewaktu-waktu akan bertemu Xander lagi. Daniel juga sama sekali belum menemuinya, sepertinya masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.


Semalam Stella berpikir tentang Xander, pagi ini Stella mulai bisa mengendalikan dirinya. Meski masih sangat takut jika Xander berhasil menemukannya, tapi Stella juga tidak mungkin berdiam diri di rumah. Toh kota ini juga luas, jadi kecil kemungkinan kalau Xander akan menemuinya lagi.


"Stella, jika kau masih tidak enak badan, lebih baik kau di rumah saja. Jangan terlalu memaksakan dirimu," ujar Maira masih cemas jika Stella akan kembali bekerja, mengingat bagaimana cerita dari temannya ini, Maira juga ikut takut jika Stella akan bertemu Xander lagi.


"Aku udah nggak apa-apa, Mai. Mungkin pria itu juga sudah pulang ke Jakarta," ujar Stella tak begitu yakin sebenarnya, namun ia meyakinkan dirinya sendiri.


"Baiklah, kita langsung berangkat saja kalau begitu," ucap Maira tak bisa lagi membantah karena Stella sudah memutuskan.


"La terus yang nganterin ini siapa? Gue ogah ya, ini bukan kerjaan gue. Seharusnya Doni kalau nggak masuk mesti cari gantilah, kalau gini siapa yang repot," terdengar ribut-ribut di ruang belakang membuat perhatian Stella teralihkan.


"Kenapa harus ribet banget sih Cel, ini tuh tinggal kita antar naik grab," itu suara Maira yang terdengar sangat kesal.


"Ogah, ini bukan kerjaan gue. Gue nggak mau ngangkat-ngangkat bawaan berat. Lu aja sono yang bawa ke kantor Harvis." Celina masih saja marah-marah karena tidak mau di suruh mengantarkan pesanan makanan yang menurutnya bukan tugasnya.


"Ada apa ini?" Stella memutuskan untuk melihat apa yang terjadi. Ia menatap Celina dan Maira yang seolah perang melalui tatapan matanya.


"Dih, yang anak emas datang. Kerja nggak pernah susah tapi gajian gede, mana dapat bonus plus-plus lagi," Celina langsung melontarkan kata-kata pedasnya begitu melihat Stella datang. Tatapan sinis itu tak bisa dihindarkan.

__ADS_1


"Jaga mulut lu ya!" Maira merangsek maju karena tak terima Stella di sebut seperti itu.


"Apa? Teman lu itu emang anak emas, nggak pernah susah kayak kita. Kenapa lu tutup mata? Harusnya lu tahu kalau kerja disini nggak semudah itu, kenapa dia bisa langsung enak?" sergah Celina mendorong Maira saat wanita itu akan menyerangnya.


"Udah Mai, udah ..." Stella menarik tangan Maira saat temannya itu masih ingin berdebat dengan Celina.


"Mulut cewek ini harus dikasih pelajaran biar nggak sembarangan ngomong," kata Maira sangat kesal sekali.


"Gue nggak sembarangan ngomong, kalau memang dia kerja disini nggak mau makan gaji buta, ajak tuh teman lu buat nganterin pesanan makanan ini. Jangan cuma mau duduk ngadepin komputer mulu," ujar Celina benar-benar mengeluarkan segala unek-uneknya selama ini.


Padahal ia tahu jika semua yang berada di sana sudah dapat bagian masing-masing, tapi tetap saja dia tidak suka jika Stella bekerja terlalu ringan.


"Ini bukan bagian Stella! Harusnya ini bagian lu, apa lu lupa kalau Doni nggak masuk Tuan Daniel udah nyuruh kita gantiin," Maira ngotot tak mau menuruti keinginan Celina.


"Oh ya? Gimana Stella? Lu beneran tetap mau kerja dengan gaji buta seperti ini? Lu nggak tau apa rasanya berjuang dari nol itu seperti apa? Jangan mau enak doang lu," ujar Celina terus saja memojokkan Stella.


"Oke, aku akan nganterin pesanan ini," ucap Stella mengangguk setuju, daripada menambah masalah, Stella lebih baik mengalah.


"Nggak bisa gitu Stella ..."


"Udah, Ra. Ayo kita antarkan saja pesanan ini. Aku juga mau dia tahu kalau aku tidak makan gaji buta, aku disini bekerja sesuai kemampuanku. Jika aku tidak mampu, Tuan Daniel mana mungkin memberikan posisi itu? Bukankah harga sesuai kualitas?" ujar Stella sangat halus dan lembut, namun sindiran elegan itu membuat Celina mati kutu.


"Kau!" Celina sangat kesal sekali mendengar kata-kata Stella itu.


Stella hanya mengulas senyum manisnya, ia segera beranjak dari sana seraya mengangkat dua kantong plastik besar pesanan nasi box untuk makan siang. Baginya tak masalah sama sekali jika harus bekerja seperti ini, toh sebelumnya Stella juga selalu mandiri dalam hidupnya.

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2