Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Keadaan Joana.


__ADS_3

Mama Melisa dan Bibi Tania sedang menunggu Joana di depan ruang perawatan. Setelah dibawa ke rumah sakit wanita itu langsung ditangani, Mama Melisa tak henti menangis meratapi nasib putrinya yang terluka seperti ini.


Tak lama setelah itu, terlihat Papa Medison datang bersama asistennya. Ia juga baru saja mendapatkan kabar dari istrinya bahwa putrinya dibawa ke rumah sakit.


"Mama …" ucap Papa Medison langsung menggantikan Bibi Tania untuk memeluk Melisa.


"Joana Pa, dia berdarah," ucap Mama Melisa masih terusak di dalam pelukan suaminya.


"Kita berdoa saja, semoga Joana baik-baik saja," ucap Papa Medison menenangkan istrinya.


Dokter keluar dari ruangannya, semua orang langsung bangkit dan bersiap mendengarkan bagaimana kondisi Joana.


"Bagaimana dokter?" tanya Papa Medison langsung.


"Keadaannya kritis, pasien baru saja melakukan aborsi ilegal dengan prosedur yang salah. Sekarang pasien banyak mengeluarkan darah dan harus segera mendapatkan transfusi darah. Apalagi saat ini stok darah yang dibutuhkan sedang kosong, kita harus secepatnya mencari donor darah untuk pasien," ucap Dokter menggelengkan kepalanya karena tindakan yang dilakukan Joana memang sangat fatal akibatnya.


Semua orang tak bisa menutupi rasa terkejutnya mendengar ucapan Dokter itu. Jika Joana melakukan aborsi, jadi dia pernah hamil? Namun tak ada waktu untuk memikirkan hal itu sekarang, yang terpenting adalah keselamatan Joana.


"Ambil darahku saja, aku Papanya. Darah kami pasti cocok," ucap Papa Medison tak membuang waktunya.


"Baik, silakan melakukan pemeriksaan terlebih dul," ucap dokter mempersilahkan.


"Papa, bagaimana Joana Pa," Mama Melisa masih menangis meraung karena mendengar kondisi putrinya.


"Mama tenang dulu, Papa akan mendonorkan darah untuk Joana agar Putri kita bisa segera diselamatkan," ucap Papa Medison mencium kening istrinya sebelum masuk ke dalam ruangan.


Papa Medison harus melakukan serangkaian tes kesehatan untuk memastikan darahnya aman untuk didonorkan kepada pasien.


"Apakah sebelumnya Anda memiliki riwayat penyakit serius, Tuan?" tanya seorang perawat sedang mengecek tekanan darah Papa Medison.


"Saya memiliki diabetes Sus, tapi saat ini kondisi saya stabil," ucap Papa Medison.


Perawat mengangguk lalu melanjutkan kembali melakukan pengecekan medis lainnya terhadap Papa Medison, namun sepertinya ada sesuatu yang membuat Dokter dan perawat saling berdiskusi.


"Ada apa dokter?" tanya Papa Medison cukup cemas, apakah darahnya tidak bisa digunakan untuk membantu Joana.

__ADS_1


"Mohon maaf Tuan, tapi kita tidak bisa melakukan transfusi darah menggunakan darah Anda," ucap dokter itu.


"Memangnya kenapa? Apakah ada masalah?" tanya Papa Medison mengerutkan dahinya.


"Ya, kami hanya mencari donor darah yang cocok untuk pasien, golongan darah pasien adalah AB rhesus negatif sedangkan golongan darah Tuan adalah O. Jadi kita tidak mungkin melakukan transfusi, karena darah Anda tidak cocok," ucap dokter itu membuat dunia Papa Medison seolah hening seketika.


Bagaimana mungkin putrinya memiliki golongan darah yang tidak sama dengannya? Apakah mungkin jika golongan darah O bercampur dengan golongan darah B akan menghasilkan golongan darah AB rhesus negatif? Bukankah itu sangat aneh, pikir Papa Medison.


"Bagaimana bisa dokter? Saya adalah Papa kandungnya, darah saya pasti cocok dengan putri saya," ucap Papa Medison sangat yakin kalau ada kesalahan di sini.


"Seharusnya iya Tuan, tapi hasil tes mengatakan kalau golongan darah Anda tidak cocok dengan pasien," ucap dokter lagi.


"Tapi apa kamu mungkin dokter? Golongan darah istri saya B, sedangkan saya O, lalu kenapa putri saya bisa memiliki golongan darah AB,?" tanya apa Papa Medison lagi, merasa semuanya ini terlalu janggal


"Apakah anda yakin jika pasien merupakan Putri anda?"


******


"Bagaimana, Pa?" Melisa langsung bangkit menghampiri suaminya saat melihat suaminya itu keluar dari ruangan.


Papa Medison mengangkat wajahnya, ia menatap lekat wajah sang istri yang terlihat sekali sangat sedih, ia kemudian menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.


"Papa tidak bisa menyumbangkan darah Papa, karena tekanan darah Papa rendah," ucap Papa Medison merasa waktunya tidak tepat jika membicarakan apa yang sebenarnya terjadi sekarang.


"Lalu bagaimana, Pa? Bagaimana Putri kita?" ucap Mama Melisa semakin cemas.


"Papa akan coba menghubungi teman-teman, siapa tahu dari mereka ada yang cocok golongan darahnya dengan Joana," ucap Papa Medison mengambil ponselnya lalu menghubungi teman-temannya.


"Aku juga akan mencoba mencari bantuan,Kak" ucap Bibi Tania juga ikut menghubungi teman-temannya.


"Golongan darah Joana apa, Kak?" Tanya Bibi Tania.


"AB rhesus negatif," sahut Papa Medison kini menatap lekat wajah istrinya, ia ingin tahu apakah bagaimana reaksi istrinya.


"Papa coba hubungi juga bank darah lainnya, kita harus menyelamatkan Joana segera, Pa" ucap Mama Melisa tak bisa membayangkan hal buruk lainnya jika Joana sampai tidak mendapatkan donor darah yang cocok.

__ADS_1


*****


Xander kembali ke kantor dengan wajah kusut dan sangat kesal. Bagaimana ia tidak kesal, investor yang susah payah didapatkan, tiba-tiba saja membatalkan kerja sama secara sepihak. Padahal ini merupakan investor besar yang akan membantu kondisi keuangan di kantornya. Tapi semuanya gagal total.


"Ba ji ngan! Pria itu memang ba ji ngan!" Xander melepaskan dasi yang ia rasa mencekik lehernya.


Xander tak perlu repot mencari tahu apa penyebab investor itu membatalkan kerja sama. Karena ia sangat tahu jelas kalau Daniel pasti yang sudah menghasutnya. Ternyata Daniel sudah mengibarkan bendera perang secara terang-terangan sekarang.


"Tuan, ini gawat. Anak buah kita baru saja menelepon, dia mengatakan para pegawai pabrik saat ini melakukan aksi demo," ucap Luke masuk ke dalam ruangan Xander tergesa-gesa.


"Bagaimana bisa?" Xander memijit kepalanya yang terasa berdenyut pusing.


"Sepertinya ada yang memprovokasi para pegawai disana Tuan, mereka ingin bertemu dengan Anda," kata Luke melaporkan semuanya dengan cepat


"Sial, aku tidak mungkin kesana. Panggilkan saja keamanan untuk membubarkan mereka, saat ini bukan waktu yang tepat kita aku bertemu dengan mereka," ucap Xander mengibaskan tangannya, kepalanya semakin sakit memikirkan semua masalah yang datang akhir-akhir ini.


"Ini tidak bisa di biarkan," ucap Xander bangkit dari duduknya, ia tak bisa berdiam diri menunggu Daniel melancarkan serangannya lagi, ia harus bertindak.


Kalau saja tadi ia berhasil bekerja sama dengan calon investor besar, masalahnya tak akan serumit ini. Sekarang ia harus mencari orang yang bisa membantunya, dan satu-satunya orang itu adalah Papanya. Xander harus setuju untuk bertemu teman Papanya yang dari kota Surabaya.


"Xander, kamu datang?" Mama Rita langsung memeluk hangat putranya ketika Xander pulang ke rumah.


"Papa kemana, Ma?" Xander langsung mencari Papanya karena ingin segera menyelesaikan masalah ini.


"Ada apa kamu mencari Papa?" ujar Kendrick terlihat baru saja datang dari ruang tengah.


"Aku setuju untuk bekerja sama dengan teman Papa," ucap Xander to the point.


"Nanti Papa akan coba menghubunginya lagi, kamu yakin akan datang ke Surabaya?" ujar Kendrick.


"Ya, aku akan datang,"


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2