Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 25. Karena Kamu Sebuah Alasan.


__ADS_3

Perjalanan mereka cukup jauh, mereka harus melewati lautan yang cukup luas dan juga hutan yang begitu gelap. Joana tidak ingin bertanya, ia hanya ingin secepatnya sampai ke tempat dimana Devan akan mengajaknya pergi.


Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam, mereka akhirnya sampai di lapangan yang sangat luas. Helikopter itu mendarat sempurna disana lalu Devan membantunya melepaskan headphone dan juga menggendongnya kembali untuk turun ke bawah.


Disana sangat sepi, tapi Joana bisa mendengar suara ombak yang cukup keras. Ia bisa menebak kalau sekeliling tempat itu pasti lautan, hanya saja tertutup oleh pohon dan pagar yang begitu tinggi.


"Ayo masuk," bisik Devan setelah meletakkannya kembali ke kursi roda.


Joana hanya mengangguk, tetap bertahan dengan sikapnya yang diam dan memperhatikan sekelilingnya.


Mereka berdua lalu masuk ke sebuah rumah yang sangat megah sekali. Desainnya sangat cantik sekali, dengan lampu remang yang membuat kesan nyaman pada rumah itu. Setelah masuk, Devan mengajaknya untuk naik lift menuju lantai atas. Ternyata rumah itu sudah menggunakan teknologi canggih.


"Dev, sebenarnya kita akan kemana?" Mulut Joana akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya karena Devan hanya diam saja.


"Sebentar lagi kamu tahu," sahut Devan.


Joana menatap sekelilingnya, tidak beberapa lama kemudian, akhirnya mereka tiba dilantai paling atas rumah itu. Begitu sampai disana, Joana terkejut melihat pemandangan lautan yang sangat indah. Disana adalah sebuah kamar yang memiliki balkon luas di luarnya. Sekeliling kamar itu dilapisi dinding-dinding kaca yang membuat mereka bisa melihat pemandangan dengan jelas.


"Dev, ini bagus sekali," ujar Joana begitu kagum.


"Kamu suka?" tanya Devan.


Joana mengangguk-angguk cepat, rasa takut yang ia rasakan tadi seolah langsung musnah begitu melihat pemandangan yang indah.


"Ayo kita kesana."


Devan lalu mendorong kursi roda Joana menuju balkon kamar itu. Dan ternyata disana sudah ada meja yang berisi makanan dengan lilin ditengahnya. Seorang pelayan langsung menunduk begitu mereka datang.


"Kamu menyiapkan ini semua?" tanya Joana dengan tidak percaya, ternyata ia sudah berpikiran terlalu buruk kepada Devan.


"Ya, kemarilah." Devan mendorong kursi roda Joana kembali menuju arah meja itu. Ia lalu menunduk dan berbisik ditelinga Joana. "Makan dulu, setelah ini masih ada yang ingin aku tunjukkan padamu," ujar Devan.


Joana menjawab dengan anggukan singkat, seroang pelayan lambung melayani mereka berdua. Barulah setelah itu mereka makan dengan tenang, dengan ditemani suara deburan ombak yang menambah suasana semakin syahdu sekali.


Tidak ada obrolan apapun, hanya suara dentingan sendok yang saling beradu yang terdengar. Mereka berdua benar-benar menikmati makan malam itu dengan perasaan yang menyenangkan.


"Dulu, aku dan Mega sering menghabiskan waktu disini," ujar Devan menerawang jauh, mengingat kenangannya dulu dengan Mega.

__ADS_1


Joana langsung mengangkat wajahnya, selera makannya lenyap begitu saja mendengar Devan menyebut nama Mega.


"Maksudku itu sudah sangat lama. Hanya ingat, tidak ingin mengulanginya lagi," kata Devan lagi, meralat ucapannya.


"Tidak masalah, dulu kalian pasti sangat romantis," kata Joana tersenyum kikuk menutupi hatinya yang entah kenapa terasa nyeri.


"Lupakan, aku bilang malam ini hanya untuk kita berdua," ujar Devan seraya bangkit dari duduknya, pria itu lalu mendekati Joana dan mengulurkan tangannya pada Joana.


"Ayo berdansa," ajak Devan.


Joana mengerutkan dahinya, ia tertawa hambar. "Kamu sedang bercanda? Aku saja tidak bisa berdiri, bagaimana bisa aku berdansa?" kata Joana.


Devan menghela napas panjang, tanpa mengatakan apapun ia langsung menarik pinggang Joana dan mengajaknya berdiri.


"Dev!" pekik Joana, ia begitu terkejut sehingga langsung memeluk Devan.


"Letakan kakimu diatas kakiku," titah Devan.


"Aku tidak bisa, Dev." Joana menggeleng pelan, kini saja kakinya gemetaran karena berdiri tiba-tiba.


Joana mengigit bibirnya, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Devan. Lalu ia mencoba perlahan-lahan menyeret kakinya agar bisa menyentuh kaki Devan.


"Pelan-pelan saja, yakinkan dirimu kalau kamu bisa berjalan," ucap Devan lagi.


Joana mendengarnya, ia memejamkan matanya dan dengan bersusah payah akhirnya bisa mengangkat kakinya sendiri agar bisa berdiri diatas kaki Devan. Tapi perjuangan itu sangat sulit sekali.


"Apa aku bilang? Pasti bisa, semua tergantung keyakinan dalam diri kita sendiri. Aku percaya kamu pasti bisa berjalan lagi," ucap Devan mengusap lembut pipi Joana.


Joana menahan napasnya, ia menatap mata Devan yang gelap itu. Ia merasakan getaran yang tidak biasa dalam hatinya begitu melihat mata Devan. Selain itu, semangat yang diberikan Devan juga membuat hatinya merasa begitu sejuk hingga perutnya seperti dihinggapi kupu-kupu yang sangat banyak.


"Sekarang, letakan tanganmu disini." Devan memegang lembut tangan Joana, lalu meletakkannya di bahunya yang tegap.


Setelah itu Devan memeluk pinggang Joana dengan erat, lalu mengajak Joana menggerakkan tubuh mereka perlahan-lahan seiring suara alunan musik yang otomatis langsung diputar oleh anak buah Devan.


Tubuh Devan dan Joana bergerak sangat lembut, menikmati alunan musik itu dengan mata yang tak lepas saling memandang. Joana merasakan hatinya benar-benar nyaman bersama Devan, padahal seharusnya tidak begitu 'kan? Devan adalah orang yang terlalu kejam.


Devan sendiri terus menatap wajah Joana, tapi ingatannya justru melayang pada saat dimana ia dan Mega menghabiskan malam bersama setelah kejadian yang sangat-sangat dahsyat pada waktu itu.

__ADS_1


"Malam ini, apa ada yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Devan disela-sela dansa mereka.


"Aku rasa ... Kamu sudah mengetahuinya," sahut Joana tanpa sadar mencengkram bahu Devan dengan kuat.


"Tidak ada hal yang tidak aku ketahui, Joana." Devan pun sama-sama mencengkram pinggang Joana, erat tapi tidak menyakiti.


"Aku-"


"Kamu tidak salah. Aku juga sudah memaafkanmu," tukas Devan.


Joana menundukkan wajahnya, jika Devan memarahinya habis-habisan, ia pasti bisa langsung membantah. Tapi Devan terlalu licik, dia sengaja membuat Joana tidak bisa berkutik seperti itu.


"Maaf," ucap Joana tanpa berani menatap wajah Devan. "Aku sangat ingin bisa berjalan. Tapi kamu tidak akan mengabulkan permintaanku itu. Kenapa sekarang kamu justru melukai dia? Aku yang salah disini," lanjut Joana antara takut dan tidak mengatakan hal itu.


Devan menghela napasnya, ia menarik dagu Joana agar menatap wajahnya. "Dia tetap bersalah karena berniat mengkhianati aku. Dan untuk kamu, kenapa harus meminta bantuan dengan dia? Bukankah sebelumnya aku sudah bilang aku akan menuruti semua keinginanmu?" tukas Devan sedikit emosi tapi menahannya agar tidak terlalu marah pada Joana.


"Kamu? Tidak mungkin, Dev! Bahkan kamu begitu takut aku akan pergi meskipun aku tidak bisa berjalan. Kamu ingin aku terus berada di sampingmu sampai kamu melupakan dia, itu yang kamu inginkan, Dev. Aku sadar kalau aku hanyalah pengganti, tidak akan bisa menjadi prioritas dalam hidupmu!" sergah Joana tak kalah emosinya.


"Itu dulu Joana. Sekarang aku sudah melupakan dia. Aku ingin kita memulai kisah kita sendiri, antara kamu dan aku, Devan dan Joana, bukan sebagai orang lain," kata Devan.


Devan jelas pandai bersilat lidah, ia tidak mungkin membiarkan Joana pergi begitu saja. Dulu ia tidak bisa mendapatkannya dengan cara kasar, lalu sekarang Devan mencoba dengan cara halus. Diberikan perhatian dan cinta, wanita mana yang bisa menolaknya?


"Benarkah? Omong kosong apa lagi ini? Aku bahkan sangat ingat saat tadi kamu menyebut namanya," ujar Joana tersenyum sinis.


"Aku dan dia sudah menjalin hubungan sejak kami kecil. Kami tumbuh dewasa bersama-sama, apakah menurutmu aku akan langsung bisa melupakan dia? Semua butuh proses," tukas Devan.


"Dan sampai kapan proses itu selesai? Apakah sampai aku benar-benar terbiasa menjadi Mega? Atau saat Mega yang asli datang kembali padamu lagi?" ucap Joana, wajahnya yang sangat miris itu tidak bisa ditutupi lagi.


"Sebenarnya disini aku tidak sedang membahas dia, tapi antara kita berdua. Aku sudah mencintaimu, apa lagi yang kamu ragukan?" sergah Devan mulai tidak sabar, ternyata Joana bukan wanita yang mudah ia dapatkan.


"Lalu apa alasanmu mencintaku? Hanya karena wajahku yang mirip dengan dia, bukan?"


"Ya mungkin awalnya iya. Tapi sekarang aku mengerti, kalau cinta memang tidak butuh alasan, karena kamu adalah sebuah alasan, Joana." Jawab Devan mengeratkan pegangannya pada Joana, pun tatapan matanya yang sangat dalam pada wanita itu.


________


__ADS_1


__ADS_2